MY SWEET BEAUTIFUL

MY SWEET BEAUTIFUL
PINGSAN



Dering hp mahal diatas nakas terus saja berbunyi tanpa henti membuat sang pemilik merasa jengkel, dia yang hendak mau keluar kamar harus berbalik kearah nakas tempat hp berada dengan kasarnya dia meraih benda pipih itu.


"apa!!?" ucapnya dengan nada marah tanpa melihat siapa yang menelepon.


"tuan muda gawat......"


"apa!!" kali ini bukan nada marah melainkan nada terkejut mendengar pesan yang disampaikan oleh tangan kanannya.


"dirawat dimana dia sekarang?" lanjutnya bertanya dan tidak sabar.


"nona dirawat dirumah sakit sejahtera tuan rumah sakit yang sama dengan ibunya, data-data tentang nona sudah saya kirimkan tadi pagi tuan"


"ibunya sakit" batin pria itu tanpa mendengar perkataan sang asisten.


"jemput aku sekarang juga kutunggu dalam lima menit" pria itu langsung menutup panggilan telepon secara sepihak.


Dia duduk ditepi tempat tidur dalam keadaan menunduk kedua tangannya berada di kepala meremas rambutnya frustasi.


"semoga dia tidak kenapa-kenapa? hari ini juga aku akan segera menemui orang tuanya" batin pria itu dia melupakan orang yang sudah membuatnya melakukan kesalahan.


Mobil yang ditunggu datang pria itu langsung berlari keluar kearah mobil, mengerti keadaan bosnya si supir yang juga tangan kanannya ngebut kearah rumah sakit yang dituju.


Sesampainya di rumah sakit pria itu juga melakukan hal yang sama dia keluar mobil tanpa menunggu ada yang membukakan pintu dan segera berlari kearah resepsionis dan bertanya keberadaan seseorang yang dirawat.


Begitu mendapatkan informasi dia berlari kekamar tempat seseorang berada. Berdiri! Hanya itu yang dilakukannya melihat seorang wanita terbaring lemah diatas bangkar, walau terlihat tenang tangannya bergetar wajahnya begitu pucat sedetik kemudian dia pingsan.


Pria itu adalah Arlan dia trauma terhadap darah karena itu mengingatkan tentang kematian kedua orang tuanya saat liburan bertiga didepan matanya kedua orang tuanya mati bersimbah darah tidak bisa ditolong.


Oma yang sedang menunggu Farel dari tadi terlihat cemas tidak biasanya dia lupa untuk menemui dirinya, akhirnya dia menelfon cucunya itu raut wajahnya terlihat terkejut ketika yang mengangkat adalah tangan kanannya.


"dimana Arlan? kenapa kamu yang mengangkat telfonku?" tanya Oma sama sang tangan kanan cucunya.


"maaf nyonya besar tuan muda pingsan sekarang berada dirumah sakit" balas sang tangan kanan menjelaskan.


"apa!! kirim lokasi rumah sakitnya sekarang" Setelah berkata seperti itu Oma segera memanggil supir pribadinya menyusul cucunya kerumah sakit.


Selain itu Sabrina yang tidak sadarkan diri berlahan membuka matanya, dia tatap langit kamar diatasnya nampak berbeda dengan rumahnya lalu memutar bola matanya melihat kesekeliling ruangan.


"rumah sakit" ucapnya lirih semabari memposisikan dirinya untuk duduk bau obat begitu terasa dihidung.


Sabrina melihat tangannya yang terpasang selang infus lalu membalik telapak tangannya, selain selang juga ada perban yang menempel dipergelangan tangannya, dia teringat jika sudah diperkosa oleh pria yang tidak dikenalnya bahkan melakukan bunuh diri.


"bahkan untuk mati saja tidak diizinkan" gumam Sabrina lirih diiringi buliran bening jatuh melewati pipinya.


"karena kamu masih punya tanggung jawab yang besar" tiba-tiba saja sebuah suara muncul dari balik pintu membuat Sabrina menatap kearah sumber suara.


Seorang pria tampan memakai pakaian dokter memiliki postur tubuh tinggi tersenyum padanya, dia berjalan mendekat kearah Sabrina hendak memeriksa keadaannya.


"hai kamu sudah bangun sini kuperiksa dulu ya" balas seorang dokter tampan yang dipanggil Rendra.


"dokter, yang membawa saya kerumah sakit siapa?" Sabrina langsung melontarkan pertanyaan sama dokter didepannya.


"seseorang menggendongmu dalam keadaan panik kesini, dia bilang tetangga kamu" jelas dokter Rendra.


"siapa?" tanya Sabrina.


"gak tahu" dokter Rendra mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.


Sabrina nampak berpikir siapa tetangga yang menggendongnya kerumah sakit.


"oh iya soal biaya rumah sakit kamu tidak perlu bingung orang itu yang membayar tagihan rumah sakit untukmu juga ibumu se mua nya" jelas dokter.


Perkataan itu semakin membuat dia bingung karena para tetangganya tidak ada yang kaya, bahkan jika sanggup pun mereka tidak akan mau.


"dok saya mau ketemu sama ibu"


"tidak kuizinkan! kamu butuh istirahat terlebih lagi transfusi darahnya belum selesai, ibumu baik-baik saja jangan terlalu mengawatirkan beliau jika kamu sakit siapa yang akan menjaganya jika keluar rumah sakit nanti"


"tapi"


"tidak ada kata tapi, sekarang istirahatlah aku keluar dulu"


Dokter Rendra berjalan keluar meninggalkan Sabrina yang terdiam, saat ini Sabrina masih melakukan transfusi darah dan belum selesai, perasaannya campur aduk tak karuan dia merasa malu bertemu semua orang mengingat dia sudah tidak suci lagi.


Tapi dia bingung harus meminta bantuan pada siapa karena hanya berdua bersama sang ibu, apalagi masih belum mendapatkan perkerjaan dalam keadaan seperti ini satu orang yang ada dipikirannya yaitu dokter Rendra.


Dokter baik yang selalu membantunya saat dia dalam kesusahan orang yang selalu dicari Sabrina, tapi dia tak mampu untuk sekedar bercerita tentang permasalahan dirinya.


Terlintas wajah sang ibu dibenaknya dia sangat ingin sekali bertemu ibunya dan berkeluh kesah padanya, Sabrina turun dari bangkar menyeret stik disebelahnya menuju kearah kamar tempat sang ibu berada.


Saat berjalan keruangan sang ibu dia melewati ruangan VVIP tempat Arlan dirawat, dia melihat sejenak orang-orang yang berada diluar dalam hati dia berfikir jika hidupnya kaya mungkin tidak akan seperti ini.


Sabrina melewati ruangan itu dalam diam dan dilihat oleh para penjaga ruangan tempat Arlan dirawat, ada perasaan aneh dihatinya begitu melewati ruangan Arlan sebuah perasaan yang belum dia rasakan selama ini.


Deg


deg


Deg


*****