MY SWEET BEAUTIFUL

MY SWEET BEAUTIFUL
KESUCIAN YANG TERENGGUT



Hari ini cuaca begitu panas padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam lebih tepatnya jam 11 malam, membuat seorang wanita muda terbangun dari tidurnya karena gerah juga tidak nyaman.


Sebuah kontrakan kecil ditengah kota dengan harga yang terjangkau dikontrak oleh dua wanita beda usia, mereka ibu dan anak yang sudah lama mengontrak disana, lampunya sering mati sehingga membuat AC tidak bisa berfungsi walau begitu mereka selalu bersyukur masih diperbolehkan mengontrak walau sering telat bayar uang sewa.


Wanita muda itu berjalan pelan menuju kearah pintu, tangannya yang kecil juga kurus mengulur kedepan sekaligus meraba-raba mencari gagang pintu, setelah berhasil meraih gagang pintu dia terlihat begitu senang dan segera keluar kamar.


Seperti biasa hari ini mati lampu membuat Sabrina nama wanita muda itu terbangun hendak mencari korek api guna membuat penerangan.


Sabrina Kusuma gadis berusia 24 tahun, gadis biasa yang mungil memiliki tinggi 150cm, memilik gestur tubuh yang bagus karena tingginya itu banyak yang salah paham jika Sabrina masih kecil, berkerja disebuah minimarket dikota bukan hanya kerja di minimarket dia juga kerja serabutan ditempat lain semua itu dia lakukan demi ibunya yang sedang sakit dan dirawat dirumah sakit sekarang.


Setelah keluar kamar Sabrina masih saja kesulitan untuk berjalan karena seluruh ruangan saat ini begitu gelap hanya cahaya lampu diluar yang melewati celah-celah cendela yang masuk sebagai penerangan.


Sabrina berniat mencari hp yang berada diruang tamu saat ini, hanya hp itu yang menjadi tujuannya karena benda pipih itu memiliki senter.


"aku taruh mana ya kenapa begitu susah yarinya sih" gerutu Sabrina tangannya terus bergerak meraba laci juga lainnya berharap segera menemukan hpnya.


Disela dia mencari benda pipih itu terlihat siluit bayangan seseorang didinding, membuat Sabrina gemetar ketakutan ini pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini.


"siappukh" belum sempat Sabrina bersuara sebuah tangan besar berotot membekap mulutnya membuat punggungnya menempel kedada orang itu.


Dalam ketakutan Sabrina bisa merasakan badan kekar dan berotot orang itu, gemetar dan ketakutan tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang keringat dingin mulai keluar dari sela-sela rambut halus didahi.


Orang itu menaruh jari telunjuknya dibibir mengisyaratkan untuk diam.


"ssssssst" badan Sabrina begitu kaku tidak mampu menuruti keinginannya kini dia hanya bisa pasrah.


"tenanglah sedikit dan menjauh dari ruang tamu" terdengar lagi suara bariton dan serak pria itu.


Pria itu memakai kemeja yang lusuh berpadu dengan celana panjang chinos warna navy yang sedikit robek, walau begitu tidak memudarkan nilai yang mahal dari dua barang tersebut.


Rambut yang berantakan juga badan yang kotor tidak memudarkan ketampanan dan kegagahan pria itu, pria setinggi 187 cm bak model profesional yang memiliki tinggi diatas rata-rata, kulit putihnya yang menggoda kaum hawa yang melihatnya semua itu tidak bisa dilihat oleh Sabrina karena tempat mereka begitu gelap saat ini.


Diluar terdengar suara langkah kaki dari beberapa orang, bagi Sabrina ini adalah kesempatannya untuk meminta pertolongan dia segera melepaskan tangan pria itu yang masih menempel dimulutnya saat lengah.


"****" umpatnya


Sabrina ingin berteriak sekali lagi pria itu sudah membekapnya terlebih dulu membawanya kedalam.


Walau sekuat tenaga dia memberontak semua itu sia-sia karena dia hanya seorang wanita apalagi dalam kondisi belum makan seharian ini membuat badannya tidak bertenaga.


Disaat yang sama pria itu mulai tidak bisa mengontrol dirinya, rasa panas yang teramat mulai menjalar keseluruh tubuh rasa yang begitu aneh, hawa tubuh yang begitu gerah tapi enak dan nyaman saat bersentuhan terhadap lawan jenisnya.


Seolah tuli suara Sabrina yang memberontak tidak didengarnya, pria itu membalikkan badan Sabrina menghadap kedirinya secara kasar dengan rakusnya dia menikmati bibir mungil itu.


Sejurus kemudian tidak ada sehelai kain pun yang melekat ditubuh Sabrina, sedangkan dibawah kesadarannya pria itu memaksakan kehendaknya pada Sabrina.


"kumohon jangan lakukan, tidak hentikan" suara itu berulang kali keluar dari mulutnya yang kecil tapi suara mengiba itu tidak menghentikan aktivitas pria itu hingga mengoyak sesuatu yang berharga dibawah sana.


"aaakkh sakit, sakit sekali hentikan" teriak Sabrina diiringi air mata yang mengalir deras membentuk sungai kecil diatas pelipis tak didengarnya, tak ketinggalan kedua tangannya terus mendorong dada pria itu memukul sekaligus mecakarnya.


Karena Sabrina terus memberontak pria itu menggenggam erat kedua pergelangan tangan Sabrina, sementara pinggulnya terus bergerak dengan luwes berirama bersama ******* juga tangisan silih berganti sesekali menikmati dua gundukan yang berada dibawahnya.


Pasrah!! mungkin itu yang ada pada Sabrina saat ini, dia hanya mampu merelakan harta berharga yang dijaganya rapat-rapat hilang begitu saja ditangan seorang pria yang tidak dikenal. Sungguh sakit kesuciannya direnggut paksa nan kasar oleh orang yang sama sekali tak dikenal, sampai pada akhirnya dia pingsan berharap ini semua hanyalah mimpi.


Klap....


Lampu menyala membuat semuanya terlihat begitu jelas, didalam pengaruh sebuah obat pria itu masih belum berhenti, ini sudah ketiga kalinya dia melakukan pelepasan walau cuma sedikit tapi masih belum bisa menghentikan dirinya untuk bercinta.


"****, aaaaaaaaakh" teriak pria itu frustasi.


"gila, obat apa yang mereka berikan" teriak pria itu dalam hati namun juga menikmati.


Bersambung