My Sweet Wife

My Sweet Wife
Miss you , Jason....



Happy reading ...


Dia berkedip sekali lagi , itu benar dirinya . Saat ini juga ingin dia berlari , kakinya serasa terpatri kedalam bumi , tidak bergerak . Rasa rindunya lebih kuat ketimbang kebencian . Dia ingin menangis , kenapa dia bisa benci dalam waktu bersamaan . Dia mengutuk dirinya sendiri , jantungnya bergemuruh lebih dari biasanya . Ketika ingin sekali dia berlari kearahnya , mengubur kepalanya kedalam lekukan leher dan bahu jenjangnya , dia menghilang.....


" Tidak , Jason!!!! " Shofie bangun dan terduduk , dia sendirian di kamar itu suaranya bahkan menggema di dalam ruangan itu . Dia terengah engah , mimpi itu lagi kenapa dia selalu memimpikan hal yang sama . Shofie mendengar suara lampu dinyalakan , lalu langkah seseorang tergesa gesa menuju kamarnya . pintu kamarnya terbuka Gaby ada diujung sana , menatapnya dengan khawatir .


" kau ok ? " tanya Gaby memastikan .


" maafkan aku , aku selalu membuatmu terbangun di tengah malam ..." Shofie sangat menyesal .


Gaby menggeleng dan datang menghampirinya " mimpi yang sama lagi ? "


Shofie ingin berkata 'iya' tapi hanya mulutnya yang bergerak , suaranya tertelan di tenggorokan dan air matanya .


" kau ingin aku menelpon Kelly ?" tanya Gaby lagi .


" tidak , dia sedang shift malam hari ini " Shofie tidak ingin mengganggu kelly .


" aku mengacau Gaby ,..." Shofie menenggelamkan wajahnya kedalam tekapak tangannya , bahu terguncang karena isak tangisnya .


" oh tidak Sayang jangan bicara seperti itu , itu hanya hormon "


Shofie mengangkat wajahnya dan mengusap air matanya kasar " hormon sialan ini , kenapa aku harus merindukan dia ! " dia terisak lagi .


" ini bukan salahmu Shofie , mungkin dia juga merindukan ayahnya ??" Gaby menyentuh perut buncitnya hati hati . Shofie terdiam , apa mungkin bayi yang masih didalam perut bisa merasakan itu . selama ini dia bahkan tidak pernah memikirkannya .


Shofie ikut meraba perutnya , ada kehidupan lain didalam perutnya . " apa dia bisa merasakannya , Gaby ? "


" um entahlah mungkin ? Umm , Shof , kenapa kau tak mencoba menelponnya , tell him ? "


" aku tidak bisa ! Kau tidak tahu apa apa , Gaby ! " Shofie beringsut dari duduknya dan kembali tidur .


" sorry Shof , aku tidak bermaksud ....kembalilah tidur, " Gaby menaikkan selimut Shofie hingga batas leher dan memberinya kecupan selamat malam . Setelah Gaby menghilang dari balik pintu , Shofie bangun lagi Menaikkan kaos longgarnya hingga batas dada . Tangan Shofie gemetar , bahkan untuk menyentuh perutnya sendiri . Perutnya membesar dengan cepat , Shofie merabanya dengan penuh kasih .


" baby , apa benar kau merindukan ayahmu ? " Shofie pikir dia sudah mulai gila sekarang , berbicara sendiri ditengah malam buta .


Dia menghela nafas lelah , apa dia harus menelpon dan memberi tahu Jason ? Tidak , Shofie menggeleng , Jason sudah mencampakkan dan menghianatinya .


" maaf sayang , mom  belum bisa ....." Shofie masih mengusap perutnya , dia terkejut saat ada tekanan dalam perutnya , rasanya seperti tendangan kecil . dia benar benar kaget dan takjub , apa anaknya baru saja meresponnya .


.


.


.


.


.


.


.


" sampai kapan kau akan terus melamun disitu ? " Jason tidak menyadari Dimas sudah berdiri didepannya .


" entahlah pikirkan ku terbang entah kemana " kata Jason lelah . Jason benar benar lelah , dia sudah mencari seantero Jakarta , dia bahkan datang langsung ke resort , bahkan dia baru saja mendarat dari chicago . Dan apa yang ia dapat di sana , pukulan pukulan dari Kelly dan papa Shofie . Dan Shofie tidak ada disana , dia sudah mengintai disanpa berhari hari . Mungkin terdengar seperti pengecut , dia tidak bisa memastikan sendiri masuk kedalam rumah itu , mama mertuanya tidak bisa menerima berita kejutan , itu bermasalah dengan jantungnya .


