
Seorang wanita yang tidak lagi muda masih melongo ditempatnya saat mendengar Sabrina berkerja sebagai pelayan disebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit.
"tadi kamu bilang apa?" disela dia melamun kata itu keluar begitu saja membuat lawan bicaranya merasa jengkel.
Sementara wanita muda didepannya meyebik kesal dan harus mengulangi perkataan yang sama.
"iya ma, dan Sabrina mempermalukan aku direstouran terlebih lagi dia dibela sama orang-orang disana, pokoknya Mila gak mau tahu mama harus melakukan sesuatu atau tutup restoran itu ma"
Wanita tua yang dipanggil mama sama Mila mulai sadar kedunianya mendengar cerita ngawur anaknya, dan anehnya wanita itu begitu percaya setiap kata yang keluar dari bibir anaknya walau penuh kebohongan.
"kamu tenang saja kita bilang sama papa supaya menutup restoran itu atau kita buat sepi pengunjung" mama tertawa sinis merencanakan sesuatu untuk mereka teman Sabrina terutama Sabrina sendiri.
Mila duduk disofa dengan mengangkat satu kakinya keatas kaki satunya lagi. "bener ma kita buat Sabrina tidak bisa tertawa lagi dia lebih cocok menderita ma" Mila tersenyum sinis puas atas apa yang dia lakukan apalagi melihat orang tuanya yang percaya sama ucapnya.
Obrolan mereka terhenti saat telinga mereka mendengar deru mobil yang terparkir didepan rumah, kedua wanita beda usia itu meyebik satu sama lain dan berjalan kepintu, bukannya mereka menyambut kedatangan seseorang melainkan hendak mengadu tentang apa yang mereka alami.
Seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil, nampak wajah pria itu terlihat ditekuk tak seceria biasanya, dengan langkahnya yang pelan pria paruh baya itu memasuki rumah.
"papa" panggil Mila dengan manja menghamburkan diri kepelukan pria paruh baya yang dipanggil papa olehnya.
Dialah Bagaskoro Wijaya papa kandung Sabrina akibat termakan ucapannya sendiri dia menikahi istri keduanya bernama Windi Swuari seorang wanita janda yang berkerja diclub malam dan punya putri umurnya beda tipis sama anaknya sendiri.
Windi tidak berniat punya anak dengannya dia lebih suka menghabiskan harta suaminya buat berfoya-foya memenuhi kesenangannya sendiri. Apalagi dia berhasil mengusir istri pertama suaminya otomatis tidak ada yang menjadi penghalang dirumah itu.
"ada apa pa? kenapa lesu begit? ada masalah dikantor?" deretan pertanyaan itu meluncur begitu luwes dari bibir Windi sambil meraih tas kantor suaminya.
Mereka bertiga kini duduk diruang keluarga Mila masih menempel dilengan papanya seolah ada lem disana.
Belum sempat Bagaskoro menjawab pertanyaan istrinya Mila sudah terlebih dulu membuka mulutnya.
"papa tahu gak kalo Sabrina berkerja direstouran dekat rumah sakit Sejahtera pa, dan dia masih sombong sama kaya waktu itu" Mila tersenyum kecil disudut bibirnya, sang ayah hanya terdiam memijit pelipisnya merasa pusing bahkan ucapan Mila hanya berdengung ditelinga saja.
Merasa heran suami tidak merespon Windi bersuara lagi. " anaknya mengadu ko gak diperhatikan sih pa" ucapnya Bagaskoro mengeryit kedua wanita ini tidak mengerti dirinya, pulang kerja bukannya disambut dengan baik ini malah mengadu, sebuah perbedaan yang begitu jauh dengan kehidupannya yang dulu dimana dia disambut dengan ceria tanpa adanya pengaduan, ada rasa penyesalan mulai menggerogoti hatinya kini, tapi masih sudah menjadi bubur tidak mungkin kan kembali ke asal lagi.
Kedua wanita itu cuma melihat Bagaskoro berlenggang pergi sampai masuk ruang kerjanya lalu saling memandang satu sama lain.
"ada apa dengan papa, ma? tidak biasanya papa seperti ini?" dengan wajah heran Mila bertanya sama mamanya.
"aku juga tidak tahu" Windi juga tak kalah heran sama anaknya. "kamu disini saja biar aku yang bicara sama papa" segera Windi berjalan pergi meninggalkan anaknya diruang keluarga.
Flashback on
telfon diatas meja berdering seperti biasa Bagaskoro mengangkatnya karena dia tahu itu pasti dari sekretarisnya, wajah menegang seketika begitu mendengar apa yang dikatakan sekretarisnya sendiri.
"baiklah aku akan menemui pemiliknya sendiri" tanpa basa basi lagi setelah menutup telfonnya dia segera beranjak dari tempat duduknya berjalan cepat keluar mengendarai mobilnya sendiri.
Telfon tadi mengatakan jika seluruh kontrak kerjasama yang selama ini dibangun diputus tanpa tahu apa masalahnya oleh pihak A.
Dengan putusnya kontrak ini maka sudah pasti jika perusahaan BG berada dititik kehancuran dan ini tidak bisa dibiarkan.
Bagas mengendari mobil dengan cepat tujuannya cuma satu yaitu menemui pemilik perusahaan A mempertanyakan permasalahan yang terjadi.
Tidak ada hambatan, begitu tiba dan mencari pemiliknya yaitu Farel dia langsung dipersilakan masuk.
"apakah perusahaan saya punya masalah atau saya sudah melanggar perjanjian kenapa anda memutuskan kontrak tanpa memberi tahu terlebih dahulu" Bagas langsung berkata keintinya meminta jawaban yang masuk akal sama Farel.
"aku senang anda langsung bicara secara gamblang, perusahaan anda tidak melanggar janji atau bermasalah" Bagas merasa lega dengan kata lain kinerja perusahaannya masih bagus, tapi jawaban itu masih belum memuaskannya itu terlihat dari mimik muka Bagas yang menuntut sebuah jawaban lebih.
"yang jadi masalah anak tirimu, dia selalu mencari gara-gara dengan istriku dan aku tidak suka itu, saya tidak mau berpanjang lebar silakan cari tahu sendiri sama anak anda" Farel menggerakan tangannya kearah pintu tanda jika Bagas harus keluar dari ruangan presdir.
Bagas mengeluarkan nafas berat melangkahkan kaki dari ruang presdir, yang jadi pertanyaan dibenak Bagas, Farel sudah menikah kapan? dan siapa istrinya? kenapa anaknya selalu mengganggu istrinya? pertanyaan itu selalu berada dihatinya hingga dia sampai rumah.
Flasback of
*****