
"Ayah Askar baik sekali, sopan pula." Ucap Neta dengan senyuman saat ayah Askar pergi setelah berpamitan. Beruntung sekali aku, mereka berdua tidak mengatakan hal buruk tentangku pada ayah Askar tadi.
"Ayah Askar dan bibimu sudah saling mengenal dan menyetujui hubungan kalian. Cepat nikah saja!" Goda Fila sambil sedikit menyenggol tubuhku dengan sikutnya.
"Nikah? Kau ini bicara apa? Aku baru berusia delapan belas tahun, apa kau lupa?" Tanyaku sambil mendorog pipinya. Kemudian aku masuk ke dalam kamar. Ah, Neta mengikutiku. Aku sungguh tidak ingin bertengkar dengannnya lagi.
"Aku minta maaf." Sungguh? Kata 'maaf' bisa terlontar dari mulutnya? Apa dia sungguhan atau hanya sedang mempermainkanku? Aku tidak boleh terjebak oleh jebakannya yang murahan itu.
"Apa kau sedang kesurupan?" Tanyaku sambil naik ke atas tempat tidur dan melunjurkan kakiku. Tampak sekali Neta terkejut mendengar ucapanku. Tapi biarlah, karena ini yang aku inginkan.
"Aku tidak kesurupan, aku sungguhan minta maaf padamu. Aku berjanji tidak akan membuatmu marah lagi." Ucap Neta sambil duduk di sebelahku dan mengacungkan jari kelingkingnya kehadapanku.
"Sudahlah, kau tidak perlu berjanji! Aku khawatir kau akan melanggarnya." Ucapku sambil menepis tangannnya itu. Neta tersenyum lalu ia memeluku dengan erat. Astaga, memang aku tidak bisa marah padanya secara serius. Dia ini saudariku, jadi pertengkaran kecil harus dianggap sebagai hal yang biasa.
"Kalian? Kenapa kalian tidak mengajaku?" Tanya Fila yang baru masuk ke dalam kamar lalu naik keatas tempat tidur dan memeluk kami berdua. Persahabatan memang sangat indah, aku mencintai kedua sahabatku.
"Besok kita tidak kuliah, bagaimana jika kita berolahraga bersama?" Tanyaku mengusulkan sesuatu.
"Tidak, lebih baik kita diam di rumah bersama atau kita rayakan hari esok sebagai hari perdamaian kita?" Usul Neta.
"Tidak, lebih baik kita belajar bersama atau ke perpustakaan bersama atau merapikan tanaman bersama." Ucul Fila. Aku harus mengalah, untuk kali ini saja aku harus diam. Ternyata bukan hanya aku yang diam, tapi kami semua diam.
"Maaf, lebih baik kita lakukan semuanya bersama." Usul Fila membuat kami semua menyetujuinya.
"Aah, Fila aku mencintaimu. Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tidak ada kau." Ucap Neta sambil mencubit pipi Fila dengan gemasnya. Aku senang sekali mereka bisa akur seperti ini. Coba saja setiap hari kami akur, mungkin aku akan lebih menikmati keberadaan mereka dirumah ini.
-/////-
Kami mulai melakukan semua yang kami inginkan. Pagi hari kami berkebun seperti petani di halaman depan rumah. Kami memangkas tanaman yang sudah tidak terlihat rapi. Kami menanam tanaman baru di tanah yang tampak kosong. Kami menyilangkan bunga agar menghasilkan bunga yang berbeda. Kami melakukan semuanya dengan senang karena disetiap apa yang kita lakukan ada saja kelucuan bahkan kekesalan yang terjadi.
"Apa boleh aku memangkas pohon ini dan membentuknya seperti binatang?" Tanya Neta sambil menunjuk tanaman berbentuk hati yang sudah Fila ukir sedemikian rupa.
"Jangan! Biarkan saja bentuk hati. Aku ada rencana untuk menambahkan lampu disetiap tanamah agar terlihat indah dimalam hari." Jawab Fila membuat Neta memiringkan bibirnya dan memutar bola matanya.
