
"mama sudah sehat dan ingin pulang Rina" ucapan seorang wanita paruh baya yang terus merengek seperti anak kecil ingin segera pulang membuat Sabrina menghela nafas sejenak.
Sabyan Primatama mama Sabrina yang sudah mulai sembuh dari komanya dan sudah menjalani perawatan kini sudah membaik, Sabrina bersyukur dan tentu saja semua itu karena suaminya sendiri yang memberika perawatan terbaik untuk sang mama.
"baiklah ma aku akan tanya sama dokter dulu, mama tunggu saja disini ya" Sabrina berkata lembut dan meninggalkan mama bersama dua perawatannya.
Belum sampai ketempat ruangan dokter Rendra tiba-tiba saja mata Sabrina berkunang puding mendera, tidak dia ambruk Sabrina istirahat sebentar duduk disalah kursi didekatnya.
"Rina kenapa kamu duduk disini?" belum sempat Sabrina beranjak dari duduknya suara yang sangat familiar menyapanya hingga dia tidak perlu menemuinya di ruangannya sendiri.
"dokter Rendra kebetulan sekali aku ingin bertemu dokter" Sabrina tersenyum senang.
"aku, memang ada apa?" dokter Rendra menunjuk dirinya sendiri.
"ini soal mama"
"beliau"
Hari ini Sabrina minta libur satu hari karena mamanya keluar rumah sakit, sebenarnya Sabrina dilarang berkerja sama paksu lantaran Sabrina suka ngeyel juga keras kepala akhirnya paksu membiarkan saja, terserah dia mau kerja apa gimana.
Tidak ada yang perlu disiapkan asal mama sudah kembali kerumah itu jauh membahagiakan daripada apapun, Farel pulang cepat tuk menjemput mama mertuanya bersama Sabrina tentunya.
Masih tetap sama keduanya tidak terlalu banyak bicara seakan ada tembok besar diantara mereka berdua.
Mama nampak terkejut rumah kontrakan kecil kini berubah seratus persen menjadi rumah mewah nan megah, didepan rumah sudah berdiri teman kerjanya serta kak Sam selaku bosnya menyambut kedatangan mereka bertiga.
"hai tante aku temannya Rina salam kenal tan, dan ini untuk tante semoga suka" Lea menyodorkan buah tangan kearah mama Byan dan dengan senang hati diterima oleh Sabrina.
"Sabrina mendapatkan teman yang baik" mama Byan merasa bersyukur.
"tante bisa saja" Lea tersenyum lalu menarik baju Sam hingga dia memajukan badannya. "perkenalkan juga dia bosnya nama Samnino" Lea menunjuk muka Sam.
"biasa saja Lea gak usah dramatis gitu" protes Sam.
"salah sendiri diam begitu kaya patung" ketus Lea.
"lebih baik kita ngobrol didalam diluar dingin karena semakin sore" Farel yang tadinya dia menyambung obrolan mereka.
"perkenalkan dia suamiku" Lea juga Sam terpaku mereka berdua memandang lelaki didepannya dari atas sampai bawah terlihat sekali manusia kaya raya bahkan mobil yang dipakainya keluaran terbaru limited edition, tapi kenapa Sabrina masih berkerja kita serahkan saja sama Sabrina.
"hai, mari kita masuk" Farel menjabat tangan keduanya dan mempersilahkan masuk.
"aku senang mamamu pulang saat sore jadi aku bisa menyambutnya" Lea tersenyum senang tapi senyuman itu luntur kala dering telfon didalam tasnya terdengar, segera Lea mengangkatnya dan menjauh dari mereka semua.
Semenit kemudian Lea berbalik badan dengan senyum yang dipaksakan menurut Sam, dia memperhatikan Lea sejak menerima telfon. Lea gadis yang ceria walau punya masalah dia tidak akan terlihat sedih.
"maaf ya Rin aku harus pulang, sedih banget rasanya padahal pantat baru nempel sedetik eh sudah dapat telfon dari rumah" Lea memelas tak bersemangat.
"tidak apa-apa kamu bisa datang lain waktu, lagipula gak baik anak gadis belum pulang hingga malam"
"ya udah aku pulang dulu ya Rin salam buat mamamu juga suamimu maaf nih gak bisa pamit" Lea tak enak hati karena dia baru semenit dirumah Sabrina dan harus pergi karena sesuatu yang mendesak.
Samnino juga tak ketinggalan dia ikut beranjak dari duduknya dan ikut pulang bersama Lea, memperhatikan teman dan bosnya itu Sabrina beranggapan jika ada sesuatu diantara keduanya.
Sabrina kembali kekamarnya setela kekamar mama melihat kondisi mama, dikamar, Sabrina melihat suaminya berada diatas tempat tidur dengan laptop dipangkuan terlebih sudah memakai piyama, dalam diam dia pergi kekamar mandi tanpa melihat yang kearahnya.
Malam yang dingin sedingin apa yang ada dihati, sunyi, sepi, hanya terdengar semilir angin diluar suara jangkrik tak mau ketinggalan menambah pelengkap melodi malam.
Hembusan nafas terdengar begitu jelas tak mampu memecah keheningan, mata mengantuk namun enggan untuk dipejamkan serasa ada sesuatu yang mengganjal dan ingin segera dikeluarkan secepat mungkin agar tidak- menjadi beban.
Pergerakan tangan yang melingkar dipinggang secara tiba-tiba membuat sepasang mata terbuka lebar, Sabrina melirik tangan yang sudah menempel diperutnya itu tapi enggan untuk bergerak entah takut atau gimana dia biarkan tangan itu. Bukan hanya memeluk tangan itu menarik tubuh Sabrina kebelakang hingga punggungnya menyentuh dada bidang pria dibelakangnya yang sudah menjadi suaminya, Farel.
"aku tahu kamu belum tidur" Farel berkata tepat ditelinga Sabrina membuatnya menegang.
"ka kamu mau apa?" Farel mencebik mendengarnya. mau apa? Jika dia mau dia bisa mengambil haknya karena dia sudah sah menjadi suaminya secara agama walau belum disahkan secara negara.
Kenapa dia tidak melakukannya bahkan memaksanya sekalipun saat birahi berada diatas ubun-ubun, itu karena dia tidak ingin memaksa ataupun bermain kasar saat pasangannya tidak berminat, lebih tepatnya menghormati istrinya.
Farel memeluk tubuh Sabrina erat ditenggelamkan mukanya ketengkuk belakang kepala, menekan sesuatu yang mungkin sudah tidak mampu lagi ditahan. "aku tidak akan memaksamu kalo kamu tidak mau" lirih dan pelan tapi masih mampu menerobos kedalam gendang telinga Sabrina.
*****