
Dalam situasi seperti ini, pihak dari keluarga Raka tetap optimis bahwa kondisi Raka akan membaik. Dan berharap pernikahan Raka dan Raina tetap berlangsung sesuai dengan rencana awal. Di ruang tunggu, Anne, Prasetyo, Pram, Arman, dan Pasha, akhirnya berembuk untuk membahas tentang kemungkinan proses akad nikah Raka dan Raina yang akan berlangsung di rumah sakit.
Bukannya ingin memaksakan kehendak tapi mereka hanya ingin menjalankan sesuatu yang sudah direncanakan Raka sejak lama. Mereka hanya ingin mewujudkan impian Raka untuk menikahi Raina. Mereka sepakat untuk tetap melangsungkan pernikahan keduanya secara sederhana. Pihak keluarga Rahardi akan menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan prosesi pernikahan. Sementara Arman dan Pasha hanya cukup membawa Raina dan orangtua mereka.
Di tempat duduknya, Pram tak banyak bicara saat membahas hal tadi. Bukannya dia tidak setuju atas ide tersebut. Tapi ada yang mengganjal hatinya, yakni sebuah janji yang telah diucapkannya pada Raka. Dia berharap semoga hal itu tidak akan pernah terjadi.
Diambilnya ponsel Raka yang sejak tadi ada di saku celananya, ada rasa penasaran yang besar dalam hatinya. Dengan raguragu, Pram mencoba mengaktifkannya. Tidak ada foto seorang perempuan, hanya ada foto pemandangan sebagai wallpapernya. Ternyata Raka belum berubah, Raka yang sederhana dan apa adanya masih sama seperti dulu. Pram tersenyum menyadarinya.
***
Arman dan Pasha baru saja akan pamit pulang. Mereka bermaksud menyampaikan perubahan rencana pernikahan Raka dan Raina esok hari kepada orangtua mereka. Sampai suara perawat terdengar panik keluar dari ruang IGD.
“Keluarga Bapak Prakarsa?”
Kontan mereka semua menghampiri perawat tadi. “Ada apa, Sus?” tanya Pram berusaha tenang.
“Kondisi Bapak Prakarsa semakin kritis.” Perawat tersebut tidak dapat menyembunyikan wajah cemasnya.
Anne hampir saja terjatuh kalau saja Pram tidak memegangnya. “Sabar, Mam,” bisik Pram. Seorang dokter senior keluar menemui mereka berlima. “Pendarahan di otak pasien sudah semakin meluas dan masif. Keluarga dimohon untuk menandatangani surat pernyataan proses persetujuan operasi. Secepatnya harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa pasien,” kata dokter tersebut.
“Tolong selamatkan adik saya, Dok. Besok hari pernikahannya.” Suara Pram bergetar. Setelahnya dia langsung menuju ruang perawat untuk menandatangani surat persetujuan tersebut.
Arman dan Pasha saling berpandangan, mereka tampak bingung. Apakah mereka harus memberitahukan yang sebenarnya kepada Raina atau tetap mengatakan Raka baikbaik saja, padahal tidak begitu kondisinya.
“Jangan bilang apaapa dulu pada Raina,” kata Pram seolah mengerti kegelisahan Arman dan Pasha. “Raka pasti selamat,” ucapnya penuh optimistis.
Prasetyo dan Anne sudah tampak lelah. Apalagi Anne yang sejak kedatangannya tidak pernah berhenti menangis. Wajah khawatir, cemas dan juga kesedihan menyelimuti mereka.
“Mami sama Papi pulang aja. Aku telepon Pak Rudi ke sini, buat jemput ya,” kata Pram.
Keduanya malah kompak menggeleng. “Kita tim, Pram. Di dalam sana Raka sedang berjuang untuk hidupnya. Apalah arti Papi dan Mami kalau meninggalkan dia,” kata Prasetyo.
Raka selalu jadi anak kesayangan Prasetyo dan Anne. Raka sangat berbeda dengan Pram yang suka meninggalkan rumah sesuka hatinya. Raka justru mencintai rumah mereka. Berbagai pilihan sempat ditawarkan kepada Raka untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Tapi Raka selalu menolaknya. Alasannya cuma satu, dia nggak bisa jauh dari Papi dan Mami.
