NOT A PERFECT WEDDING

NOT A PERFECT WEDDING
Episode 10



Pram yang sudah resmi bekerja di RD grup, ditempatkan oleh Prasetyo sebagai direktur pada salah satu anak perusahaan yang bergerak di bidang properti. Sesuai latar belakang pendidikan yang dia miliki sebagai sarjana arsitektur.



Pram tidak mengeluh dengan tugas barunya. Minimal, dia menguasai bidang yang dipegangnya sekarang. Dia ditemani oleh seorang asisten bernama Arya. Pram kembali disibukkan oleh beberapa surat kontrak dari berbagai vendor yang akan bekerja sama untuk membangun pemukiman di Bengkulu Utara.



Semuanya masih bisa ditangani olehnya. Saat arlojinya sudah menunjukkan pukul tiga sore, Pram menghubungi Pasha untuk meminta alamat sekolah tempat Raina mengajar. Percakapan yang terjadi tadi pagi masih mengganjal pikirannya. Dia tidak bisa tenang sebelum bisa menyelesaikan masalah ini dengan Raina.



Setelah mengobrol singkat. Pasha langsung mengirimkan alamat sekolah Raina. Dia tidak bisa menunda untuk berbicara pada Raina. Dengan seorang sopir, Pram memantapkan hatinya untuk mendatangi Raina.



Sepanjang perjalanan Pram tertidur. Sampai Pak Raden membangunkannya, kalau mereka sudah sampai. Pram menatap kagum saat melihat sekolah tempat Raina mengajar. Gedung sekolah dengan arsitektur modern, ditambah dengan dinding­dinding yang berwarna dinamis. Kebiasaan Pram sejak lama, dia selalu mengagumi bangunan­bangunan yang menurutnya indah.



“Bapak tunggu sebentar. Nanti saya hubungi jika urusan saya sudah selesai,” kata Pram.



“Siap, Pak Bos. Saya tunggu di kantin aja ya, Pak. Boleh kan?”



Pram mengerutkan keningnya, sepertinya sopir kantornya ini sudah sering ke tempat ini. “Raka sering ke sini?” tanyanya penasaran.



“Dulu sih iya, Pak. Apalagi kalau jadwalnya kosong. Almarhum sering mengunjungi Ibu Raina.”



“Bapak kenal Ibu Raina?”



“Ya, kenal, Pak. Kan saya sering disuruh almarhum mengantarkan hadiah untuk Ibu Raina,” jawab Pak Raden dengan tersenyum.



Sebuah fakta baru didapatkannya lagi. Dia tidak tahu kalau adiknya memiliki sifat romantis. “Saya tinggal dulu ya, Pak,” kata Pram dan berlalu.



Pram mengaktifkan ponselnya. Dia sudah menyimpan nomor Raina yang dia ketahui dari ponsel Raka. Terdengar nada sambung tapi tidak ada jawaban. Pram tidak menyerah dan lantas pulang dengan tangan kosong.



SMU Gemilang. Nama dan logo sekolah itu menyambutnya saat Pram memasuki gedung pertama.



Setelah memasuki lokasi sekolah, seorang perempuan berusia empat puluh tahunan menyambutnya dengan ramah. Pram mengenalkan diri sebagai suami Raina. Perempuan bernama Desy itu tampak kaget dan mengamati Pram dengan saksama.



“Saya turut berdukacita atas kepergian Bapak Raka,” ucap Ibu Desy.



Pram tertegun lalu tersenyum. “Terima kasih, Bu,” jawab Pram sopan. Pram tidak menyangka kalau teman­teman Raina mengetahui masalah ini



“Mari saya antar ke ruang tunggu,” kata Ibu Desy.



Pram hanya mengangguk dan mengikuti langkah Ibu Desy. Ibu Desy menyuruhnya menunggu, sementara dia akan memanggil Raina yang kebetulan sedang mengajar. Seperti tadi, Pram malah asyik mengamati interior ruang tunggu.



Saat dia melirik ke pintu yang terbuka, rupanya Raina sudah berdiri di sana. Pram langsung saja berdiri. Tanpa kata­kata mereka hanya saling berpandangan. Pram bisa melihat bagaimana raut kesal yang ditunjukkan Raina padanya.



