
“Kita coba, sampai kita memang tidak bisa mencobanya lagi.”
Raina masih terpejam di sebelah Pram. Beberapa kali dia terbangun dari tidurnya, bukan karena ada Pram yang berjarak kurang dari satu meter dari tempatnya berbaring, tapi karena ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tentang dia yang ternyata tidak tahu apaapa tentang Pram. Benar kata Arien, tidak mungkin lakilaki setampan Pram tidak memiliki kekasih.
Pram mengatakan padanya, bahwa Sashi hanyalah seorang teman lama. Tapi apa yang ditunjukkannya sungguh berbeda. Ada sesuatu yang disembunyikan dengan jelas oleh lakilaki itu. Dihelanya napas, Raina membuka matanya lagi.
Entah mengapa, hatinya kini terasa pedih. Betapa jalan hidup kini terasa kejam baginya. Dia mencoba menerka semua kebaikan Pram dan mengingat cara lakilaki itu memperlakukannya. Bagaimana Pram bersikap dan bertindak dalam menghadapi tingkah egoisnya. Hampir seperti Raka, Pram melakukannya dengan sangat baik.
Tapi ada yang aneh yang harusnya dia sadari. Pram bukan Raka, jelas sekali bukan? Raka memperlakukannya dengan istimewa, karena mereka memang saling mencintai satu sama lain. Sementara Pram? Dia hanya seseorang yang terjebak dalam situasi konyol ini.
Apakah semua sikapnya memang dari dirinya sendiri?
Atau justru ini hanya sebuah kepurapuraan?
Tanpa dia sadari, Raina menitikkan air mata. Menjadi istri dari seseorang yang tidak sama sekali dia ketahui tentang kehidupan pribadinya membuat dia seperti boneka. Dia hanya bisa menduga tentang Pram. Tanpa tahu, pantaskah dia untuk menuntut Pram? Memintanya untuk menceritakan tentang hidupnya.
Sama seperti orang lain, Pram pasti memiliki kehidupan pribadi juga. Memiliki rahasia dan mimpi dalam hidupnya. Pastilah menikahi dirinya bukan impian yang dimiliki oleh Pram. Pikiran itu lagi, pikiran yang semakin membuatnya ingin segera mengakhiri pernikahan ini, padahal dia baru saja sepakat untuk memulainya.
Kenapa begitu sulit menjalani hal ini? Lagi, Raina kembali mengeluhkan nasibnya. Jika kemarin Raina merasa yakin akan pernikahannya, kenapa sekarang justru rasa percaya itu menurun drastis. Wajah Raka pun kini semakin membayangi dirinya. Hanya dengan mengenang masa lalunya bersama Raka, dia bisa tersenyum. Dan lamalama matanya terasa berat, sambil mengingat Raka dia kembali tertidur. Terlelap dalam kegelisahan.
***
Saat pagi, Pram sudah tidak ada di sebelahnya. Raina menguap beberapa kali. Diintipnya dari jendela, dia penasaran dengan suara knalpot motor yang berderu. Karena suara motor itulah dia terbangun. Ada Pram di sana, dengan motor besarnya.
Pram melambaikan tangannya ke tempat Raina berdiri. Raina hanya membalasnya dengan senyum. Tidak mungkin, tidak ada perempuan yang tergilagila pada suaminya itu? Dengan kaos dan celana pendek biasa saja, Pram tetap terlihat gagah di usianya yang sudah berkepala tiga.
“Cuci muka dan turun, Rain. Kita jalanjalan pagi,” Pram berteriak pada Raina.
Raina membuka jendela kamar Pram. Dia balas berteriak lagi. “Nggak mau, ah! Aku mau tidur lagi. Kalau kamu mau jalanjalan, kamu pergi aja sendiri.” Semalam dia memang tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dan sekarang dia lebih memilih bergelung dengan kasur dan selimut.
“Wait, wait.” Pram menggelengkan kepala. “Saya tunggu kamu di sini, atau saya ke atas dan paksa kamu buat turun? Ayolah, kamu perlu menghirup udara pagi, Sayang.”
Sayang? Apa Pram memanggilnya dengan kata ‘sayang’?
Wajah Raina memerah.
Pram menyadari ada yang salah dengan katakatanya. Tepatnya kata terakhir yang diucapkannya. Meski dari kejauhan, dia bisa melihat, bagaimana wajah Raina yang berubah. Oh, bagaimana bisa dia keceplosan mengatakan kata ‘sayang’ pada istrinya itu?
Tanpa menunggu jawaban Raina, Pram segera masuk ke rumah orangtuanya. Dia harus berbicara dengan Raina, meluruskan kesalahpahaman yang dibuatnya.