Detik demi detik berlalu. Belum ada tandatanda operasi akan selesai. Lampu bewarna merah di atas pintu ruang operasi menjadi satusatunya pemandangan untuk mereka berlima. Suara ponsel Raka berbunyi. Raina, nama itu, nama yang baru saja didengarnya tadi siang. Namun Pram membiarkan ponsel Raka terus berbunyi, dia tidak berniat sama sekali untuk mengangkatnya.
Sementara Pasha dan Arman bergantian melirik, saat ponsel mereka juga ditelepon oleh Raina.
“Iya, Cantik.” Akhirnya Pasha mengangkat panggilan dari Raina.
“Kak Pasha di mana, sih? Kok, dari tadi ditelepon nggak diangkat, SMS nggak dibales? Raka gimana, Kak?” tanya Raina beruntun.
Pasha melirik Arman sesaat. “Raka sedang dalam perawatan. Aku sama Kak Arman baru aja mau pulang nih dari rumah sakit.” Suara Pasha dibuat setenang mungkin.
“Kakak nggak bohong kan? Dari tadi Raina telepon Raka nggak diangkat,” tanya Raina lagi.
“Kamu tenang ya di rumah. Sebentar lagi Kakak sampai.” Pasha berusaha meyakinkan Raina.
“Kak … aku cuma mau tahu kabar Raka. Dia baik-baik aja kan?”
Pasha mengertakkan giginya, dia tidak sanggup untuk berbohong pada adiknya. “Sekarang dokter sedang mengobatinya. Kamu berdoa ya untuk dia. Tunggu aku di rumah.” Pasha menyudahi teleponnya bersamaan dengan padamnya lampu di ruang operasi itu. Tanda bahwa operasi Raka telah selesai.
Dokter yang sama keluar dengan wajah lelah. Tanpa dipanggil, mereka langsung menghampiri dokter tersebut.
Sebelum berbicara, dokter tersebut menyeka keringatnya lebih dulu. “Mohon maaf, kami sudah berusaha yang terbaik. Tapi kondisi pasien semakin lemah. Saya harap keluarga bisa mengikhlaskan kepergian Bapak Prakarsa,” jelas dokter tersebut penuh simpatik.
Pram, Arman, dan Pasha masih terpaku. Belum percaya dengan apa yang dikatakan dokter. Ketiganya masih menunggu Raka dengan perasaan campur aduk di depan ruang operasi untuk dipindahkan. Dari kejauhan mereka melihat dengan mata mereka sendiri, para perawat sedang membereskan peralatan operasi. Di meja operasi ada Raka yang berbaring, dia sudah tidak bernyawa lagi. Kini di tubuhnya sudah tidak ada infus dan bendabenda medis yang lainnya.
Emosi Pram memuncak. Ingin rasanya dia menangis tapi tidak bisa. Karena kesedihannya melebihi sebuah air mata yang bisa mewakili rasa kehilangan. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Raka benarbenar telah pergi. Raka meninggal.
Dibukanya kain yang menutup wajah Raka. Dipandanginya dengan sangat jelas wajah tampan milik adiknya yang kini terpejam. Raka, satusatunya saudara yang selalu dijaga olehnya. “You know, Ka. You will always be a part of my soul,” Pram berbisik untuk terakhir kalinya di telinga Raka.
***
Jika ada hari terburuk dalam hidupnya, maka jawabannya adalah hari ini. Dengan langkah gontai bak prajurit yang kalah dari peperangan. Pram terdiam cukup lama, dia masih belum bisa menerima kepergian adiknya.
Yang dilakukannya pertama kali saat sampai di rumah adalah menuju kamar Raka. Entah untuk apa, tapi Pram hanya merasa di ruangan itu dia masih bisa merasakan kalau Raka masih hidup. Ditekannya sakelar yang berada di sebelah pintu kamar.
Pandangannya menyapu ruangan itu seketika. Menatap dengan lekat pada setiap bagian yang ada di sana. Tidak banyak yang berubah dari tempat itu. Hanya rakrak buku saja yang bertambah. Hidup Raka memang tak pernah jauh dari buku. Begitulah... Raka selalu menghabiskan waktunya hanya dengan buku.
