
Malam ini aku mencoba membaca buku pelajaran sambil duduk di kursi belajarku. Sungguh membosankan, aku tidak bisa membacanya lebih lama lagi. Aku menoleh Fila dan dia masih setia dengan laptopnya yang menyala.
"Dimana Neta?" Aku menutup buku dan menyimpannya begitu saja di atas meja belajarku.
"Mau apa? Bertengkar? Aku sedang belajar, jangan ganggu aku!" Fila tetap fokus pada laptopnya, ia bahkan tidak menolehku sejenakpun.
Akupun memutuskan untuk keluar dari kamar yang dingin dan membosankan ini. Entah kemana kakiku harus melangkah, untuk melangkahpun aku sangat malas. Sepertinya memang tak ada manusia yang lebih malas dariku.
Ketika aku tiba di pintu depan rumah, aku melihat dua orang berdiri di depan pagar rumah. Mereka adalah Neta dan Erland, entah mereka sedang apa di sana. Neta melepas jaket yang dipakainya dan ia berikan pada Erland, rupanya itu memang jaket milik Erland. Mereka juga tampak berbincang, namun aku tak bisa mendengar perbincangannya. Terakhir kulihat Neta melambaikan tngn pada Erland sambil berjaln memasuki pagar rumah. Erland tampak membalas lambaian tangan Neta.
Aku segera tutup kembali pintu dan kududuk di sofa ruang tamu. Neta tidak boleh tahu aku melihatnya tadi.
"Kau? Belum tidur? Sedang apa di sini? Apa kau mengintipku?" Dia langsung menyerangku dengan beberapa pertanyaannya.
"Tidak, aku hanya bosan di kamar. Kau dari mana?" Aku menjawabnya dengan tenang dan kucoba ajukan pertanyaan padanya.
"Erland mengajakku makan malam di luar, di depan sana." Neta duduk di sebelahku dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Astaga, Erland tampan sekali. Tatapannya itu tak bisa membuatku berpaling." Gerutuan Neta mendadak membuatku teringat pertama kali aku bertemu Erland saat ia mengantar makanan di malam hari. Tidak bisa dipungkiri dia memang tampan. Bukan hanya tampan, tapi sepertinya ia telah mengambil hati semua perempuan dalam pandangan pertamanya. Mungkin termasuk aku, ya, aku akui bahwa aku sedikit cemburu melihat Neta pergi dengan Erland.
Aneh sekali, bagaimana aku bisa cemburu? Erland tak pernah berbuat sesuatu yang membuatku terkesan. Hanya dengan satu tatapan saja ia berhasil membuatku membagi sedikit perasaan untuknya.
"Aku akan tidur, malam ini aku menginap di kamar bibiku." Aku sengaja meninggalkan Neta agar ia tidak tahu betapa anehnya perasaanku malam ini. Aku tidak bisa mengakui bahwa aku cemburu melihat Neta pergi bersama pria yang bukan kekasihku. Ini sangat aneh dan memalukan.
-/////-
Esoknya aku bangun terakhir diantara semuanya, karena hari ini aku kuliah siang maka aku pergi ke ruang makan untuk sarapan sebelum aku mandi dan merapikan diri.
Mengejutkan sekali, ketika aku tiba di ruang makan yang pertama kali kulihat adalah Erland. Dia tampak sedang menata makanan di meja. Sementara itu bibi dan Fila masih terlihat berada di dapur.
"Selamat pagi, silahkan duduk! Sarapan hampir siap." Dia menyapaku seakan aku adalah tamu di restaurannya.
"Hahahaha..." Neta yang baru keluar dari kamar mandi tertawa keras saat melihatku.
"Hush, Neta..." Bibiku menghentikan Neta dengan sedikit senyuman yang terkesan menahan tawanya. Rupanya bibiku juga ingin menertawakanku. Entah apa yang jadi bahan tertawaan mereka, mungkin wajabku yang aneh.
"Rapikan dulu rambutmu! Cuci juga wajahmu! Tidak baik makan dalam keadaan seperti ini." Fila menepuk kedua bahuku dan melontarkan senyum manisnya padaku. Sudah kuduga, hanya wajah berantakanku. Tapi, ahh sial. Aku lupa ada Erland di sini.
Aku bergegas ke kamar mandi dan kulihat bayangan wajahku di cermin. Astaga, kedua kelopak mataku sedikit membengkak. Mungkin karena semalam aku kesulitan untuk tidur. Di pipiku juga tertempel sebuah stiker kertas yang entah bagaimana bisa menempel. Stiker ini stiker hati yang terbelah, pasti Neta pelakunya. Dia sangat keterlaluan, rupanya aku harus membalas dengan hal yang lebih jahat.
Setelah kurapikan diri, aku keluar dari kamar mandi. Aku kembali tidak enak hati saat Neta menuangkan makanan ke piring Erland. Kemudian Neta juga menyuapkan makanan yang ia tusuk dengan garpunya ke mulut Erland.
"Kau tadi lihat kan ini aku yang masak? Bagaimana rasanya?" Neta tampak penasaran dengan jawaban Erland.
"Enak, ternyata kau hebat memasak."
"Dia tidak pernah memasak, dia kan tidak ingin tangannya kotor, tangannya bau, pakaiannya kotor, dia..."
"Kau ini mengarang saja, aku tidak seperti itu." Neta memotong ucapan Fila. Sementara itu bibiku hanya tersenyum sambil sejenak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Perutku mendadak sakit, Fila tolong antar sarapannya ke kamarku ya!" Mereka semua menatapku dan akupun menunjukan wajah asamku dan memegangi perutku.
"Kau sakit? Nanti habis makan kita ke dokter ya, aku antar kau nanti." Fila tampak khawatir padaku. Huhhh, padahal aku hanya berbohong agar tidak sarapan di ruanga makan yang tidak nyaman ini.
"Ya benar, kau harus ke dokter." Bibiku juga mengkhawatirkanku, huhhh kebohongan ini membuat orang percaya.
"Tidak perlu, aku hanya perlu minum obat. Kau juga harus kuliah kan?" Aku langsung pergi menuju kamarku dengan cepat.
Entahlah, rupanya hatiku ini sedang tidak normal. Gila sekali rasanya jika aku harus jatuh cinta pada Erland. Atau mungkin tak selamnya cemburu tanda cinta. Tapi tidak mungkin, cemburu telah mutlak sebagai tanda cinta.