"Kalian potong saja setiap rumput yang mengganggu! Biar aku yang mengurus tanaman hiasnya." Ucap Fila sambil terus menghias tanaman. Meski terkadang kami tertawa karena ada hal lucu, tapi tetaplah Fila yang paling bahagia dengan kegiatan ini.
Neta memesan banyak sekali makanan kesukaannya, tapi jujur saja aku tidak suka makanan ini. Aku lebih suka memakan sup buatan bibiku dan goreng ikan gurami buatan Fila. Tapi untuk memperarat persahabatan kami, kami harus menikmati semuanya. Bahkan saat Neta menjejalkan makanan ke dalam mulutupun aku tidak bisa meneriakinya atau menjambak rambutnya.
Yang terakhir adalah acara yang sangat aku dambakan. Kami berolahraga bersama di taman kota bersama para penjaga kesehatan tubuh lainnya. Aku tak mengira ternyata Neta memiliki kebugaran fisik yang lebih baik dariku. Saat aku sudah mulai lelah, dia masih tampak bugar. Tapi Fila memang sangat lemah, aku saja masih bisa berolahraga tapi ia sudah duduk di atas bangku dengan nafas yang tidak beraturan serta keringat yang membuat ia tidak enak dilihat. Bahkan saat instruktur mengarahkan gerakan ia hanya menggerak-gerakan kedua tangannya dengan gerakan yang mungkin sedikit mirip. Tapi aku yakin gerakan itu tidak akan membuat tubuh menjadi lebih kuat.
-/////-
Saat malam tiba, kami semua medapatkan masalah. Neta terus menggaruk betisnya yang gatal karena berkebun tadi pagi. Ia sudah mengobatinya dengan berbagai Cream tapi ia malah mengeluh kakinya menjadi perih.
Masalah Fila juga pada kakinya, kakinya menjadi sakit karena ia tidak terbiasa berlari. Ia terus saja mengeluh meminta kami memijat kakinya.
Lalu masalahku adalah dengan makanan yang dipesan Neta. Dia memesan makanan laut dan memaksakan makanan itu masuk ke mulutku. Tentu saja aku gatal diseluruh tubuhku.
Seharusnya kami tidak melakukan semuanya secara bersamaan. Ini sungguh ide gila yang tak perlu kami kalukan. Kami hanya perlu melakukan apa yang dusukai masing-masing, bukan melakukan yang kami suka. Jika sudah seperti ini siapa yang repot? Tentu saja bibiku yang harus melayani setiap keluhan kami.
"Kau ini, lihat di kakiku banyak bintik merah! Ini semua karena tanamanmu itu."
"Mungkin itu karena kau tidak mandi. Lihat kakiku juga pegal karena berolahraga."
"Enak saja kau, aku mandi tiga kali hari ini. Diantara kita bertiga akulah yang paling serig mandi."
"Sudahlah! lihat tubuhku gatal karena udang cincang itu. Kau membohongiku Neta, kau bilang itu tidak ada ikan lautnya."
"Memang tidak ada, itu udang, bukan ikan."
Alhasil kami bertiga saling menyalahkan, semua yang kami lakukan akan menjadi serba salah.
"Jangan bertengkar! Sudah diam biar bibi obati satu persatu." Bibiku masuk ke dalam kamar dengan minyak urut dan beberapa salep di tangannya.
'Tok...tok...tok...' Suara ketukan pintu diluar membuat pertengkaran kami berhenti. Bibiku langsung keluar dari kamar dan kamipun mengikutinya. Bibi membuka pintu lalu membawa masuk seorang perempuan paruh baya dengan tampilan elegan yang tampak cantik. Entah siapa perempuan itu, aku tidak pernah melihatnya. Aku dan Fila saling menoleh dengan wajah tanda tanya. Sementara Neta tampak mengerutkan dahinya dengan tatapan seperti penuh kebencian pada perempuan itu.
-/////-