Never Existed

Never Existed
Part 10 Double date



Malam berlalu dengan sangat dingin, namun matahari yang terbit membuat aura dinginnya malam lenyap dan bergantikan hangatnya cahaya matahari.


Aku membuka mata dan aku lihat disebelahku Neta masih tertidur. Ahhh, Fila sengaja membuka gordennya agar cahaya matahari itu menyproti kami dan membuat kami terbangun. Tapi cara Fila ini tidak berhasil bagi Neta. Ia malah tertidur lelap dengan kehangatan cahaya matahari. Akupun tidak tega membangunkannya, dia sedang bersedih saat ini.


Aku langsung keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Saat kulihat ternyata dimeja makan itu sudah dipenuhi makanan. Namun makanan itu didominasi oleh makanan laut.


"Fila apa ini? Kau sudah tahu aku alergi makanan..."


"Ini bukan untukmu, tapi ini untuk Neta. Ini adalah hari perayaan keputusan Neta antara pergi atau tetap tinggal." Fila yang sedang memasak di dapur langsung memotong ucapanku.


"Kau sekarang sudah mulai seperti Neta. Kau merayakan hari aneh." Aku langsung saja duduk dan diam menatapi semua makanan yang memenuhi meja.


"Aku menggoreng ikan gurami untukmu, masih didapur nanti biar kuambil." Ucap Fila sambil menyimpan satu mangkuk udang chrispy diatas meja. Lalu ia kembali ke dapur untuk mengambil yang lainnya, mungkin ikan gurami.


"Selamat pagi, hebat sekali aku bangun tanpa ada yang membangunkan." Neta datang sambil menggeliat. Namun ia tampak bangga pada dirinya sendiri yang bangun tanpa cipratan air.


Aku melihat Neta terkejut saat melihat seisi meja makan.


"Apa kau akan menyiksa kulitmu agar gatal semua?" Dengan bodohnya ia melontarkan pertanyaan itu padaku. Akupun hanya memutar bola mata. Aku berharap Fila segera kembali dan menjawab pertanyaan Neta. Yeah, itu dia Fila, dengan ikan gurami yang menggoda perutku.


"Ahhh, selamat pagi Neta. Ini semua untukmu..." Fila tampak senang melihat Neta yang sudah ada diruang makan. Netapun merapatkan mulutnya dengan mata berkaca seperti seorang anak yang sedang memohon. Atau mungkin lebih seperti anak kucing yang kehilangan induknya. Yang sebenarny dia sedih karena terharu.


"Sini biar aku peluk kau." Neta mengulurkan kedua tangannya ke depan dengan bibirnya yang terlipat.


"Aku berkeringat."


"Aku tidak peduli, keringatmu wangi." Neta langsung saja memeluk Fila dengan senangnya. Ouhhh astaga, apa yang aku lihat? Neta mencium pipi Fila. Ini berlebihan, tapi tidak masalah, kami adalah saudara.


"Ahhh, kau ini sangat manis." Ucap Fila sambil menepuk kedua pipi Neta beberapa kali menggunakan telapak tangannya. Hmmmm, aku senang melihat mereka berdua seperti ini. Untung saja Neta tidak pernah melakukannya padaku. Lagipula ia tidak akan berani melakukannya. Ia pasti takut sandalku akan mendarat keras di bibir tipisnya itu.


-/////-


"Kau yakin tidak akan pergi?" Tanya bibiku saat menghampiri aku dan Neta yang sedang membersihkan satu pot tanaman. Ya, ini adalah tugas dari Fila yang sedang pergi kuliah. Hari ini kami tidak ada kelas jadi kami tetap dirumah.


"Apa bibi menginginkanku pergi?" Tanya Neta sedikit sedih.


"Tidak seperti itu, bibi senang jika kau memutuskan untuk tetap disini. Tapi bibi bingung kau sepertinya sangat membenci ibumu." Jawab bibi sambil duduk di anak tangga teras depan rumah kami.


"Apa bibi tidak terganggu jika aku tetap tinggal disini? Jika bibi terganggu maka aku akan pergi." Apa yang ditanyakan Neta? Apa aku harus bilang bahwa aku tidak akan mengizinkannya pergi? Tapi tidak mungkin aku mengatakan itu, dia pasti salah paham. Dia akan mengira bahwa aku ini memang membutuhkannya dalam hidupku.


