
Sabrina menghela nafas panjang melangkahkan kakinya kemeja nomor empat, kebetulan meja itu kosong jadi dia lega dengan tenang dia meletakkan pesenan diatas meja.
"Sabrina, kamu Sabrina kan" suara seorang wanita yang begitu familiar dan sangat dia kenal berdiri dibelakang.
Berlahan Sabrina menoleh kebelakang dia melihat wanita itu tanpa berkedip sama sekali.
"hai Mila" Sabrina menyapa wanita yang dipanggil Mila dengan tersenyum.
Dia (Mila) memandang Sabrina dari atas sampai bawah lalu tersenyum sinis. "kamu sangat cocok jadi pelayan" ucapnya lalu berjalan melewati Sabrina saat melewati Sabrina Mila sengaja menabrak pundak Sabrina dengan keras sampai Sabrina meringis.
"apaan ini kenapa begitu asin?" teriakkan Mila membuat Sabrina yang berada dibelakang berlari kemeja nomor 4.
"Asin, sini saya ganti dengan yang baru nona" mendengar itu Mila sangat senang tapi belum puas, dia ingin mengerjai Sabrina lagi.
"kamu sebenarnya bisa masak gak" bentak Mila disaat Sabrina ingin mengambil salah satu masakan yang dibilang asin, Mila sengaja membuat jusnya tumpah hingga membuat meja dibanjiri oleh jus bahkan heelsnya ikut kejatuhan jus mengetahui itu dia semakin semangat mengerjai Sabrina.
Sabrina hanya bisa meminta maaf dan segera mengambil kain bersih guna mengelap sepatu Mila, Sabrina berusaha bersabar karena dia baru bekerja beberapa hari ditempatnya dan tidak mau dipecat lagi.
"astaga kamu mengotori sepatuku gimana cara kerjamu masa begini sampai membuat meja berantakan bahkan sepatuku kena imbasnya" Mila terus membentak Sabrina.
"maafkan aku Mila sini aku bersihkan"
"jelas dong, masa harus aku yang bersihin kotor tangannku"
Sabrina berjongkok hendak membersihkan heels Mila, tapi semua itu dihentikan oleh Sam yang tidak suka keributan karena mempengaruhi kinerja restorannya.
"kamar mandinya berada dibelakang silakan kearah sana nona" sahut Sam dia sudah berada ditengah keduanya.
"bukannya aku tidak mau dia harus dihukum agar berkerja dengan benar, dan saya minta ganti rugi" Mila berkata dengan emosi seolah tak terima ada yang membela Sabrina.
"karyawan saya sudah benar dan soal hukuman itu urusan saya selaku pemilik restoran ini bukan orang lain, dan hari ini kamu gak usah bayar aku gratisin semuanya" Sam membalasnya dengan santai membuat Mila tak terima dan semakin emosi.
Lea yang mendengar kegaduhan didepan juga ikut berjalan keluar ingin tahu apa yang terjadi.
"makanan ini tidak asin, hai nona semua makanan ini aku yang masak, aku tidak tahu masalahmu sama teman ku tapi jangan kamu membuat masalah disini silakan selesaikan diluar sana" Lea tak terima masakannya dibilang gak enak.
"silakan nona mencari restoran lain" kata Sam, disini Sabrina hanya diam dan menonton ketiganya tanpa berani buka suara takut salah.
"kamu mengusirkku, aku pembeli disini"
"kami hanya melayani pembeli yang jujur silakan keluar" Lea membalas dengan ketus.
"kalian berani mengusirku aku akan menutup restoran ini awas kalian, dan kamu Sabrina awas kamu aku akan membalas lebih dari ini" setelah mengancam Mila pergi dengan marah dari restoran itu.
"maafkan aku semua gara-gara aku" Sabrina membungkukkan badan meminta maaf.
"bukan salah kamu dia memang sengaja aku melihatnya tadi dia menumpahkan sendiri jusnya" kata Sam.
"tapi dia akan menutup restoran ini kak" Sabrina sangat kawatir jika Mila benar-benar melakukannya.
"silakan saja kalo mau ditutup" kata Sam santai.
"kalian saling kenal Rina sepertinya dia punya dendam sama kamu" sahut Lea sambil membersihkan meja.
"mm dia saudara tiriku, papa menikah lagi dua tahun lalu" jelas Sabrina membuat keduanya melihat kearahnya serentak.
"pantes dia kaya gak suka banget sama kamu, memang kalo yang namanya tiri itu pengen nguasai semuanya" Lea begitu blak-blakan.
"tapi kamu juga harus melawan kalo tidak bersalah bukan hanya menerima saja, mau sampai kapan kalo semuanya terlambat baru nyesel" kata Sam dimeja kasir.
"terima kasih kak Sam" kata sabrina
"mm, Lea buatkan sesuatu dong aku lapar nih" titah Sam sama Lea.
"kenapa kamu gak buat sendiri aku kan bukan istrimu" ketus Lea dengan bibir manyun.
"boleh bulan ini kamu gak gajian" ancam Sam.
"haiis selalu gajianku jadi taruhan" Lea pasrah segera dia membuatkan sesuatu untuk Sam bosnya
Direstoran semua berjalan seperti biasa melupakan kejadian yang baru saja terjadi, diluar restoran seorang pria berpakaian biasa menggunakan topi. sedang memperhatikan kebagian dalam lalu berkutat dengan hpnya menghubungi seseorang diseberang.
"hallo tuan, putri tiri Bagaskoro baru saja membuat ulah mempermalukan nona, videonya sudah saya kirimkan" kata pria itu dia melaporkan seluruh kejadian kebosnya yaitu suami Sabrina karena pria itu memang ditugaskan untuk mengawasi Sabrina.
"kinerja yang bagus satu lagi tugas yang harus kamu kerjakan" balas majikannya tersenyum dingin seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"siap tuan" setelah mematikan telfonnya dan memasukannya kesaku celana dia seger pergi.
Sementara dikantor sekertaris sekaligus asisten bernama Rico sudah berada dikantor karena panggilan setelah mendapat mematikan telfonnya.
"kamu tidak perlu mencari alasan untuk menjatuhkan perusahaan itu, karena anaknya sudah menjatuhkan perusahaan itu sendiri" Rico nampak bingung sama perkataan majikannya.
"kamu putuskan semua kontrak bersama perusahaan itu tanpa terkecuali" titah Farel tersenyum dingin.
*****