
"sayang kamu tidak apa-apa?" kata seorang wanita tua yang duduk disisi tempat tidur cucunya.
wanita tua itu langsung meluncur begitu mendengar sang cucu pingsan kerumah sakit, bayang-bayang kedua anaknya yang mati akibat kecelakaan waktu itu masih menghantuinya dan dia tidak mau terulang kembali.
"baik Oma, sangat baik ini kan cuma pingsan biasa gak perlu kawatir berlebihan oma" balas sang cucu sambil turun dari tempat tidur.
Tiba-tiba dia teringat tujuannya datang kesini segera dia berlari keluar membuat Oma melongo dengan kelakuan cucunya itu.
Dia Arlan sedang berlalu menuju ruangan tempat seorang wanita yang dinodainya dirawat sekarang, dia terpaku saat melihat ruangan itu sudah kosong melompong tanpa penghuni.
"sus dimana pasien kamar ini?" tanya Arlan sama suster yang lewat.
"Mbak Rina minta dipindahkan ketempat ibunya berada tuan supaya tenang katanya" jelas sang suster.
"Rina!!?" Arlan sedikit terkejut dia tidak tahu nama cewek itu yang dia ingat hanya wajahnya saja.
"tuan mencari mbak Sabrina kan, dia meminta satu ruangan sama ibunya tuan" jelas suster sedikit bingung sama pria didepannya.
"oh iya, kamar tempat ibunya berada dimana sus?"
"dari kamar anda itu silakan belok saja kekiri kamar nomor 207 saya permisi dulu tuan"
"oh iya terima kasih"
Arlan segera berjalan kearah ruangan yang diberi tahu oleh suster, ruangan itu melewati ruangan tempat dirinya dirawat juga.
Lagi Farel hanya berdiri didepan pintu badannya gemetaran, melangkahkan kakinya begitu berat dia paksakan tangannya meraih gagang pintu hendak membukanya.
"sayang" matanya langsung membelalak saat mendengar suara serak seorang wanita tua dibelakang wanita yang selalu menemaninya setiap hari, setiap waktu.
"oma!!" ucap Arlan setelah membalikkan badan menghadap Omanya.
"ini ruangan siapa?" tanya omah heran mengapa cucunya berdiri dikamar yang berbeda.
"Oma aku akan menjelaskannya" Arlan membawa Omanya menuju kamar inapnya sendiri dia mengurungkan niatnya untuk menemui Sabrina.
Sabrina yang sedang duduk didekat ibunya merasa ada yang memperhatikan menoleh kearah pintu.
"mungkin cuma perasaanku saja" gumam Sabrina lirih lalu kembali melihat ibunya.
Dan beralih melihat pergelangan tangannya yang diperban, ada rasa penyesalan dihati Sabrina jika dia tiada ibunya akan bersama siapa? yang merawatnya juga siapa?.
"sepertinya aku harus pergi dari kota ini, disini penuh dengan kenangan pahit" Sabrina berkata lirih menyentuh perban dipergelangan tangannya tekatnya untuk pindah sudah bulat.
Sabrina tidak bisa menceritakan keluh kesahnya terhadap ibunya karena takut mengganggu kesehatan sang ibu juga pada yang lainnya, dia simpan penderitaan itu sendirian hanya air mata yang keluar membuatnya sedikit mengurangi beban dihati.
Dalam fikiran Sabrina hanya tertuju pada dokter Rendra, dia berharap sang dokter mau membantunya.
"dokter Rendra semoga dia bisa membantu" batin Sabrina.
"permisi dok" ucap Sabrina begitu tiba dimulut pintu ruangan dan kebetulan sedang terbuka membuat sang tuan melihat kearah pintu.
"oh Sabrina ada apa? kangen ya baru sedetik ditinggal" dokter membalas dengan godaan.
"dokter pandai bercanda pantes banyak pasien yang suka sama dokter" balas Sabrina tersenyum tipis seolah tanpa beban.
"jelas dong selain tampan aku juga baik hati dan lembut" Sabrina tambah ketawa lepas mendengar dokter Rendra memuji dirinya sendiri.
"kalo begitu dokter yang baik hati sedunia ini sudikah membantu pasiennya"
"ooo ada apa gerangan sepertinya serius sekali"
"cuma sedikit, sebelum itu aku boleh masuk pegel nih berdiri terus" canda Sabrina.
"hahaha masuk saja Rina kaya orang lain saja kamu"
"terima kasih" Sabrina yang berjalan masuk dengan hati yang tidak karuan dan ragu-ragu, dia duduk tepat menghadap dokter Rendra, dia menarik nafas pelan sebelum mengutarakan keinginannya.
Disisi lain Arlan yang berada dikamar inapnya sendiri bersama omanya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya secara rinci, dihadapan sang oma dia tidak bisa berbohong atau menyembunyikan sesuatu.
Sang Oma hanya terdiam mendengar cerita cucunya, dia merasa ada orang dalam yang melakukan hal tidak terhormat sampai menyebabkan korban.
"apa kamu sudah mencari tahu siapa gadis itu" tanya neneknya.
"sudah Oma, apa oma setuju aku menikahinya?" Arlan balik bertanya sama neneknya.
Sang Oma yang tadinya terdiam berlahan tersenyum menyetujui cucunya menikahi gadis yang menjadi korban itu.
"terimakasih oma" ucap Arlan dengan senyum yang dipaksakan dia sangat takut jika Omanya tidak akan setuju jika menikah dengan wanita yang belum tahu statusnya.
"sekarang kamu harus istirahat..." belum selesai Oma melanjutkan perkataannya Arlan sudah memotongnya terlebih dahulu.
"maaf Oma aku sudah tidak apa-apa, hari ini juga aku akan pulang dan berkerja karena aku harus menemukan siapa yang membuatku seperti itu" kata Arlan membuat Oma tersenyum tipis disudut bibirnya.
"terserah kamu saja Oma hanya bisa mendukungmu, Oma pulang dulu"
"ya Oma, terimakasih"
Arlan berjalan ke kamar mandi membersihkan diri, dia tidak perlu membawa apapun karena keperluannya sudah disiapkan oleh asistennya sendiri.
Oma yang berada didalam mobil menghela nafas sejenak lalu mengeluarkan benda pipih gambar apel kroak dibelakang dari dalam tas, tangan Oma langsung menekan nomor yang sudah dihafal diluar kepalanya terakhir menekan panggilan berwarna hijau.
"Selidiki wanita yang ditemui Arlan pada malam itu" titahnya pada seseorang diseberang lalu mematikan telfonnya secara sepihak.
"Semoga dia gadis yang baik" batin Oma.
*****