Suara air di kamar mandi memberikan penjelasan bahwa kini Raina sedang ada di dalam sana. Pram duduk di ujung ranjang dengan gelisah. Dia menunggu Raina dengan cemas. Takut kalau gadis itu marah.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Pram dan Raina saling menatap. Pram kaget melihat Raina yang keluar menggunakan handuk pendek untuk menutupi tubuhnya dan Raina kaget melihat Pram yang tibatiba ada di kamar.
“Praaaaaammmm, keluarrrr,” teriak Raina.
Bukannya keluar, Pram masih mematung. Raina langsung balik badan dan masuk ke kamar mandi lagi.
“Saya keluar, kalau kita sudah berbicara,” kata Pram di depan pintu kamar mandi.
“Kita bicara nanti, setelah aku pakai baju lengkap.” Kebiasaan Raina sejak lama, dia memang paling malas membawa baju ganti ke kamar mandi.
Pram tidak menjawab katakata Raina. Hening, Pram pasti sudah keluar dari kamar, pikir Raina. Dibukanya pintu itu dengan lebar dan Pram masih berdiri di tempat semula dengan senyum paling innocent-nya. Raina ingin menutup pintu kamar mandi lagi, tapi Pram menahan pintu itu.
“PRAAAAMMMMM…!” teriak Raina.
Pram hanya tertawa kecil. “Lima menit dari sekarang saya tunggu di luar,” kata Pram sambil menutup pintu kamar mandi.
Segera, setelah Pram pergi. Raina langsung memakai bajunya. Dia menyisir rambutnya dan mengikatnya. Bersyukur Pram tidak melakukan apaapa yang menakutkan dirinya. Jujur saja, dia belum sanggup untuk menyerahkan dirinya pada Pram, ketika hatinya masih ragu akan hubungan pernikahan mereka. Suaminya itu masih terlalu misterius. Dan Raina tidak menyukai segala sesuatu yang misterius.
“Sudah, Rain?” panggil Pram dari luar kamar.
“Masuk,” jawab Raina singkat. “Mau bicara apa?”
Pram tersenyum, sepertinya Raina tidak mempermasalahkan panggilan yang diucapkannya tadi. “Kamu mau ikut saya jalanjalan?” Pram duduk di sebelah Raina.
Raina yang merasa tidak nyaman, langsung menggeser posisi duduknya. Pikirannya tentang Pram semakin bercabang. Dia tidak tahu seperti apakah Pram yang sebenarnya. Dan itu yang membuatnya takut. Pelan dia menggeleng, memberikan jawaban pada Pram tentang ajakan pria itu padanya.
“Kamu tahu, Pram? Entah sampai kapan ini akan berlangsung.” Suara Raina terdengar menggantung.
“Ini?”
“Iya, pernikahan kita. Terlalu banyak hal yang belum bisa aku pahami, tentang kita. Terutama kamu.” Raina menelan ludahnya. Dia tidak bisa meraba masa lalu Pram, apalagi pria itu tidak pernah menceritakan tentang dirinya sama sekali. “Sebelum semua semakin jauh, aku ingin kita mengakhiri hubungan kita.”
Pram menautkan jemarinya sendiri. Dia cukup kaget dengan apa yang didengarnya. “Kenapa? Kemarin semuanya masih baikbaik aja. Kenapa tibatiba kamu meminta kita berakhir?” Pram menurunkan segala ego yang dimilikinya. Sejak bertemu dengan Raina, dia selalu berusaha mengalah.
“Kamu terlalu misterius, Pram. Aku nggak percaya kalau Sashi hanya teman.”
Pram tertawa mendengar nada gelisah dari bibir istrinya. “Kalau saya minta kamu untuk percaya sama saya, bisa? Percaya, kalau saya tidak akan menyakiti kamu.” Pram merebahkan tubuhnya di ranjang.
“Nggak segampang itu, Pram.”
“Kamu nggak capek ya bahas ini terus? Kita coba, Rain. Kita coba sampai kita memang tidak bisa mencobanya lagi.”
Raina masih diam. Semalam banyak yang dia pikirkan.
Tapi kenapa selalu saja, saat dia berhadapan langsung dengan Pram, maka semua yang ingin disampaikannya terasa begitu berat.
“Apa yang membuat kamu ragu?” Lekat, dipandangi wajah Raina yang terlihat begitu banyak masalah.
“Kamu,” jawab Raina. “Dan kehidupan kamu.” Raina berusaha mengelak dari tatapan Pram.
“Saya?” Pram menarik napas panjang. “Tidak cukupkah saya bersikap seperti ini kepada kamu?”
