
Tak dapat disangka, perempuan itu adalah ibu Neta. Memang sebelumnya kami tak pernah bertemu dengan ibu Neta. Ternyata ibunya jauh lebih muda dari bibiku, dengan penampilan yang jauh sekali lebih rapi dan elegan jika harus dibandingkan dengan bibiku.
"Arneta, kau terlihat sangat cantik. Sudah lama aku tidak melihatmu." Ucap ibu Neta dengan senyumannya yang tidak membuat Neta senang.
"Tolong ambilkan minum!" Ucap bibiku padaku dan Fila. Tapi aku menyuruh Fila yang mengambilnya lalu aku duduk di sebelah Neta.
"Apa ibu datang untuk mengantarkan uang? Aku rasa ibu bisa transfer saja." Neta sepertinya tidak suka dengan kedatangan ibunya.
"Ya, tapi uang ini bukan untukmu. Ibu membawa uang untuk bibi barumu ini, sebagai tanda terima kasih karena telah menjagamu." Ibu Neta mengelurkn satu buah amplop berwarna coklat yang tebal karena berisi uang di dalamnya.
"Tidak perlu, lagipula Neta sudah besar jadi dia tidak begitu merepotkan. Ini keponakanku, dengan adanya Neta disini dia jadi lebih sering beraktivitas. Dia senang ada anakmu disini." Seperti biasa bibiku selalu menolak uang sebagai ganti jasa. Lagipula kami tidak membutuhkan uang itu, setiap bulan bibiku mendapat uang gaji suaminya yang telah meninggal.
"Terimakasih kalian sudah menerima Neta dengan baik. Tapi saya harus memberikan uang ini dan saya harus membawa Neta pergi." Semua orang terkejut mendengar ucapan ibu Neta.
"Pergi? Kemana? Rumahku disini, kau tidak bisa membawaku pergi."
"Silahkan tehnya." Fila datang membawa teh saat Neta sedang marah. Kemudian Fila duduk di sofa lain serong sofa yang kami duduki.
"Arneta, ibu dan ayah akan keluar negri. Kau harus ikut dengan kami." Ucap ibu Neta dengan tegasnya. Ahhh, aku tidak sanggup melihat Neta bersedih seperti ini. Sial, hatiku mengatakan bahwa aku tidak ingin temanku ini pergi.
"Aku tidak akan pergi, kalian pergi saja sana!" Neta tetap pada pendiriannya, tatapannya penuh kebencian. Bagaimana ini? Aku jadi tidak enak hati, aku takut ibu Neta mengira kami yang menghasutnya.
"Kau satu-satunya anak kami. Kamu butuh kau untuk kedepannya."
"Kau datang karena aku sudah besar dan sudah bisa membantu bisnismu? Aku tidak akan ikut." Neta masih tetap pada pendiriannya. Dia tidak akan bisa menarik ucapannya. Setelah selesai bicara ia langsung masuk ke kamar dengan langkah kasarnya. Ia juga membanting pintu kamar sedikit keras hingga kami semua terkejut.
"Katakan padanya kami akan berangkat besok sore! Kami sudah membelikan tiket untuknya. Jadi pulanglah jika dia masih ingin kami anggap sebagai putri kami. Paling lambat ia harus pulang ke rumah pukul tiga. Jika ia tidak pulang maka fikirkan saja apa yang terjadi! Aku bisa menggantikan posisinya dalam keluarga dengan orang lain, yang lebih berguna." Mendengar ucapan ibu Neta aku sangat terkejut. Ternyata dia sangat kejam pada anaknya sendiri.
Bagaimana bisa ia meninggalkan anaknya sendiri dan mencoret nama anaknya dari daftar keluarga?
Akupun pergi dari ruang tamu menuju kamar. Biarlah Fila sendiri yang menghadapi ibu Neta. Ia pasti bisa menyelesaikan setiap masalah dengan sangat baik.
Aku melihat Neta yang sedang berdiri menghadap keluar jendela yang terbuka. Ia tampak kesal sekali dengan keputusan ibunya.
"Neta, kau tidak perlu marah..."
"Bagaimana aku tidak marah? Dia melupakanku selama ini lalu dia datang dan ingin membawaku pergi. Aku tidak ingin berpisah dengan kalian semua, kalian adalah keluargaku." Ahhh, sial, ucapannya menyentuh hatiku. Tapi tidak, air mata ini jangan sampai keluar dari mataku dihadapan Neta.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi kau harus hadapi masalah ini dengan tenang..."
"Kau tidak mengerti, jika kau mengerti maka kau tidak akan mengatakan itu." Neta kembali menyela ucapanku, tapi aku harus memakluminya. Sekarang Neta sedang dalam keadaan buruk, aku harus mendukungnya.
"Maafkan aku, aku paham perasaanmu. Jadi aku akan mendukung setiap keputusanmu. Apapun itu..." Aku berjalan mendekati Neta lalu aku tepuk bahunya dan dia menoleh kearahku.
Neta meredupkan pandangannya dan ia memeluku dengan tubuhnya yang mendadak lemas. Huhhh, sepertinya dia membutuhkanku sebagai penopang dirinya atau sekedar sebagai sandaran.
"Kita akan selalu bersama, tidak satupun orang berhak memisahkan kita." Aku mencoba menenangkan fikiran Neta dan ku elus kepalanya dengan halus seperti yang bibiku lakukan padaku sewaktu aku sedang bersedih.
"Kau benar, kau adalah teman yang paling menyebalkan namun paling aku cintai." Baru saja aku terharu dan hendak menangis. Tapi ucapan Neta membuat air mataku kembali bersembunyi dibalik kelopak mata. Neta melepas pelukannya dan tersenyum padaku. Baiklah, aku membuatnya tersenyum. Jadi aku tidak perlu bersedih, atau kesal pada kata 'menyebalkan' yang terucap dari mulutnya. Yang perlu kunilai saat ini adalah kata 'paling aku cintai' yang keluar dari mulutnya.
"Fikirkanlah, ada beberapa arah jalan didepanmu. Semua jalan itu terbuka, dan kau bebas ingin memilih yang mana karena kau yang menjalani hidupmu." Ucapku dengan serius hingga membuat Neta mengangguk serius.
"Dan aku memilih untuk tetap disini. Semua yang akan aku temukan dan aku hadapi di jalan ini, aku akan menanggungnya." Ucap Neta dengan mantapnya. Akupun membalasnya dengan senyuman yang kuharap bisa menambah keyakinan Neta pada keputusannya.
-/////-