Never Existed

Never Existed
Part 12 Hukuman terburuk



Aku melihat Neta yang duduk bersandar ditempat tidur dengan tatapan kosong. Sepertinya dia memikirkan orangtuanya. Orangtuanya pasti sudah pergi meninggalkannya. Kasihan sekali dia, aku harus menghiburnya.


"Neta, apa kau tahu? Aku punya photomu saat kita masih dalam masa ospek masuk SMA. Lihatlah!" Aku menghampiri Neta dan menunjukan sebuah photo di handphoneku. Photo itu adalah photo Neta yang tampak sedang kesal dengan tatapan tajam. Namun diwajah Neta tampak tinta berwarna yang mencemongi wajahnya. Ini semua adalah perbuatan kakak kelas kami.


Neta merebut handphoneku dan menghapus photonya lalu ia mengembalikan handphoneku.


"Yah, aku dapat photo itu dari salah satu anggota OSIS. Aku sulit mencarinya dan sekarang kau menghapusnya."


"Kenapa kau harus punya photoku jika aku ada di sini?"


"Aku takut merindukanmu saat kau pergi. Mungkin saat kau pergi bersama Erland ke suatu tempat yang indah."


"Ahhh, kau ini bicara apa?" Neta masih bersikap cuek. Tapi aku melihat sedikit senyuman tipis di bibirnya.


"Kenapa kau menahan senyumu? Apa kau mau aku yang menarik bibirmu?" Tanyaku sengaja agar ia tidak bersedih lagi.


"Diamlah!" Neta membalikan badan dan menyembunyikan wajahnya dibalik selimut. Ia pasti sedang tersenyum lebar. Ia malu menunjukan senyumnya dihadapanku.


"Kenapa kau bersembunyi? Ayo cepat keluarlah! Aku ingin bertengkar denganmu." Ucapku sambil menarik selimut yang menutupi wajah Neta. Tapi Neta menahannya keras.


"Jangan bertengkar! Aku sedang belajar." Suara dingin Fila membuatku berhenti menarik selimut Neta dan akupun membaringkan badan disebelah Neta namun menghadap arah yang berlawanan setelah menyimpan handphoneku di meja sebelah tempat tidur.


Tidak masalah aku menurunkan sedikit egoku untuk membuat Neta merasa benar dengan keputusannya yang memilih untuk tetap tinggal dirumah ini.


Tapi aku sungguh tidak bisa tidur, aku masih teringat Erland yang menjengkelkan. Aku mengambil kembali handphoneku dan kulihat photo yang kuambil saat aku berada di gendongan Erland.


'Kenapa aku menyimpan photo ini?' Fikirku lalu aku menghapus photonya.


-/////-


"Apa tadi malam kau memikirkanku?" Suara Erland yang mendadak muncul disebelahku ini membuat fokusku pada dosen didepan hilang.


"Tidak." Jawabku ditekankan agar dia tahu betapa kesalnya aku padanya.


"Tadi malam aku bermimpi tentangmu. Orang bilang berarti orang yang kita mimpikan itu sedang memikirkan kita." Apa maksudnya? Dia ini seperti memutar balikan pakta. Jika dia bermimpi tentang aku maka semalam dia memikirkanku sebelum tidur. Bukan malah sebaliknya seperti yang ia katakan.


"Dalam mimpiku kau sangat cantik seperti seorang bidadari. Aku fikir pagi ini akan melihatmu dalam bentuk yang sama seperti dalam mimpiku. Tapi ternyata tidak, kau tampil seperti biasanya." Ucapnya seperti kecewa. Untuk apa ia kecewa padaku? Dia ini seperti orang tidak waras saja.


"Apa aku harus memakai gaun princes saat kuliah? Kau ini tidak waras." Ucapku pelan namun dengan kasar. Aku juga mengarahkan tanganku kearahnya untuk menjewer telinganya agar lepas sekalian.


"Kau marah lagi? Ah, tapi kau terlihat lebih cantik saat tadi malam." Dia menangkap tanganku dan menatap mataku begitu dalam. Tatapan tajamnya seakan menusuk mataku agar mataku tidak terlepas dari tatapannya itu. Astaga, apa ini? Aku kembali gugup dan hatiku berdebar kembali. Rasa ini adalah rasa yang aku rasakan beberpa waktu lalu saat cintaku mulai tumbuh pada Askar.


Apa aku sungguh mencintai Erland? Tapi apa alasannya? Tidak ada satupun sikapnya yang aku sukai. Bagaimana bisa aku mencintainya. Tapi tak bisa dipungkiri, hati berdebar, perasaan gugup, cemburu, itu semua adalah tanda cinta. Tapi otakku menolak ini. Aku tidak bisa menghianati Askar dan Neta yang sudah hadir jauh sebelum Erland hadir.


Astagaaa, kenapa aku berfikir seperti itu? Berhentilah berfikir bawa aku mencintai Erland! Aku tidak mungkin mencintai pria yang dicintai sahabatku sendiri.


"Lepaskan tanganku!" Ucapku tanpa sadar ucapanku didengar semua orang. Erlandpun melepaskan tanganku seperti tidak terjadi apapun.


"Kalian berdua mengganggu pelajaran. Cepat keluar! Besok saya tunggu kalian berdua di ruangan saya untuk menjelaskan yang saya bahas hari ini." Dosen perempuan kami marah padaku dan Erland. Akupun keluar dari kelas diikuti Erland dengan disoraki teman kelas lainnya.


Hukuman bukanlah hal yang aneh dan menyeramkan bagiku. Tapi yang membuatku kesal adalah aku dihukum karena ulah Erland. Aku semakin membencinya saja.


-/////-