
Kami bertigapun kembali bertemu di tempat kami berpisah. Seperti biasa kami bersikap seperti sudah berpisah lama. Mungkin orang yang menyaksikan ini akan menyebut kami alay, tapi inilah kami. Kami terkadang saling peluk untuk melepas rindu.
"Didalam aku hanya diam dan hampir saja aku tertidur." Ucapku menceritakan kelas yang membosankan.
"Ya, memang aku juga merasa sangat mengantuk. Apalagi saat dosen menyapa kami dengan syair, aku langsung megantuk." Timpal Neta yang memang selalu mengikutiku dalam segala hal.
"Aku sangat senang sekali, dosennya langsung membahas pemanasan global." Ucap Fila sambil menyela ke antara aku dan Neta lalu mengandeng tanganku dan tangan Neta. Tentu saja ucapannya itu membuatku ingin muntah saja. Mana ada pelajaran fisika yang menyenangkan, semua pelajarannya membingungkan.
"Hari ini adalah hari perayaan hari pertamakali kita kuliah. Maka aku akan mentraktir kalian makan." Ucap Neta membuatku hanya bisa memutar bola mata. Baginya setiap hari adalah hari perayaan. Hari perayaan pertamakalinya ia mengerjakan PR sendiri, hari pertamakalinya ia mendapat hukuman lagi dari guru, hari pertamakalinya ia merindukan keluarganya, hari pertamakalinya orangtuanya mengirim uang dibulan sekarang, hari pertamakalinya ia bertemu pria tampan, hari pertamakalinya hari senin dibulan sekarang, hari selasa, hari rabu dan selanjutnya, bahkan ia pernah merayakan hari pertamakalinya ia tidak bertengkar denganku. Memang ia sangat kurang ajar, tapi ia bisa merayakan hari apapun sesuakanya karena ia memiliki banyak uang.
"Ada perayaan lagi? Aku suka ini, ayo kita makan!" Dengan bodohnya Fila menganggap perayaan aneh Neta sebagai hari yang spesial dan perayaan yang serius.
-////-
"Bibi, ini Neta membelikan ini untuk bibi. Hari ini ada perayaan, hari pertama kita masuk kuliah." Ucap Fila sambil menghampiri bibiku yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil merajut. Entah apa yang ia rajut, tapi ia telah mengerjakannya seminggu terakhir ini.
"Setiap hari adalah perayaan baginya. Jika orangtuamu mengirim uang maka kau tabungkan untuk biaya kuliahmu dan untuk membuat usaha jika setelah lulus kuliah nanti." Aku puas sekali mendengar ucapan itu bibi lontarkan pada Neta. Memang ia pantas mendapatkan gemblengan seperti ini. Neta tak menjawab ucapan bibi karena sepertinya ia takut untuk melawan.
"Bibi masak banyak, karena hari ini ada perayaan kalian jadi makan diluar. Yasudah berikan saja makanan di meja makan pada tetangga baru kita!" Ucap bibi sambil membereskan alat rajutnya lalu mengambil kantong plastik yang dibawakan oleh kami.
"Tidak bibi, aku akan memakannya. Lihatlah perutku masih kosong!" Fila tampak merasa bersalah. Ia bicara dengan nada lembut untuk membuat bibiku tidak marah padanya.
"Jangan memaksakan diri! Lagipula bagaimana bibi bisa melihat perutmu yang kosong atau berisi? Kau fikir perutmu transpran?" Uhhh, perut transparan membuatku ingin tertawa. Tapi rasanya ini bukan saatnya bercanda, aku harus menahan tawaku kali ini. Bibiku hanya menepuk bahu Fila lalu pergi dari ruang tamu.
-/////-
"Tadi aku masuk ke dalam rumah tetangga itu lalu aku melihat seorang pria tampan. Dia seperti pangeran dalam film, sungguh tampan." Ucap Neta yang masuk ke dalam kamar dengan senyuman bahagia yang ia terus tunjukan dihadapan kami.
"Erland? Aku sudah bertemu dengannya kemarin pagi." Ucap Fila yang tetap fokus belajar dengan buku tebalnya yang membuat siapa saja yang melihatnya akan muak.
"Aku sudah bertemu dengannya kemarin malam. Tadi juga aku bertemu dengannya, dia satu kelas denganku tadi." Ucapku mencoba mengalahkan mereka berdua. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini karena untuk apa aku melakukannya. Tapi biarlah aku lakukan kali ini saja untuk membuat Neta menjadi yang terkalahkan.
"Kenapa kalian tak mengatakannya padaku? Apa kau ingin berpaling dari Askar padanya?" Sungguh keterlaluan, dia membawa nama Askar dalam hal seperti ini.
"Kenapa kau sebut nama Askar? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya padamu. Kemarin malam dia datang dan memberikan cumi pedas yang kau makan, dan kami satu kelas tadi." Ucapku sambil langsung membaringkan tubuh dan memakai selimut tebal hitamku.
"Kau harus ingat! Kau sudah punya Askar sebagai kekasih yang selalu kau bela semua kekurangannya. Bukankah Askar itu cinta sejatimu? Mengapa kau harus senang bertemu dengan pria yang lebih tampan?" Malam ini aku sungguhan tak ingin bertengkar dengannya, biasanya kami saling melempar bantal dan saling mendekap kepala menggunakan selimut.
Sebenarnya aku ingin melawannya dan mengatakan bahwa Askar lebih tampan dari Erland. Askar lebih berharga dari Erland. Aku hanya mencintai Askar, dan aku tak akan pernah jatuh cinta pada Erland. Tapi entahlah, malam ini batinku memaksa diriku untuk mengalah dan memilih diam.
Lagipula aku kasihan pada Fila yang pada akhirnya harus menghentikan pertengkaran kami. Awalnya Fila hanya akan terdiam membaca buku, tapi jika kami sudah bertengkar melewati batas maka Fila akan menghentikan pertengkaran kita. Itulah alasannya aku dan Neta tidur di ujung ranjang yang berlawanan, Fila tidur di tengah diantara kami. Alasannya tak lain untuk menghindari pertengkaran kami.
Terkadang aku merasa Neta harus kuusir dari rumah bibiku ini. Tapi jika ia menunjukan wajah memelasnya, astaga, aku tidak tega melihatnya. Sama, Filapun ingin kuusir karena sikapnya yang terlalu halus malah terkesan menyalahkanku jika aku berulah. Menyebalkan sekali, pria bernama Erland itu membuat kami bertengkar kecil malam ini. Rasanya aku lebih baik bertengkar karena hal yang tidak penting, dibanding bertengkar karena seorang pria.
-/////-