NOT A PERFECT WEDDING

NOT A PERFECT WEDDING
Episode 5



“Pernikahan itu mengikat, meski tanpa cinta.”



Salah satu sudut terbaik di Kebun Raya Bogor sudah didekorasi dengan sangat cantik. Sebuah pergola yang dihiasi bunga warna­warni berdiri megah untuk menyambut para tamu. Juga tiang­tiang bunga yang berjejer rapi menuju pelaminan, lampion­lampion bewarna pink ikut meramaikan dekorasi dan terakhir standing frame foto prewedding milik mempelai yang berbahagia semakin menyempurnakan taman tersebut. Sebentar lagi, sebuah pesta pernikahan dengan konsep pesta kebun yang telah dipersiapkan sejak tiga bulan lalu akan segera berlangsung.



Para petugas katering pun juga sudah menata makanan di tempatnya masing­masing. Pelaminan minimalis bewarna putih dan gold layaknya singgasana sebuah kerajaan sudah siap dengan kursi­kursinya. Tinggal menunggu sepasang pengantin yang berbahagia melengkapinya. Seperti raja dan ratu dalam sebuah buku dongeng.



Tidak ada yang tahu tentang sebuah kesedihan di hari ini, bahkan sang pengantin wanitanya pun tidak tahu tentang rahasia besar itu.



Raina sudah mulai dirias sejak pukul 11 siang. Make-up dengan sentuhan warna­warna pastel menghiasi wajah putihnya. Rambutnya yang panjang disanggul kepang ditaburi dengan mutiara berwarna putih membuatnya semakin natural. Raina terlihat sangat cantik di hari bahagianya.



Meski hanya sebuah pesan singkat yang dibalas Raka tadi malam, hatinya sudah cukup tenang, setidaknya dia tahu kalau Raka baik­baik saja. Dan mimpi mereka akan segera terwujud sebentar lagi. Menjalani kehidupan penuh cinta sampai maut memisahkan mereka.



Sebelum keluar kamar, sekali lagi Raina memastikan penampilannya di depan cermin. Dia tidak bisa membayangkan ekspresi Raka nanti ketika melihat dirinya. Sebuah senyum khas pun muncul dari wajahnya. “It’s my day.”



Raina berjalan dengan sangat anggun. Kebaya pink yang dipakainya, membalut tubuh indah Raina dengan sangat pas. Langkahnya menuju ruang keluarga, tempat orangtua, kedua kakaknya, dan beberapa saudara tengah menantinya.



Raina tersenyum manis. “Gimana? Udah mirip belum sama Raline Shah?” tanyanya sambil terkekeh ketika melihat keluarganya begitu takjub dengan penampilan Raina.



Pasha melirik sesaat ke arah Mama, Papa, dan Arman. Dia mengepalkan tangannya. Entah sampai kapan dia sanggup menyembunyikan rahasia besar ini. Raina, adik bungsunya. Kesayangannya sejak dia masih bayi. Dia tidak akan sanggup jika melihat Raina bersedih, apalagi menangis. Tapi sebuah janji yang telah mereka sepakati, harus mereka jalankan.



Pasha mendekat ke arah Raina. “Aku jadi pendamping kamu ya, Sweety. Boleh kan, Ma?” pinta Pasha sambil menggandeng lengan adiknya.



Arman sangat tahu perasaan yang bergejolak di hati Pasha. Karena dia juga merasakan hal yang sama. Dibanding dirinya, Pasha dan Raina memang lebih dekat. “Aku juga dong jadi pendamping Raina,” kata Arman sambil berjalan ke sebelah kiri adiknya. Kini tubuh mungil Raina diapit oleh dua laki­laki tampan yang sangat disayanginya.



“Ahhh, Kakak, coba tiap hari kalian baik begini sama aku,” kata Raina terkekeh. Karena biasanya, dia yang selalu jadi objek keisengan kakak­kakaknya.



Gunawan dan Fara hanya tertawa melihat tingkah anak­anaknya. “Kalian tuh malah kaya bodyguard. Mukanya tegang begitu,” ledek Gunawan.



Akhirnya mereka tertawa bersamaan. “Bodyguard juga nggak ada yang seganteng Pasha kali, Pa,” balas Pasha sambil bergaya membenarkan dasi dan jasnya.



