Never Existed

Never Existed
Part 1 Tiga saudara satu orangtua



Kami bukanlah anak yang hebat seperti mereka yang dipuja dan dipuji oleh semua orang. Kami juga bukanlah anak para sultan yang dihormati semua orang. Tapi kami adalah anak yang berusaha bahagia dengan segala kekurangan.


Sudah tiga tahun lebih kami bertiga hidup bersama. Sejak masuk SMA hingga kini kami akan masuk kuliah, kami tinggal disebuah rumah yang tidak dapat dikatakan mewah. Aku, Filaira, dan Arneta tinggal di rumah bibiku yang kini sudah sangat lemah karena penyakit orang tua yang menyerang tubuh rentanya.


Bibiku kini berusia enam puluh dua tahun. Sudah sangat tua untuk dipanggil bibi. Bahkan aku pernah berfikir setua apa orangtuaku jika masih ada? Bibiku saja sudah setua ini, apa mungkin orangtuaku dua kali lipat lebih tua dari usia orangtua temanku? Ah bodoh sekali, kenapa aku harus memikirkan orangtuaku? Melihat mereka saja aku tidak pernah.


Filaira, dia adalah teman yang sangat baik dan sangat lembut. Dialah yang akan menghentikan pertengkaranku dengan Arneta jika sesekali kami berebut selimut, berebut bantal, atau berebut makanan. Dia sungguh sabar meski kami akan menyalahkannya atas masalah yang tidak ia perbuat. Dia sebenarnya masih memiliki keluarga, bahkan dia adalah anak tunggal. Hanya saja orangtuanya bercerai dan masalah besar terjadi. Ayahnya menikah lagi dengan perempuan yang sudah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Ibunya juga menikah lagi dengan pria yang sama sudah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Maka dia memutuskan untuk menumpang di rumahku, lebih tepatnya di rumah bibiku. Anehnya, orangtua dia tidak pernah mencarinya kerumahku, anak yang malang.


Arneta, dia adalah manusia dengan tipe yang hampir sama denganku. Dia tak mau mengalah, keras kepala, dan dia sangat menyebalkan, selalu saja membuat masalah. Orangtuanya adalah orang kaya, tapi seperti biasa orang kaya akan lupa bahwa mereka memiliki anak. Kemanapun anaknya pergi mereka berfikir hanya perlu membekalinya dengan uang. Sebenarnya uang saja tidak cukup untuk mewakili tanggung jawab sebagai orangtua. Sebagai bukti ia selalu merebut banyak hal yang merupakan milikku. Ia selalu berusaha merebut pelukan bibiku, merebut elusan kepala dari bibiku, merebut tangan bibiku untuk ia cium, ia merebut semuanya. Dia anak malang kedua yang menumpang di rumah bibiku setelah Fila.


Aku memiliki teman pria bernama Askar, lebih tepatnya dia adalah kekasihku. Kedua temanku, Fila dan Neta tak pernah benar-benar menyetujui hubunganku dengan Askar. Mereka mengatakan bahwa Askar bukanlah pria yang baik untukku. Mereka mengatakan bahwa Askar tidak memiliki masa depan yang baik. Tapi aku mencintai Askar, aku tak peduli terhadap kelemahannya.


Mendadak sesuatu yang aneh terjadi, aku merasa kehilangan semuanya ketika seseorang menembus masuk ke dalam hidupku. Dia merubah segalanya dengan sangat mudah. Persahabatan, keluarga, cinta, semua itu mendadak lenyap dari hidupku.


-/////-


Seperti biasa aku dan Neta selalu bertengkar dimanapun. Bahkan dikamar bibiku yang hari ini sedang sakit, Neta mengajaku bertengkar dengan mengatakan hal yang kurang ajar.


"kaulah penyebab bibimu sakit, jika kau tidak membiarkan air itu menggenang di lantai maka bibimu tidak akan jatuh dan sakit seperti ini."


Dia mengatakannya dengan ekspresi wajah seperti membenciku.


"Kau ini bicara apa? Aku sedang mengepel lantai dan bibi lewat disana. Apa kau fikir aku harus mengepel menggunakan pasir?" Tentu saja aku tidak terima mendengar ucapan dia. Akupun membalasnya dengan suara yang lebih keras.


"Ya, jika kau mengepel dengan pasir maka bibimu tidak akan terjatuh." Dia kembali membalasku dengan suara yang lebih keras.


"Ish, tanganku basah." Fila melepaskan bungkamannya dan melapkan telapak tangannya ke lengan kaus panjangku.


"Kalian ini, bisanya bertengkar saja." Keluh bibiku yang berbaring di tempat tidurnya dengan tubuh lemas dan di kaki terdapat noda putih. Itu bukan noda, itu hanyalah ramuan tukang pijat untuk mengobati pergelangan kakinya yang terkilir saat jatuh.


"Ia bi, maafkan aku." Ucapku sambil duduk di ranjang sebelah tubuh bibiku. Seketika aku merasa bersalah, bibi memang terjatuh karena kecerobohanku. Coba saja tadi aku memilih melap kaca dan biarkan Fila yang mengepel, Fila kan orangnya sangat rapi. Dan bodohnya aku malah menjerit saat melihat bibi terjatuh, harusnya aku lagsung menolongnya.


"Aku dengar banyak kasus orang tua meninggal setelah terjatuh di kamar mandi." Ucap Neta mendadak membuatku kesal saja. Apa dia mendo'akan agar bibiku mati? Dasar anak tidak tahu diri.


"Netaaa... bibiku ini tidak jatuh di kamar mandi. Kau jangan bicara sembarangan!" Teriaku sambil menatapnya dengan tatapan tajam.


"Aku tahu, lagipula aku tidak mengatakan bahwa bibimu akan mati." Ya tuhan, ucapannya itu semakin menyebalkan saja.


"Aku tahu tapi ucapanmu itu membuat bibiku takut. Kau seperti menyamakan kasus jatuhnya bibiku dengan kebanyakan kasus meninggal setelah jatuh di kamar mandi." Ucapku dengan cepat menjelaskan kekurang ajaran Neta padanya agar dia mengerti.


"Sudahlah kalian keluar sana! Kalian mengganggu bibi saja." Ucap Fila sambil mendorong tubuhku dan Neta keluar pintu lalu ia menutup pintu. Ya, Fila memang sangat dewasa. Lagipula kami di dalam tidak akan membuat bibi merasa lebih baik, malah sebaliknya.


Tapi Neta tak berulah sampai di situ, Neta membuka sedikit pintu dan mengintip ke dalam. Aku ingin sekali menjambak rambutnya dan membawanya jauh dari kamar bibiku agar kami bisa bertengkar hebat. Tapi akupun ikut mengintip dan aku hanya bisa terdiam saat melihat Fila memijat tangan kanan bibiku. Harusnya aku berbuat seperti Fila, bukan seperti Neta yang menyebalkan. Tapi untung saja bibi tidak lebih mencintai Fila dibanding aku. Bibi mencintai kami secara merata.


"Fila memang anak yang baik." Ucap Neta sambil menutup pintu dan merangkulku membawaku pergi meuju ruang tamu. Kali ini aku setuju terhadap ucapannya.


-/////-