
disini cocok untuk bicara rahasia nyonya Heaven"
Deg
"ka kamu salah orang tuan permisi" walau terkejut sama apa yang keluar dari mulut pria didepannya Sabrina berusaha tetap tenang hendak melangkah turun.
"Sabrina Bagaskoro terusir dari rumah sendiri dan hidup mengontrak, punya ibu tiri juga saudara tiri, putus kuliah lebih memilih berkerja membiayai ibu yang koma" cerocos pria itu yang tak lain adalah Farel sendiri, dia melangkahkan kakinya mendekat Sabrina yang takut tanpa sadar mundur kebelakang.
"a anda mau apa tuan? kalo untuk uang sepertinya anda tidak terlalu membutuhkan" Sabrina berkata terbata-bata karena takut.
"kamu benar aku tidak membutuhkan uang" Farel diam sesaat memperhatikan wajah cantik dihadapannya walau tanpa makeup.
"pernikahan!!" kata Farel membuat Sabrina melongo tidak mengerti.
"dasar gila, kamu jangan bercanda menggunakan sebuah pernikahan, cari saja orang lain untuk leluconmu itu" umpat Sabrina dia kesal juga emosi mendengar pernikahan dari mulut Farel secara langsung.
"apa aku terlihat bercanda dibawah sudah ada pak penghulu yang menunggu"
"kamu benar-benar gila aku tidak mau menikah denganmu"
"kalo kamu bisa mengembalikan uangku besok tidak masalah kita tidak jadi menikah"
"apa! kenapa begitu aku tidak pernah memintanya"
"kalo begitu turuti saja, sekarang kita turun aku tidak punya banyak waktu mengurusi hal sepele begini"
Farel turun terlebih dulu menuju ruangan ibu Sabrina, sementara diatas Sabrina terduduk lemas dia tak pernah berfikir jika hidupnya seperti sebuah mainan.
Dia memukul dadanya yang sesak diiringi tangisan semalam dia mendapat surat-surat tanah serta bangunannya dari orang yang sudah menyentuhnya dan sekarang harus menikah secara mendadak sama orang yang tidak dikenalnya sama sekali.
Disaat hatinya bimbang, galau dan bingung hp disaku celana berdering tanpa pikir panjang dia mengangkat telfon itu tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
"hallo" sapa Sabrina dengan suara serak khas orang habis menangis.
"kamu tidak apa-apa Rina" tanya seorang wanita dari seberang telfon.
"ya aku tidak apa-apa, ini siapa? dan ada apa?" jawab Sabrina balik bertanya.
"kamu sudah lupa sama aku Rina, ini aku Lea pelayan restoran"
"ah iya aku ingat, ada apa Lea?"
"besok kamu sudah bisa berkerja Rina...."
"benarkah terima kasih Lea, sampai ketemu besok" Sabrina mematikan telfonnya sepihak tanpa menunggu jawaban dari Lea.
Dia menyeka air matanya lalu berdiri tidak peduli sudah menikah atau tidak dia tetap harus berkerja, dia teringat jika sudah ditunggu oleh pria barusan segera dia berjalan menuruni anak tangga menuju ruangan ibunya.
Disana semua sudah siap tinggal menunggu dirinya saja terlihat sang ibunya duduk bersandar kebelakang dan terlihat masih lemah, dibawah ada Farel disisinya ada wanita yang sudah tua sangat berwibawa didepannya ada pak penghulu.
Pernikahan ini hanya dihadiri keluarga saja tanpa ada orang luar, tanpa ganti baju dan ber-make up Sabrina duduk disamping Farel bahkan mata Sabrina terlihat sembab habis menangis.
"anda tidak apa-apa nona?" tanya pak penghulu melihat kearah Sabrina diikuti oleh semua orang termasuk Farel yang tadinya hanya diam saja.
"tidak apa-apa" jawab Sabrina singkat.
"kamu mandi dulu dan ganti baju masih keburu kok ya kan pak" tanya wanita lanjut usia disamping Farel dengan lembut.
"tidak perlu nek ini cuma izab biasa kan yang penting sah ya kan pak" jawab Sabrina memaksakan menarik kedua sisi bibirnya.
"jangan panggil nenek panggil saja aku Oma kaya cucuku ini Farel" Oma berkata dengan tersenyum sambil menepuk pundak cucunya.
"Farel, dia bernama Farel" batin Sabrina melihat pria yang akan menjadi suaminya.
"dia bilang tidak usah Oma yang penting kan sah, kita mulai saja acaranya pak" sahut Farel tak suka.
"harusnya itu kata-kataku kan" batin pak penghulu.
"ya sudah kalo begitu kita mulai saja ya sini tangannya nak Farel"
Farel mengulurkan tangannya memegang tangan pak penghulu dan siap-siap mengikuti ucapan pak penghulu.
"Aku nikahkan dan kawinkan engkau Farel Van Heaven bin Van Heaven dengan Sabrina Bagaskoro binti Bagaskoro dengan mas kawin perhiasan lengkap dan rumah dibayar tunai" kata pak penghulu dengan satu teriakan.
"aku terima nikah dan kawinnya Sabrina Bagaskoro binti Bagaskoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" balas Farel dengan satu tarikan.
"gimana saksi sah"
"sah sah sah" balas semuanya.
"Alkhamdulillah..."
Setelah membaca doa yang dipimpin pak penghulu Sabrina mencium punggung tangan suaminya begitu pula dengan Farel dia mencium kening Sabrina yang sudah menjadi istrinya dan disaksikan semuanya.
"aku sangat bahagia sebentar lagi akan punya cit cit" sahut Oma sambil menyeka buliran bening yang keluar begitu saja melewati pipinya.
Sedangkan diatas bangkar ibu Sabrina juga menangis bahagia menyaksikan putri satu-satunya menikah walau tidak mewah, dia berdoa semoga pria didepannya ini orang yang tepat untuk Sabrina dan tidak ada pernikahan yang kedua.
"Rel nanti kalo masalahnya sudah selesai kita gelar pesta besar-besaran ya yang seperti ini gak ada dalam kamus oma" ucap Oma menepuk pundak cucunya.
"iya Oma yang penting Oma seneng, sekarang aku boleh pergi kan" kata Farel pasrah karena sang Oma suka pesta.
"pergi kemana?" tanya Oma heran.
"ngantor ada meeting jam 1"
"libur kan"
"ko libur!?"
*****