NOT A PERFECT WEDDING

NOT A PERFECT WEDDING
Episode 2



“Hari ini kamu milikku,



dan aku bersyukur karenanya.”



Raka masih terdiam dalam lamunannya. Membayangkan sebuah acara sakral yang sudah dinantikannya sejak lama. Besok segala impiannya akan menjadi kenyataan, bersama perempuan yang paling dia cintai, dia akan memulai sebuah kehidupan baru bernama pernikahan.



Gadis beruntung itu bernama Raina. Gadis yang sudah menemani hari­harinya selama dua tahun belakangan. Bayangan Raina yang memakai kebaya berwarna pink kembali membuatnya tersenyum. Raina, gadis sederhana yang selalu memenangkan hatinya dengan cara yang tak terduga.



Hanya dengan memikirkan gadisnya bisa membuat rasa jenuh Raka menguap begitu saja. Untuk kesekian kalinya, dia melirik lagi arlojinya. Sudah setengah jam dia menunggu Pram di Bandara.



Pram, kakaknya itu telah menetap di London sejak tujuh tahun lalu. Dia paling susah kalau diminta pulang. Karena tahu akan hal itu, sejak jauh hari Raka sudah meminta Pram berjanji untuk menghadiri acara pernikahannya. Sehingga tidak ada alasan bagi Pram untuk menghindari kepulangannya.



Samar­samar dari kejauhan, sesosok pria tinggi dengan kacamata hitam tertangkap dengan jelas oleh pandangan Raka. Dia tidak mungkin salah mengenali orang. Senyum Raka semakin mengembang. Ada rasa bahagia yang membuncah saat dia benar­benar melihat sosok Pramudya Eka Rahardi dengan nyata.



Pram, pembelanya. Pram yang selalu melindunginya sejak dia kecil. Raka tidak menunggu lebih lama lagi, dia langsung berjalan cepat mendekati objek yang sangat dirindukan juga yang selalu dikaguminya.



“Sudah lama nunggu? Maaf, tadi pesawat gue delayed di Changi,” kata Pram sambil memeluk Raka lebih dulu.



“Gue tahu lo bakal telat. Jadi gue ngepasin aja datang sama jadwal yang lo kasih,” jawab Raka sambil menonjok lengan Pram.



Pram hanya tertawa menanggapi sikap adiknya. Matanya mencuri pandang, dia menilai dari atas sampai bawah penampilan Raka, sambil mengingat semua kenangan tentang masa kecil mereka. Raka yang selalu dilindunginya itu kini sudah berubah menjadi pria dewasa.



Kali ini Pram melepas kacamatanya. Lingkaran di bawah matanya yang menghitam tercetak dengan sangat jelas. Tanda kalau dia sering kurang tidur. “Lo benar­benar sudah siap melepas kebebasan yang lo punya?” tanya Pram dengan nada meledek.



Pram bukannya tidak setuju dengan keputusan Raka yang ingin segera menikah. Dia hanya ingin melihat seyakin apakah Raka untuk memulai fase baru dalam hidupnya.



“Gue rasa, gue sangat siap menghabiskan sisa hidup gue bersama Raina.” Raka lagi­lagi memukul lengan Pram. Pram mengelak dan berhasil, dia menggelengkan kepalanya sambil tertawa meledek Raka. Beginilah jadinya kalau mereka bertemu, mereka lupa kalau mereka bukanlah anak kecil lagi.



Pram tersenyum melihat adiknya yang berbicara dengan mata berbinar. Mengingatkan dia akan Raka ketika masih kecil saat sedang menceritakan hal­hal yang sangat disukainya.



“Lo harus kenal dia, Pram. Gue yakin kalau lo kenal sama



dia duluan, lo juga pasti jatuh cinta sama dia,” Raka berorasi lagi tentang gadis pilihannya. “Kalaupun lo jatuh cinta sama dia sekarang, gue rela ngelepas dia buat lo,” ucapnya dengan makna yang tersirat.