“Iya­iya ganteng tapi kok belum laku sampai sekarang?” Fara menggoda kedua anak laki­lakinya itu yang secara umur memang sudah pantas memiliki istri.



“Rai, belain dong. Coba kalau kami nggak izinin, pasti kamu nggak bisa nikah hari ini sama Raka,” ucap Pasha keceplosan. Sontak mengundang tatapan dari Gunawan, Fara, dan Arman. Pasha langsung kikuk ketika menyadari kalau ada yang salah dari ucapannya.



Dia langsung mengalihkan situasi ini. “Kalau sudah siap semua, ayo kita berangkat.” Sekilas Pasha melihat arlojinya.



Semuanya langsung bersiap dan menganggap perkataan Pasha hanya angin lewat.



“Kak, jalannya pelan­pelan ya. Aku pakai high heels 12 sentimeter lho,” kata Raina sambil mengangkat sepatunya.



“Pantas… kok tinggi kamu jadi sekuping aku?” ucap Pasha. “Atau perlu digendong aja?” godanya lagi.



“Kakak... jangan digodain terus dong,” kata Raina dengan wajah merona.



“Iya deh yang sebentar lagi punya bodyguard pribadi,” ledek Arman tak mau kalah. “Ingat pesan Kak Arman ya. Setelah akad nikah nanti, sayangi dan cintai sepenuh hati suami kamu. Karena dia yang akan menjaga kamu.”



Raina tertegun mendengar kata­kata kakak pertamanya. Ingin rasanya dia memeluk Arman. Tanpa kata­kata dari Arman pun, dia akan selalu mencintai dan mengabdikan dirinya seumur hidup pada Raka. Laki­laki yang paling dicintainya.



Arman melirik sekilas pada papa dan mamanya. Mereka tahu dengan jelas maksud dari kata­kata Arman. Hanya Raina yang tidak tahu dengan keadaan yang telah berubah dari perkiraannya saat ini.



Mobil iring­iringan pengantin pun sudah mulai berjalan menuju tempat akad berlangsung. Senyum merekah tak henti­hentinya tersungging dari Raina. Bibir tipis yang sudah dipoles lipstik berwarna peach itu sesekali tertawa ringan menanggapi ocehan dari kedua kakaknya.



***



Di tempat yang berbeda, Keluarga Rahardi juga tengah mempersiapkan perjalanan mereka menuju Bogor. Sang pengantin pria sudah siap dengan tuxedo hitamnya. Rambut­rambut halus di rahangnya sengaja tidak dicukur, semakin menambah kesan maskulin dirinya.



Pram bukannya tidak menganggap istimewa hari ini, tapi ada sesuatu yang tidak bisa dia pungkiri dalam hatinya. Sebuah kenyataan, bahwa hari ini dia akan memulai sebuah kehidupan baru bernama pernikahan. Sebuah hubungan yang belum terpikir akan terjadi secepat ini dalam hidupnya.



Prasetyo dan Anne sudah rapi dengan baju seragam yang telah mereka persiapkan dari jauh­jauh hari. Sayang, Pram yang seharusnya juga memakai baju yang telah disiapkan oleh Anne, kini berganti peran menjadi sang mempelai laki­laki. Karena sebuah takdir. Karena jalan yang Tuhan berikan tidak sesuai dengan apa yang dicita­citakan oleh manusia.



Pram menatap pilu kedua orangtuanya. Sekali lagi, setelah semalam berulang kali mereka berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain. Pram memeluk Anne lagi.



“Mam, apakah ini semua benar?” tanya Pram.



Anne hampir saja menangis lagi, kalau Prasetyo tidak menepuk lembut punggungnya.



“Bukan masalah benar atau salah Pram. Ini adalah sebuah permintaan dan janji yang harus kita penuhi untuknya,” kata Prasetyo mencoba memberi pengertian pada Pram.



Sebelum mereka berangkat, Pram memeluk kedua orang­tuanya lagi. “Siapa pun perempuan itu, semoga nanti aku bisa menjaganya dengan baik, sama seperti Raka melakukannya,” bisik Pram.



Mobil iring­iringan pengantin pria beserta keluarga besar sudah mulai berjalan menuju tempat akad nikah berlangsung nanti. Pram memilih untuk membawa Red Jaguar milik Prasetyo. Untuk saat ini, dia benar­benar butuh untuk menenangkan dirinya.



