NOT A PERFECT WEDDING

NOT A PERFECT WEDDING
Episode 14



“Kepercayaan itu seperti oksigen.



Penting meski tak terlihat.”



Raina memulai paginya dengan segala pengharapan akan sesuatu yang baik untuknya dan juga untuk suaminya, Pram. Tak lupa, doa­doa penuh cinta selalu dibisikkan lirih di dalam hatinya, masih untuk yang terkasih, Raka.



Hidup di antara mimpi dan kenyataan, seperti itulah kini dia menjalaninya. Mimpinya selalu mengisyaratkan bahwa kebahagiaannya masih bersama Raka. Tapi pada kenyataannya, Pram­lah yang ada di sisinya, menemani harinya dan juga segala kesedihannya.



Dengan roti gandum dan juga sayuran segar, Raina membuat sandwich untuk sarapan mereka berdua. Seperti inilah kehidupan yang dijalaninya. Tidak banyak yang berbeda, tapi ada tugas khusus yang tidak boleh dilewatkannya sebagai istri. Yakni, melayani Pram dengan sebaik­baiknya.



Raina masih menyusun roti dengan selada, tomat, keju, daging asap, dan mayones. Sarapan praktis dan juga bergizi, ucapnya dalam hati. Lagi pula Pram tidak pernah mengeluh pada setiap masakannya. Dia melirik sekilas, saat terdengar pintu kamar Pram terbuka. Ada senyum yang mengembang di pipinya, melihat penampilan Pram yang setengah terpejam dan tetap berjalan ke dapur.



“Morning,” kata Pram menyapa Raina.



“Begadang lagi?” tanya Raina.



Pram mengangguk sambil menguap. “Sarapan apa kita?”



“Sandwich. Mau kopi, susu, atau teh?” tanya Raina. Pertanyaan itu selalu dikeluarkan Raina untuk Pram setiap harinya.



“Kopi tanpa gula,” jawabnya cepat.



“Kamu istirahat aja deh. Hari ini libur dulu nganterin aku ke sekolah. Aku biasa kok bawa mobil sendiri.” Raina duduk di hadapan Pram sambil membawakan secangkir kopi. Semenjak mereka sepakat untuk memulai pernikahan mereka dari awal, Pram mulai memberikan perhatian lebih pada Raina.



Pram masih menikmati kopinya. “Kemarin Papi bilang, manajer HRD di kantor resign. Kamu mau gantiin?” tanya Pram.



Jadi manajer HRD di RD Group? Jelas itu penawaran yang sangat menarik bagi Raina. Tapi mengingat dia adalah menantu dari sang pemilik perusahaan, jelas akan mengundang tatapan iri dari orang­orang yang ada di sana terhadap dirinya. Dipandang sebelah mata bukanlah hal yang Raina sukai.



“Tiap hari, kamu bolak­balik Jakarta­Bogor memangnya nggak capek?” Pram bertanya lagi.



Jangan ditanya soal lelahnya. Raina menghabiskan berjam­jam waktunya demi menempuh jarak, untuk menuju tempat kerjanya di Bogor. Ada yang berharga, yang memang pantas ditukar oleh rasa lelahnya. Di tempatnya bekerja, dia mendapatkan sebuah kebahagiaan yang tidak bisa terbeli oleh apa pun. Sebuah kepuasan akan dedikasinya sebagai seorang guru.



“Aku coba pertimbangkan lagi deh. Tapi kamu nanti nggak bosan apa ketemu tiap hari sama aku?”



“Bosan? Pastinya. Apalagi kalau ngeliat muka kamu cemberut.” Pram tersenyum jail kepada Raina.



Raina? Jangan ditanya, wajahnya memerah menahan kesal. Dia bertanya serius, Pram malah menjawabnya dengan bercanda.



“Kamu kaya ABG kalau seperti itu, Rain,” goda Pram lagi sesaat sebelum dia berdiri dari kursinya. “Tunggu saya sepuluh menit lagi, saya antar kamu.”



Bagaimana bisa Raina tidak membandingkan kedua kakak beradik itu. Raka dengan segala kerendahan hati yang dimilikinya. Sementara Pram, pelan tapi pasti, dia sudah mengontrol hidupnya. Apa ini yang dinamakan Pram untuk menjadikannya istri sesungguhnya?