Pram terbahak mendengar kata­kata Raka. Tapi dia juga tahu makna dari kalimat yang disampaikan Raka untuknya. Tentang sebuah alasan kepindahannya ke London tujuh tahun lalu. Raka­lah saat itu satu­satunya orang yang paling mengerti tentang dirinya.



“No, Kiddo! Kita memang punya darah yang sama. Tapi gue pastikan, untuk masalah selera, apalagi masalah perempuan. Kita nggak akan pernah sama. Kriteria cewek gue, jelas di atas standar lo,” jawab Pram mantap diiringi senyum menawannya.



Raka tergelak. Tapi apa yang dikatakan Pram memang benar. Selera Pram tidak pernah berubah. Bahkan ketika dulu Pram remaja, Raka mengenal semua gadis­gadis yang dikencani kakaknya. Tidak ada perempuan sederhana yang menjadi pacar Pram, semuanya pasti berkelas.



“Ayo pulang, gue butuh tidur dan ketemu Mami sama Papi buat dengerin ceramah mereka.” Pram kembali menyeringai dan menyerahkan kopernya pada Raka.



Selera Pram memang selalu di atas Raka. Kalau dia menyukai perempuan yang sederhana seperti Raina, maka Pram menyukai gadis­gadis yang terbiasa dengan kalangan sosialita. Anggun dan berani, itulah salah satu ciri wanita yang selalu memenangi hati Pram.



Pram menuruni bakat Papi yang parlente sementara Raka adalah fotocopy Mami. Sederhana dan apa adanya. Begitulah keluarga Rahardi. Kedua orangtua mereka memiliki watak yang berbeda tapi di situlah seninya. Toh, perbedaan itu tidak pernah membuat mereka berselisih.



***



Anne belum menyadari kedatangan anak­anaknya. Sejak pagi dia sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan berbagai macam masakan kesukaan Pram. Meski sudah bertahun­tahun hidup di luar negeri, tetap saja Pram masih sangat­sangat mencintai masakan Indonesia. Lihat saja yang tersajikan di meja makan. Ada rendang, gado­gado, soto ayam, dan beberapa jenis kue­kue tradisional. Membuat Pram harus menahan rasa laparnya, saat mencium aroma masakan yang dibuat Anne.



“Mam...,” Pram menyapa Anne yang masih sibuk di dapur.



Anne, perempuan yang pernah melahirkan Pram terkadang hingga kini masih suka terpesona melihat anak sulungnya itu. Sampai Raka harus terbatuk dulu untuk memecahkan momen istimewa tersebut. Sorot mata Anne menunjukkan banyak hal. Kerinduan dan juga rasa bahagia atas kehadiran Pram di rumah mereka.



“Pramudya. Mau sampai kapan kamu berdiri di sana? Apa harus Mami yang loncat untuk memeluk kamu?” Anne berpura­pura marah.



Pram hanya tertawa. Dia berjalan santai, mendekati Anne yang masih berdiri dengan celemek berwarna jingga. Penuh rasa sayang, Pram memeluk dan mencium satu­satunya perempuan paling cantik di keluarga mereka.



“I miss you, Mam,” bisik Pram.




Pram masih merangkul Anne sambil mendengarkan celotehannya yang hampir selalu sama. Dia tahu, dia memang salah. Terakhir dia kembali ke Jakarta adalah tiga tahun yang lalu. Itu pun karena eyang putri mereka meninggal.



“Aku bawain Mami oleh­oleh lho. Clutch koleksi terbaru dari Chanel.” Pram selalu begitu. Dia tahu, dia pasti akan dapat teguran dari kedua orangtuanya. Makanya dia selalu menyiapkan oleh­oleh spesial untuk keluarganya.



“Mami nggak butuh clutch. Mami cuma butuh menantu. Mami ingin gendong cucu dari kamu sama Raka,” balas Anne dengan wajah cemberut.



Raka hanya terkikik geli, melihat ekspresi Pram yang kaku saat ditodong masalah calon istri. Pram langsung melirik ke arah Raka untuk meminta bantuan. Tapi Raka tidak melakukan apa­apa, dia tidak akan menyelamatkan Pram dari kondisi ini. Karena dalam hatinya, dia pun ingin melihat Pram segera menikah.



