MY SWEET BEAUTIFUL

MY SWEET BEAUTIFUL
BUNUH DIRI



Tiga jam berlalu berlahan reaksi obat yang diterimanya mulai memudar dan hilang, pria itu jatuh disamping Sabrina dengan nafas yang masih memburu, setelah menghela nafas panjang dan mulai teratur pria itu melihat kesamping.


Sabrina yang masih pingsan terlihat sedang tertidur lelap, wajahnya yang tenang terlihat cantik walau tanpa makeup, seorang wanita yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban pelampiasan oleh pria asing.


Berlahan tangan pria itu menyikap rambut yang menutupi wajah Sabrina rasa bersalah menyelimuti hati juga pikirannya, buliran bening tiba-tiba lewat diatas pipi pria itu, dia tidak akan bisa melupakan kejadian ini sampai kapanpun, Wajah itu akan selalu ada dibenaknya sampai kapanpun.


"badannya sangat kurus juga pucat apakah dia sakit" gumam pria itu lirih setelah itu dia pergi kekamar mandi.


Kontrakan itu memiliki satu kamar mandi dibelakang dekat dapur sebelum itu tentunya pria itu harus mencarinya terlebih dahulu dan sebelum itu dia mengambil pakaian Sabrina yang berserakan dilantai hendak dipakaikan.


Sekali lagi pria itu dibuat terkejut karena dikarpet bulu tempat Sabrina pingsan terdapat bercak darah, dia sangat tahu itu darah apa apalagi dia melakukan dengan kasar, melihat itu dia sudah tak sanggup lagi menyentuh tubuh Sabrina dan hanya menyelimutinya saja dengan badan yang gemetar.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu diketuk dari luar dan badannya langsung membeku seketika dia takut jika tetangga yang mengetuk pintu, tapi semua itu hilang seketika saat suara seorang pria mulai terdengar.


"tuan muda, tuan muda apakah anda didalam" ucap pria yang berada diluar.


Tanpa bersuara pria itu berjalan keluar dia melupakan niatnya kekamar mandi, meninggalkan sesuatu pada seorang wanita asing yang baru saja ditemui.


"selidiki penghuni rumah ini secara rinci aku ingin besok sudah ada diatas meja" ucapnya sambil berjalan menuju mobil.


"baik tuan muda, sekarang kita mau kemana tuan muda?"


"apartemen, jika ada yang nyari bilang saja tidak ingin diganggu dulu"


"baik tuan muda"


"satu lagi aku ingin kamu melakukan ini untukku"


"siap tuan muda, saya akan melakukan sesuai perintah anda"


"kasian tuan muda, baru saja dia dijebak oleh seseorang dipesta ulang tahun perusahaan agar kedudukannya hancur karena skandal, untungnya tuan muda berhasil kabur saat dibawa kehotel, tapi tuan muda nampak baik-baik saja hanya pakaiannya yang terlihat berantakan" batin pria yang menjemputnya.


Sesampainya diapartemen pria itu langsung menuju kamar mandi mengguyur badannya dibawah air shower, bayangan wajah Sabrina yang memohon belas kasih terlintas dipikirannya, Isak tangisnya juga kesakitan saat dia memasukkan miliknya secara kasar masih terdengar jelas ditelinga.


Segera dia mematikan kran air lalu memakai handuk dipinggang dan berjalan keluar, hp diatas nakas berbunyi pria itu hanya diam mengabaikan sampai panggilan ketiga baru dia mengangkatnya.


"sayang ini oma, kenapa lama sekali mengangkat telfon dari oma" terdengar suara serak seorang wanita tua diseberang.


"maaf Oma Arlan sangat capek dan mengantuk" jawab Arlan lembut terhadap wanita yang dipanggil Oma.


"baiklah, besok Oma yang menemuimu atau kamu yang menemui Oma"


"mm aku saja yang menemui Oma, sudah ya Oma Arlan mau lanjut tidur dulu"


"iya sayang, semoga mimpi indah"


"heemm" Arlan cuma berdehem lalu meletakkan hpnya diatas nakas kembali.


Arlan Van Heaven putra tunggal seorang pengusaha terkemuka, kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat saat liburan keluar negri, salah satu pilotnya sengaja menabrakkan pesawat kearah gunung karena bertengkar dengan sang kekasih.


Arlan waktu itu masih duduk di bangku delapan dia menyaksikan kedua orang tuanya dikebumikan dengan isak tangis yang tidak bisa dibendung, perusahaan dipegang sang paman sampai Arlan menyelesaikan S3 nya.


Sejak orang tua Arlan meninggal dia hidup berdua bersama sang nenek saja dirumah besar, sang neneklah yang berperan aktif dalam mendidik cucu semata wayangnya agar tidak salah jalan.


bertahun-tahun berlalu perusahaan sudah ditangan Arlan dan berkembang pesat, dia menjadi CEO yang tegas, dan dingin jika berada dikursi kebesarannya.


Walau begitu ada saja orang yang iri dengan apa yang diraih Arlan dan berniat menjatuhkannya, saat ulang tahun perusahaan minuman Arlan diberi obat dosis tinggi oleh seseorang dan membawanya kehotel, Arlan mengetahui rencana itu dan kabur dari hotel sebelum seseorang datang tapi sayangnya dia sudah meminum habis apa yang diberikannya hingga musibah itu terjadi.


Mengingat itu Arlan tidak bisa tidur dengan tenang, dia sedang berada dibalkon sekarang melihat pemandangan malam yang menakjubkan, namun semua tidak dia nikmati pikirannya terpaut terhadap kejadian yang baru dia lakukan.


Sementara orang yang dipikirkan kini seperti orang gila meratapi nasibnya yang malang, dia menangis histeris menjambak rambut juga memukul mukul dadanya, dan tubuhnya cuma berbalut selimut tanpa ada pakaian lainnya.


Sabrina berdiri dari tempatnya hanya berbalut selimut tatapannya kosong, dia melangkah berlahan menuju arah dapur diambilnya salah satu pisau dari dalam laci, dibawah kesadarannya dia menggoreskan pisau kepergelangan tangannya.


Seketika darah segar mengalir dari pergelangan tangannya, dia menatapnya dengan datar tanpa exspresi apapun melupakan ibunya yang terbaring lemah dirumah sakit secara berlahan mata itu mulai tertutup.


Masih berharap jika semua kejadian yang dialaminya hanyalah mimpi, berharap cepat bangun seperti biasanya beraktivitas seperti biasanya.


Bersambung