Never Existed

Never Existed
Part 11



Malamnya aku pergi ke rumah Erland dan mengetuk pintu Erland dengan keras. Saat tak ada jawaban, aku ketuk lebih keras.


"Ada apa? Oh, kau? Kau anak dirumah sebrang bukan?" Astagaaa, ibu Erland yang membuka pintunya. Harusnya tadi aku mengetuk pintu dengan pelan. Tapi jika kuketuk pintu dengan pelan lalu Erland yang membuka pintunya maka salah lagi. Sudahlah tidak apa, lagi pula ibu Erland rupanya tidak marah.


"Maaf, aku fikir Erland yang akan membuka pintu. Bisa bertemu dengan Erland." Ucapku sedikit malu. Namun ibunya Erland malah tersenyum tipis.


"Erland di dalam, dia sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Mari masuk saja!"


"Tidak, aku tunggu disini. Tolong panggilkan saja dia!"


"Baiklah, tunggu sebenatar!" Ibu Erland masuk ke dalam rumah, sementara aku duduk di kursi teras. Aku hanya bisa menepuk dahiku karena rasa malu tadi. Aku ingin sekali bertemu dengan Erland untuk memberinya pelajaran.


"Selamat malam, ibuku bilang ada perempuan yang mengetuk pintu keras dan ingin bertemu denganku. Ternyata kau. Ibuku juga bertanya 'Apa kau ada masalah dengan kekasihmu? Dia tampaknya sedang marah.' Begitu katanya." Erland keluar dari dalam rumahnya lalu duduk di kursi lain sebelahku.


"Apa? Kekasih? Siapa kekasihmu?" Aku memukuli lengan Erland dengan keras beberapa kali. Rasanya kesal sekali aku padanya.


"Aku datang untuk memberitahu padamu, jangan kau bahas soal kau menggendongku dihadapan Askar!" Ucapku dengan kesalnya.


"Aku tidak membahas itu, aku hanya membahas tulangku yang remuk." Jawab Erland dengan polosnya. Dia fikir aku ini bodoh?


"Tapi itu karena kau menggendongku bukan? Jadi jangan bicarakan itu!" Ucapku lagi dengan tegas. Erland menghela nafas lalu menatapku dalam.


"Baiklah, aku tidak akan membicarakan itu lagi. Tapi boleh kan jika aku bilang padamu bahwa kau tampak cantik saat kau marah padaku?" Tunggu! Apa yang ia katakan? Kenapa hatiku berdebar mendengarnya? Astaga, jangan sampai pipiku memerah. Dia pasti meledeku jika melihatnya. Huhhh, aku sangat takut itu terjadi.


"Aku tahu aku memang cantik, jadi kau tidak perlu mengatakannya padaku." Ucapku berusaha menjaga marahku padanya yang hampir lenyap karena rayuannya.


"Lalu?"


"Lalu apa?" Aku tidak mengerti terhadap pertanyaan Erland. Akupun langsung menyemburnya dengan pertanyaan yang menantang.


"Apa lagi? Apa ada keperluan lain?" Erland mengutarakan pertanyannya dengan jelas.


"Kau mengusirku? Baiklah aku pergi." Aku langsung berdiri dan pergi meninggalkan Erland.


"Sampai jumpa besok di kelas." Masih sempat ia mengucapkan sampai jumpa. Padahal aku sedang marah padanya.


Saat tiba di depan aku baru teringat satu hal. Akupun berjalan balik arah kembali menghampiri Erland yang masih berdiri di depan rumah menatapku dengan senyuman anehnya.


"Ada apa? Kau mau mengatakan aku tampan saat tersenyum?" Dengan percaya dirinya ia menebak apa yang akan aku katakan. Tentu saja itu salah besar.


"Katakan pada ibumu bahwa aku bukan kekasihmu!" Begitulah aku tekankan pada Erland. Setelah itu aku memutuskan pergi dari hadapannya. Dalam benakku bersumpah jika ia sekali lagi berbuat kurang ajar maka akan kulakukan apapun yang bisa membuatnya merasa terluka.


-/////-