Never Existed

Never Existed
part 2 Pertemuan pertamaku dengannya



Saatnya makan malam, kami semua memasak karena bibi masih kesulitan menggerakan anggota tubuhmya. Bukan kami, tapi hanya Fila. Aku dan Neta hanya membantu mengiris bawang, mencuci sayuran, dan melap piring yang telah Fila cuci.


Neta sangat anti memasak, ia tidak mau tubuhnya bau bawang atau minyak. Ia juga tidak mau menyentuh ikan mentah karena ia tidak mau tangannya bau amis. Ia tidak mau mengiris bawang karena matanya akan perih, jadi akulah yang harus mengiris bawang. Lalu Neta, pekerjaannya hanya memotong sayuran seperti wortel atau bayam. Itupun ia lakukan dengan sangat lama karena ia tidak ingin ada satu potong wortelpun yang cacat, keterlaluan sekali.


Setelah semua makanan tersaji, Neta pergi untuk menjemput bibiku. Tentu saja ia akan melakukannya, ia selalu mencari muka dihadapan bibi agar bibi bisa menyayanginya seperti bibi menyayangiku dan Fila.


'Tok...tok...tok...' Pintu depan terdengar diketuk dengan sangat jelas. Melihat Fila yang masih sibuk, akupun bergegas menuju ruang tamu karena hanya akulah yang menganggur saat itu. Aku langsung membuka pintu, dan, astaga, siapa yang datang? Aku tidak pernah melihat pria tampan dihadapanku ini sebelumnya.


"Selamat malam." Sapanya dengan senyuman yang membuatku tak bisa mengatakan apapun. Aku seperti orang bodoh yang mendadak bisu melihat ketampanannya. Pria itupun mengulangi kalimatnya sekali lagi hingga membuatku terkejut. Ahhh... bodohnya aku ini, perempuan cantik tak pantas terpesona oleh seorang pria sampai seperti ini.


"Selamat malam." Jawabku sambil berusaha terlihat cuek.


"Aku tetangga barumu, rumahku di depan sana. Ibuku menyuruhku mengantarkan ini ke rumah ini." Ucap pria itu sambil memberikan satu tepak makanan. Entah apa yang ada di dalamnya, aku hanya melihat warna merah dari luar tepak transparan itu.


Aku menerima tepak itu dan aw, ternyata panas.


"Maaf, makanannya masih panas, ibuku baru saja mengangkatnya. Apa tanganmu terluka?" Astaga, dia meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia perbuat. Lalu ia menanyakan 'apa kau terluka?' Dia sangat perhatian.


"Tidak, aku hanya terkejut karena aku fikir didalamnya itu bukan makanan panas. Terimakasih." Jawabku sambil menunjukan telapak tanganku yang hanya sedikit memerah.


"Baiklah, selamat makan malam. Saya permisi karena saya harus mengantar ke rumah lainnya." Ucap pria itu lalu pergi sebelum aku menjawab ucapannya. Sudahlah, biarkan dia pergi! Besokpun aku akan melihatnya lagi, dia itu kan tetangga baru jadi dia akan disini.


Aku menutup pintu lalu berjalan kembali menuju ruang makan dan menyimpan tepak makanan itu di atas meja. Ternyata Neta dan bibiku juga sudah tiba di ruang makan.


"Ini ada makanan dari tetangga baru." Ucapku lalu Neta menarik tepak itu kehadapannya dan membukanya.


"Waw, cumi pedas. Ini makanan kesukaanku, sepertinya dia tahu ada aku disini yang sangat menyukai makanan ini." Ucap Neta yang tampak senang melihat isi tepak itu.


"Yah, jadi masakanku tidak akan laku? Memang seperti itulah, jika ada yang lebih menarik maka akan meninggalkan yang setiap hari menemani." Gerutu Fila sangat jelas terdengar ditelingaku.


"Apa yang kau katakan? Aku tetap akan memakan masakanmu. Aku akan memakan sayur bayamu, aku akan memakan ikan gorengmu, aku akan memakan sambal pedasmu juga. Kau kan tahu aku alergi makanan yang bersumber dari laut." Ucapku sambil menepuk bahu Fila yang duduk di sebelahku.


"Yasudah, aku akan memakan masakan ini hanya berdua bersama bibi." Ucap Neta sambil mengambil sendok lalu mengambil beberapa potong cumi dan dituangkan ke piringnya.


"Tidak, bibi ingin memakan ikan goreng Fila. Rasanya sangat enak, tidak bau amis juga." Jawab bibiku sambil memberikan piringnya padaku dan menunjuk ikan goreng yang sedikit jauh darinya. Akupun mengambilkan satu ikan goreng dan memberikannya pada bibi.


-/////-


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh. Aku masih duduk di kursi depan rumah dengan keadaan masih mengantuk. Sementara Fila sedang menyiram tanaman di dekat pagar depan sana. Memang halaman rumah bibi ini dipenuhi oleh tanaman bunga beragam yang membuat rumah kecil ini terlihat lebih indah dan berkelas.


Dari kursi sini aku melihat pria tadi malam dan menghampiri Fila. Lalu pria itu memberikan satu pot yang berisi bunga pada Fila. Fila menyimpan pot itu di bawah lalu mengajak pria itu bersalaman. Kemudian pria itu pergi.


"Ada apa?" Tanyaku padanya, lalu ia menyimpan pot itu di sudut teras tepat sebelah tiang rumah.


