NOT A PERFECT WEDDING

NOT A PERFECT WEDDING
Episode 12



“Cinta yang kekal, akan selalu menguatkan.”



Raina masih memikirkan kata­kata Pram semalam. Dia sadar betul tentang posisinya sekarang. Tapi apakah itu semua benar? Mereka menikah tanpa pernah mengenal satu sama lain. Terlebih ada yang paling mengganjal hati Raina, yang tidak bisa membuat dia menerima pernikahan ini. Karena Pram adalah kakak dari orang yang sangat dicintainya. Saat melihat Pram, maka saat itu juga sekilas wajah Raka akan muncul lagi dalam ingatannya. Mereka serupa tapi tak sama.



Pagi­pagi sekali, Raina menuju kamar kedua kakaknya. Pertama kali dia membangunkan Pasha terlebih dahulu, dengan beberapa ancaman akhirnya Pasha mau bangun juga. Setelah itu mereka menuju kamar Arman.



“Oh, God! Ngapain sih, Rai? Ini hari Minggu dan masih jam enam pagi,” kata Arman kesal. Bagaimana tidak, Raina mematikan AC kamar Arman dan juga membuka jendela kamar miliknya.



“Penting nih, Kak. Ayo dong bangun. Atau nanti aku telepon Kak Sasa, terus bilang ke dia, kalau sebulan yang lalu kakak janjian jalan sama mantan Kakak. Siapa tuh namanya?” Raina mengeluarkan ancaman kepada kakaknya itu sambil tersenyum manis.



Arman langsung menyerah saat mendengar Raina menyebut nama Sasa dan juga mantannya itu. Dasar anak kecil, rutuknya dalam hati. Dia menegakkan badannya dan duduk di pinggir ranjang sambil menahan kantuk.



Arman bangun, tapi Pasha malah berbaring di sofa kamar Arman. Alih­alih mengumpulkan nyawa dia malah tidur kembali. “Kak Pashaaaaaaa,” teriak Raina di telinga kakaknya.



“Woyyyy... ngomong pelan bisa kali? Dasar Toa,” Pasha menggerutu kesal.



“Ada apa sih, Rai pagi­pagi udah bikin heboh. Oh iya, mana suami kamu? Kok belum apa­apa sudah ditinggal­tinggal sih,” goda Arman.



“Nggak usah mengalihkan deh. Aku tuh masih marah sama kalian berdua. Kenapa, sih, pas hari kecelakaan Raka kalian nggak jujur sama aku? Kenapa sih, kalian malah ngedukung pernikahan sama aku dan Pram? Kan, kalian tahu, selama ini aku cintanya sama siapa.” Tanpa titik koma Raina memuntahkan segala pertanyaan yang sejak beberapa bulan lalu ingin dia tanyakan. Tapi sayang, karena rasa marah tersebut, membuat dia lebih memilih untuk mendiamkan keluarganya.



Arman dan Pasha, keduanya tidak terlalu kaget akan mendapatkan serangan pertanyaan seperti itu dari Raina. Cepat atau lambat Raina memang harus tahu tentang semua ini. Apalagi jelas ini semua tentang masa depan pernikahannya.



“Kok kalian diam?” Raina memandangi kedua kakaknya bergantian. “Aku mau cerai, Kak. Aku nggak bisa jadi istri Pram.” Suaranya bergetar. Dia tidak akan menyangka, bahwa di usianya yang masih muda, dia akan mendapatkan gelar janda kembang.



“Cerai?” tanya Pasha. “Kenapa? Mas Pram jahat sama kamu? Kamu diapain sama dia? Bilang sama aku!”



Tatapan Raina menerawang. “Dia terlalu baik, Kak. Aku kasihan sama dia, kenapa jadi dia yang harus nikahin aku.”



“Detik­detik terakhir kepergian Raka, aku ada di sana, Rai.” Arman buka suara. Karena dia satu­satunya saksi yang melihat bagaimana dua saudara itu saling berjanji dan menguatkan satu sama lain di saat Raka kritis. “Raka yang meminta Pram untuk menikahi kamu. Pram menolaknya. Karena dia yakin, Raka akan sembuh.” Dipeluknya tubuh Raina yang menangis tanpa suara. “Raka terlalu mencintai kamu, sampai­sampai dia hanya percaya pada kakaknya sendiri. Cuma Pram yang dia yakin bisa ngebahagiain kamu.”



“Awalnya kami memang ingin membatalkan pernikahan kamu. Tapi sebagai bentuk janji dan rasa sayang Pram pada Raka, setelah Raka meninggal, Pram meminta izin kepada Papa, Mama, aku, dan Pasha untuk menikahi kamu. Dia berjanji pada kami untuk menjaga kamu, sebagaimana Raka melakukannya.” Arman tak sanggup untuk tidak ikut hanyut bersama Raina.



