
"Tadinya ayah tidak akan mengeluarkanmu, tapi karena kekasihmu yang meminta maka ayah mengeluarkanmu." Ucap ayah Askar pada Askar saat kami berjalan keluar dari kantor polisi.
"Aku tidak bersalah, aku hanya menyelamatkan seorang anak yang terjebak dalam tawuran, mungkin anak itu hanya lewat tadinya. Lihatlah ayah! Aku sampai terluka karena melindungi anak itu." Ucap Askar sambil menunjukan leher sebelah kanannya yang terluka. Terdapat goresan panjang yang mengeluarkan sedikit darah di lehernya itu.
"Tapi kau ikut dalam tawuran itu." Ucap ayahnya seperti tetap menyalahkan Askar.
"Jika aku tidak menyelamatkan anak itu maka aku bisa pergi sebelum polisi datang. Tapi bagaimana nasib anak itu nantiya?" Ucap Askar tetap tidak ingin disalahkan. Bagaimanapun yang dilakukan Askar ini memang salah karena dia melakukan hal seperti ini bukan hanya sekali. Apapun alasan yang keluar dari mulut Askar, siapapun tak akan mempercayainya, kecuali aku.
"Kau pulang saya antar, Askar kau pulang duluan saja! Kau harus langsung pulang tanpa mampir kemanapun!" Ucap ayah Askar, aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Askar sebelum kami berpisah. Aku hanya menatapnya sejenak dengan perasaan khawatir. Tapi Askar malah menunjukan senyum manisnya padaku. Luka di lehernya tak akan membuat Askar menjadi pria lemah. Ia juga membantuku berjalan menuju mobil ayahnya. Aku hanya bisa menghela nafas lalu aku pergi menaiki mobil ayahnya. Sebenarnya aku tak enak hati jika harus pergi dengan ayah Askar. Tapi Lebih baik aku diam saja dan turuti ucapan ayah Askar. Toh dia tidak mungkin memiliki niat buruk terhadapku.
"Selamat malam." Ucap Askar sambil melambaikan tangannnya. Ah, aku ingin sekali mengucapkan selamat malam dan memeluknya. Tapi apa aku akan lakukan itu dihadapan ayahnya? Di dalam mobil pula? Tidak, aku tidak perlu lakukan itu.
-/////-
"Saya tidak tahu mengapa anda bisa menyukai Askar." Ucap ayah Askar membuatku merasa sangat canggung berada disebelahnya.
"Askar adalah anak yang sangat keras. Ia tidak pernah mendengar ucapan saya sebagai ayahnya. Tapi saya juga menyadari bahwa ini adalah kesalahan saya, saya tidak mengawasi perkembangannya." Ucapnya lagi, ayolah apa yang harus aku katakan? Apa aku hanya bisa diam saja dan mendengarkan ucapan ayah Askar?
"Mungkin ia hanya mencari sesuatu yang bisa membuatnya bahagia." Ucap ayah Askar dengan sedikit senyuman. Akupun hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Disini." Ucapku saat kami tiba di depan rumah bibiku. Mobilpun berhenti lalu kami berdua keluar dari mobil.
"Mari masuk dulu om!" Ucapku sambil membuka pagar dan mempersilahkannya masuk. Tapi ayah Askar hanya menggelengkan kepala disertai senyuman tipis.
"Didalam ada bibiku dan dua teman yang sudah seperti saudariku, jika om tidak keberatan masuklah sebentar! Aku takut kedua saudariku mengira aku pulang diantar oleh pria..." Stt, aku tidak boleh melanjutkan ucapanku.
"Kau ini lucu sekali, aku ini adalah calon mertuamu. Baiklah ayo kita masuk!" Huhhh, untung saja ayah Askar orangnya baik. Ia tidak tersinggung oleh ucapanku yang memang kurang baik.
Untunglah ayah Askar menurutiku untuk masuk. Jika tidak maka habis aku dituduh oleh Neta sebagai perempuan murahan yang pulang malam diantar oleh seorang pria berumur yang memakai mobil. Tapi tunggu! Ayah Askar mengaku dirinya sebagai calon mertuaku? Ahhh, aku senang sekali. Itu artinya dia mengakuiku sebagai kekasih Askar.
-////-