MY SWEET BEAUTIFUL

MY SWEET BEAUTIFUL
KEANEHAN SABRINA



Saat berbalik badan Farel sedikit tersentak melihat Sabrina duduk anteng tanpa suara bagaikan boneka hidup melihat kearahnya.


"sudah selesai" kata Farel pendek sambil mengambilkan beberapa makanan yang sudah dipanaskan.


"aku tidak selera makan" ucap Sabrina pelan.


"kalo begitu aku suapin, biar bagaimanapun kondisinya kita tidak bisa mengabaikan soal makan, berbahaya, penyakit tumbuh karena kita telat makan"


Sabrina hanya terdiam menyaksikan suaminya yerocos panjang lebar seperti emak-emak memberi nasehat, dia mendengarkan tanpa berkomentar apapun dia juga tidak menghindar saat Farel menyuapinya.


"aku sudah kenyang" Sabrina menahan makanan yang akan masuk ke mulutnya.


"ini baru tiga suap saja" Farel sedikit memaksa.


"cukup, sudah gak muat lagi kalo dipaksa aku akan mual dan muntah" Sabrina berkata sembari menggelengkan kepala mendengar itu Farel bangkit pergi ke kamar mengambil sesuatu.


"ayo kita kerumah sakit sekarang aku ingin tahu kesehatanmu" katanya dengan kawatir.


"aku tidak mau, ini cuma penyakit biasa minum vitamin nanti juga sembuh, daripada begitu katanya ada yang ingin kamu bicarakan"


"itu nanti dulu, kamu kelihatan gak sehat begitu"


Muka Sabrina berubah merah padam dia merasa sudah dibohongin, dan akhirnya dia juga tidak bisa menahan emosinya.


"jadi kamu membohongiku, sebenarnya apa maumu? jangan sok perhatian padaku emang siapa kamu? kamu hanya orang luar yang tiba-tiba memaksaku menikah denganmu"


Farel terdiam mendengar ocehan istrinya dia hanya mampu melihat istrinya menangis karena dirinya, kunci mobil ditangan hanya digenggam begitu erat sampai telapak tangannya memerah dan menyaksikan istrinya pergi kekamarnya denagan emosi.


"memang aku salah tidak bisa berkata jujur sama kamu maafkan aku" gumam lirih Farel melihat pintu kamar yang tertutup lalu mendaratkan bokongnya pelan.


Didalam kamar Sabrina yang kesal, marah dan sakit hati hanya bisa diam membaringkan tubuhnya ditepi kasur hingga terlelap.


Pagi hari sinar mentari mulai menyinari secara berlahan akibat cendela kamar Sabrina yang menghadap ke timur tamparan mentari membuatnya silau berlahan dia mengerjapkan matanya tak terasa hari sudah pagi.


Sabrina melihat kesamping tidak ada siapapun entah kenapa pagi ini dia ingin sekali bertemu suaminya sangat ingin, perasaannya begitu tak menentu saat suaminya jauh terasa kangen, rindu dan ingin bertemu mendera, Sebaliknya jika dekat dia sangat tidak suka dan marah, kesal bercampur emosi.


Dia berjalan keluar kamar menuju dapur hendak mengambil minum, pandangannya tertuju kemeja makan disana sudah tertata rapi masakan bergizi.


Sabrina duduk dimeja makan dibaliknya piring yang tengkurap didepannya dan mulai mengambil sedikit nasi juga lauknya, dan mulailah memasukkan sesuap demi sesuap kemulut dan baru suapan ketiga dia sudah berhenti menutup mulutnya dengan tangan seolah menahan sesuatu yang keluar dari mulutnya dan semua itu diperhatikan oleh seseorang melalui cctv.


"sedikit sekali makannya" gumam orang itu yang tak lain suaminya sendiri Farel.


Farel menyuruh asistennya untuk memasang cctv disetiap sudut rumah agar bisa melihat istrinya, hpnya juga diganti sekarang sudah ada GPS jadi kemanapun Sabrina pergi dia juga pasti tahu.


Contohnya sekarang dia sedang melihat Sabrina berjalan kesebuah restoran tempatnya berkerja ada keinginan untuk melarang Sabrina berkerja akan tetapi dia tidak juga ingin jika sikapnya membuatnya merasa terkekang.


Dia sendiri masih bingung akan sikapnya apakah ini rasa kasian atau sekedar rasa tanggung jawab karena dia pernah berbuat walau sekali, dua rasa itu membelenggu didalam hati juga pikirannya.


Sabrina berjalan lesu kerestouran perasaannya gak mood sejak tadi pagi, dan dia tetap kekeh pada pendiriannya harus tetap berkerja.


"tidak apa-apa hanya kurang tidur saja" jawab Lea memaksakan senyum.


"jangan memaksakan dirimu Rina kamu bisa libur hari ini"


"aku benar-benar tidak apa-apa Lea percaya deh"


"baiklah kalo begitu aku tidak bisa memaksa"


"terimakasih Lea"


"eh siapa yang sakit" sahut seorang pria yang biasa dipanggil bos yang baru datang membuat keduanya menoleh bersamaan kearahnya.


"tidak ada yang sakit mungkin kamu salah dengar bos" Lea segera membalas perkataan bosnya.


"Lea benar kak" sahut Sabrina membenarkan ucapan lea.


"masa, ah mungkin juga ya" kata pria itu sambil berlalu pergi.


Keduanya melihat bos mereka berjalan pergi lalu saling memandang dan tersenyum kecil, Sabrina teringat jika belum tahu nama bosnya itu jadi dia bertanya sama Lea yang terlihat begitu akrab sama bosnya.


"anu Lea sampai sekarang aku belum nama ka eh bos maksudnya" tanya Lia kikuk.


"oh dia, namanya Samnino terserah mau panggi apa mau Sam atau nano nano" jawab Lea memperlihatkan gigi putihnya yang tapi.


"anak-anak gak baik ngomongin orang dibelakang mau numpuk dosa" sibos yang bernama Samnino berteriak begitu melihat kasakusu karyawannya.


"ya" jawab keduanya serempak berjalan kebelakang.


Belum ada lima menit Sam berjalan kebelakang menghampiri keduanya sambil membawa selembar kertas ditangan.


"Lea kamu siapkan pesenan ini ya antar kemeja nomor empat" titah Sam sama Lea selaku karyawan setelah itu kembali ketempat asalnya.


"siap bos" jawab Lea.


"Rina kamu siapkan mininya ya" kata Lea ketemannya.


"ya lea" jawab Sabrina segera membuat minuman yang dipesan.


Lima menit kemudian Lea sudah menyiapkan apa yang dipesan sama pembeli dia menyerahkan sama Sabrina agar membawanya sekalian kedepan karena dia masih membereskan yang lainnya.


"Rina kamu antar pesenan ini ya" ucap Lea.


"baiklah sini" Sabrina mengambil napan ditangan Lea dan segera berjalan kedepan.


Baru beberapa langkah kedepan Sabrina terkejut melihat seorang wanita berdiri dimeja kasir, dia diam mematung melihat wanita itu sedang berbicara dengan centil bersama Sam atau lebih tepatnya menggoda.


*****