“Untuk apa datang ke sini?” Raina akhirnya mengalah untuk berbicara lebih dulu.



“Menurut kamu?” Pram tersenyum, dia tidak ingin terbawa oleh suasana yang Raina ciptakan.



Raina menggeleng, dia malas untuk menebak dan tidak ingin juga untuk mencari tahu. “Pekerjaanku masih banyak. Kalau kamu cuma mau ngobrol santai, kamu bisa cari orang lain,” sahut Raina dengan ketus.



“Mereka semua tahu tentang pernikahan kita?” tanya Pram sambil menarik lengan Raina, ketika tubuhnya sudah berbalik.



“Kenapa? Apa hal itu membuatmu sulit?”



“Tidak.” Ragu, Pram ingin melanjutkannya. “Maaf, saya tidak bermaksud untuk membohongi kamu, Rain. Saya benar­benar minta maaf,” ucapnya langsung.



“Iya,” jawabnya. Tidak ada gunanya bagi Raina untuk memperpanjang masalah ini lagi.



“Bu Raina, kita semua sudah siap. Tinggal tunggu Ibu aja nih.” Salah seorang siswa laki­laki berteriak pada Raina.



“Oke.” Raina memberikan jempolnya. “Sebentar lagi saya ke sana,” balas Raina pada siswanya.



Pram yang mendengar nama Raina dipanggil, langsung mencari sumber suara itu. “Kamu mau ke mana?”



“Aku ada urusan.”



“Urusan apa?”



“Bukan urusan kamu.”



“Rain…!” panggil Pram.



“Kenapa sih kamu selalu ikut campur urusanku? Kamu memang suami aku, tapi hanya sebatas status. Jadi tolong jangan campuri kehidupanku.” Raina benar­benar tidak bisa menahan emosinya lagi. Dia tahu tidak sepantasnya dia memperlakukan Pram seperti itu, tapi dia juga marah pada Pram.



Pram tersenyum. “Mau sampai kapan kamu marah dengan keadaan ini? Semarah apa pun kamu, itu semua tidak akan pernah mengembalikan Raka.”



Ketika nama Raka disebut oleh Pram, Raina semakin menjadi emosi. “Kamu tahu? Aku bahkan lebih rela jadi perawan tua daripada harus nikah sama kamu,” jawabnya sinis.



Raina benar­benar pergi meninggalkannya dan Pram tidak berusaha untuk menahan Raina lagi. Entahlah, apa yang membuat Raina jadi berubah drastis sedemikian rupa. Dia gagal untuk membujuk Raina, tapi dalam hatinya dia berharap masih banyak kesempatan yang akan didapatkan lagi olehnya.



***



Pram tidak pernah merasa marah atas sikap yang ditunjukkan Raina padanya. Dia sangat memaklumi bagaimana perasaan kehilangan yang dialami oleh Raina. Butuh waktu yang panjang untuk menyadarkan gadis itu.



Seperti pagi ini, setelah pertengkaran mereka minggu lalu. Hampir setiap pagi, Pram harus melihat Raina tertidur di sofa ruang tamu sambil memegang remot. Raina menghabiskan waktu istirahatnya untuk menonton film sampai larut malam hingga dia terlelap dengan layar televisi yang dibiarkan menyala.



Pram segera menuju dapur. Ingin membuat sarapan yang praktis, sayangnya tidak ada bahan makanan di kulkas. Mau tidak mau dia terpaksa membangunkan Raina. Dia berencana mengajak Raina lari pagi dan juga mencari sarapan.



“Rain … wake up…!” kata Pram sambil menepuk bahu Raina. “Rain…!” Pram meninggikan nada suaranya.



Raina yang masih mengantuk, langsung mengucek kedua matanya lalu menguap lagi. Pram sudah segar, dan dia masih dengan piama dan juga rambut kusutnya. “Apa?” sahutnya ketus. Semenjak kejadian di sekolah mereka memang belum berdamai. Raina berusaha menghindar dan selalu berhasil. Tapi nyatanya sekarang dia berhadapan dengan Pram.



