
Shelly mengusap kepalanya, rasa bola basket masih terasa.
"Sakit banget sialan, Wira kampret."
Ia sudah berada didepan kost, ia membuka gerbang dan memasukkan sepeda motornya. Parkiran anak kost masih sepi, berarti belum pada pulang dari kampus. Shelly naik, ditangga lantai dua ia bertemu dengan temannya sekampus yang sepertinya hendak keluar.
"Put, mau keluar?"
"Iya, mau nitip?"
"Arah mana?"
"Mirota, mau groceries. Nitip gak sekalian?"
"Nah, nitip ya nanti gue chat apa aja. Cuma dua kok, norek biasa apa gopay?"
"Gopay. Gue jalan dulu deh, bye."
"Oke, take care ya."
Putri turun, sedangkan Shelly kembali naik. Lantai 3 benar-benar sepi dan tiap kamar masih gelap. Shelly membuka kamarnya dan menekan saklar, lampu kamarnya hidup. Ia mengeluarkan semua bawaannya dan menatanya dengan rapi. Kebiasaan sejak dulu, setiap habis pergi dia selalu meletakkan semua barang pada tempatnya. Supaya ia gampang mencarinya saat terburu-buru. Lalu dia duduk sebentar, hanya diam dan menghela nafasnya berkali-kali.
Ia menengok jam digitalnya, pukul 7 malam. Sebenarnya ia pulang duluan tadi, karena latihan basket dengan teman-temannya bisa sampai jam 10 malam. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin pulang lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, entah apa itu juga ia bingung. Lalu terdengar langkah kaki dari arah luar, lalu Ninda muncul dengan wajah lusuhnya. Sepertinya dia juga baru pulang kuliah, gadis itu punya banyak tugas.
"Shel, pinjem laptop. Lo tahu, laptop gue jatuh dan sekarang lagi ditempat servis." Ujarnya dengan melas.
"Kesian banget, tuh bawa."
"Gue pinjem disini aja, gue agak kagok pake MacBook biasa pake Asus." Shelly tertawa, padahal sama saja, emang agak bingung kalau awal-awal memakainya.
"Kok gue rasanya khawatir tapi gak tahu yang dikhawatirkan apa ya Nin?"
"Gelisah gitu?" Sania mengangguk, benar ia gelisah.
"Lo tadi habis ngapain?"
"Basket."
"Sebelumnya?"
"Kuliah kayak biasanya. Gue hari ini agak ngerasa capek sama gelisah gitu."
"Jangan bikin panik napa dah." Shelly menggeleng, mungkin hanya perasaannya saja. Shelly kemudian berdiri mengambil handuknya.
"Gue mandi dulu."
"Sama." Keduanya keluar, Shelly menuju kamar mandi sedangkan Ninda ke kamarnya dulu baru menyusul ke kamar mandi. Shelly berpikir lagi, apa karena Regan belum memberi kabar sejak kemarin jadi ia merasa aneh? Namun bukan seperti ini rasanya.
Setelah mandi Shelly hanya duduk sambil main ponsel, mengirimkan pesan ke Regan juga tentunya. Sedangkan Ninda sudah rebahan diatas karpet dan mengerjakan tugasnya, gadis itu beberapa kali juga mengumpat. Itu bukan pemandangan yang asing lagi, biasanya memang seperti itu. Beberapa detik kemudian panggilan masuk dari Elang, ini kenapa tiba-tiba Elang menghubungi dirinya?
"Halo kak."
"Shell, sorry banget kalau gue ganggu."
"Nope, kenapa kak?"
"Regan, Shell."
"Kenapa?"
"Ilang."
"HAH?"
"Regan ilang, tadi waktu selesai pada penyuluhan kesehatan Regan pamit buat cari apa gitu ke belakang. Lha kok gak balik sampai sekarang, dari jam 12 siang, ponselnya juga gak dibawa."
Shelly ingat kalau belakang rumah yang digunakan Regan KKN adalah hutan. Tapi apa mungkin Regan hilang padahal lelaki itu tidak bingung arah sama sekali disana?
"Shell?"
"Pantesan kak gue kok ngerasa gelisah gitu, bener-bener gak ada tanda-tanda dia balik gitu?"
"Kak, tolong cari sampai ketemu ya. Kalau sampai besok pagi dia belum ketemu, gue susul kesana."
"Eh?"