“Mam, bisa nggak kita bahas masalah menantu dan cucu lain kali aja? Aku lebih nafsu sama makanan Mami daripada harus mikirin kapan punya istri dan anak.” Pram berusaha mengalihkan ucapan Anne tentang masalah yang sangat pribadi untuknya.



Anne tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya tapi dia sadar, dia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Pram. Anne tahu, kalau Pram belum mau membawa seorang gadis ke rumah mereka.



“Mami masak ini semua buat kamu, Sayang,” kata Anne dengan tersenyum puas melihat hasil masakannya yang menggiurkan. “Ayo Raka temani kakakmu,” Anne memanggil Raka yang sedang bersiap untuk pergi lagi.



“Mi, aku masih mau ngurus pengisi acara untuk besok. Lo, gue tinggal nggak apa­apa kan?” tanya Raka pada Pram.



Pram yang sudah sibuk mengunyah, hanya melambaikan tangannya dan mengacungkan jempolnya pada Raka. Setelah pamit dan mencium tangan Anne, Raka langsung pergi.



***



Sambil menyetir Camry hitam kesayangannya, Raka menghubungi Raina. Sepanjang hari ini dia belum mendengar suara Raina sama sekali. “Honey... kamu lagi ngapain?”



“Aduhhh, aduhh... aku kejedot nih.” Suara Raina terdengar mengaduh­aduh. Ya, Raka tahu. Gadisnya itu memang suka ceroboh.



“Lagi repot ya?”



“Nggak, Sayang. Tadi aku lagi ngambil mobil-mobilan Dafa di bawah meja makan,” jelas Raina sambil tertawa. “Kok kamu baru telepon aku sih?”



“Iya, Hon. Tadi kan aku jemput kakakku di Bandara.”



“Oh iya aku lupa. Siapa namanya?”



“Pramudya. Besok kamu juga ketemu sama dia.”



“Eh, aku deg-degan deh buat besok. Masih nggak percaya kalau besok aku jadi istri seorang Prakarsa Dwi Rahardi.” Raina tertawa renyah. “Kamu sudah hafal lafal ijab kabul belum, Sayang? Pokoknya nggak boleh ngulang ya.”



Raina sudah berkali­kali mengingatkan Raka tentang lafal ijab kabul, dia ingin momen sakral itu terjadi dengan hikmat dan hanya terucap sekali seumur hidup. Dan sebenarnya, Raka juga sudah hafal di luar kepala bahkan sejak seminggu yang lalu. Tapi dia senang menggoda calon istrinya itu.



“Aku belum hafal nih... kamu bantuin aku hafalin ya.”



“Belum hafal? Ayo coba, aku dengerin,” sahut Raina.



“Saya terima nikah dan kawinnya, Raina Winatama Binti



Gunawan Winatama dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas seberat seratus gram….”



Tiba­tiba sebuah mini bus dengan kecepatan tinggi yang berada di jalur tengah oleng dan berpindah ke jalur kanan yang sedang dilintasi oleh Raka. Ponselnya terlepas, Raka berusaha menekan pedal rem sekencang mungkin tapi tidak berhasil.



Kecepatan mobilnya yang mencapai kisaran angka di atas 100 km/jam membuatnya tidak bisa menghindar. Dalam sekejap tabrakan pun terjadi, Raka kehilangan kendali pada setirnya. Raka menabrak mini bus yang tepat berada di depannya dan setelah itu terdengar suara kencang akibat benturan hebat yang bertubi.



Yang terlintas di pikirannya adalah Raina, pengantinnya.



“Tolong … tolong….” Hanya kata itu yang tertahan di tenggorokannya. Raka berusaha berteriak tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.



“Maafkan aku, Sayang ... maafkan aku!” ucapnya dalam hati. Seketika benturan demi benturan yang menghantam tubuh Raka langsung menjalar dengan cepat ke seluruh sarafnya dan membuat dia tidak sadarkan diri karena rasa sakit yang semakin mendera.



***