“Kita lari pagi dan cari sarapan. Kamu mau ikut kan?”



Raina menggeleng. Dia benci olahraga, dia lebih memilih menahan lapar dan tidur sampai matahari menyengat. “Aku nggak mau. Aku mau tidur.” Lalu Raina berjalan meninggalkan Pram.



Pram menyerah tidak mengejar lagi. Dia tahu dia tidak akan bisa memaksa. Semakin dia memaksa, maka Raina akan semakin menjauhi dirinya.



***



Saat Raina menghabiskan waktu istirahatnya, Arien, salah satu guru datang ke ruang kerjanya membawakan sekotak es krim cokelat kesukaan Raina.



“Hai, Babe, sudah lama ya kita nggak gosip bareng,” kata Arien sambil memberikan sendok pada Raina.



Raina hanya tersenyum singkat menjawabnya. Ya, semenjak kepergian Raka dia memang menutup dirinya. Dia tidak ingin orang­orang bertanya tentang pernikahannya yang menurutnya sangat tidak masuk akal.



“Kata Bu Desy, suami lo ganteng ya?” goda Arien lagi.



Pram memang tampan dan kehadirannya waktu itu cukup membuat gempar para guru perempuan yang ada di sini. Suami? Raina tertawa dalam hati. Lebih tepatnya suami bohongan. Karena pada dasarnya hubungan mereka tidak selayaknya pasangan suami­istri yang saling berbahagia. Raina malas menjawab, dia lebih memilih memakan es krim di hadapannya.



“Kok lo diam aja sih? Jadi benar nggak kalau yang namanya Pram itu suami lo?”



“Hmmm….” Raina hanya bergumam.



“Ya, gue tahu banget. Pernikahan lo itu ajaib, tapi gue rasa dengan dia nikahin lo, yang notabene pacar adiknya sendiri, dia hebat lho. Lo pernah mikir nggak tentang kehidupan dia? Ya, masa iya laki­laki setampan itu nggak punya pacar?”



Hati Raina tergelitik. Benar juga kata Arien. Selama ini Pram hanya memikirkan dirinya, tapi tidak pernah sekalipun dia berpikir tentang Pram. Kehidupan Pram dan hal­hal pribadi lainnya.



“Nggak penting buat gue tahu itu semua,” sahut Raina.




“Rien, lo tahu nggak sih rasanya ditinggal mati?” Suara Raina meninggi. “Lo pikir, karena Pram ganteng, gampang gitu buat gue ngelupain Raka? Lo tahu kan gimana cintanya gue sama Raka?”



Arien mengangguk, dia sangat paham dengan maksud Raina. “Gue nggak minta lo buat ngelupain Raka. Gue cuma minta lo move on. Pelan­pelan, Rai. Coba.” Arien semakin gemas. “Ingat, si Pram itu suami lo yang sah. Dosa tahu kalau lo nyuekin dia terus kaya sekarang.”



“Bukan urusan lo,” kata Raina sambil bangkit dari kursinya.



“Mau ke mana?”



“Toilet,” jawab Raina kesal.



Bukannya ke toilet, Raina malah ke ruang kepala sekolah. Dia meminta izin untuk pulang cepat. Sepertinya memang sudah saatnya dia kembali kepada orangtuanya dan mengakhiri pernikahannya dengan Pram.



***



Tiba di apartemen Raina berniat untuk merapikan barang­barangnya dan segera pergi dari tempat tersebut tanpa harus bertemu dengan Pram lagi. Tapi langkahnya terhenti ketika dia mendapati Pram sedang duduk di ruang tamu dengan tumpukan kertas­kertas dan pensil di tangan kirinya. Keduanya sama­sama kaget. Pram langsung berdiri menyambut Raina yang masih mematung di balik pintu.



“Rain, bisa kita bicara baik­baik?” Pram berharap kali ini Raina mau memberikan kesempatan padanya.



Raina menggeleng. “Aku nggak mau debat. Sekarang aku mau pulang ke rumah orangtuaku.”



Pram tersentak kaget, apa Raina masih marah padanya? Sampai­sampai gadis itu memilih pergi dari apartemennya. “Kamu masih marah? Saya minta maaf.”



