
“Satu hari, ketika kamu pergi, dan aku menangis.”
Langkahlangkah kaki Raina semakin berat terasa. Matanya menatap nanar lurus ke depan karena bukan Raka yang menyambutnya dengan sukacita. Bukan Raka, pria berlesung pipi yang sudah dua tahun mengisi hatinya.
Lakilaki yang ada di hadapannya adalah seorang pria asing. Pria yang baru saja dikenalnya, bahkan hanya sebatas nama. Meski dia juga memiliki nama Rahardi sebagai nama belakangnya, seperti Raka. Tapi jelas, pria itu bukan Raka.
Arman dan Pasha masih mengiringi langkah Raina yang semakin pelan. Tepat di hadapan meja penghulu, Arman menarik sebuah kursi yang sudah dilapisi bahan berwarna putih serta pita emas di sandaran kursi tersebut. Raina terduduk lemas di sana. Titiktitik air mata yang menetes semakin membasahi pipinya. Ingin dia berteriak, tapi suaranya tertahan karena isak tangisnya.
Sampai suara seorang MC lakilaki memecahkan keheningan. Acara selanjutnya adalah pemasangan cincin yang akan disematkan oleh Pram kepada Raina secara bergantian. Pram meraih kotak cincin itu lalu membukanya.
Ada sepasang cincin berlapis emas putih di dalam kotak tersebut. Dari kejauhan pun terlihat, dua nama yang terukir di sisi dalam cincin itu. Jelas bukan nama Pram yang ada di sana, karena dia tidak pernah memesan cincin seperti itu. Nama Raka dan Rainalah yang terukir dengan indah. Dua orang yang seharusnya paling berbahagia di hari ini.
Pram menatap ke arah Raina yang tertunduk. Air matanya menetes, tapi tak sekalipun perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu mencoba untuk menghapusnya. Apa yang harus dia lakukan? Pram memejamkan matanya, mencoba mencari ketenangan.
Sementara Raina sudah tidak tahan lagi dengan ini semua, dia berdiri dari kursinya. Dia tidak punya tujuan, dia tidak tahu akan ke mana. Yang dia tahu, kini dia harus mencari Raka, calon suaminya. Langkahnya yang tergesa justru membuatnya jatuh. Pram yang berada paling dekat, langsung menangkap tubuh Raina.
Untuk bangun saja Raina tidak memiliki cukup tenaga. Dia berusaha melepaskan pelukan Pram dan memilih untuk melepas sepatunya. Pram hanya menggeleng kecil melihat aksi Raina, kalau acara ini bukanlah acara pernikahannya pasti dia sudah terbahak melihat aksi dari sang pengantin wanitanya.
Pram menarik tangan Raina lembut. “Ikut dengan saya,” kata Pram.
Raina sama sekali tidak ingin berkompromi lagi. Hari ini dia sudah dibohongi dengan sangat telak. Haruskah sekarang dia memercayai orang asing yang kini telah sah menjadi suaminya itu?
“Lepasin.” Raina memasang wajah galaknya. Tapi Pram sama sekali tidak menggubrisnya.
“Kamu mau cari Raka kan? Saya akan bawa kamu untuk menemui Raka,” kata Pram dengan tenang.
Raina terdiam sesaat. Tapi hatinya terlalu marah untuk menerima tawaran dari Pram. “Aku mau cari sendiri.”
Tak ada pilihan lain, mereka berdua sudah menjadi tontonan para tamu yang hadir. Meski tamu yang datang kebanyakan adalah pihak keluarga masingmasing pengantin. Tetap saja Pram tidak ingin terlihat konyol. Berdebat dengan makhluk berjenis kelamin perempuan adalah sesuatu yang sangat malas dilakukannya. Tanpa abaaba terlebih dahulu, dia mengangkat tubuh mungil Raina dengan sekali gendong ke pundaknya. Pram membopong Raina, seperti sedang membawa karung beras.
Raina hampir saja melompat, tapi tangan Pram terlalu kuat memeluk tubuhnya. Dia berusaha menendang dan juga memukul punggung Pram, agar segera menurunkannya. Tapi Pram sama sekali tidak melepaskan Raina.
Lelah untuk berontak, Raina tidak melakukan apaapa lagi. Tapi justru pikirannya tengah bekerja dengan keras. Bertanyatanya di manakah Raka sekarang? Kenapa Raka tega menghilang begitu saja? Dan justru kenapa orang ini yang menjadi suaminya?