"Tolong ya kak, terus kabari gue selama pencarian. Tolong banget cari Regan sampai ketemu, aku..." Shelly tidak bisa menahan tangisnya, rasanya dada sudah sesak sampai tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi.
"Aku gak tahu harus apa kalau dia gak ada."
Elang yang ada disana hanya terpaku diam, mendengar suara getir adik tingkatnya ini. Apalagi mendengar Shelly menangis sesenggukan disana. Ia menatap hutan gelap didepannya, sahabatnya hilang sejak siang sampai sekarang. "Gue janji Shell, bawa Regan pulang dengan selamat tanpa kurang."
Elang mematikan panggilan, tidak kuat mendengar kekasih sahabatnya menangis.
"Mas Elang, kita panggil SAR saja ya? Warga juga lumayan khawatir kalau masuk lebih dalam ke hutan." Saran kepala dusun.
"Belum ada tanda-tanda ya pak?"
"Belum mas."
"Kalau aliran sungai terdekat dimana pak?"
"Agak jauh dari sini mas, sekitar 2 km dari sini. Tapi medannya agak serem, licin sama bebatuan."
"Ya udah pak, kita minta bantuan tim SAR saja." Tidak ada jalan lain, sekalipun Regan hanya tersesat tapi tersesat dihutan lebat bukanlah hal sepele. Banyak bahaya yang mengintai, jadi Elang sebagai sahabat akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menemukan Regan.
Setelah menunggu beberapa jam, tim SAR datang. Mereka mulai berdiskusi mengenai kemungkinan Regan masuk ke hutan ini. Elang yang tidak dipamiti oleh Regan hanya mendengarkan, sedang Dewi adalah orang yang melihat Regan terakhir kali. Menurut kesaksian Dewi, Regan pamit ke belakang untuk mencari kayu bakar yang berserakan dibelakang rumah. Tapi sampai sejam Regan tidak kembali, setelah dilihat Regan sudah menghilang tanpa jejak.
"Malam ini kita pencarian radius 3 km saja ya mas, gerimis juga soalnya. Kalau besok kita bisa cari sampai ke tengah hutan, pakai drone dan anjing pelacak juga."
"Baik pak, tolong dibantu ya."
SAR mulai membagi pasukannya untuk masuk hutan, membawa berbagai peralatan yang membantu. Anak-anak KKN yang lelaki juga ikut mencari, mereka menunda beberapa kegiatan untuk fokus mencari Regan.
Kembali ke Shelly, gadis itu menangis tanpa henti sampai wajahnya merah padam. Sudah hampir 3 jam gadis ini menangis. Ninda yang bingung hanya bisa mengusap punggung dan memeluk sahabatnya itu.
"Nin, Regan nin."
"Iya, gue paham Shell."
"Gue gimana kalau gak ada dia, Nin?"
"Sssttt pasti ketemu kok. Besok kesana ya, gue temenin." Shelly lama kelamaan lemas, sepertinya gadis itu lelah karena menangis. Lalu nafasnya mulai teratur, gadis itu tidur. Ninda menidurkan Shelly pelan-pelan. Miris sekali melihat sahabatnya ini. Lalu Ninda keluar, bertepatan dengan Tara dan Nara yang baru pulang.
"Baru balik lu berdua?"
"Kenapa?"
"Temen lu nangis 3 jam."
"HAH?"
"Regan dinyatakan hilang dari siang, sekarang lagi dicari sama kak Elang dan tim SAR juga udah mulai masuk hutan."
"HAH?"
"Lu berdua hah hoh doang, sekarang cepet pesen tiket kereta. Besok pagi kita berangkat, kalau gak bisa gue sama Shelly yang kesana."
"BISA!" Nara dan Tara langsung mencari tiket kereta dengan keberangkatan paling pagi sehingga tiba disana siang hari. Untung saja jatah bolos masih utuh belum terpakai bulan ini.
'tolong Shell, aku sendiri dan takut'
"REGAN!" Tiba-tiba Shelly berteriak dari kamar, ketiganya langsung bergegas menuju kamar Shelly. Mereka melihat Shelly yang terduduk dengan wajah seperti orang kaget, sepertinya gadis itu memimpikan Regan.
"Kenapa Shell?"
"Regan sendirian dihutan Nin, dia bilang 'tolong Shel, aku sendiri dan takut'. Gue takut Nin kalau Regan kenapa-kenapa disana."
Ketiganya saling pandang, baru kali ini melihat Shelly sangat sangat sangat kacau dan seperti orang setres.