NOT A PERFECT WEDDING

NOT A PERFECT WEDDING
Episode 7



“Tidak ada yang lebih buruk, ketika aku berada di bawah naungan awan hitam. ”



Semenjak pelukan itu, Raina bisa sedikit memercayai Pram. Hampir seminggu mereka tinggal bersama. Tapi keduanya sama­sama menghindari topik pernikahan mereka. Hubungan yang mereka miliki juga jauh dari hubungan pasangan suami­istri yang baru saja menikah. Jika bisa digambarkan, hubungan mereka lebih menyerupai kakak­adik.



Pram sebisa mungkin selalu mengerti segala posisi Raina yang sedang berduka. Dia tak segan, untuk sekadar mendengarkan cerita­cerita Raina atau bahkan ketika Raina menangis karena bermimpi buruk. Pram selalu ada menemaninya. Sampai di satu titik, Pram merasa bahwa ini bukan dirinya. Ini semua dilakukannya jelas untuk Raka.



Di apartemen ini, Raina menghabiskan waktunya untuk bersembunyi. Dia menghindari teman­temannya dan juga keluarganya. Kesedihan dan juga kemarahan masih menumpuk di dalam hatinya. Berulang kali Mama, Papa, Pasha, dan Arman datang untuk menemuinya, tetapi kunjungan itu selalu ditolaknya.



Raina bukannya tidak merindukan keluarganya, dia sangat rindu. Bahkan dia ingin sekali memeluk kedua kakaknya, untuk melepaskan bebannya. Tapi ketika dia mengingat mereka menyetujui pernikahan yang terjadi atas dirinya dan Pram, mendadak hatinya dipenuhi kemarahan. Pernikahan itu harusnya dimulai dengan landasan cinta, bukan seperti ini.



Setiap detik yang dia lewati semakin memastikan kebenaran takdir. Seperti hari ini, Pram menyetujui permintaannya untuk mengunjungi makam Raka. Papan nisan itu masih sama dalam ingatannya. Dan benar, nama itu memang milik orang yang dia cintai yang seharusnya menjadi suaminya. Air matanya jatuh lagi saat menyadari kalau Raka memang benar­benar telah pergi untuk selamanya.



Ka, kamu bohongin aku. Katanya kamu mau nikahin aku? Tapi kenapa kamu pergi? Raina terisak, air matanya berjatuhan lagi. Dia tidak peduli pada Pram yang berdiri di sampingnya. Di tempat ini, saat jarak begitu dekat dengan kekasih hatinya, di sanalah dia mengadu tentang rasa kehilangannya.



Tuhan, kenapa takdir ini yang kau pilihkan untukku? Raina mengeluh lagi dalam hatinya. Dia tahu, tidak seharusnya dia menyalahkan takdir Yang Mahakuasa. Semua sudah jalannya. Tapi ini terlalu sulit baginya. Melupakan Raka sekaligus menjalani peran baru sebagai seorang istri dari suami yang tidak pernah dia cintai. Dia menggelengkan kepalanya. Ini semua terlalu berat baginya dan mungkin juga bagi Pram.



Di samping tubuh mungil Raina, Pram menahan emosinya yang mulai bergemuruh. Dia tidak bisa terus­terusan seperti ini. Sudah saatnya dia membuat Raina mengerti tentang kenyataan bernama takdir.



***



Sore itu, keluarga Raina berencana untuk mengunjungi Raina di apartemen Pram. Raina sama sekali tidak tahu dengan rencana ini. Gunawan dan Fara sangat khawatir dengan keadaaan anak perempuannya. Apalagi mereka sudah menghubungi berkali­kali lewat telepon tapi tidak pernah diangkat.



Arman dan Pasha pun turut serta mengantar orangtua mereka. Hubungan darah yang mereka miliki jelas membuat ikatan batin mereka bertiga sama kuatnya. Mereka sangat yakin ini pasti akan jadi hal yang berat untuk Raina.