Pram berpamitan kepada kedua orangtua mereka. Juga pada Arman dan Pasha. Urusan Pram memang bertanggung jawab atas Raina. Sementara orangtua mereka yang akan memberikan penjelasan kepada keluarga dan tamu tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Wajah Raina memerah. Menahan rasa malu dan marah karena sikap Pram yang begitu dominan atas dirinya. Pram baru menurunkan Raina ketika mereka sudah berdiri di depan pintu mobilnya. Dia masih memegang pergelangan tangan Raina, berjagajaga takut Raina akan lari. Dimatikannya alarm mobil. Dengan sedikit mendorong tubuh Raina, gadis itu sudah duduk manis di sebelah kursi kemudi.
“Jangan berpikir untuk lari atau melakukan hal yang anehaneh,” ucap Pram datar, tapi mampu membuat Raina terkesiap mendengarnya.
Keduanya tidak saling berbicara. Pram memberikan kotak tisu pada Raina, saat dilihatnya air mata Raina akan berjatuhan lagi. Tapi niat baik Pram tidak digubris sama sekali oleh Raina. Gadis itu lebih memilih mengelap air matanya dengan jemarinya.
Sebelum menyalakan mesin mobil. Pram melepaskan dasi dan juga jasnya. Dia menggulung lengan kemejanya hingga siku lalu memakai seat belt. Dia melirik Raina sekali lagi.
“Pasang seat belt kamu...!” perintah Pram. Tapi Raina tidak mau menurut. Akhirnya Pram melepaskan seat beltnya, dan mendekati jok yang diduduki Raina, menarik seat belt yang berada di pinggir pintu dan menyambungkannya. “Tolong, jangan buat situasi semakin rumit. Bisa?”
Kesabaran Pram benarbenar diuji, karena Raina tetap tidak menjawab dan malah mengalihkan pandangannya ke jendela. Dicengkeramnya setir dengan kencang, dalam hati Pram bersumpah, tidak akan terpancing oleh semua sikap menyebalkan Raina.
Red Jaguar yang ditumpanginya kini memasuki tol luar kota tapi bukan ke arah Jakarta. Mata Raina membulat, kenapa Pram tidak membawanya kembali ke Jakarta justru malah ke arah sebaliknya.
“Kita mau ke mana? Kamu mau bawa aku kabur ya?” Dengan sangat terpaksa, karena rasa penasaran akhirnya Raina mau membuka suara.
Pram tidak menjawab pertanyaan Raina sama sekali. Dan sekarang Raina benarbenar kesal, karena Pram justru membalas sikapnya. Ditambah lagi, Raina menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa dengan mudahnya dia mau mengikuti lakilaki asing ini.
“Kalau kamu nggak mau jawab, aku loncat nih,” ancam Raina tak segansegan.
“Kamu nggak akan berani melakukannya. Kalau kamu loncat dari mobil yang sedang berjalan dengan kecepatan 100 km/jam, saya bisa pastikan besok semua headline surat kabar memberitakan kematian kamu secara mengenaskan,” ucapnya dengan meremehkan dan sekilas melirik sejenak ke arah Raina. “Sebaiknya, kamu ambil tisu dan bersihin make-up kamu. Saya yakin, Raka nggak akan suka ngeliat kondisi kamu seperti sekarang.” Kali ini Pram tersenyum saat mengakhiri kalimatnya.
Sekarang situasi jadi berbalik. Bukannya bisa mengancam kini malah dirinya yang terancam. Raina tidak membantah Pram lagi, kini dia justru menurutinya. Perlahan Raina mengambil tisu dan membersihkan wajahnya.
Saat Mobil yang dibawa Pram menyalakan lampu sein kiri, Raina melirik sekilas. Mereka keluar di pintu Tol Karawang. Karawang? Sedang apa Raka di sana? tanya Raina dalam hatinya.
Setengah jam kemudian, sebuah gerbang dengan empat orang petugas keamanan menyambut kedatangan mereka. Raina tidak sempat melihat nama tempat yang mereka datangi. Di parkiran, Pram turun terlebih dahulu, dia tidak langsung membukakan pintu untuk Raina.