***



“Saya boleh menunggu kamu?” tanya Pram saat Raina ingin membuka pintu mobil.



Raina menoleh pada Pram. Dia baru menyadari kalau Pram hari ini memang tampil lebih casual. “Kamu nggak kerja?”



“Tetap kerja, saya hanya butuh suasana yang baru.”



“Aku nggak yakin kamu akan betah menungguku di sini.” Raina berpikir sesaat, Pram pasti membutuhkan tempat yang berbeda. ”Aku antar ke Library Café, mau? Tempatnya nggak jauh dari sini.”



Pram mengangguk. “Boleh. Tunjukkan pada saya jalannya.”



“Kamu tunggu dulu sebentar. Aku izin dulu sama guru piket,” kata Raina dan dijawab dengan acungan jempol oleh Pram.



Setengah jam kemudian mereka sampai di kafe yang dimaksud Raina. Para pelayan kafe tersebut masih sibuk beres­beres. Kedatangan Pram dan Raina memang masih terlalu pagi.



“Belum buka,” kata Raina saat melihat papan bertuliskan ‘closed’.



Pram tertawa, masih jam setengah sembilan, mana ada kafe yang buka di pagi hari seperti ini. Mereka memutuskan untuk menunggu di mobil. Pram membuka ponselnya dan memberitahukan pada Arya karena tidak masuk kerja. Sementara Raina juga berkutat dengan ponselnya sambil tersenyum tapi matanya berkaca­kaca.



“Kamu ngapain?” tanya Pram penasaran.



Raina belum menjawab tapi Pram sudah merebut ponselnya dengan cepat. Pram langsung menjauhkan tangannya dari jangkauan Raina. Raina tetap berusaha berusaha merebut ponselnya dengan wajah cemberut.



“Pram.” Suara Raina terdengar kesal.



“Sunrise?” tanya Pram bingung saat melihat layar ponsel Raina. Pram mencoba menggeser layar tersebut untuk mencari informasi selanjutnya.



“Nggak ada apa­apa,” kata Raina gemas. “Itu foto temanku yang baru aja pulang dari Gunung Bromo.”



“Terus?”



Raina menggeleng, masih menyembunyikan sebuah rahasia dari Pram. Saat Pram lengah, Raina menarik lengan baju suaminya. Pram yang kaget tidak bisa menghindar dari serangan Raina. Gadis itu berhasil mendapatkan ponselnya.



“Kamu mau ke sana?” tanya Pram serius, ketika Raina memasukkan ponselnya ke dalam tas.



Raina menggeleng dan tersenyum kemudian. “Aku suka banget sama matahari terbit. Dulu, Raka berjanji untuk mengajakku bulan madu di Bromo.”



Pram terdiam. Dia jadi merasa bersalah pada Raina.



“Kok diam?”



“Kalau ke sana sama saya, gimana?”



Raina menggeleng lagi. “Aku kan janjiannya sama Raka. Bukan sama kamu.” Lalu dia tertawa. “Kafe­nya udah buka tuh,” tunjuk Raina saat seorang pelayan membalikkan papan bertuliskan kata ‘open’. “Ada yang mau dibantu bawa nggak?”



“Boleh.” Pram menunjuk kursi belakang. “Tolong bawain map yang warna biru itu aja. Yang lain, biar saya yang bawa.”



***



Mereka berjalan bersama. Belum ada pengunjung yang lainnya. Pram cukup terkesima dengan tempat itu. Benar seperti namanya, kafe itu mirip perpustakaan. Bahkan ketika masuk mereka wajib menitipkan tas.



Rak­rak tinggi yang berisikan buku­buku menyambut mereka dengan aroma yang khas. Raina langsung mengajak Pram ke tempat duduk favoritnya, berada di pojok ruangan dengan pemandangan taman kecil yang ditumbuhi bunga warna­warni.



“Sering ke sini sama Raka?” Pram sudah tahu jawabannya. Adiknya itu pencinta buku, sudah pasti mereka sering menghabiskan waktu di tempat ini.



“Kadang­kadang,” jawab Raina tanpa melihat Pram dan duduk di hadapannya.