“Pernikahan bukan tentang cara kamu bersikap kepadaku, Pram. Tapi tentang sebuah fondasi yang kuat untuk menjalaninya.”
Sebuah cinta. Sebuah kejujuran. Sebuah kepercayaan.
Nanar, ditatapnya wajah Raina yang terlihat semakin sendu. Pram tidak menjawab lagi, hanya sebuah pembuktian yang bisa dia berikan. Bukan sebuah katakata yang dibutuhkan Raina. Istrinya telah memintanya dengan sangat jelas. Sebagai seorang lakilaki, maka dia pun akan mengambil tantangan itu.
***
Bersama Arya, asistennya, Pram memeriksa lokasi pembangunan real estate di Cikarang yang akan dimulai hari ini. Ada acara peletakan batu pertama yang akan dilakukan olehnya. Selebihnya adalah acara makanmakan bersama semua vendor yang telah bekerja sama atas pembangunan mega proyek tersebut.
Saat acara sudah selesai, Pram langsung undur diri untuk pergi lebih dulu dari tempat tersebut. Dia menyuruh Arya untuk menggantikannya. Pram segera melajukan mobilnya menuju tempat Raina berada. Cepat atau lambat, istrinya harus tahu tentang dirinya. Meski tidak instan, dia hanya ingin belajar terbuka kepada Raina.
Pram datang pada saat jam pulang sekolah. Penampilannya yang masih lengkap menggunakan setelan baju kerja, mengundang seluruh mata untuk melihat ke arahnya. Dia sudah menelepon Raina, tapi ponselnya tidak aktif.
Pram langsung menuju gedung pertama, tapi sayangnya tidak ada guru yang sedang piket. Akhirnya dia terpaksa bertanya pada salah satu murid yang melintas di dekatnya.
“Bisa tunjukkan saya di mana ruangan Ibu Raina?” tanya Pram.
“Bapak naik tangga yang di ujung sana. Ruang konseling di lantai dua ruang 202,” kata murid perempuan itu dengan sopan.
“Terima kasih,” kata Pram sambil tersenyum.
Pram menyusuri koridor panjang sambil melihat nomor ruangan satu per satu. Di depan pintu ruang 202, dia mengetuknya tapi tidak ada jawaban. Pram berinisiatif membuka pintu tersebut.
“Pram.... Kok bisa ada di sini?” Rupanya Raina sedang menggunakan headset.
“Ada yang penting. Saya mau, kamu ikut dengan saya sekarang.”
“Aku nggak bisa, Pram.” Raina membuka ponselnya. “Jam tiga sore ini, aku ada meeting bulanan dengan seluruh staf.”
“Ini lebih menarik dibandingkan dengan meeting kamu, Rain. Ayolah….” Terdengar nada memaksa dari Pram.
Raina masih terlihat menimbang dengan ajakan Pram. Tapi Pram telah bertindak dengan cepat. Dibereskannya barangbarang Raina yang ada di meja kerja lalu dimasukkan ke dalam tas istrinya itu. Setelahnya Pram meraih tangan Raina dan menggandengnya. “Kita harus cepat,” Pram berbisik.
“Tapi, kasih aku waktu sebentar buat minta izin dengan kepala sekolah,” kata Raina sambil melepaskan tangan Pram.
“Telepon atau SMS. Bisa, kan?”
“Pram….” Raina berteriak. “Tolong hargai pekerjaanku. Kamu aja nggak ngasih tahu alasannya ngajak aku pergi mendadak.”
“Pesawat Clara sebentar lagi mendarat. Kamu mau membiarkan saya untuk menjemput dia sendiri atau memilih meeting?”
“Clara? Siapa lagi gadis itu?” tanya Raina dengan penasaran.
“Nanti saya ceritakan. Yang penting sekarang kita harus cepat.”
“Tunggu aku di parkiran. Aku harus izin dulu, Pram. Sebentar aja,” bujuk Raina.
Pram mengangguk, mencoba mengerti posisi Raina.
“Jadi?”
“Ikut,” kata Raina pelan.
Pram tidak menuruti permintaan Raina agar menunggunya di parkiran, dia tetap mengikuti Raina. Hanya untuk memastikan Raina akan tetap pergi bersamanya. “Malu, Pram. Ini di sekolah. Banyak muridmuridku yang melihat,” Raina menggerutu saat Pram menggandengnya. Tapi Pram hanya tersenyum tanpa mengubah posisinya.
