
Seperti biasa saat libur ini aku bisa menikmati sore dengan berolahraga disekitar tempat tinggalku. Biasanya Neta akan meledek tubuhku yang terlalu kurus untuk berolahraga, kali ini ia memilih untuk tidur dan tidak peduli terhadap yang aku lakukan.
Aku merasa kasihan pada Fila yang tidak memiliki waktu selain untuk belajar dan hal penting lainnya. Tubuhnya memang kurus sepertiku, tapi sepertinya itu bukan karena olahraga, melainkan karena ia sering menghabiskan waktu semalam penuh untuk belajar.
Sore yang indah, cuacanya pula sangat mendukung. Matahari yang sudah berjalan menuju barat itu memberikan warna yang indah sekali. Di trotoar tempatku berlari pelan ini juga banyak orang berolahraga yang lewat baik dari arah yang sama denganku ataupun dari arah yang berlawanan.
"Selamat sore." Sapa seseorang yang mendadak muncul di sebelahku. Saat aku menoleh, aku sedikit terkejut karena ternyata dia adalah Erland. Mengapa pula ia mengikutiku? Apa dia mencoba mendekatiku? Apa ia tak tahu bahwa aku adalah kekasih Askar?
"Ada apa? Jangan ganggu aku atau aku laporkan kau pada kekasihku." Ucapku sedikut mengancamnya dengan harapan bisa membuatnya sedikit sungkan padaku. Tapi ia malah tertawa, dia fikir aku sedang melawak?
"Laporkan pada kekasihmu? Yang tubuhnya kecil itu? Lagipula tingginya hanya mencapai ujung bawah telingaku. Aku tidak takut padanya." Dengan beraninya ia menghina Askar seperti itu. Ingin sekali kubungkam mulutnya menggunakan handuk yang telah kupakai melap keringatku. Tapi aku rasa itu berlebihan, aku hanya perlu diam dan jangan layani dia.
"Sore yang indah, aku berlari, dan aku bernyanyi, bersama seorang perempuan cantik yang sedikit garang, tapi senyumnya itu sangat manis..." Dia bernyanyi dengan nada aneh yang membuat telingaku sakit saja.
"Kapan aku tersenyum padamu?" Tanyaku dengan kesalnya. Menyesal sekali aku pernah memuji ketampanannya waktu itu meski dalam hati. Meski ia memang tampan, tapi ia sedikit menyebalkan. Oh tidak, dia sangat menyebalkan.
"Apa aku membicarakanmu? Aku hanya bernyanyi, dan lagu ini bukan untukmu. Tapi untuk perempuan cantik dibelakang kita." Ucapanya pelan dan sedikit berbisik padaku. Aku berhenti berlari dan menoleh ke belakang, yang kulihat adalah seorang perempuan dengan rambut pendek yang sedang berolahraga pula. Ya, perempuan itu memang cantik.
"Tapi kenapa kau menyanyikannya disebelahku? Bernyanyilah disebelahnya! Maaf nona, pria ini bilang padaku bahwa ia ingin menyanyikan lagu untukmu tapi ia malu karena ia terlalu jelek untukmu yang cantik." Biarkan saja aku katakan itu agar Erland merasa malu. Aku langsung pergi meninggalkan Erland dan aduuuh, kakiku tersandung dan aku terjatuh. Baru menjahili orang dan aku langsung mendapatkan karmanya? Memalukan sekali.
"Kau tidak terluka?" Tanya Erland sambil berlari menghampiriku. Tunggu! Kenapa aku melihat tanda khawatir di wajahnya? Aaa, bodoh sekali, tentu saja ia khawatir, siapapun yang terjatuh pasti orang yang melihatnya akan khawatir. Kenapa aku harus berfikir ia mengkhawatirkanku jarena hal lain? Bodoh sekali aku ini.
"Aku tidak terluka, tolong jangan sentuh aku!" Ucapku tak ingin mendapatkan perhatian darinya.
"Aku tidak menyentuhmu." Ucap Erland yang menjongkok dihadapanku yang masih tersungkur di trotoar. Ya, dia tidak menyentuhku. Aku hanya berwaspada saja, karena aku tidak ingin ia menyentuhku sedikitpun.
"Pergilah! Aku tidak butuh bantuanmu." Ucapku padanya, lalu iapun berdiri dan pergi meninggalkanku. Astaga, tunggu! Kenapa kakiku tidak bisa bergerak? Bagaimana aku bisa bangun dan berjalan pulang? Lagipula tadi aku tak merasakan sakit, kenapa sekarang pergelangan kakiku sakit sekali?
"Erland, kembalilah! Setidaknya bantu aku berdiri!" Ucapku sedikit berteriak mengalahkan egoku. Erland yang sudah sedikit jauhpun kembali berbalik arah dan mengulurkan tangannya dihadapanku.
"Baiklah, tapi ini sulit sekali." Ucapku sambil mencoba berdiri dengan bantuan tangannya. Tapi sangat sulit, Erlandpun membungkukan badannya dihadapanku dengan posisi membelakangiku.
"Ayo cepat naik!" Ucap Erland sedikit cuek, tapi aku tahu sebenarnya dia menawarkan ini dengan senang hati. Pria mana yang tidak senang menawarkan punggungnya pada perempuan cantik yang semua orang menyukai perempuan itu. Aku langsung saja naik ke punggungnya dan diapun menggendongku berbalik arah menuju jalan pulang.
