
Lelah sekali rasanya, aku pulang sore hari dengan menaik taksi sendirian. Neta sudah pulang dari tadi siang dan Fila masih ada urusan dikampusnya.
Saat aku tiba di dalam rumah, aku melihat bibi sedang berbincang dengan pria berkacamata. Waw, tampilannya sangat rapi. Dia juga tampak seperti pria berkelas dengan pakaian yang dipakainya.
"Kau pulang? Ini Gery, teman kuliah Fila. Kau temani saja dulu! Bibi harus menyiram tanaman." Ucap bibi lalu pergi keluar rumah.
Baiklah, aku harus menghadapi teman pria Fila. Apa yang harus aku katakan? Emm, jangan katakan apapun! Aku hanya perlu duduk dan sedikit melontarkan senyuman tipis.
"Aku sudah mendengar sedikit tentangmu. Fila selalu bercerita tentangmu dan juga Neta." Ucap Gery. Aku tidak tahu harus menjawabnya dengan apa, jadi aku hanya perlu tersenyum dan sedikit tertawa. Hambar sekali tawaku ini.
"Emmm, oya, Fila itu sangat baik. Dia yang paling pintar dan disiplin diantara kami bertiga. Dia juga sangat penyayang dan dewasa. Bahkan aku merasa seperti menjadi adiknya." Ucapku menceritakan sisi baik Fila. Tentu saja sisi baiknya karena Fila tidak memiliki sisi buruk. Ia adalah perempuan yang sempurna, dengan wajah cantik, hati lembut dan kepribadian yang membuat siapa saja nyaman bersamanya.
"Ya, aku juga sangat suka terhadap sikap lembutnya." Jawab Gery dengan senyuman lebarnya. Tapi ia tampak sedikit tersipu malu.
"Apa kau mencintai Fila?" Tanyaku pada Gery. Aku tahu pertanyaan ini tidak seharusnya aku lontarkan. Mungkin saja Gery akan merasa malu untuk menjawabnya. Atau mungkin saja Gery dan Fila tengah menjalani hubungan kekasih. Tapi aku harus tahu semua tentang pria yang dekat dengan sahabatku.
"Ya, tapi aku belum mengatakannya pada Fila. Aku fikir belum saatnya." Ucap Gery yang tampak sedikit ragu dengan ucapannya. Ouh, ternyata dia ini sungguhan 'teman' Fila, bukan kekasihnya.
"Jika kau mencintai Fila maka kau haru menunjukannya dan memberitahukannya. Fila memiliki dua saudara dan satu bibi, kau harus menyayangi kami juga. Aku akan bantu kau untuk mengambil hati Fila, asal jangan pernah sakiti dia!" Ucapku dengan serius pada Gery yang fokus mendengar setiap ucapanku.
"Bagaimana tidak menyakiti? Mengambil hati itu kan dengan mengiris kulit perut hingga kau bisa mengambil hati yang ada di dalam perut." Uh, menjijikan sekali. Memang ucapan Neta itu selalu saja di luar nalar.
"Dia memang aneh, dengarkan saja ucapanku!"
"Kau yang aneh, kau menyuruhnya mengambil hati Fila. Apa kau ingin membunuh Fila?"
"Neta, kau tahu maksudku bukan?"
"Tapi cara kau menyampaikannya itu salah. Gery, jika kau ingin membuat Fila terkesan padamu maka kami ada untuk membantumu. Begitu."
"Rupanya kau telah mempelajari bahasa dan sastra dengan benar." Aku sedikit pusing dengan sikap Neta yang aneh dan bodoh ini.
"Oh ya jelas, jangan karena kau adalah mahasiswa biologi kau menyuruhnya praktek oprasi pada Fila!" Astagaaa, Neta ini keterlaluan sekali. Ucapannya itu sangat menyebalkan.
"Lanjutkan obrolan kalian para psikopat! Aku harus menemui Erland, dia sudah menelponku tadi." Ucap Neta lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Psikopat? Parah sekali dia sampai mengatakan itu padaku. Tapi biarlah, aku tidak boleh bertengkar didepan tamu spesial Fila.
"Fila sangat menyukai tanaman, ia juga sangat manis. Dia tidak suka pria pendiam dan cuek, ia lebih suka pada pria yang romantis. Kau coba saja nanti saat dia datang berikan kejutan padanya. Tapi jangan berikan ia bunga karena ia akan menyalahkanmu sebab kau telah merusak tanaman. Kau berikan boneka saja padanya! Dia pasti suka, apalagi jika bonekanya berwarna merah muda. Ah, itu manis sekali." Aku mencoba memberikan saran pada Gery agar ia tidak salah dalam memperlakukan Fila. Gery tampak menyimak setiap yang aku ucapkan. Sepertinya ia sungguhan menyukai Fila.
-////-