Setelah mengambil sesuatu di bagasi mobilnya, baru ia menghampiri gadis itu. Diberikannya sandal plastik bewarna hitam yang terlihat besar untuk ukuran kaki Raina. Raina tidak menolaknya, karena setelah insiden pelepasan sepatu hak tingginya itu dia memang bertelanjang kaki. Tanpa raguragu dia memakainya.
Berbeda dengan Raina yang berpenampilan kusut. Pram terlihat lebih santai tanpa jas dan dasinya yang sudah dilepaskan sejak tadi. Diamdiam Raina menilai penampilan Pram. Bagaimana mungkin pria ini adalah suaminya? Pelan dia menggeleng dan buruburu mengenyahkan pikiran itu. Sebentar lagi dia pasti bertemu dengan Raka. Dalam diam dia mengikuti langkah Pram. Sengaja memberi jarak karena memang dia tidak ingin berdekatan dengan Pram.
“Ini tempat apa?” tanya Raina berbisik ketika mereka duduk di ruang tunggu. Pram baru saja akan menjawab, tapi seorang petugas lebih dulu menyapa mereka.
“Pak, mobilnya sudah siap," kata petugas tersebut dengan sopan.
“Sebentar lagi kamu tahu. Ayo,” kata Pram sambil berdiri.
Sebuah mobil yang digunakan untuk mengantar para tamu sudah menunggu mereka. Raina menolak bantuan Pram untuk naik ke mobil. Dengan bersusah payah Raina mengangkat kain kebayanya yang panjang, akhirnya dia berhasil duduk.
Angin sore yang berembus membuat Raina semakin hanyut akan pikirannya yang berkecamuk. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Raka dan meminta penjelasan tentang lelucon yang terjadi padanya.
Tapi segalanya berubah, bulu kuduknya meremang. Raina memicingkan matanya, menajamkan penglihatannya. Meski tersusun dengan rapi, tumpukan tanah yang ditumbuhi oleh rumput halus bewarna hijau itu adalah sebuah makam. Dia tidak mungkin salah lihat.
Mobil telah berhenti. Pram masih sangat ingat akan tempat ini. Karena tadi pagipagi sekali, di tempat ini dia mengucapkan kata perpisahan untuk adiknya. Dan sekarang adalah tugasnya, memberitahukan Raina yang sebenarnya.
“Maaf... karena kamu jadi orang terakhir yang tahu tentang semua ini.” Pram menatap ke arah Raina. Dia merangkul bahu Raina dan menganggap hal ini adalah bentuk perhatiannya atas rasa kehilangan yang baru saja dirasakan Raina.
Raina masih berdiri kaku. Dia dengan jelas mendengar apa yang dikatakan Pram, bahkan ketika Pram merangkulnya dia sama sekali tidak mengelak. Bukan, bukan karena dia sudah menerima Pram sebagai suaminya. Tapi hatinya terlalu kaget menerima kenyataan yang tidak pernah dibayangkan olehnya sama sekali.
Jantungnya seperti berhenti, ketika dilihatnya dengan sangat jelas, tanggal wafat yang tertulis di papan nisan tersebut. Tepat kemarin. Pikirannya kosong, hanya tersisa tentang kecelakaan yang menimpa Raka.
Mungkinkah karena hal itu Raka pergi meninggalkannya? Belum sempat dia bertanya pada Pram, tubuh Raina telah limbung. Hampir saja dia mencium tanah kalau Pram tidak meraihnya. Pram segera memapah Raina dan membawanya pergi dari tempat itu.
***
Pram sudah mengantisipasi hal ini akan terjadi. Sebelum berangkat dia sudah menyiapkan kunci apartemen miliknya. Apartemen yang baru saja dibeli olehnya untuk investasi melalui Raka. Dia menitipkan apartemen tersebut pada Anne untuk merawatnya. Sekarang perkiraannya tidak meleset, setidaknya dia memiliki tempat pribadi untuk menjalani kehidupannya yang baru bersama Raina.
Sesampainya di apartemen, Pram masih memapah tubuh mungil Raina yang terlelap menuju kamar utama. Untungnya meski tempat itu kosong, Anne menyuruh para pembantu mereka secara rutin untuk membersihkan apartemennya.
