NOT A PERFECT WEDDING

NOT A PERFECT WEDDING
Episode 8



“Should I call you, 'Rain'?” Pram memecah keheningan saat mereka menikmati makan malam.



Rain. Hujan.



“Segitu menyedihkan kah aku di mata kamu, sampai kamu panggil aku 'Rain'?” Tidak seperti biasanya, Raina membalas menatap Pram.



Pram tersenyum, dia senang karena bisa melihat Raina yang berbeda. “If you think you are that though, then prove it. Makanan selezat ini aja, nggak bisa kamu makan. Lalu apa?”



Raina memang sudah kehabisan tenaga. Dia tidak tahu, kalau mulut Pram bisa sepedas itu berbicara padanya. Dia baru saja kehilangan Raka untuk selamanya, bukan untuk sehari atau seminggu Raka pergi. Tapi selamanya.



“Harusnya waktu itu aku loncat dari mobil.” Raina meletakkan sendoknya. Nafsu makannya benar­benar hilang. Jika tadi dia mengiyakan ajakan makan malam Pram, itu karena dia ingin menghormatinya tapi sekarang dia tak ingin berbasa­basi lagi.



“Kamu punya keluarga yang sayang sama kamu. Berhentilah bersikap seperti anak kecil. Bayangkan bagaimana perasaan mereka kalau melihat keadaan kamu seperti ini terus­menerus.” Pram tidak lagi bersikap manis. Cukup baginya melihat Raina menyiksa dirinya sendiri.



Raina tertawa sinis. Dia sadar sikapnya memang sangat menyebalkan. Tapi bukan berarti Pram bisa ikut campur mengenai urusan pribadinya. “Aku mau pergi.” Dia langsung berjalan menuju pintu keluar. Tanpa sekalipun melihat ke arah Pram. Raina sama sekali tak berminat untuk berdebat dengan laki­laki itu lagi.



Raina benar­benar tidak peduli dengan penampilannya yang hanya memakai baju tidur. Dia sadar, tempatnya memang bukan di sini. Pram hanya orang asing baginya, dan tidak pernah mengerti apa­apa tentang dirinya.



“Haruskah saya mengingatkan kamu tentang hubungan kita? Saya rasa kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti.” Pram menarik tangan Raina. Mendekatkan tubuh mungil gadis itu hingga keduanya saling menatap tajam.



Pelan ditariknya napas. Alam sadarnya seperti terbalik. Dengan sangat jelas Pram membuka sesuatu yang mereka hindari. Ikatan mereka sebagai sepasang suami istri yang sah di mata hukum dan juga agama.



“Kamu mau apa?” Raina berusaha melepaskan cengkeraman tangan Pram.



Pram mundur selangkah. Dia tahu, tidak seharusnya dia mengingatkan pernikahan mereka dengan cara seperti ini. “I’m so sorry for this, Rain.”



Mata Raina mulai berair lagi. “Aku tanya, kamu mau apa?” Suara Raina bergetar.



“Bisa kita bicara baik­baik?” Pram menarik tangan Raina, menggandengnya menuju ruang tamu.



“Tiga hari lagi, saya harus kembali ke London. Saya harus membereskan pekerjaan saya di sana.” Pram masih tertegun menatap wajah Raina tanpa ekspresi sedikit pun. “Saya nggak akan bisa tenang, kalau harus ninggalin kamu dengan kondisi seperti sekarang.” Gadis yang duduk di hadapannya tetap datar. “Atau kamu mau ikut saya?” Pram mencoba memberikan penawaran.



Raina menggeleng. “Aku di sini aja.”



“Hanya dua minggu. Setelahnya saya akan menetap di sini bersama kamu.” Kata­kata Pram membuat Raina terkesiap. “Please, stop hurting yourself.” Dia menggenggam jemari Raina. “Tommorow, I will take you back to your home.”



Raina tak bersuara. Ini diartikan Pram bahwa Raina mau mendengarkan semua kata­kata Pram.



***



Pram memijit pelipisnya, entah ini sudah keberapa kalinya dia melakukan ritual seperti itu. Dia benar­benar kehilangan akal menghadapi Raina. Kalau saja wajah Raka tidak pernah muncul di mimpinya, sudah pasti dia akan meninggalkan Raina secepat kilat.



Bukannya dia tidak simpatik melihat kesedihan Raina. Tapi gadis yang menyandang gelar istrinya itu sudah kelewatan. Seminggu hidup bersamanya, melihat wajah gadis itu selalu bersedih, tak pernah berbicara kalau tidak ditanya. Sungguh membuatnya bingung. Untung saja, Raina tidak mencoba untuk bunuh diri.



Mengingat kata bunuh diri, membuat Pram ngilu sendiri. Raina pasti tidak akan berbuat senekat itu. Tapi tunggu dulu, sejak sarapan tadi, Raina sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Ya, mereka memang tidur terpisah. Diam­diam Pram panik. Dihampirinya pintu kamar Raina, diketuknya pintu kayu itu, lama tak ada jawaban. Pram mendobrak pintu tersebut.



Matanya tercekat. Darah segar mengalir dari pergelangan tangan sebelah kiri milik Raina. Urat nadinya hampir terputus. Pram langsung menyobek seprai. Dia langsung mengikatkan seprai tersebut di tempat yang tersayat. Pendarahan pada tangan Raina harus segera dihentikan.



Pram segera mengambil kunci mobilnya, lalu dia menggendong tubuh Raina menuju rumah sakit terdekat. Mobilnya terparkir asal di depan IGD, dua orang perawat laki­laki langsung menyambut Pram yang sangat panik.