Pram langsung menyibukkan dirinya. Dia menyalakan laptop, menyiapkan berkas­berkas penting yang akan dipelajarinya. Terakhir, Pram memakai kacamatanya. Sesuatu yang belum pernah Raina lihat sebelumnya. Dari tempatnya duduk, Raina melihat Pram dengan sorot kagum.



“Suka dengan yang kamu lihat?” tanya Pram serius sambil meneliti wajah Raina dengan detail. Mencari semburat merah di sana, tapi sayang tidak ada. Apa mungkin sekarang Raina sudah terbiasa dengan kehadirannya dan status yang mengikat mereka?



“Suka?” Raina menggeleng. “Mungkin kagum. Pria dan kacamata itu…,” ucapnya terputus.



“Terlihat seksi?” sambung Pram dengan tertawa. “Saya sudah sering mendengar pernyataan itu,” Pram berkata santai.



Raina menggigit bibirnya, mengakui kebenaran perkataan Pram. Pram memang terlihat seksi. Tapi dia tidak mau jujur dan akan membuat Pram menjadi besar kepala.



“Mungkin statement itu untuk pria­pria lain di luar sana. Kamu lebih seksi kalau pake softlens,” ledek Raina.



“Softlens? Saya lebih memilih pakai kacamata kuda dibanding harus pakai softlens.”



Raina dan Pram tertawa bersama. Sekarang semuanya jauh lebih baik. Pram suka melihat Raina seperti ini, melihatnya tertawa tanpa beban. Meski dirinyalah yang menjadi bahan tawa mereka.




“Kamu tahu? Saya ngebayangin, kalau sekarang kita benar­benar ada di perpustakaan sekolah lho. Kita bisik­bisik di sini, kayak lagi pacaran,” kata Pram sambil berbisik di telinga Raina.



Kontan Raina tertawa. Dia tidak menyangka Pram akan berpikir senorak itu. “Aku baru tahu, kalau laki­laki seumur kamu...,” Raina berhenti sebentar, lalu dia menghitung dengan jari­jari tangannya, “yang sudah berumur 35 tahun, bisa punya fantasi pacaran di perpustakaan," ledek Raina sambil berbisik dan tertawa lagi.



Pram sebenarnya ingin tertawa juga, tapi dia gengsi untuk mengakui sikapnya yang memang norak tadi. Alih­alih berpikir untuk membalas Raina, dia malah menarik lengan Raina. Dengan sekali hentakan tubuh mungil yang tengah berdiri di sampingnya pun terjatuh tepat di pangkuannya.



Pram tidak menyia­nyiakan momen tersebut. Dipeluknya tubuh ramping Raina. Perlahan dia menatap dengan fokus satu titik terindah paling menggoda di wajah cantik istrinya. Selanjutnya tanpa meminta izin terlebih dahulu, Pram mencium bibir tipis Raina, pelan, tidak menuntut tapi justru begitu menggoda.



Seketika jantung Raina berdetak berkejaran. Ini bukan ciuman pertamanya. Tapi jelas rasanya sangat berbeda. Pram sangat tahu caranya mencium perempuan dengan baik. Raina berusaha mengakhiri ciuman mereka. Ada sesuatu yang mengentak hatinya dan melarangnya untuk melanjutkan kegilaan ini.



“Jangan bermain­main dengan laki­laki seumur saya. Kamu tahu, semua tempat selalu bisa memiliki kesan istimewa,” ucap Pram berbisik sambil memeluk tubuh Raina.



Kata­kata Pram begitu mengobarkan api dalam tubuh Raina. Ada rasa panas seketika yang menjalar dalam tubuhnya. Dia masih terduduk di pangkuan Pram, menikmati sisa­sisa momen berharga yang secepat kilat bak meteor jatuh itu. Sekejap, keberanian yang dimilikinya mencuat. Dia menatap wajah Pram tanpa perasaan malu. Ditelusurinya garis wajah Pram dengan jemarinya. “Ini salah, Pram,” ucapnya terdengar sangat lemah. “Semua ini terlalu cepat.” Raina langsung bangun dari pangkuan Pram.