Raina sudah sempat sadar sebelumnya tetapi karena masih shock gadis itu kembali histeris dan tak hentihentinya menangis sampai akhirnya tertidur. Pram sempat kewalahan menghadapi Raina. Beberapa kali mobilnya harus berhenti karena Raina memaksa untuk turun. Dia sangat bersyukur karena bisa membawa gadis ini dengan selamat.
“Rakaa... Rakaa...!” panggil Raina dalam tidurnya.
Pram yang duduk di pinggir ranjang menengok ke arah Raina. Dihapusnya air mata itu dengan jemarinya perlahan. Dia tak ingin Raina sampai terbangun.
Kalau seperti ini, lebih baik saya yang pergi. Karena bukan kamu saja yang merasa kehilangan. Perih itu bukan milik Raina seorang, Pram pun ikut merasakan hal yang sama.
Tak tahan lebih lama lagi menyaksikan kesedihan Raina. Pram membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di ruang tamunya. Saat bayangan wajah Raka kembali muncul, dia berusaha memejamkan matanya. Masih berharap bahwa ini semua hanyalah sebuah mimpi.
Pram mengambil ponsel di saku celananya, dia langsung menelepon kakak Raina. Pram meminta Arman untuk datang ke apartemennya, membawakan baju dan juga semua perlengkapan Raina. Melihat kondisi Raina yang seperti sekarang, membuat Pram cukup yakin bahwa gadis itu butuh sendiri untuk menerima kenyataan pahit yang baru diketahuinya. Mungkin di sini akan lebih baik bagi Raina.
***
Hari ini adalah hari yang paling melelahkan untuk Pram juga Raina. Di hari yang sama mereka harus menerima dua kenyataan baru. Dan tak ada satu pun dari mereka yang bisa mengelak dari takdir yang telah digariskan. Suka atau tidak, segalanya telah terjadi. Karena mulai sekarang, sebuah awal untuk kehidupan mereka yang baru akan dimulai.
Pram kembali mengingat, tentang pertemuan pertamanya bersama Raina. Lalu berganti pada saat dia melafalkan ijab kabul tanpa diketahui oleh calon istrinya. Dan terakhir adalah sebuah kenyataan bahwa hari ini tanggung jawabnya bukan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk Raina.
Raka telah menitipkan Raina untuk dijaga olehnya. Pram tidak tahu, apakah dia mampu untuk menjalankan tugasnya atau tidak. Yang dia tahu, ini semua demi Raka.
Bel apartemennya berbunyi. Pram yang hampir saja terlelap di sofa ruang tamu buruburu membuka pintu. Kedua kakak lakilaki Raina datang bersama. Membawa koper yang berisi pakaian dan juga satu tas kecil yang berisi dompet, ponsel, dan make-up milik Raina.
“Di mana Rai?” tanya Pasha terlebih dahulu.
“Di kamar. Sekarang dia lagi tidur.” Pram menunjuk kamar utama.
Pasha langsung menuju kamar tempat Raina berada. Sementara Arman duduk di ruang tamu bersama Pram. “Gimana kondisi Raina, Mas?” Arman buka suara pertama kali. Dia sangat khawatir akan kondisi adiknya.
“Sama seperti orang yang baru saja kehilangan pada umumnya. Tadi dia pingsan, terus menangis sampai ketiduran.” Pram hanya menjelaskan secara singkat
“Mama sama Papa khawatir banget. Kalau ada apaapa tolong jangan sungkan untuk hubungi kami ya, Mas,” kata Arman sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Masalah ini bukan hanya jadi tanggung jawab Pram seorang, karena keluarga Raina pun turut menyetujui pernikahan antara Pram dan Raina.
Pram tersenyum. “Saya pasti akan sering menghubungi kalian. Buat saya, pernikahan ini terlalu tibatiba. Saya dan Raina pun baru bertemu dan saling mengenal hari ini.”
“Kami yakin, sama seperti Raka. Mas Pram pasti bisa menjaga Raina,” kata Pasha yang ikut bergabung duduk. “Harus banyak sabarnya menghadapi Raina ya, Mas. Dia tuh anak bungsu, satusatunya anak perempuan lagi. Jangan kaget kalau kelakuannya suka kaya princess," tambah Pasha.
Ketiganya tertawa bersama. Dari awal berkenalan dengan Raina, Pram sudah bisa melihat sifat manja itu dari calon istrinya. Semua jenis perempuan pernah ditaklukkannya, apalagi hanya sekadar gadis manja seperti Raina. Tentu bukan masalah yang sulit.