***
Pram terlihat tenang di ruang tunggu sambil mendengarkan pengumuman tentang pesawat yang baru saja mendarat. Kebalikan dengan Raina yang justru gugup. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa nanti. Sementara Pram bisa melihat sikap Raina yang berubah sejak tadi karena istrinya tidak banyak berbicara.
“Jealous?” bisik Pram sambil menahan tawa.
Raina langsung menoleh dan menggeleng dengan cepat.
“Bagus. Saya tahu, kamu nggak akan cemburu. Makanya
saya ngajak kamu ke sini,” jelas Pram.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, Pram telah menceritakan semuanya. Clara adalah mantan kekasihnya. Ada debar aneh dalam diri Raina, saat mendengar Pram yang bercerita tentang gadis bernama Clara itu.
Bertemu dengan mantan kekasih suami? Ada perasaan yang dia tidak tahu apa namanya, tapi itu bukan cemburu yang dimaksud oleh Pram. Perasaannya sebagai seorang perempuan justru membuatnya merasa tidak enak. Dialah penyebab berakhirnya hubungan Pram dan Clara. Semua ini membuatnya tidak tenang.
Seorang wanita dengan rambut berwarna cokelat madu, kulit semulus marmer dan manik mata berwarna biru berjalan dengan anggun. Dari kejauhan dia sudah bisa mengenali sosok Pram, dia mengenal baik pria itu lebih dari sekadar seorang kekasih. Langkahnya semakin cepat, saat Pram tidak menyadari kehadirannya. Dia memeluk tubuh tegap Pram dengan begitu posesif.
“I miss you.” Clara masih meresapi harum tubuh Pram yang selalu menggodanya. Dia tersadar ketika Pram tidak membalas pelukan itu. Tangan Pram tidak mendekapnya seperti biasa.
Mata Clara tidak secerah tadi.
Pram menarik pinggang Raina agar mendekat ke tubuhnya. “Cla, ini Raina. Rain, ini Cla,” ucap Pram mengenalkan dua wanita itu.
Raina dan Clara pun berjabat tangan. Sorot kebingungan tergambar dengan jelas di mata Clara. Tentang siapa Raina. Dengan jelas, dia menangkap ada yang berbeda dari cara Pram menatap Raina.
“Dia istriku,” kata Pram seolah tahu kebingungan yang dirasakan Clara.
“Istri? How about Sashi? Aku nggak percaya, apalagi setelah kamu cerita tentang Sashi,” Clara membalas katakata Pram dengan sengit.
“Jangan bahas yang sudah berlalu, Cla. Dan tolong hargai Raina. Karena dialah istriku.” Pram menatapnya tajam.
“Do you love her?” tanya Cla telak.
Pram membeku. Dia bisa saja berbohong, tapi Clara terlalu tahu tentang dirinya. Sebelum perempuan itu memaksa untuk menjadi kekasihnya, dia adalah sahabat terdekat yang Pram miliki. Bahkan ketika dia sudah melupakan sebuah janji. Janji tentang dirinya yang tidak akan menikah kecuali bersama Sashi. Clara masih saja mengingatnya sampai sekarang.
Clara tertawa hambar. “I feel sorry for you. Do not think it is going to work between you two.”
Raina langsung terdiam kaku. Apalagi ini? Kejutan apalagi yang harus diterima olehnya dari suaminya itu.
“Jaga ucapanmu, Cla. Setidaknya Raina tidak pernah memaksa untuk sebuah hubungan. Dia jauh lebih terhormat.”
Sore itu, sebuah pertemuan tak terduga justru berakhir dengan banyak tanda tanya. Selesai Pram dan Raina mengantar Clara ke hotel tempatnya menginap. Baik Pram atau Raina tidak ada yang berbicara sama sekali. Meski diam, pikiran Raina tak mau berhenti bersuara. Kenyataan bahwa dia adalah istri sah dari Pram justru membuatnya merasa sedih. Seharusnya dia menjadi orang yang paling tahu tentang suaminya itu. Bukan orang lain.
“Rain...,” Pram memanggil nama istrinya dengan sangat lembut. Lama mereka berpandangan di parkiran apartemen. Tangan Pram menyentuh pipi Raina, diciumnya dengan pelan bibir tipis istrinya yang sejak tadi murung. Raina tidak membalas ciuman itu, dia berusaha memalingkan kepalanya, mencoba menghindari Pram.
“Berhenti, Pram. Kumohon. Jangan lakukan lagi.” Raina mendorong tubuh Pram. Dia marah pada Pram, juga pada dirinya sendiri. Kenapa dia selalu kalah dengan lakilaki ini.
“I’m so sorry, Rain.” Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Pram.
Raina tidak menjawab, dia langsung keluar dari mobil. Dan meninggalkan Pram.
***