“Rai, kami tahu ini berat untuk kamu. Tapi lihat, bagaimana Pram berusaha untuk membuat situasi ini menjadi lebih baik.” Pasha menepuk punggung adiknya.



“Berusahalah untuk mencoba. Kalian bahkan baru memulai ini semua.” Suara Gunawan terdengar dari depan pintu. Ketiganya tidak menyangka bahwa Gunawan dan Fara ada di depan pintu kamar Arman.



“Kalau kamu ingin marah, marahlah pada kami. Tapi jangan pada Pram, Sayang. Lihat dia, betapa dia juga kehilangan Raka. Bukan cuma kamu yang paling sedih di sini.” Fara menghampiri Raina. Duduk di antara ketiga anak­anaknya.



Fara menghapus air mata yang mengalir semakin deras di pipi Raina. “Lihat, Rai. Kamu sudah dewasa sekarang. Kami menitipkanmu kepada orang yang Raka percaya bisa membuat kamu bahagia. Bagaimana bisa kami tidak percaya pada Pram?” ucap Fara sambil membelai rambut Raina.



Terjawab sudah semua pertanyaan dalam pikirannya selama ini. Bukannya lega, hati Raina justru malah terasa semakin sesak.



Gunawan menarik kursi dan duduk di hadapan anak­anaknya. “Mulai sekarang, belajarlah untuk menerima Pram. Karena dia suami kamu.” Gunawan menatap penuh sayang kepada anak perempuan satu­satunya itu.




Terima kasih, Ka. Telah mencintaiku sepenuh hatimu.



***



Seusai sarapan, Raina membereskan barang­barangnya yang akan dibawa ke apartemen milik Pram. Setelah percakapan tadi, dia sudah memutuskan untuk mencoba menjalani pernikahannya bersama Pram. Masalah cinta? Kalau Pram saja sanggup menjalaninya, kenapa dia tidak bisa. Bukankah orang zaman dulu menikah tanpa cinta dan mereka tetap bahagia? Selama Pram tidak memintanya untuk melakukan hal yang macam­macam, maka dia akan berusaha mencoba semua ini.



“Rain…!” panggil Pram di depan pintu kamar Raina. Di tengah kesibukannya, Raina menoleh sekilas. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lagi.



Raina tersenyum. “Banyak. Tolong bawain itu semua ke bawah, ya.” Raina menunjukkan kardus­kardus yang sudah dibungkus rapi olehnya.



Bukannya langsung mengambil kardus tersebut. Pram malah menghampiri Raina. Duduk bersila di sampingnya.



“Thank you so much.”



Raina mendongak, matanya langsung terkunci oleh tatapan mata Pram yang menghanyutkan. “Aku nggak tahu, ini akan berakhir seperti apa. Tapi bisakah kita jadi partner yang baik?”



Pram tertawa mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Raina. Sepenuhnya dia masih mengerti, bahwa gadis ini belum seratus persen menerima pernikahan mereka. Tapi biarlah, dia tetap menghargai usaha Raina untuk mencoba. Meski tampak jelas keraguan dalam matanya.



“Kita harus mencobanya untuk tahu bisa atau tidaknya,” ucap Pram dengan optimis akan hubungan mereka.



“Aku minta maaf atas sikapku selama ini,” kata Raina dengan tulus.



“Saya juga, saya minta maaf karena telah lancang membalas pesan yang kamu kirimkan untuk Raka,” Pram berkata sungguh­sungguh.



Raina tertegun mendengarnya. Dia senang karena Pram mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf. “Kita mulai segalanya dari awal?”



Pram mengangguk. “Semuanya,” ucapnya sambil tersenyum.



Setelah percakapan singkat mereka, Pram bersiap mengangkat kardus­kardus yang berisikan barang­barang milik Raina dan akan menaruhnya ke dalam mobil.



“Let’s make a deal. We must to be a good partner for each other.” Raina memeluk tubuh Pram dari belakang. Membenamkan wajahnya di punggung Pram. Melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu.



Pram tidak menyangka sama sekali akan tindakan Raina yang tiba­tiba itu. Ingin dia berbalik dan melihat wajah Raina saat ini.



“Jangan berbalik. Tetaplah seperti ini.” Raina semakin mengeratkan pelukannya. “Terima kasih untuk semuanya, Pram."



Kali ini Pram tersenyum lega. Sangat lega. Usahanya tidak sia­sia.



***