
Pagi ini Sabrina harus berkerja sebelum itu dia sudah menelfon dokter Rendra tidak bisa menengok sang ibu siang ini.
Dia menghela nafas sejenak menyandarkan badannya kebelakang didepan restoran menunggu Lea, dia tahu jika Lea akan datang terlebih dahulu karena kunci restoran Lea yang pegang.
"hai sudah lama menunggu ya" sapa Lea dengan senyum mengembang tanpa beban dari samping.
"baru saja" balas Sabrina.
Lea membuka pintu restoran dalam hati dia ingin sekali menanyakan yang kemarin, tapi saat melihat wajah temannya yang terlihat segar juga biasa saja akhirnya dia mengurungkan niatnya.
Restoran kecil terlihat elegan tak kalah mewahnya dengan restoran ternama harga dimenu juga tidak menguras kantong sangat cocok untuk orang yang suka jajan dipesisir kaki lima, murah, enak, tentunya bikin kenyang juga ketagihan.
"Rina kamu bersih-bersih dulu ya setelah itu bantu aku didapur, peralatannya dipojokkan situ" Lea berkata sambil menunjuk peralatan tempurnya yang biasa dia gunakan setiap hari.
"iya baiklah" Sabrina berjalan ketempat yang ditunjuk oleh temannya dia mengambil peralatan untuk membersihkan bagian depan.
Disela dia berkerja sebuah mobil mewah mulai memasuki tempat parkir depan restoran, seorang pria tampan keluar dari dalam mobil memakai baju sederhana tak ketinggalan tas selempang bertengger dipunggungnya, dia berjalan santai masuk kerestouran.
"pagi kak" sapa Sabrina dia tahu siapa pria tersebut karena sudah diberi tahu oleh Lea sebelumnya.
"pagi, semoga kamu betah disini karena Lea orangnya ceriwis" balas pria itu sambil mendaratkan bokongnya dikursi kasir.
"benarkah tapi katanya orang ceriwis justru sangat perhatian" Sabrina berkata sambil terus menggerakkan tangannya.
"boleh tahu nama kakak" lanjutnya disela dia membersihkan meja.
"apalah arti sebuah nama yang penting berhati baik, tampan dan mapan" pria itu berkata dengan dagu ditaruh diatas punggung tangan tak lupa seyuman mautnya dia tunjukkan.
Sabrina menanggapinya dengan ketawa dia sangat senang bertemu orang-orang baik seperti mereka.
"jangan menjelek-jelekan orang dibelakang pamali tahu gak bos" sahut Lea dari mulut pintu kedua tangannya berada dipinggang memandang tak suka kearah pria tampan yang duduk dikursi kasir.
"salah dengar kamu Lea" pria itu mengambil hp guna mengalihkan pandangannya.
Sabrina yang sudah selesai bersih-bersih segera berjalan kebelakang membawa peralatan tempur yang sudah berpindah tangan, sekarang giliran membantu menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan Lea.
Hari pertama masuk kerja rasanya menyenangkan, perkerjaannya juga tidak berat dia hanya mengantar pesenan saja, bikin minum juga membersihkan meja, yang lain dikerjakan oleh Lea sepenuhnya.
Mobil berhenti dipelantaran rumah Sabrina keluar dari mobil setelah mengucapkan terimakasih pada sang supir, oma memberikan hadiah mobil untuk Sabrina dipernikahannya dia pun tidak bisa menolak karena Oma begitu kekeh ingin memberikan mobil itu.
Sampai saat ini Sabrina masih bingung soal pernikahannya seolah sudah direncanakan tapi untuk apa dan kenapa itulah yang menjadi pertanyaan besar dalam dirinya.
Memasuki rumah nampak begitu tenang tidak ada apa-apa atau siapa, dan saat memasuki kamar tempat dia beristirahat dia dikejutkan oleh seorang pria sedang berbaring tenang diatas tempat tidur.
Pandangannya beralih kemeja rias disana ada sebuah map dan barisan makeup ternama, Sabrina menghela nafas sejenak ini semua diluar dugaan.
Sabrina berjalan kearah meja rias dibukanya map itu karena membuatnya penasaran, surat tanah juga bangun membuatnya mendelik tak berkedip, dia teringat saat melempar map itu kesembarang arah dan tidak mempedulikannya lagi.
"kamu sudah pulang" suara bariton pria disampingnya membuatnya harus menoleh kesamping melihat pria yang ternyata adalah suaminya sendiri.
Bagaimanapun dia sudah menjadi suaminya mau tidak mau dia harus bersikap selayaknya seorang istri pada suaminya.
"iya, baru saja" jawab Sabrina ambil menutup map yang dibukanya.
"suka tidak suka kamu harus menyimpannya karena suatu hari kamu pasti akan membutuhkannya"
"apa yang kamu rencanakan"
Farel sedikit terkejut mendengar Sabrina berkata seperti itu padanya. "maksudnya?" katanya.
"jangan pura-pura kamu menikahiku, melunasi biaya rumah sakit pasti ada yang kamu rencanakan bukan katakan saja apa maumu"
"kamu benar aku memang punya sesuatu untuk dibicarakan, lebih baik mandilah dan isi perutmu dulu" Farel berusaha agar tetap tenang didepan istrinya yang mulai curiga.
Sabrina terdiam melihat suaminya sesaat pria yang tidak pernah dia kenal, pria asing secara mendadak menjadi suaminya entah itu keinginannya sendiri atau ada sesuatu semakin dipikir semakin pusing kepala ini.
Sabrina keluar kamar mandi cuma menggunakan bathrobe dan suaminya sudah tidak ada disana, bukannya ganti baju dia malah mencari suaminya keluar.
"bagus, semakin cepat semakin baik kamu selesaikan secepatnya" suara itu berasal dari arah dapur tanpa ragu Sabrina langsung berjalan kesana.
Farel sedang menelfon sambil menghangatkan masakan yang sudah dingin, dan Sabrina duduk dimeja makan menikmati suaminya yang seperti koki profesional, entah kenapa pemandangan itu begitu menyenangkan bagi dia hingga membuatnya tersenyum sendiri tanpa disadari.
*****