
"Apa!! Nanti malam, apa aku tidak salah dengar Rina" dokter tampan Rendra begitu terkejut dengan permintaan Sabrina didepannyan yang mendadak.
"Disini penuh kenangan pahit aku ingin membuka lembaran baru dokter pasti mengerti, hanya dokter Rendra yang bisa membantu" Sabrina mengatupkan kedua tangannya didepan seraya memohon.
"Tunggulah ibumu siuman dulu Rin, tinggallah dirumahku jika perlu terlebih lagi pikirkan lagi keinginanmu itu" Sabrina menggeleng kuat dia kekeh dengan tujuannya sekarang dia tidak mau mengulur waktu lagi.
"Aku tidak akan pernah lupa kebaikan dokter dan aku akan mengganti apa yang kupinjam dari dokter, kali ini saja bantu aku, kemana lagi aku harus minta bantuan selain pada dokter Rendra" Sabrina mengiba berharap dokter Rendra mau membantu dan tidak mengulur waktu.
Melihat raut wajah Sabrina yang sedih mengiba juga pucat apalagi kehilangan banyak darah hati sang dokter tergerak untuk menolongnya, dia menghela nafas kasar dari mulut.
Memang selama ini hanya dokter Rendra yang mau membantu Sabrina dia teringat disaat genting dalam keadaan hujan lebat Sabrina pergi kerumah sakit tanpa membawa apapun karena lupa, yang dipikirkannya ketika itu hanyalah ibunya yang kecelakaan ketika dipasar, bahkan ketika tiba sang ibu masih belum ditangani karena belum ada uang pendaftaran atau bisa dibilang uang muka begitu syok Sabrina kala itu.
Ibu Sabrina sedang koma dirumah sakit akibat mengalami kecelakaan, saat pulang dari belanja dipasar dia melihat anak kecil yang lepas dari pengawasan ibunya, anak itu berjalan kejalan raya tanpa pikir panjang ibu Sabrina berlari kearah anak itu, disaat bersamaan ada pengendara sepeda motor yang melaju dengan kencang, ibu Sabrina berhasil mendorong anak kecil itu keseberang sementara dirinya terlempar beberapa meter, kepala sang ibu membentur aspal cukup keras dan tak sadarkan diri.
Walau pemotor sudah dipenjara tapi ibu Sabrina harus menjalani perawatan intensif dan terbaring lemah dirumah sakit.
Saat tahu ibunya mengalami kecelakaan dia sangat syok seakan tidak ada lagi sandaran agar dirinya tetap kuat menjalani hidup karena sang ibulah satu-satunya kekuatan baginya.
Sabrina sudah memohon pada semua dokter tapi jawabannya semua sama harus mematuhi peraturan rumah sakit, saat Sabrina menangis dalam keputus asaan saat itulah dokter Rendra mengulurkan tangannya, dialah yang menangani ibu Sabrina hingga sekarang.
"Baiklah" mendengar itu Sabrina sangat lega hal itu tak luput dari pandangan dokter Rendra.
"Ibumu akan tetap berada dirumah sakit, aku akan bilang sama temenku memberikan satu suster khusus untuk ibumu" jelas sang dokter.
"Terimakasih dok terimakasih" air mata Sabrina mengalir tanpa disuruh dia ingin memeluk dokter Rendra tuk mengutarakan rasa terimakasih tapi semua itu dia urungkan karena dia bukan siapa siapa sang dokter, dia hanyalah pasien yang paling beruntung mendapat bantuan dari dokter Rendra.
"SELAMAT TINGGAL MASA LALU, SELAMAT DATANG LEMBARAN BARU"
Tidak menunggu waktu lama seperti yang dikatakan Sabrina dokter Rendra akan membantu Sabrina meninggalkan negara ini.
Dokter Rendra dia anak orang kaya bisa dibilang dia anak konglomerat, tapi identitasnya itu tidak diketahui siapapun karena itu akan semakin ribet untuk kesehariannya, pikirannya.
Seorang dokter muda dengan prestasi yang cermelang diusianya yang masih 29 tahun, tampan dan tinggi idaman para wanita apalagi orangnya begitu bersahaja, rendah diri suka membantu orang tanpa membedakan latar belakang orang itu.
"Terimakasih banyak dokter aku tidak akan melupakan kebaikan dokter, aku janji akan mengganti apa yang sudah selama ini aku pinjam dari dokter" ucap Sabrina sebelum lepas landas.
"Tidak perlu asal kamu tidak melupakan aku saja itu sudah cukup" balas dokter Rendra tersenyum kecil.
"Tentu bye dok sampai ketemu lagi"
"Hmm sampai ketemu lagi, kalian akan mendarat langsung diatap rumah sakit milik temanku dia sudah menunggu mungkin namanya dokter Rico" jelas dokter Rendra.
"Ya, sekali lagi terima kasih"
Jetpri pun akhirnya lepas landas dengan membawa harapan baru bagi Sabrina dia sudah merencanakan segela sesuatunya begitu ditempat tujuannya nanti, segudang harapan bahkan jika dirinya hamil nanti dia harus siap segalanya.
"semoga kamu meraih apa yang kamu inginkan juga kebahagiaanmu" batin dokter Rendra menatap kelangit sampai pesawat menghilang dibalik awan gelap.
Bertepatan dengan itu Arlan juga mendapat kabar tentang Sabrina dari Romi asistennya.
"Apa maksudmu!!?" Teriak Arlan tidak percaya sama apa yang didengarnya barusan.
"Iya tuan, nona Sabrina meninggalkan rumah sakit tadi malam keluar negeri menjalani pengobatan ibunya disana" sekretaris Arlan menjelaskan lagi apa yang dikatakannya.
"Cari tahu dia kenegara mana, aku mau secepatnya" titah Arlan dia tidak mau kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya sekarang.
"Baik tuan" sekretaris itu segera pergi dari ruangan presdir meraih hp disaku celana menelfon seseorang.
Padahal Arlan sudah membuat rencana untuk mendekati Sabrina, dia tidak ingin Sabrina terkejut jika tiba-tiba dia langsung melamarnya begitu saja tanpa sebab.
Namun semua sia-sia belaka karena sabrina sudah lebih dulu pergi dari negara ini, maka dia harus mencari Sabrina dan memikirkan lagi apa yang akan dia lakukan.
Arlan bersandar kebelakang wajahnya melihat keatas, frustasi kehilangan sesuatu yang ada pada dirinya saat ini.
Bersambung....