Raina melirik sekilas pada Pram yang berdiri di depan pintu kamarnya. “Sudahlah, Pram. Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Karena dari awal semuanya memang sudah salah.



“Kamu mau pergi dari sini?” Ada sorot kecewa dari wajah Pram yang tidak dapat disembunyikannya.



Raina mengangguk. “Tempatku bukan di sini, Pram,” jawabnya singkat, lalu dia menarik kopernya.



Tanpa diminta, Pram langsung mengambil koper tersebut. Dia tahu, Raina tidak akan mau berdebat. Jadi lebih baik dia mengantar Raina. Memastikan gadis itu, memang benar­benar pulang ke rumah orangtuanya.



Mereka tiba di rumah saat matahari mulai terbenam. Raina langsung turun dari mobil Pram. Hanya mengucapkan terima kasih dan tidak menawarkan Pram untuk turun atau mampir di rumahnya.



Kalau lo bisa ngalahin Raina yang super manja itu, harusnya gue juga bisa. Iya kan, Ka?



Dari luar, Pram bisa mendengar suara orangtua Raina yang menyambut kedatangan anaknya dengan sukacita. Entah sejak kapan, tapi sepertinya Raina sudah mau memaafkan keluarganya. Di dalam mobil, Pram menimbang, apakah dia ikut melihat momen bahagia itu atau justru pulang dan membiarkan Raina kembali berkumpul bersama keluarganya.



Untungnya Arman keluar dari rumah dan mengajak Pram turun untuk makan malam dulu di sana. Kedua orangtua Raina menyambutnya dengan hangat.



“Makasih ya, Nak, sudah menjaga Raina dengan baik beberapa bulan ini,” kata Fara dengan haru.



“Itu sudah menjadi tugas saya, Ma,” jawab Pram dengan lugas.



Pram yang belum terbiasa dengan suasana keluarga Raina berniat untuk segera pamit. Mungkin besok atau lusa dia akan menemui Raina lagi. “Kalau begitu saya pamit dulu.”



“Nak Pram. Masa iya, suami istri tidurnya terpisah. Kamu kan menantu di keluarga ini. Jangan sungkan sama kami semua. Menginap di sini juga ya bersama Raina. Nggak apa­apa kan?” kata Fara.



Pram masih mencerna informasi ini. Bahkan ketika hampir tiga bulan lamanya mereka tinggal di apartemen, Pram dan Raina memiliki kamar terpisah.



“Kita makan malam bareng dulu, Mas. Cobain masakan Mama, pasti ketagihan,” kata Pasha.



Pram tidak bisa menolak, karena Pasha langsung merangkulnya untuk ikut bergabung bersama dengan Gunawan di meja makan. Sementara Arman memanggil Raina di kamarnya. Mereka belum memulai makan malam sampai semua anggota keluarga berkumpul.



Raina menggandeng lengan Arman. Lalu menarik kursi di sebelah Fara. Kehadiran Pram di antara keluarganya cukup membuat dia bingung. Dia melirik sekilas ke arah Pram yang terang­terangan tengah menatapnya. Raina segera mengalihkan pandangannya lalu menggelengkan kepalanya. Mungkin ini yang terakhir mereka akan bertatap muka seperti ini, ucapnya dalam hati.



“Gimana murid­murid kamu?” tanya Gunawan.



“Baik­baik aja, Pa.”



“Kok kamu kurusan sih? Diet?” Arman menyelidik.



Dulu Raina memang mati­matian berusaha diet untuk mendapatkan berat badan ideal. sekarang justru tanpa diminta berat badannya menurun drastis. Beberapa pakaian dan celananya pun banyak yang longgar. Perasaan sedih yang dia rasakan, membuatnya kehilangan nafsu makan dan juga membuatnya susah tidur saat malam hari.



“Atau jangan­jangan nggak dikasih makan sama Mas Pram?” ledek Pasha.



Raina melirik sekilas ke arah Pram. Ingin rasanya Raina menyampaikan rasa terima kasih dan juga maaf pada Pram atas semua sikapnya selama ini.