Raina Winatama.



Bahkan Pram tidak tahu bentuk muka, wajah dan segala sifat yang dimiliki gadis itu. Tapi di sinilah takdir berperan. Di sinilah Tuhan memegang kuasanya. Dia tidak pernah menyangka, kepulangannya justru akan mengubah status hidupnya.



***




Pram berkeliling mencari toilet. Beberapa orang yang ditanyai olehnya, menunjukkan tempat yang salah. Dia mulai menggeram kesal. Tapi langkahnya terpaksa berhenti saat dia melihat mobil iring­iringan pengantin wanita yang sudah memasuki area parkir. Hatinya menyuruh agar dia tetap berdiri di sana.



Seorang gadis dengan kebaya pink turun dengan anggun dari BMW X4 bewarna hitam mengilat. Langkahnya didampingi oleh dua orang laki­laki yang tak kalah menawan. Pram tahu, mereka adalah Arman dan Pasha. Dia menarik napas panjang, dalam diam dia mengagumi calon pengantinnya. Yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih adiknya, perempuan yang paling dicintai Raka.



Pram baru saja ingin melangkah untuk menghindari Raina. Tapi sekali lagi, takdir ingin mempertemukan mereka lebih cepat. Raina berjalan ke arahnya. Kali ini sendiri tanpa kedua kakaknya.



Sejenak, Raina menghentikan langkahnya, saat dilihat ada seorang pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu sangat tampan dan sangat dewasa. Saat dilihat lebih jelas lagi, sekilas laki­laki itu mirip dengan calon suaminya, Raka. Dalam hati dia menebak, ini pasti kakaknya Raka.



Raina tersenyum lebih dulu. “Mas Pramudya ya? Kakaknya Raka kan?” tebaknya dengan sangat antusias.



Pram mengangguk. “Yes, I’m Pram. Nice … to finally meet you.” Pram memberikan tangannya untuk berjabat tangan dengan Raina. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.



“Raina, Mas. Aku biasa dipanggil, Rai. Oh iya, Mas mau ke mana? Raka sudah datang kan?” tanya Raina penasaran.



“Dari tadi saya nyari toilet,” Pram hanya menjawab pertanyaan pertama dari Raina.



“Aku juga mau ke toilet. Aku grogi nih Mas. Tapi jangan bilang­bilang Raka ya.” Wajah Raina tersenyum malu­malu. “Tuh, di sebelah sana toiletnya, Mas,” tunjuk Raina ke bangunan berwarna putih yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat mereka berdiri. “Mau bareng?” ajak Raina pada Pram.



Pram menyesali pertemuan ini. Harusnya tadi dia menghindari Raina. Kini perasaan bersalah itu semakin menghunjam jantungnya. “Saya balik aja deh. Sudah kelamaan ninggalin Mami sama Papi,” terang Pram. Dia harus menghindari Raina sesegera mungkin.



Raina menunjukkan ekspresi kecewanya saat mendengar penolakan dari Pram. “Hmm, kalau temenin aku mau nggak, Mas? Kak Arman sama Kak Pasha tadi bilang sih mau nyusulin tapi sekarang belum muncul juga,” pintanya penuh harap.



Pram ragu­ragu untuk mengiyakan permintaan Raina.



“Sebentar aja, Mas. Mau ya? Aku takut sendirian. Apalagi



kan di situ sepi. Nanti kalau aku diculik, terus nggak jadi nikah sama Raka, Gimana? Kan kasihan Rakanya,” Raina berbicara tanpa jeda.



Tak urung, Pram jadi tertawa melihat sikap Raina yang polos dan seperti anak kecil itu. Ah benar kata Raka, tidak susah untuk jatuh cinta dengan gadis ini. Pram tidak bisa menolak permintaan gadis ini, dia pun mengantar Raina menuju toilet.



***



Kedua keluarga besar Winatama dan juga Rahardi tampak kebingungan mencari kedua mempelai yang tiba­tiba menghilang. Gunawan dan Fara langsung menghampiri Arman dan Pasha. Meminta mereka untuk mencari Raina dan Pram sekaligus.