"Bibi tidak keberatan, kau keponakanku." Jawab bibiku dengan senyuman manisnya. Ahhh, aku lega sekali. Neta tidak akan pergi, jika ia pergi maka aku harus bertengkar dengan guling dimalam hari. Betapa sengsaranya aku jika aku tidak memiliki teman bertengkar.


'Trek... trek... trek...' Dari depan terdengar suara pengunci pagar yang diketukkan beberapa kali. Ternyata Erland yang datang. Uhhhh, dia sangat tampan dengan sweater berwarna abu yang panjangnya itu hampir menyentuh lutut. Ditambah lagi dengan celana jeansnya yang berwarna hitam pekat. Tunggu! Dia Erland, tetangga baruku, dan dia orang yang Neta sukai. Kenapa aku memujinya? Aku sedang mencoba menghilangkan ia seutuhnya dari fikiranku. Tapi semua orang paati tahu bahwa mengusir sosok yang pernah singgah walau sejenak itu silitnya luar biasa.


"Bibi, sepertinya Erland menjemputku. Kami ada janji pergi hari ini." Ucap Neta pada bibiku dengan senyuman tipisnya. Ah, ia tersipu malu. Memang seperti inilah orang yang sedang jatuh cinta. Mereka akan menjadi orang yang lebih lembut dan sedikit pemalu.


Neta pergi menemui Erland yang masih berdiri de depan pagar. Aku tidak cemburu, sungguh aku tidak cemburu melihat Neta bersama Erland. Aku menoleh bibiku yang masih menatapi Neta.


"Pasti sebentar lagi Askar datang, kau juga akan pergi." Ucap bibiku sambil menolehku dengan senyuman.


'Tit...tit...' Ah benar saja, Askar datang dengan mobil mewah kebanggaannya. Akupun hanya mengangkat bahu pada bibiku yang sedikit tertawa karena tebakannya tepat sekali.


-/////-


Huhhhh, kami berempat memutuskan untuk pergi bersama. Ya, aku, Neta, Askar dan Erland. Askar yang menawarkan ide ini dan mereka berdua menyetujuinya. Aku harus apa? Aku hanya punya dua tangan jika Askar memilih pemungutan suara dengan mengacungkan tangan.


Aku hanya terdiam menatapi makanan yang tersaji diatas meja. Makanannya adalah makanan kesukaanku. Tempatnya juga tempat kesukaan kami berdua, aku dan Askar. Tapi semua terasa hambar karena keberadaan Neta dan Erland.


"Oya, apa kalian sudah berhubungan sejak lama?" Tanya Erland.


"Bukan urusanmu." Sebelum Askar menjawabnya akupun segera menjawab pertanyaan Erland dengan dinginnya.


"Kenapa kau sangat dingin padaku? Kau tahu saat itu seluruh tulangku remuk karenamu. Kau ini tidak tahu terima kasih." ERLAND..! Dia ini kenapa membahas soal itu? Bagaimana jika Askar tahu Erland menggendongku sampai rumah?


"Remuk? Kenapa? Apa dia memukulimu dengan balok kayu?" Huhh, apa yang dikatakan Askar? Menyebalkan sekali, mana mungkin aku memukuli seseorang menggunakan balok kayu.


"Sayang, dia hanya bercanda. Kau ini sungguh tidak memeliki selera humor." Ucapku sambil mencoba sedikit tertawa. Ya, aku seperti orang gila yang tertawa saat tidak ada hal lucu sama sekali.


"Aku rasa dia tidak memukuli Erland dengan balok kayu. Tapi dia memukuli Erland dengan tongkat besi." Ucap Neta sungguh diluar nalar. Apa aku mungkin sekejam itu?


"Hahaha... ini baru lelucon yang lucu." Apa? Askar tertawa mendengar ucapan Neta? Huh, aneh sekali. Netapun mengangkat sebelah alisnya dengan senyuman anehnya. Sepertinya ia bangga dengan ucapan anehnya yang bisa membuat Askar tertawa.


-/////-