Raina langsung meraih tas kerjanya dan berbalik tanpa pamit. Tapi Pram menarik tangannya, menahan dia untuk tidak pergi begitu saja.



“Kamu nggak mau ngomong sesuatu?” tanya Pram menanti.



“Apa?” Raina menatap Pram dengan wajah muram.



“Maaf…. Saya yang salah," kata Pram penuh penyesalan.



Raina berbalik dan tidak mengatakan apa­apa pada Pram. Semuanya masih begitu terasa asing bagi Raina, ketika Pram menyentuh bibirnya Raina tidak berpikir tentang siapa­siapa lagi. Hanya ada Pram yang ada di pikirannya, dan dia tidak mau itu terjadi. Ada perasaan bersalah pada Raka, saat dia menikmati ciuman yang diberikan Pram padanya.



***



Akhir pekan ini mereka diundang untuk menghadiri makan malam di rumah keluarga Pram. Ini bukan sesuatu yang baru bagi Raina. Dia sudah sering mengunjungi rumah tersebut tapi itu dulu bersama Raka. Setelah beberapa kali menolak, akhirnya Raina menyetujui undangan tersebut.



“Kita mampir dulu ke Majestyk, ya,” kata Raina saat mereka berjalan menuju parkiran.



“Majestyk? Tempat apa itu?”



“Toko kue. Mami kamu kan senang banget sama bika ambon di sana,” jawab Raina sambil melihat pemberitahuan di ponselnya.



Raina tidak sadar, Pram meliriknya. Hal yang sangat sederhana sebenarnya bahwa Raina sampai tahu salah satu makanan favorit maminya. Raka memang tidak salah memilih calon istri. Gadis ini bahkan memiliki perhatian yang besar untuk keluarganya, tidak seperti dia yang terkadang cuek dan malah tidak peduli.



Pagar tinggi bercat hitam itu terbuka saat mobil yang dikendarai Pram memasuki halamannya. Hati Raina bergetar. Tidak dapat dipungkiri, rumah ini memiliki kenangan yang begitu banyak tentang masa lalunya bersama Raka.



Pram membukakan pintu mobil untuk Raina. Digandengnya tangan Raina. Jemari Raina terasa begitu dingin, apalagi saat Pram meliriknya. Raina pucat.



“Are you, okay?” Pram berusaha memastikan Raina.



Raina mengangguk lemah. “Aku cuma ingat Raka. Maaf.”



“Maaf?” Pram melepaskan gandengan tangannya, dia ganti dengan merangkul pundak Raina. “Jangan coba memaksakan untuk melupakannya, Rain. Biarkanlah semua berlalu dengan beriringnya waktu.”



Kata­kata Pram cukup memberikan kekuatan untuknya. Dia tersenyum melihat Pram yang ada di sebelahnya. “Terima kasih, Pram.”



Pram tidak menjawab, hanya balas tersenyum juga.



“Kok sudah sampai diam­diam aja. Ayo masuk, Rai. Mami kangen sama kamu.” Anne langsung memeluk Raina. Tak disangka, sambutan hangat dari Anne berakhir dengan isakan nan pilu. Meski tidak bersuara, Raina tahu kalau ibu mertuanya kini menangis.



“Apa Pram memperlakukanmu dengan baik, Rai?” tanya Anne.



Raina mengangguk.



“Terima kasih ya, Rai, kamu telah menerima pernikahan ini dan tetap menjadi menantu kami,” kata Anne masih di pelukan Raina.



“Mam, ayolah. Raka nggak akan suka kalau melihat Mami menangis seperti ini.” Pram menepuk punggung Anne.



Anne melepaskan pelukan itu, sekarang pandangannya beralih ke wajah Pram. “Awas kamu, kalau sampai berani menyakiti Raina.”



Pram hanya tergelak mendengar ancaman dari Anne. “Iya, Mami. Raina itu terlalu berharga untuk disakiti. Lihat nih badanku, tiap hari dikasih makan enak terus sama dia.” Pram melirik ke arah Raina. Dia puas membuat Raina tersenyum malu­malu. “Raina istri yang baik, Mam. Maka aku pun akan berusaha jadi suami yang baik untuknya,” kali ini Pram mengucapkan kalimat itu dengan serius.