“Karena masih sakit hati sama Kak Arman dan Kak Pasha. Bikin aku nggak nafsu makan. Kalian masih utang penjelasan lho sama aku,” kata Raina dengan suara juteknya.



Arman dan Pasha saling melirik dan tertawa. “Iya, ayo mau dibayar kapan? Hmm…,” balas Arman.



“Sudah­sudah, ngobrolnya dilanjut nanti lagi. Sekarang makan dulu,” Fara menengahi pembicaraan anak­anaknya.



Setelah mendengar perkataan Fara, tidak ada lagi yang memulai pembicaraan di meja makan. Mereka menghabiskan makanan dengan hening. Raina yang selesai lebih dulu, tanpa kata­kata langsung meninggalkan meja makan. Dia ingin segera istirahat di kamarnya sekaligus merefleksi semua yang terjadi pada hidupnya. Benar kata Arien, dia memang harus move on.



“Susulin aja ke kamarnya, Mas. Tuh di lantai dua, pintu kamarnya yang paling rame,” ucap Pasha saat melihat Pram bingung harus melakukan apa.



Pram menerima ide dari Pasha, setelah berbasa­basi sebentar. Pram langsung menuju lantai atas. Dia tidak bisa menebak bagaimana ekspresi Raina nanti jika melihat kehadirannya. Tidur sekamar dengan perempuan bukan hal baru bagi Pram. Tapi tentu ini berbeda dengan Raina. Dia yakin seratus persen, Raina akan mengunci pintu kamarnya. Dan ini justru akan membuat harga dirinya sebagai laki­laki terinjak­injak.



Sesuai kata Pasha, tidak susah menemukan pintu kamar Raina. Nama Raina bahkan tertulis di pintu kamarnya. Diketuknya pintu kamar itu, sambil sesekali memanggil nama Raina. Tapi tidak ada jawaban.



“Rain... ini saya, Pram. Bisa kamu keluar sebentar?” Pram menyenderkan badannya di pintu kamar itu.



Lima menit.



Sepuluh menit.



Tiga puluh menit.



Tetap tidak ada jawaban dari Raina.



“Rain…!” panggilnya sambil mengetuk pintu kamar Raina. Capek berdiri, akhirnya dia terduduk di depan pintu kamar. Pram tertawa, kalau bukan karena adiknya, tidak akan pernah dia mengemis minta dibukakan pintu kamar kepada seorang perempuan seperti sekarang.



Saat dia sudah tidak berharap Raina akan membukakan pintu, tiba­tiba pintu kamar itu terbuka. Mata Pram yang hampir terpejam karena lelah langsung tersadar kembali.



“Kamu ngapain di sini?” tanya Raina.



“Saya nggak boleh pulang. Katanya suami istri nggak boleh tidur terpisah,” jawab Pram dengan malas.



“Jadi?”



“Saya mau tidur. Boleh saya masuk?” Pram tertawa lagi dalam hati. Ini pertama kalinya dia meminta izin memasuki kamar seorang perempuan. Terlebih perempuan itu adalah istrinya.



“Pram, pernikahan kita nggak resmi. Dan itu nggak pernah ada. Karena aku nggak pernah mengizinkan ini terjadi.” Raina berdiri tepat di hadapan Pram, menatap mata hitam pria itu dengan berani. “Sudahi ini semua, Pram. Jangan libatkan diri kamu terlalu jauh.”



Hari ini sudah teramat lelah baginya. Bahkan karena kesibukannya yang sangat padat, dia memilih pulang dan menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Ditambah dengan masalah mereka yang belum selesai. “Bisa kita bicarakan itu semua besok? Saya benar­benar lelah. Kalau kamu berpikir saya ke kamar kamu untuk meminta hak saya sebagai suami kamu, kamu berpikir terlalu jauh.”



Pram melewati Raina yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Dia bisa melihat dengan jelas keterkejutan yang muncul dari mata Raina. Meski begitu, Pram juga menyimpan keterkejutannya dengan rapi dalam hatinya.



Mendengarkan seorang perempuan cantik dengan gaun tidur tipis, menantang serta mempermasalahkan pernikahan mereka, Pram merasa seperti suami egois yang tidak bertanggung jawab dengan istrinya.



***