Never Existed

Never Existed
part 4 keyakinan



Seperti biasa Neta harus mendapat pukulan bantal atau sedikit cipratan air agar ia bisa bangun dari tidurnya. Siapa lagi yang harus melakukannya jika bukan aku? Fila terlalu takut untuk melakukan itu. Bibipun tak akan berlaku setega itu padanya.


"Kenapa kau membasahi wajahku?" Teriak Neta saat aku mencipratkan sedikit air ke wajahnya. Ia langsung beranjak dan melap wajahnya menggunakan selimutnya. Teriakannya ini pasti bisa didengar oleh Fila dan juga bibi. Tapi mereka juga pasti sudah terbiasa dengan ini.


"Cepat bangun! Kami sudah mau mulai sarapan, aku tidak ingin menunggumu lama. Aku harus tiba di kampus tepat waktu." Ucapku sambil menyimpan gelas ditanganku ke atas meja belajar. Lalu aku pergi meninggalkannya yang menatapku dengan sejuta kebencian.


Neta memang menyebalkan, tapi ia terkadang menjadi pahlawan yang sangat keren untuku dan Fila. Saat kami SMA dulu, Fila pernah mendapat bulian dari teman sekelas yang iri pada kepintaran Fila. Teman sekelas malang yang dituntut orangtuanya untuk menjadi yang terbaik itu memaksa agar Fila mengalah padanya dan berlaku seperti orang yang tidak lebih pintar darinya. Tapi dengan gagahnya Neta membuat mereka takut padanya.


Fila merasa senang saat ia tidak perlu takut untuk menjadi yang terbaik. Tentu saja ia memeluk Neta dan memuji Neta. Bahkan ia mengatakan bahwa Neta adalah pahlawan hidupnya, sahabat terbaiknya, dan saudari terhebat. Astaga dia terlalu berlebihan.


Aku juga memuji keberanian Neta, tapi ia malah menertawakanku. Sepertinya saat aku memujinya itu ia merasa bahwa aku kalah darinya. Dia selalu menganggapku lebih lemah darinya. Jiwa kompetisinya sangat tinggi, tapi hanya dalam hal yang tidak penting.


"Hari ini aku dijemput temanku, kalian mau ikut?" Tanya Fila ditengah makannya. Jika Fila bisa dijemput temannya, mengapa aku tidak?


"Tidak, terimakasih tapi aku punya Askar." Aku tidak boleh kalah dari siapapun diantara mereka berdua.


"Ya, lagipula aku akan menumpang pada tetangga baru kita itu." Apa yang dikatakan Neta? Menumpang pada tetangga baru? Tunggu! Kenapa aku harus kesal? Erland hanya tetangga baru, dan aku tidak pantas cemburu.


Biarlah dia menumpang pada tetangga baru itu agar dia tidak mencoba menggoda Askar. Meski dia sering mengatakan bahwa Askar bukan pria baik, tapi ia masih berani menggodanya. Tapi Askarku tidak akan lebih memilih Neta daripada aku. Neta tidak lebih cantik dariku, dia juga tidak lebih hebat dariku. Mungkin.


"Kenapa kalian jadi berpisah seperti ini? Biasanya kalian selalu bersama." Benar yang dikatakan bibi, kami selalu bersama. Bahkan saat Askar menjemputku, mereka berdua akan menumpang. Lalu yang menyebalkannya adalah saat Neta berhasil duduk di kursi depan bersama Askar. Aku kesulitan memaksanya pindah ke kursi belakang, bahkan seringkali aku tak berhasil. Tapi aku tidak sebodoh itu, aku bawa Askar ke kursi belakang dan kusuruh Fila yang mengemudi mobilnya. Bisa apa dia? Dia hanya bisa terdiam bengong melongo ****.


"Bukan begitu bibi, temanku ini ingin tahu tempat tinggalku." Ucap Fila sambil sedikit mengelus bibi. Tak perlu ia lakukan itu, tapi ia memang sangat halus sehalus halusnya.


"Karena tetangga baru itu sangat tampan. Dan kekasih Askar ini akan meninggalkan Askar untuk pria itu. Bagus juga karena Askar memang layak untuk ditinggalkan, tapi pria tetangga itu lebih cocok untuku." Dasar mulut besar, dia kembali menjelekan Askar dihadapan bibi. Bagaimana bibi bisa menyukai Askar jika si Neta ini selalu melakukan hal seperti ini?


"Maksudmu apa? Askar tidak seburuk yang kau tahu, dia pria penyayang." Tentu saja sebagai kekasih Askar aku tak terima mendengar ucapan Neta. Aku sudah berusaha mencintai Askar sejak ia mengungkapkan perasaannya padaku. Ya, awalnya aku tidak mencintai Askar. Aku hanya mengagumi Askar yang sangat popular di sekolahku dulu. Tapi dia terlalu baik padaku, aku harus membalas cintanya. Beruntung sekali aku, aku berhasil membuat diriku mencintainya. Jadi aku tidak ingin ada satu orangpun yang mencoba menghancurkan cintaku pada Askar.