Arman dan Pasha pun langsung berpencar. Tak lama mereka melihat pemandangan yang sangat menarik. Mereka melihat Pram dan Raina berjalan berdampingan sambil tertawa. Pram hanya menggeleng, saat melihat Arman menatap penuh tanda tanya padanya. Menyiratkan maksud bahwa Raina belum mengetahui apa yang terjadi.



Sebelum berpisah, Arman sempat berbisik di telinga Pram. “Setelah ini, tolong jaga dan sayangi Raina.”



Pram mengangguk. Sangat mengerti dengan maksud kata­kata itu.



Langkah Pram semakin mantap menuju meja penghulu. Dia akan memenuhi janjinya. Janji pada Raka dan juga pada dirinya sendiri. Beberapa keluarga dan juga tamu yang tidak tahu, tampak bingung dengan kehadiran Pram yang duduk di kursi mempelai pengantin pria menggantikan Raka.



Proses ijab kabul akan berlangsung terpisah. Hanya Pram yang akan duduk di meja penghulu untuk membacakan ikrar nikah tersebut. Sementara Raina bersama kedua kakaknya akan menunggu di salah satu tenda yang sudah disiapkan secara khusus sampai penghulu mengatakan bahwa pernikahan mereka sudah sah.



Kedua orangtua Raina sudah ikhlas dengan pernikahan Raina dengan Pram. Arman sudah menceritakan semuanya tentang Raka. Tentang janji terakhir antara kakak beradik Rahardi. Mereka juga mengerti dan tahu, jika Raka yang menginginkan Pram menjadi suami untuk Raina maka pria itu pasti bisa membahagiakan anak mereka.



Pemeriksaan berkas­berkas tentang nama pengantin berlangsung cukup lama. Penghulu sempat bingung dengan nama pengantin pria yang berbeda. Namun setelah dijelaskan oleh Pram dan juga Gunawan, penghulu tersebut mengerti. Segera setelah itu lantunan doa mengawali acara sakral yang akan berlangsung sebentar lagi.



“Ananda Pramudya Eka Rahardi, aku nikahkan engkau dengan putri kandungku, Raina Winatama dengan mas kawin perhiasan emas seberat seratus gram dibayar tunai,” kata­kata itu terucap lantang dan tegas.



Sambil berjabat tangan erat, Pram menatap lurus wajah Gunawan. Meski di luar rencana, Pram tetap menganggap peristiwa ini adalah peristiwa penting dalam hidupnya. Sekali dia berkomitmen, maka selamanya dia akan memegang teguh janji itu. Pram mengambil napas dalam sebelum melafalkan kalimat balasan kepada Gunawan.



“Saya terima nikah dan kawinnya, Raina Winatama binti Gunawan Winatama dengan perhiasan emas seberat seratus gram dibayar tunai.” Kalimat itu terucap dengan sekali tarikan napas. Tidak ada pengulangan dan juga getar yang terdengar karena grogi. Pram berhasil melakukan tugas pertamanya.



“Sah?” suara penghulu terdengar bertanya kepada kedua saksi dari masing­masing pihak Keluarga Rahardi dan juga Winatama.



“Sah,” jawab keduanya kompak.



Semua orang yang ada di sana mengucapkan syukur atas lancarnya proses pernikahan yang baru saja terjadi. Sementara, di tempatnya menunggu prosesi akad nikah berlangsung, tangan Raina berubah menjadi sedingin es. Apa ada yang salah dengan pendengarannya? Nama calon suaminya Prakarsa Dwi Rahardi bukan Pramudya Eka Rahardi.



Kedua kakaknya membantu Raina berjalan menuju meja penghulu. Raina menatap tajam, ketika dia tahu bukan Raka yang duduk di depan papanya. Tidak ada Raka di sana. Mata Raina berputar berusaha menemukan sosok Raka, orang yang harusnya sudah resmi menjadi suaminya.



“Kak? Raka di mana? Ini pernikahan siapa?”



Arman maupun Pasha tak mampu menjawab pertanyaan Raina. Pram sudah berjanji kepada mereka semua, bahwa dia akan menjelaskan pada Raina apa yang terjadi sebenarnya.



“Nanti suami kamu yang akan menjawabnya. Sekarang kita temui dia,” kata Arman.



Pramudya? Suami?



Air mata Raina mengalir perlahan. Dia tidak peduli dengan make up-nya yang akan luntur. Dia harus tahu di mana Raka