"Tadi ada tetangga baru, dia ingin membuang pot bunga dirumahnya karena ibunya alergi bunga. Tapi penjaga rumahnya bilang bahwa aku suka sekali dengan tanaman. Maka dia memberikannya padaku. Ahhh romantis sekali, dia bernama Erland, sangat tampan." Ucapnya lalu masuk ke dalam rumah. Sepertinya Fila juga menyukai pria itu, tapi tidak masalah karena aku telah memiliki Askar. Namun pertemuanku dengannya semalam seperti meracuni fikiranku. Entahlah ini apa, tapi yang kurasa bukanlah cinta. Tidak ada cinta yang tumbuh dalam waktu sesaat. Tidak ada cinta yang tumbuh hanya karena sebuah pertemuan, aku yakin itu.


'Trok...trok...trok...' Nah itu dia Askar, pria tampan berjaket merah yang sedang mengetuk pagar rumah. Dia memang sopan, tidak akan masuk sebelum ada yang membuka pintu pagarnya.


Aku berjalan memghampirinya lalu membukakan pintu pagar untuk pangeranku yang datang dengan satu tangkai bunga mawar dan juga satu paper bag berwarna coklat. Inilah yang membuatku selalu ingin memeluknya setiap kali ia datang. Astaga, kenapa pria tetangga itu melihat kearahku, langsung saja kulepas peluknya dan kuajak Askar masuk ke dalam.


Kami berdua masuk kedalam rumah dan kupersilahkan Askar duduk di sofa ruang tamu. Aku memcabut tangkai bunga mawar di dalam vas kecil diatas meja ruang tamu lalu aku menggantinya dengan yang baru, bungan pemberian Askar tadi.


"Bibi dimana? Apa dia sedang keluar?" Tanya Askar sambil menyimpan paper bagnya diatas meja.


"Ada, dia sedang sakit." Jawabku sambil membuang bunga mawar yang sudah layu itu ke tempat sampah depan rumah.


"Oya? Kenapa kau tidak beritahu aku? Mungkin aku akan membawakan sesuatu untuknya." Askar terdengar terkejut mendengar kabar tentang bibiku. Pasti saja karena bibiku sudah menganggapnya sebagai anggota keluarga.


Meski terkadang Neta dan Fila mengadukan pada bibiku bahwa Askar adalah anak paling bandel di kelas, Askar suka meroko, Askar sering balapan liar, Askar sering kabur dari rumah, tapi bibiku tetap baik pada Askar. Itu semua karena Askar menyayangiku dan Askar selalu bersikap sopan pada bibi.


-/////-


Hari pertama kali kami masuk kelas di kampus kami, kami berangkat bersama menaiki satu taksi yang sama. Meski kami hanya teman, tapi kami terlihat seperti tiga saudara kembar. Tapi tidak, wajahku tidak mirip dengan mereka berdua.


Saat di mobil mendadak aku teringat saat bibi mengambil raport kami. Ya kami, karena orangtua kedua temanku yang malang ini tidak hadir. Kami bertiga tidak satu kelas di kelas dua belas. Maka bibi harus masuk tiga kelas untuk mengambil raport kami. Hal itu terjadi karena Neta, dia selalu mengjaku bertengkar hingga guru sudah sangat bosan dengan pertengkaran kami. Ya, harusnya aku juga disalahkan untuk hal itu. Sebenarnya Fila adalah orang yang selalu menjadi penengah, tapi ia terkena imbasnya juga. Kami bertiga dipisahkan.


Seperti biasa Neta ingin selalu didahulukan. Ia ingin raportnya diambil terlebih dahulu hingga kami bertengkar. Tapi akhirnya aku mengabulkan permintaan Neta. Tentu saja karena raportku diambilkan oleh kakak perempuan Askar. Aku sangat senang saat itu. Tapi yang menyedihkan adalah Fila, saat bibi masuk ke kelas Fila, raportnya sudah selesai dibagikan. Fila tampak sedih, tapi ia membawa kabar yang sangat baik. Fila menjadi juara umum angkatan jurusan IPA, dia memang sangat hebat. Lalu aku dan Neta? Kami berada diurutan ke sembilan puluh sembilan dan seratus dari dua ratus anak. Kami tidak terlalu bodoh, dan aku satu tingkat diatas Neta.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau sudah bosan bertengkar dengan Neta?" Ledek Fila saat aku hanya terdiam di mobil. Dengan senyum sinisnya Neta langsung menatapku seperti menantangku untuk bertengkar.


"Tidak, aku hanya sedang malas." Jawabku tak melayani tantangan Neta yang menyebalkan itu. Netapun tersenyum bangga seperti seseorang yang sudah memenangkan sebuah kompetisi.


Ini adalah saatnya kami berpisah. Aku memilih jurusan Biologi, Fila memilih jurusan Fisika, dan Neta memilih jurusan sastra. Hanya dia yang menyimpang dari jurusan kami sebelumnya.


Sebenarnya aku hanya mengambil jurusan yang aku anggap mudah dibanding jurusan IPA lainnya. Tapi Fila, dia memang berani sekali mengambil jurusan yang kebanyakan orang takuti.


Selalu ada pilihan jalan dihadapan kita, dan semuanya terbuka. Kita hanya perlu memilih salah satunya dan menjalaninya. Namun dengan jalan yang kita pilih ini kita tidak tahu berapa lama kita menuju puncaknya. Ingatlah, tidak pernah ada jalan yang tertutup.


-/////-