Seorang perawat menyuruh Pram untuk melakukan pendaftaran lebih dulu, sementara dokter akan memeriksa luka pada tangan Raina. Dia tidak menyangka Raina akan melakukan hal segila ini. Setelah menyelesaikan proses administrasi, Pram langsung menghampiri Raina.



“Keluarga pasien?” tanya dokter.



Pram mengangguk, ragu dia menjawab, “Saya suaminya.” Ada rasa canggung dalam diri Pram, saat dia menyebutkan dirinya sebagai suami Raina.



Saat mendengar jawaban dari Pram, dokter tampak mengernyitkan keningnya. “Sayatan pada pergelangan tangan istri Bapak sudah kami jahit. Untungnya luka tersebut tidak terlalu dalam. Untuk memulihkan kondisinya, pasien harus rawat inap. Jika kondisinya sudah membaik, besok atau lusa sudah boleh pulang,” jelas dokter.




“Tolong, jaga emosi istri Bapak untuk proses pemulihan psikisnya,” dokter tersebut memperingatkan Pram dengan serius.



Pram mengerti apa yang dipikirkan dokter tersebut terhadap dirinya. Tapi dia tidak mau ambil pusing, toh mereka semua tidak tahu apa yang terjadi padanya dan juga Raina.



***



Raina terbangun di ruangan yang berbeda. Semuanya serba putih. Apa dia sudah benar­benar pergi dari dunia ini? Dia tersenyum. Kalau segampang ini, harusnya sejak kemarin dia bisa mengakhiri hidupnya tanpa harus menanggung rasa sedih dan sakit hati sedalam ini.



Tapi saat Raina menggerakkan lengannya, ada jarum dan selang infus yang menahan geraknya. Serta perban yang membalut pergelangan tangannya karena luka yang sengaja disayat olehnya. Terjawab sudah pertanyaannya, dia belum mati. Seseorang telah menggagalkan misinya dan seseorang itu kini terlelap di pinggir brankar. Dia, Pram.



Kenapa Pram harus menyelamatkannya? Walau dalam kondisinya yang lemah seperti ini tidak membuatnya lupa ingatan. Rasanya Pram selalu ada untuknya, selalu menemaninya.



“Rain….” Suara serak Pram memanggil nama Raina. “Kamu sudah bangun? Mau apa? Kata dokter tangan kamu belum boleh banyak gerak dulu. Kalau kamu butuh apa­apa, bilang aja sama saya.”



Raina bangun dari tempat tidurnya. Dia ingin ke toilet.



“Kamu mau ke toilet?”



Raina hanya mengangguk kecil. Oh, Tuhan. Betapa mahal suara milik gadis ini. Pram menatap kesal wajah Raina. Apalagi setelah aksi percobaan bunuh diri yang dilakukannya.



“Saya antar,” kata Pram tegas dan dingin. Pram membantu Raina untuk bangun dari tempat tidurnya. Dia juga membawakan tiang infus sambil memapah tubuh Raina.



Sampai di depan pintu toilet. Raina menghentikan langkahnya tiba­tiba dan berbalik ke arah Pram yang ada di belakangnya. “Tunggu di sini aja.” Kemudian dia berbalik lagi, tapi pintunya ditahan oleh tangan Pram.



“Saya temani sampai di dalam.” Pram tidak berpikir macam­macam. Dia tidak ingin kecolongan lagi. Apa kata keluarga Raina, kalau mereka sampai tahu Raina melakukan percobaan bunuh diri. Pasti dirinyalah yang akan dimintai pertanggungjawaban.



“Aku mau mandi,” kilah Raina.



“Bagus kalau begitu. Kita bisa sekalian mandi bareng,” kata Pram sambil tertawa sinis. Dia sudah teramat frustrasi menghadapi Raina.



“Pram….” Ini pertama kalinya Raina memanggil nama Pram.



“Kamu belum boleh mandi, Rain.”



“Please, tunggu di luar. Aku nggak akan melakukan apa­apa.” Raina terdengar merengek.



“Buka pintunya kalau begitu.”



Raina mengangguk. Lalu Pram menggeser badannya. Saat keluar dari toilet, dia kaget melihat Pram masih berdiri di samping pintu toilet, bahkan laki­laki itu tidak menyadari kehadirannya. Raina terpaku melihat Pram di sana. Dia masih tidak menyangka bahwa laki­laki yang ada di depannya, mau bersusah payah untuk menyelamatkan hidupnya



Saat Raina melewatinya, Pram tertegun. Betapa kacau kehidupan gadis ini ketika ditinggalkan oleh Raka. Betapa beruntungnya Raka, memiliki Raina yang mencintainya sepenuh hati. Kini Pram bingung, kejadian tadi hampir membuatnya lupa, lusa adalah jadwal kepergiannya ke London.



“Besok saya antar kamu pulang. Berjanjilah untuk tidak melakukan hal­hal bodoh lagi.” Ditatapnya lekat mata cokelat milik Raina.



Raina ingin menolak tentang keinginan Pram yang ingin memulangkannya. Tapi dia juga tahu, mereka tidak punya pilihan lain. Apalagi setelah kejadian hari ini. “Kalau kata kamu caraku ini bodoh. Tolong beri tahu aku bagaimana cara yang pintar untuk menyelesaikan semua ini?” Nanar, Raina menatap Pram dengan mata berkaca­kaca.



Pram mencengkeram bahu Raina.“Bertahanlah. Ada saya, keluarga kamu. Pikirkan tentang mereka yang mencintai kamu.”



Air mata Raina menetes. Lalu dia menggeleng. “Aku nggak bisa, aku nggak kuat menghadapi ini semua,” ucapnya lemah.



“Kamu bisa, Rain. Saya selalu ada di samping kamu,” kata Pram diakhiri dengan sebuah kecupan di kening Raina.



***