
Sabrina berdiri direstoran yang kemarin dia datangi sambil memegang map, dengan harap harap cemas dia nampak gelisah karena takut jika tidak diterima ditempat itu.
"kamu yang kemarin, sudah lama menunggu ya" tanya seorang wanita dari belakang membuat Sabrina memutar badan kebelakang melihat siapa wanita itu.
"tidak juga" jawab Sabrina singkat.
"ayo masuk kita tunggu didalam saja sebentar lagi juga datang orangnya" wanita itu yang tak lain adalah karyawan restoran mempersilakan Sabrina untuk menunggu didalam.
"oh iya panggil saja aku Lea" karyawan restoran memperkenalkan dirinya.
"aku Sabrina terserah mau panggil apa" Sabrina membalas dengan senyum manis.
"mm aku boleh nitip ini sama kamu saja soalnya aku harus kerumah sakit" lanjutnya sambil menyerahkan map yang dibawanya keLea.
"baiklah sekalian minta nomor telfonnya ya, padahal sebentar lagi bos datang lho"
"didalam ada nomor telpon saya, maaf ya ini sangat merepotkanmu"
"aduh gak usah formal begitu kan kita sama-sama karyawan nanti"
"makasih aku pergi dulu ya Lea"
"mm hati-hati"
Sabrina keluar restoran berjalan menuju rumah sakit kerena dia belum menengok ibunya sejak kemarin, beberapa saat kemudian sebuah mobil mewah berhenti tepat didepan restoran, seorang pria tampan turun dari mobil mewah berwarna silver metalik itu, pria tampan dengan wajah kebule-bulean, rambut sedikit gondrong memakai kaos biasa dan celana panjang tak ketinggalan tas selempang bertengger di punggungnya berjalan kearah pintu masuk restoran.
"apa yang kamu pegang itu Lea?" tanyanya begitu melihat Lea memeluk map dari Sabrina.
"oh ini bos, surat lamaran kerja dari wanita kemarin nih silakan dicek bos" jawab Lea menyodorkan map itu.
Sambil menerima map pria itu berjalan masuk diikuti Lea dari samping, Lea sedikit berlari karena langkah kaki pria itu lebar dan cepat.
"sepertinya kamu pengen banget punya teman" pria itu bicara tanpa melihat Lea mendaratkan bokongnya dikursi kasir.
Direstoran itu semua dikerjakan oleh Lea sementara pria yang dipanggil bos hanya mengecek saja, Lea seolah pemilik restoran itu sendiri karena itu dia sering mengeluh sama bosnya.
"aih aku seperti anak kecil yang mendapat hukuman" Lea berkata kesamping dan pria itu hanya tersenyum tipis saja.
"akan ku pertimbangkan"
"benarkah yeah, sekalian bos ada karyawan prianya agar terlihat ramai"
"boleh nanti gajinya dari bulananmu"
Mendengar itu Lea langsung lemas dengan lesunya dia berkata. "jangan deh" setelah itu dia pergi meninggalkan bosnya tiba-tiba.
"kemana?" tanya pria itu.
"kerja" jawab Lea singkat.
"jangan malas agar gajimu tidak habis"
"Sabrina" ucap pria itu lirih sambil melihat lamaran kerja yang dikirim sabrina.
Dirumah sakit Sabrina yang berjalan setengah berlari kearah ruangan ibunya terkejut melihat dokter Rendra bersama seorang pria tampan, tinggi berjas sedang ngobrol santai bersama dokter.
"ada apa?" tanya Sabrina heran juga bertanya-tanya siapa pria itu.
"hai Sabrina syukurlah ada kabar baik untukmu" jawab dokter Rendra sementara pria itu masih diam.
"kabar baik!?"
"ya, ibumu sudah siuman hanya perlu banyak istirahat saja setelah ini jaga beliau ya"
Air mata Sabrina langsung keluar begitu saja dia begitu bahagia mendengar itu walau dirinya sendiri yang menderita.
"syukurlah, terima kasih dok terima kasih aku akan segera melunasi semua admin rumah sakit" ucap Sabrina ditengah Isak tangisnya.
Mendengar itu pria yang masih terdiam mengepalkan tangannya begitu erat hingga terlihat otot tangannya.
"oh itu tidak perlu semua sudah dilunasi sama dia" dokter Rendra menunjuk pria disampingnya.
"dia!!" kata Sabrina melihat pria itu.
"kalian ngobrollah dulu aku tinggal sebentar" dokter Rendra berjalan keluar meninggalkan mereka bertiga.
Sunyi, hening setelah kepergian dokter karena sang ibu juga tidur, sesekali pria itu menelan salivanya cukup berat.
Semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan perbuatannya yang diluar kendali itu, dia sampai membayangkan bagaimana wajah Sabrina yang menangis dibawah kungkungannya memohon agar tidak melakukannya, dibawah pengaruh sebuah obat justru dia semakin menjadi tidak mempedulikan Sabrina yang memohon hingga merusak mahkota yang dijunjung oleh wanita itu.
Pria itu Farel Van Heaven sudah memutuskan akan menemui Sabrina dan mempertanggung jawabkan perbuatannya walau dia sudah mendaftarkan pernikahan di KUA rasanya tidak afdol jika tidak secara agama soal pesta itu belakangan. Jika ingin jujur ini pertama kalinya dia menggauli wanita meskipun itu terpengaruh oleh obat.
Dia berdoa sekaligus berharap jika wanita didepannya ini pilihan yang tepat, karena sebisa mungkin dia tidak ingin menikah untuk yang kedua kali.
"terima kasih kita tidak saling mengenal tapi anda sudi membantu saya" kata Sabrina membuka suara terlebih dulu.
"tidak perlu, mari ikut saya kita bicara ditempat lain takut mengganggu ibu" balas Farel dia mengubah dirinya menjadi tegas juga dingin dihadapan Sabrina.
"tadi dia panggil ibu" batin Sabrina melihat punggung pria didepannya dia mengikuti Farel sampai keatap rumah sakit,
walau takut sabrina tetap mengikutinya karena atap rumah sakit tempat yang cocok untuk bicara berdua saja.
"mengapa mesti keatap" ucap Sabrina.
"disini cocok untuk bicara rahasia nyonya Heaven" balas Farel berwajah datar menatap wajah Sabrina.
Deg.
*****