"Tapi Askar memang tidak baik, dia pembalap liar, tampilannya tidak rapi, dan ia sering ditangkap polisi karena balapan liar itu." Apa ini? Fila mengatakan hal itu? Sungguh tidak dapat dipercaya. Fila mengatakan itu dengan sikap dinginnya. Sepertinya sikap halus Fila tidak ditunjukan untuku, menyebalkan.


Semua orang disekitarku mengakui keburukan Askar. Mereka tidak ada yang tahu sisi baik dari Askar. Askar bukan hanya seorang berandalan, pembalap liar, atau apapun keburukan yang seakan melekat menjadi identitasnya. Tapi Askar adalah pria yang dermawan. Dia tidak pernah sungkan untuk berpartisifasi mengajar di sekolah anak jalanan bersama relawan lainnya. Dia tidak pernah ragu untuk memberikan apapun yang ia miliki pada orang yang membutuhkannya. Dia melakukan semuanya tanpa mengharapkan pujian dari siapapun. Bahkan dariku yang sesekali menyaksikan secara langsung aksi kebaikannya.


-/////-


"Mungkin kau bisa ajak mereka ke tempat anak jalanan itu atau aku boleh merekammu saat kau memberikan uang pada pengemis di lampu merah." Aku kembali mengajukan saran yang sebenarnya aku tahu Askar pasti menolaknya.


"Biarkan saja mereka menilai apa! Yang penting aku adalah pria baik untukmu. Kau percaya kan padaku? Aku akan buktikan bahwa aku bisa membuatmu bahagia bersamaku. Ingat! Aku hidup untuk mempermudah semua langkahmu, bukan untuk mereka nilai." Ucapannya ini membuatku kembali merasa tenang. Aku tahu dia selalu memiliki cara untuk menenangkan fikiranku. Dengan kalimat manisnya ia pasti akan meyakinkanku.


"Ya, kau benar. Kita yang menjalani hubungan ini, bukan mereka." Ucapku sambil menyandarkan tubuhku disandaran kursi mobil yang sedikit aku condongkan ke belakang.


Tangan kiri Askarpun terulur dan mengelus kepalaku sejenak. Astaga, inilah yang membuatku sulit sekali berpisah dengannya bahkan untuk sedetik saja. Dia selalu memanjakanku srperti ia berlaku kepada adiknya. Elusan tangannya itu hanya mengenai kepalaku, tapi rasanya seperti ia mengelus perasaan dalam hatiku. Aku tidak pernah salah memilihnya.


-/////-


Hari kuliah terasa seperti hari sekolah biasa bagiku. Aku tidak pernah ingin bersemangat menjalaninya. Padahal di hatiku sudah ada sedikit keinginan untuku memperbaiki semuanya. Aku ingin menjadi anak yang rajin dan mendapatkan nilai bagus agar bibi bisa bangga padaku. Tapi sepertinya kemalasan sudah melekat dalam diriku, sulit untuk aku buang.


Hari kuliah sudah selesai tapi tak sedikitpun materi yang masuk ke otaku. Tadi aku mendengarkan dosen menjelaskan, tapi saat keluar dari kelas semuanya akan hilang begitu saja. Aku lupa semuanya tanpa aku sengaja lupakan.


Aku tak perlu mengkhawatirkan soal materi kuliah yang aku lupakan. Kini Askar sudah menungguku, jadi aku harus senang. Tapi kenapa Neta dan Fila menungguku di depan lalu mengikutiku? Pasti mereka mau menumpang, untuk apa lagi?


"Erland sudah pulang, jadi aku ikut denganmu." Ucap Neta sambil merangkulku. Hmm, saat dia butuh bantuanku dia akan bersikap baik. Memang seperti itulah dia.


"Temanku juga sedang ada acara bersama temannya." Ucap Fila sambil menggandeng tangaku dari sisi lain yang berlawanan dengan Neta. Baiklah, mereka berdua adalah saudariku, jadi aku harus bersikap baik padanya.


"Baiklah, pintu mobil kekasihku terbuka untuk kalian berdua." Ucapku sambil tersenyum pada Fila dan menepuk punggung Neta. Aku memang harus memperlakukan mereka berdua secara berbeda karena jika kuperlakukan dengan sama maka akan terjadi kesalahan yang cukup fatal.


Kami, aku, Neta dan Fila adalah kelurga. Tidak da satu orangpun yang bisa melepas ikatan kuat yang kami bangun selama ini. Kami akan tetap seperti ini, bahkan hingga malaikat maut menjemput kami satu persatu. Itu keyakinanku, dan keyakinannku pastilah nyata.


-/////-