Betapa rasa kehilangan yang sangat nyata kini tidak bisa dihindari oleh Pram. Sekuat tenaga dia meyakinkan ini adalah mimpi, tapi rasa sakit dan pedih yang dirasakan Pram menyadarkannya dengan sebuah logika yang nyata. Pemilik kamar ini sudah benarbenar pergi meninggalkan orangorang yang sangat mencintainya.
Pram mengambil sebuah buku yang disimpan Raka di salah satu rak bukunya. Sebuah buku tentang kehidupannya saat dia mulai bisa menulis. Dulu Pram sempat menertawainya, karena tingkah Raka yang seperti perempuan. Menulis buku diary.
“Ini saksi dari perjalanan hidup gue. Yang akan jadi sejarah nyata tentang gue,” jawaban itulah yang diberikan Raka saat Pram meledeknya.
Anehnya adalah, Raka menunjukkan letak bukubuku itu berada. “Gue pengin lo jadi orang pertama yang tahu tentang jejak hidup gue,” ucap Raka seolahseolah dia adalah orang penting yang harus memiliki biografi. Tapi tunggu, ternyata Raka benar. Kini dia memang menjadi orang penting setidaknya bagi Pram.
Apa yang bisa bikin lo bahagia sekarang? Please tell me…, ucapnya dalam hati.
Pram mengambil buku berwarna merah secara acak dan membukanya. Di halaman pertama, Raka selalu menuliskan tahun pada bukubuku catatan pribadi miliknya. Buku yang dipegang Pram sekarang, adalah tepat tujuh tahun lalu saat dia meninggalkan keluarganya.
Pram mulai hanyut oleh tiap kata yang dituliskan Raka. Adiknya menceritakan dengan detail, tiaptiap kejadian yang terjadi pada dirinya. Sampai Pram harus membaca sebuah catatan tentang dirinya sendiri. Pram tersentak, ketika ada namanya tertulis di buku milik Raka. Raka menuliskan rasa kehilangannya, tentang kesedihannya yang tidak bisa menahan Pram untuk tetap ada di rumah mereka. Karena seorang gadis, Pram justru bersikap egois dengan memilih pergi meninggalkan keluarganya.
Hampa. Itulah yang kini dia sesali. Betapa dulu dia tidak sadar, Raka ada di sana membantunya. Tapi dia malah bersikap tidak peduli. Pram memejamkan kedua matanya berusaha melupakan momen menyakitkan itu tapi yang terjadi bayangan itu justru terasa semakin nyata.
Permohonan Raka agar dia tetap tinggal yang dia acuhkan begitu saja. Segala bentuk perhatiannya yang diberikan Raka padanya, dulu begitu tak dihiraukannya. Penyesalan tinggallah penyesalan, kalau saja dia mau mendengar permintaan Raka waktu itu, mungkin akan lebih banyak waktu yang mereka habiskan bersama.
“Maafin gue, Raka….”
Saat Pram meletakkan buku itu ke tempat semula, suara ponsel Raka yang masih ada di sakunya berbunyi lagi. Entah sudah keberapa kali, ponsel itu berdering. Nama Raina lagi yang muncul di sana.
Pram menggeleng, dia tidak tahu harus berkata apa pada gadis itu. Setelah panggilan itu berhenti, sebuah emoticon pesan muncul di layar ponsel Raka.
Raina:
“Kaka, tolong jawab telepon aku. Bilang ke aku kalau kamu baik-baik aja. Please jangan bikin aku khawatir. Besok kita akan tetap menikah kan?”
Napas Pram tercekat. Dia ingat permintaan Raka tadi. Menjaga Raina? Jika itu bisa membuat Raka bahagia dan mengganti segala rasa kekecewaan yang pernah dia timbulkan. Maka kali ini, apa pun akan dia lakukan. Untuk Raka.
Pram:
“Iya. Besok kita akan menikah.”
Pram membalas pesan Raina. Dia akan datang besok, meneruskan mimpi Raka yang tertunda. Menjaga gadis itu sama seperti Raka menjaganya.
***