“Ayo Kak, kita pulang. Rai masih tidur dan kayaknya sih baru bangun besok pagi. Dia kan kebo banget kalau tidur.” Lagi mereka tertawa, seolaholah tidak ada yang terjadi. Mereka bukannya ingin mencoba melupakan kepergian Raka, tapi inilah cara mereka untuk terus melanjutkan hidup.
“Lihat tuh, Mas Pram juga sudah ngantuk banget,” sambung Pasha. Meski status Arman dan Pasha adalah kakak ipar Pram, secara usia Pram lebih tua dari mereka.
“Nggak usah buruburu. Saya malah senang ada yang nemenin ngobrol di sini,” jawab Pram.
“Ini sudah malam, Mas. Nanti kita main ke sini lagi. Mama sama Papa pasti nungguin kita di rumah. Mereka pengin tahu kabar Raina. Salam aja untuk Rai.” Arman bersalaman pada Pram disusul oleh Pasha.
Pram mengantar keduanya hingga ke pintu depan. “Terima kasih, nanti saya sampaikan salam untuk Raina.”
***
Raina menggerakkan badannya yang kaku. Matanya terasa sangat perih, karena terlalu banyak menangis. Kelopak matanya pun membengkak. Tapi di mana kini dia sekarang? Kamar ini begitu asing untuk dirinya. Tidak ada satu pun petunjuk tentang siapa pemilik kamar yang ditempatinya. Kalau bukan karena rasa sakit yang menusuk kepalanya, dia masih ingin terlelap agar dia bisa melupakan semua peristiwa yang terjadi hari ini.
Tapi tunggu dulu. Melupakan bagian yang mana? Bagian dirinya yang sudah menjadi istri seseorang? Atau bagian tentang kepergian Raka yang masih meninggalkan tanda tanya di hatinya? Mengingat semua itu, membuat hatinya perih.
Raina marah. Marah pada keluarganya yang menyembunyikan rahasia ini. Marah pada Pram yang sudah menjadi suaminya dan marah kepada dirinya sendiri. Harusnya dia sadar, kecelakaan di jalan tol itu kecelakaan serius. Harusnya dia bisa lebih berusaha untuk datang ke rumah sakit tempat Raka dirawat.
Air matanya kembali jatuh. Dia pikir air matanya sudah habis, ternyata tidak. Air mata itu semakin deras. Tapi rasa sedih yang dirasakannya tak juga kunjung reda. Dari ruang tamu, Pram mendengar suara isakan. Buruburu dia melihat kondisi Raina.
Matanya berhenti melihat Raina yang terisak dengan memeluk lututnya. Pram duduk di depan Raina, digenggamnya tangan Raina yang dingin. “Please, say something.”
Bukannya menjawab, tangis Raina semakin pecah. Tak sekali pun dia mengangkat kepalanya untuk melihat Pram. “Kamu tahu, kita bisa menangis bersama kalau kamu mau,” ucap Pram semakin mengeratkan genggamannya di tangan Raina.
“Tapi saya nggak akan melakukan itu. Karena saya di sini buat jaga kamu. Saya nggak akan minta kamu untuk ngelupain Raka tapi sekali ini dengarkan saya, hidup kamu harus terus berjalan.” Hanya kalimat itulah yang mampu keluar dari mulut Pram.
Ditatapnya wajah sendu Raina, perempuan yang telah resmi menjadi istrinya. Perlahan Pram menarik tubuh Raina ke dalam pelukannya, dengan kedua tangannya Pram mendekap Raina. “Menangislah di sini. Sampai kamu lelah. Tapi tolong jangan sakitin diri kamu sendiri,” ucap Pram lirih. Karena bukan hanya Raina yang hancur, tapi juga dirinya.
Di pelukan hangat tubuh Pram, Raina meneteskan air matanya lagi. Dia tidak peduli baju yang dipakai Pram akan basah. Dia tidak tahu sampai kapan dia bisa menghapus jejak Raka dalam hatinya. Sampai kapan dia akan menyimpan kesedihan yang kini begitu dirasakannya.
Dan dia juga tidak tahu, bahwa pelukan seorang lakilaki yang tadi dianggapnya sebagai pria asing dan telah sah menjadi suaminya, sekarang justru memberikan pelukan paling nyaman untuknya.
***