Fara membawakan makanan kesukaan Raina. Dia sangat­sangat merindukan anak perempuannya. Mereka berharap dengan pertemuan ini, Raina mau memaafkan perbuatan mereka yang sudah secara sepihak menerima lamaran Pram tanpa meminta persetujuan pada Raina.



Pram menyambut kedatangan mereka, meski masih terlihat canggung, Pram berusaha memosisikan dirinya sebagai seorang menantu. Dia bersalaman penuh hormat pada Gunawan dan Fara. Untung ada Arman dan Pasha juga di sana, mereka membantu membuat keadaan lebih nyaman.



“Raina pasti senang melihat kedatangan kalian,” kata Pram sambil mempersilakan keluarga barunya masuk dan menyuruh mereka duduk di ruang tamu.



“Semoga aja, Mas. Tapi kenapa telepon dari kami nggak pernah diangkat sekali pun oleh Raina ya?” cecar Pasha.



Pram tidak tahu menahu tentang situasi ini. Ternyata Raina memang benar­benar marah pada keluarganya. “Saya buat minum dulu, kebetulan Raina belum bangun,” ucap Pram tanpa menyahuti perkataan Pasha. Bukannya dia tidak sopan. Pram hanya tidak ingin salah bicara.



Fara menyusul Pram menuju dapur. “Nak Pram. Boleh saya melihat Raina sebentar?” Dia memohon penuh harap pada Pram.



Wajah Fara sangat keibuan, sangat bertolak belakang dengan Raina yang keras kepala. Dalam hati dia berharap, semoga nanti Raina bisa berubah menjadi seperti ibunya. “Silakan, Tante.”



“Kok Tante? Panggil Mama dong,” ucap Fara sembari tersenyum.



Pram tersenyum kaku. Dia sadar, dia bukan hanya menikahi Raina tapi juga menikahi keluarga besar gadis itu. “Iya, Ma. Maaf saya belum terbiasa,” jawab Pram.



Fara juga sangat mengerti kondisi ini. Semuanya jauh di luar rencana, wajar saja kalau Pram terlihat tidak nyaman atas situasi ini. “Saya sadar, Raina bukan perempuan yang sempurna. Saya tidak akan meminta kamu untuk melakukan berbagai hal untuk dia. Saya hanya minta kamu bisa menjaga dan membahagiakannya,” jelas Fara dengan mata berkaca­kaca.



Sejak awal pun, Pram sadar akan tugas dan kewajibannya. Ya, menjaga Raina. Sama seperti permintaan Raka padanya, itulah yang akan dia lakukan. “Saya akan berusaha,” jawab Pram sambil mengangguk. Fara tersenyum puas melihat Pram yang begitu berlapang dada menerima pernikahan ini.



Pram membawakan nampan beserta lima cangkir teh hangat, sementara Fara mencoba membangunkan Raina di kamarnya.




“Iya, sudah tujuh tahun, saya tinggal dan bekerja di sana,” ucap Pram sambil meneguk teh miliknya.



“Terus rencana Nak Pram setelah ini apa? Apakah akan kembali ke London lagi?” Gunawan tidak bisa menutupi rasa penasarannya.



Dia tidak mungkin meninggalkan Raina begitu saja di sini. Dan mengajak Raina untuk pindah ke London jelas juga bukan solusi yang baik. Sudah pasti ide kedua yang ada di pikirannya akan ditolak oleh keluarga Raina.



“Saya akan menetap di sini dan meneruskan bisnis Papi.” Hanya itulah solusi terbaik yang dimilikinya. Meskipun dia harus merelakan kariernya yang cemerlang. Tapi begitulah, selalu ada risiko dari setiap pilihan.



Gunawan terlihat lega, ketika tahu menantunya memilih untuk tetap tinggal di Jakarta. Tadinya, dia pikir masalah ini akan menjadi perdebatan yang rumit. Ternyata Pram sudah memikirkan ini semua lebih dulu. “Terima kasih,” Gunawan tulus mengucapkan kata itu. Hatinya sangat senang karena tidak akan berpisah dengan anak perempuannya.