Ya, diatas punggungnya ini aku merasa lebih baik, aku tak perlu lelah berjalan. Erland terus menggendongku hingga matahari tenggelam sepenuhnya. Karena sudah terlalu jauh dari rumah, maka memang butuh waktu lama untuk Erland sampai di rumahku dengan menggendongku seperti ini.
Rupanya Askar merindukanku, buktinya dia menelponku. Akupun mengangkat telponnya dengan sedikit tersenyum.
"Halo sayang." Sapaku dengan gembiranya.
"Halo, kau dimana? Tadi aku ke rumahmu tapi kau tidak ada. Sekarang aku sudah pulang lagi karena aku ada acara."
"Oh, aku sedang diluar."
-/////-
Aku membuka mata dan bangun dari tempat tidurku. Aku sedikit terkejut karena dikamarku ada kedua temanku dan bibiku. Apa mereka duduk hanya untuk melihatku tidur? Aneh sekali.
"Bagaimana kakimu?" Tanya bibiku dengan khawatir sambil sedikit mengelusku. Aku melihat kakiku, ternyata kaki kananku dibalut perban. Ah, ya tadi aku terjatuh, aku sampai lupa itu.
"Erland yang membawamu, dia bilang kau terjatuh tapi kau tertidur di jalan saat menelpon hingga handphonemu terjatuh." Ucap Fila sambil memberikan segelas air putih padaku. Astaga, aku tertidur diatas punggung Erland saat aku bertelpon dengan Askar? Sungguh keterlaluan aku ini, Erland pasti sangat lelah menggendongku hingga rumah. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tubuhnya terasa sakit? Atau semua tulangnya remuk?
"Rupanya sekarang kau mulai ingin bersaing denganku untuk mendapatkan Erland." Ucap Neta, dia tak pernah mengkhawatirkan keadaanku. Yang ada di fikirannya aku adalah musuh terbesarnya.
"Kenapa kau selalu menganggap setiap hal adalah kompetisi? Sepertinya kau memang membenciku, jika memang ia maka kau pergi saja dari sini!" Karena aku merasa kesal padanya, kalimat buruk itu terlontar dari mulutku. Aku sungguh tak ingin membuat Neta sedih, tapi saat itu moodku sedang tidak baik.
"Pergi saja? Baiklah, kau fikir aku tidak bisa hidup tanpamu?" Neta sungguhan marah padaku hingga ia mengatakan itu dan keluar dari kamar. Tapi Fila menyusulnya, aku yakin Fila akan berhasil membuat Neta tetap tinggal di rumah ini. Aku tidak sungguhan menginginkan ia pergi dari rumah ini.
"Kenapa kau bicara itu pada Neta? Kasihan dia." Tegur bibiku namun masih dengan kelembutannya. Bibi pasti akan membelaku, aku adalah keponakannya, sementara Neta siapa? Neta hanyalah penumpang. Tapi aku juga berharap Neta tidak akan pergi sungguhan, karena aku tidak ingin ia menderita diluar sana.
Aku mengambil handphoneku dan ternyata ada beberapa pesan yang masuk. Saat aku lihat ternyata itu adalah pesan dari Askar. Askar memberitahukan padaku bahwa ia tertangkap polisi saat ia berada dijalanan. Apa ini yang ia sebut acara? Ia bilang ada acara, hanya bermain di jalanan? Tapi tenang saja! Orangtua Askar adalah orang terhormat, ia akan membebaskan anaknya dengan jaminan yang akan dipercayai polisi. Tapi kali ini Askar mengabarkan bahwa orangtuanya tidak datang untuk membawanya pulang.
"Bibi, aku harus ke kantor polisi. Aku harus menemui Askar." Ucapku sambil beranjak dan berjalan keluar kamar. Diruang tamu aku melihat Fila dan Neta yang sedang berdebat, tapi urusan Askar lebih penting. Aku harus bicara pada orangtua Askar. Akupu melewati mereka berdua begitu saja dan pergi keluar rumah. Meski langkahku sedikit terseret, tapi aku tidak merasa terganggu harus pergi menemui Askar. Itu semua karena aku mencintai Askar.
Ya, aku mencintai Askar. Entahlah, aku tidak dapat memahami hatiku sendiri. Di sisi lain cintaku pada Askar sangatlah besar. Aku tidak ingin Askar terluka, aku tidak ingin Askar menderita, aku tidak ingin hal buruk apapun terjadi pada Askar. Namun di sisi lain, aku juga sedikit mengkhawatirkan Erland. Ya, aku mengkhawatirkannya karena ia telah rela menguras tenagany demi aku. Itu saja, kekhawatiranku padanya hanya sedikit. Aku fikir itu hanyalah bagian dari rasa kemanusiaan, atau mungkin lebih dari itu. Jika hanya atas dasar kemanusiaan mengapa aku merasa sedikit cemburu saat Erland bersama perempuan lain? Apa kemanusiaan juga menuntut kita untuk cemburu? Ah, keterlaluan sekali aku ini. Jahat sekali aku ini hingga bisa membagi hati untuk dua pria. Satu pria adalah pria yang menemaniku dalam setiap keadaan. Satu pria lagi adalah pria yang menghipnotisku hanya dengan satu tatapan.
-/////-