Untungnya suasana sedih itu tidak berlangsung lama. Prasetyo, sang papi memanggil mereka segera menuju ke ruang makan. Raina yang sudah tidak asing dengan rumah Pram ikut membantu Anne menghidangkan makanan utama hingga hidangan penutup.



Saat hendak pulang, Anne dan juga Prasetyo meminta mereka untuk menginap. Pram sebenarnya tidak menyukai ide ini. Karena dia tahu, pasti Anne ingin bertanya macam­macam tentang kehidupan rumah tangganya. Buat Pram, kehidupan rumah tangganya baru dimulai, jadi tidak ada hal penting yang harus diumbar.



Anne tahu, kalau Pram tidak menyetujui keinginannya. Oleh karena itu, dia langsung mendekat kepada Raina. Menantunya itu pasti tidak akan menolak permintaannya. Ya, Raina begitu menghormati mertuanya. Dia pun menganggukkan kepalanya.



“Kamu yakin mau nginep?” tanya Pram. “Nanti kita harus tidur di kamar yang sama lho.” Suara Pram terdengar jail saat berbisik di telinga Raina.



Raina menatap Pram dengan kesal. “Kan, udah pernah tidur sekamar. Lagian juga nggak ngapa­ngapain kok.”



Pram menyeringai. Semakin suka menggoda Raina. “Tapi tidak berlaku untuk yang kedua kalinya.”



Raina hanya menggerutu kesal. Semakin ke sini, Pram semakin suka menggodanya. Sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Pram masih tersenyum sesekali saat melirik Raina yang masih berjalan menjaga jarak menuju kamarnya.



Setibanya di lantai dua, Pram membukakan sebuah pintu. “Ladies first!” Lagi dia tersenyum menatap wajah Raina yang cemberut.



Di dalam kamar Pram, Raina tercengang melihat isi kamar tersebut. Bukan karena furnitur yang berasal dari bahan­bahan mahal. Atau cat dinding yang berwarna biru dengan ornamen putih tulang. Kamar Pram seperti museum mini tentang pemiliknya. Barang­barang yang ada di sana, jelas bukan barang­barang baru.



“Maaf berantakan,” ucap Pram sambil membuka bajunya.



“Dari kapan kamu kumpulin semua barang­barang ini?” tunjuk Raina pada tamiya, mobil­mobilan, robot, pemukul kasti, beberapa jenis bola dan juga replika superhero yang terkenal.



“Dari SD kayaknya. Mami sempat mau ngebuang tapi saya larang.”



“Kenapa?”



Pram tertawa. “Dulu ngumpulinnya penuh perjuangan, masa dibuang gitu aja. Sayang, dong.” Pram melihat semua mainan masa kecilnya dengan semringah.



Sementara Pram menuju kamar mandi, Raina masih asyik memandangi mainan Pram satu per satu. Wajahnya mengernyit ketika matanya menemukan sebuah foto yang terselip di antara miniatur kereta api. Foto Pram sedang merangkul seorang perempuan. Diambilnya foto itu, Raina ingin tahu siapa gadis yang bersama suaminya itu.



“Kamu nggak mau bersih­bersih?” tanya Pram saat keluar dari kamar mandi.



Raina tidak menjawab, dia malah menunjukkan foto itu pada Pram. “Ini siapa, Pram?”



Wajah Pram berubah seketika. Buru­buru diambilnya foto itu dari tangan Raina. “Di mana kamu menemukannya?”



Raina menunjukkan miniatur kereta api di sudut ruangan.



Seharusnya foto ini tidak pernah ada lagi di kamarnya. Bahkan bertahun­tahun lamanya Pram meninggalkan kamar ini, dia tidak pernah menemukan jejak gadis itu lagi di sana. Tapi kenapa malah Raina yang menemukannya.



“Dia pacar kamu ya? Siapa namanya?” Raina memberikan pertanyaan beruntun.



Wajah Pram mengeras. Tatapan matanya tidak sehangat biasanya. “Dia Sashi, teman saya.” Hanya itu yang keluar dari mulut Pram.



Untuk kali pertama, Raina tahu kalau Pram telah berbohong kepada dirinya.



***