“Mamaaaaa….” Suara Raina terdengar histeris. Sontak mereka berempat yang ada di ruang tamu langsung berlari menuju kamar.



“Rai, dengerin penjelasan Mama dulu.” Fara mencoba mendekati Raina, tapi gadis itu terus menghindar. “Kita bicara baik­baik, Sayang.”



Raina kembali terisak. “Kalian jahat. Kalian sudah bohong sama aku….” Suara Raina terdengar putus asa.



Lalu pandangannya mengarah pada kedua kakaknya. Raina menatap sinis ke arah Arman dan Pasha. “Katanya Raka baik­baik aja? Tapi mana? Raka pergi, Kak. Pergi selamanya.” Raina benar­benar menangis tersedu. dia tidak membiarkan satu orang pun untuk mendekat padanya.



“Raina….” Suara Gunawan menggelegar memanggil putri kesayangannya. “Tolong dengarkan kami sebentar. Kamu harus tahu yang sebenarnya.”



Raina menggeleng, dia tidak ingin mendengar penjelasan apa­apa lagi. Sudah cukup dia tahu, kalau ternyata orang­orang yang paling disayanginya justru berbalik menyakitinya dengan tidak jujur akan kejadian yang sebenarnya.



“Aku nggak mau dengar apa­apa. Itu semua juga nggak akan mengembalikan Raka kan? Tidak akan mengubah statusku yang sudah menjadi istri orang lain?” Raina menatap pilu pada Pram. “Ini yang namanya keluarga?” ucap Raina dengan nada kecewa.



“Kamu salah, Rai. Ini semua nggak seperti yang kamu bayangkan.” Pasha mencoba mendekat, dia ingin sekali memeluk adiknya.



“Lalu apa yang harus aku bayangkan? Menelan semua kejadian ini dan melupakannya begitu saja?”



Arman yang tadi diam kini coba angkat suara. “Kalau aku bilang, Raka yang meminta hal ini, apa kamu percaya?”



Raina menggeleng. “Raka cinta sama aku, Kak. Jadi dia nggak mungkin meminta kalian untuk melakukan hal gila seperti ini.”



Raina benar­benar tidak bisa menerima penjelasan orang lain. Dia belum bisa menerima keadaannya. Fara yang melihat kondisi Raina merasa sangat terpukul. Dia menangis melihat Raina yang berubah. Fara tetap mendekat pada Raina, dia ingin memeluk anaknya.



“Mama terima, Raina marah dan benci sama Mama, Papa, Kak Arman, dan Kak Pasha. Tapi Raina harus tahu, selamanya kami selalu sayang sama kamu, Nak.”



Raina tidak membalas pelukan dari Fara. Kedua tangannya masih menggantung di samping tubuhnya. Pelukan itu tidak terbalas. Hanya ada sorot dingin, sedih dan kecewa yang terpancar dari wajah Raina.



“Aku nggak mau lihat kalian lagi,” kata Raina dengan suara rendah.



Fara semakin tersedu mendengar perkataan Raina. Tiba­tiba saja, Arman dan Pasha sudah menarik tubuh Fara. “Ayo, Ma, kita pulang. Mungkin nanti, setelah Raina tenang kita bisa berbicara dengannya.” Arman merangkul tubuh Fara. Tanpa berpamitan mereka segera pulang saat itu juga.



Sementara Pram hanya menjadi penonton di sana. Dia cukup sadar perannya dan tidak sepantasnya dia ikut campur. Dalam hatinya, rasa frustrasi yang dirasakannya kini bertambah lebih berat. Keraguan akan janjinya untuk menjaga dan membahagiakan Raina sekarang dipertanyakan. Apakah dia mampu melakukannya?



Bahkan Raina tidak menyadari, bukan dia saja yang telah kehilangan orang yang paling dicintainya. Karena Pram pun mencoba untuk meredam egonya agar tidak terlihat sedih di depan Raina dan itu bukan pekerjaan yang mudah sama sekali.