" mungkin lo melewatkan sesuatu , lo hanya harus berusaha lebih keras lagi " Jason mendesah .


" pulanglah pergi tidur sebentar , lalu cari dia lagi , kau pasti menemukannya .."


" yah kau mungkin benar , aku akan pulang , kau bisa mengatasi ini "


Dimas mengangguk mantab " pulanglah "


.


.


.


.


.


Diana menghela nafas lelah " mama khawatir hubungan keluarga kita akan semakin memburuk " Diana melirik anaknya sebentar " Mama tadi menelpon Thomas " Jason menoleh kaget .


" apa yang dia katakan ?"


" Dia sedikit marah , Thomas tidak pernah bicara kasar sebelumnya Jas.........


Mama sangat mengenalnya "


" Seharusnya mama tidak perlu melakukannya , suasana hati Papa Thomas sedang tidak baik " Jason menggenggam tangan ibunya .


" its ok son , kalau mama jadi dia mungkin mama juga akan bersikap sama , tapi mama juga khawatir dengan Shofie........ " Diana tidak mampu mekanjutkan ucapannya , isak tangisnya pecah .


" sstt ...ma ,  kita semua khawatir disini , apalagi Jason ma , aku sudah gagal jadi seorang suami ..." Jason menerawang jauh , dia berusaha agar air matanya tidak jatuh .


" ya lo emang payah , lo ga bakal nemuin Shofie !" Jason dan Diana menoleh itu suara Jevan dari belakang , dan apa barusan yang dia katakan Jason meradang mendengarnya .


" jaga katakatamu jevan ! Jangan sampai aku memukulmu !" Jason berdiri mlotot marah kearah adiknya .


" Jevan , jangan bicara seperti itu nak , kita semua khawatir keadaan Shofie ..."


Jevan tidak peduli ucapan ibunya , sudah lama dia ingin berhadapan seperti ini dengan kakaknya . " dia memang payah Ma , aku berharap Shofie tidak akan bertemu laki laki brengsek seperti dia !"


Jason tidak tahan , dia menghadiahi adiknya satu pukulan telak di depan hidungnya , darah segar mengalir dari sana . Diana menjeritkan nama Jevan dan Jason , dia segera berdiri dan memegangi tangan Jason .


" Jason stop ! Itu adikmu. Jason ! " Jason berontak , tapi ibunya bersikukuh memegangnya


" dia sudah kelewatan ma ! "


" sudah Jason ! Sudah ! Tolong jangan pukul adikmu , demi Mama ....." tangan Jason melemah , ibunya adalah kelemahannya . Tapi Jevan menggunakan kelengahan itu untuk bangkit dan membalas serangan kakaknya . Diana menjerit lagi , dia berlari memeluk Jevan agar tidak ada lagi pukulan pukulan lainnya .


" itu untuk Shofie , kau sudah membuatnya menangis !" Jevan mencibir dari balik pelukan ibunya . Jason tertegun mendengarnya , dari mana Jevan tahu semua itu dari mana dia tahu Shofie menangis karenanya .


" dari mana kautahu semua itu hah ! "


" Apa apaan ini ! " Arsen datang dan disuguhi pemandangan bekas perkelahian .


" katakan Jevan! Dimana kau melihatnya !" Jason sangat geram sekarang ,dia bahkan tidak peduli kedatangan ayahnya .


" Kalian berdua , kalau tidak berhenti aku telpon polisi sekarang juga  !" ancam Arsen berang .


.


.



Jevano Alexander Harris


.


..


" katakan Jevan , dimana terakhir kali kau melihat kakak iparmu ! " kali ini Arsen yang ambil bicara , mereka sudah duduk di meja makan dan tidak ada lagi adegan pukul pukulan .


Jevan mendengus kesal , dia seperti seorang terpidana yang sedang di interogasi .


" Jawab pertanyaan Papa Jevan ! "


" Di Bali , aku mengantarnya ke Ngurah Rai , hanya itu yang aku tahu "


Jason bangun menggebrak meja " shitt ! Dan kau menyembunyikan semua itu dari kami ! "


Arsen melotot ngeri kearah Jason " duduk Jason ! Ada lagi Jevan ?! "


" aku sudah mengatakan semuanya " bohong Jevan , dia bangkit dan meninggalkan keluarganya .


Jason ikut bangkit tapi berlari kekamarnya , dan kembali lagi dengan kopernya . " aku akan ke bali lagi " pamit Jason kepada kedua orang tuanya , mungkin Dimas benar , dia melewatkan sesuatu .