
"ko libur!!" Farel heran juga bingung sama ucapan omanya dia tidak mengerti situasi saat ini.
"duh cucuku kamu kan baru saja nikah liburlah dulu ajak istrimu kerumah apalagi cincinnya belum kepasang begitu" Oma menunjuk cincin yang masih berada diatas meja depan penghulu seketika semua mata melihat kearah meja.
"maaf Oma Farel tidak bisa, soal kerumah biar dia ikut Oma saja, lalu cincinnya pasang sendiri" setelah bicara begitu Farel berjalan keluar tanpa mempedulikan panggilan omanya.
"Farel tunggu, Farel" teriak Oma namun tak dihiraukan sama cucunya.
"sudah Oma, aku tidak apa-apa cincinnya juga akan aku pasang sendiri" Sabrina berusaha menenangkan.
"tidak bisa yang namanya cincin kawin yang masang itu pasangannya ini tidak ada dalam kamus oma" Oma terlihat kesal dan jengkel terhadap cucunya.
"awas saja nanti kalo sampai dirumah" gerutu Oma kesal.
Diperjalanan Farel yang duduk dibangku belakang memijat keningnya, melihat kelakuan Oma yang baik sama istrinya itu padahal ini pertama kalinya mereka berdua bertemu.
Disisi lain dia masih bingung ingin bicara jujur sama wanita yang sudah jadi istrinya, tapi merasa belum tepat untuk saat ini.
"apa kamu sudah melakukan apa yang kusuruh" tanya Farel sama supir sekaligus tangan kanannya.
"sudah tuan semua sudah diperbaiki tidak melainkan dibangun kembali" jawab sisupir tanpa melihat kebelakang.
"bagus, satu lagi aku ingin kamu mencari kesalahan perusahaan BG yang berkerjasama dengan kita"
"perusahaan itu tidak punya cacat sama sekali sepertinya anda punya masalah dengannya"
"apa kamu tahu dalam suatu hubungan seorang istri atau saudara tiri tidak punya hak atas warisan" Farel berkata sambil membuka laptopnya dia tahu jika perusahaan BG adalah perusahaan milik Bagaskoro dan dia hanya memiliki anak tunggal saja yaitu Sabrina maka dari itu sudah pasti semua harta jatuh ke tangan Sabrina kelak.
"soal nyonya muda ya, baiklah, tuan akan mendapatkan informasinya nanti siang"
"kamu memang dapat diandalkan Rico"
"terima kasih tuan" ucap Rico seorang tangan kanan Farel, memiliki usia yang tidak terlalu jauh dengannya berparas tampan juga berpostur tinggi, pernah hampir mati saat mengalami kecelakaan lalulintas akibat pendarahan hebat.
Saat itu Rico berniat pulang setelah memberikan surat lamaran kerja kesebuah perusahaan, ditengah jalan motor yang dikendarainya dihantam minibus dari arah samping, akibat kecelakaan itu urat nadi/pembulu darahnya putus hingga darah tidak bisa dihentikan, tanpa banyak mikir Farel langsung mendonorkan darahnya kebetulan darah mereka sama saat dites.
Dan Farel tidak menyangka jika Rico akan melamar kerja di perusahaan miliknya setelah dia sembuh karena sebelumnya gagal.
Oma tidak bisa memaksa keinginan cucu menantunya akhirnya dia pulang dengan kekecewaan, tapi dia tidak bisa menolak saat oma memberikan dua suster untuk merawat ibunya sampai sembuh.
Sabrina yang pulang dari rumah sakit terperangah seperti patung hidup dengan mulut membentuk huruf O juga mata melotot, berdiri didepan rumah yang tidak dia kenal sama sekali.
Kontrakan kecil yang dia tempati selama ini berubah 180 derajat menjadi rumah mewah dalam sekejap bahkan seluruh perabotan semuanya baru, bukan hanya menjelma menjadi rumah mewah dua lantai plus pembantu interiornya pun sangat cantik.
"lho Sabrina sudah pulang ko gak bilang-bilang kalo sudah menikah, jangan dirahasiakan kenalin kekita suamimu itu biar kita semua tidak penasaran ya kan ibu ibu" kata seorang tetangga yang lewat dibelakang Sabrina bersama teman-temannya.
Walau hati terasa kesal akibat mulut yang suka nyinyir mau tidak mau Sabrina harus membalas ucapan mereka agar tidak semakin panjang.
Tapi belum sempat Sabrina bersuara Bu Susi sudah menyela terlebih dahulu.
"ibu-ibu ini bagaimana bukannya kemarin sudah dijawab sama pak supir jika majikannya sering pergi keluar kota urusan kerjaan dan ini baru kembali sudah diintrogasi sudah bubar sana hus urusin tuh yang dirumah" bu Susi berkata sambil menggerakkan tangannya seperti ngusir ayam.
"Halah bu Susi juga sama keponya kaya kita sok ngebela segala huuuu" balas salah satunya sambil berlalu pergi bersama yang lainnya.
"terima kasih bu" kata Sabrina.
"tidak masalah mereka itu emang bisanya ngurusin orang lain padahal ngurus diri sendiri saja gak kelar-kelar" sewot bu Susi.
"tapi kemarin kamu kemana saat renovasi yang ada cuma asisten suamimu, dia sangat tampan tinggi pula andai aku belum nikah sudah kuembat dia" bu Susi berkata sambil melihat keatas seolah membayangkan sesuatu.
"kamarin aku dirumah sakit karena ibu sudah sadar" balas Sabrina tersenyum kecil.
"pantes gak kelihatan batang hidungnya, ya sudah masuk sana tengok bagian dalamnya pasti suka" bu Susi mendorong punggung Sabrina hingga kepintu lalu meninggalkannya.
"hari ini dia begitu senang sekali" batin Sabrina melihat kearah bu Susi.
Sabrina menghela nafas sejenak sebelum dia membuka pintu rumahnya, begitu pintu terbuka penampilan rumah barunya benar-benar membuat Sabrina terperangah.
"ini bukan renovasi tapi dibangun kembali" batin Sabrina dia tidak merasa senang sama sekali melainkan justru kawatir karena semua begitu mendadak.
*****