My Senior My husband

My Senior My husband
24. Tentang [ beruntung] 2



"Kamu tadi kok berani sama bude Murni?" Tanya Wikan pada menantunya.


"Salah ya pa?"


"Enggak sih, soalnya dari semuanya pada gak berani. Awalnya papa malah takut kamu jadi trauma atau gimana, ternyata salah."


"Aku cukup ekspresif kalau marah, gampang kepancing emosinya." Wikan mengangguk, lalu paruh baya itu menceritakan tentang kakak iparnya tersebut. Shelly mendengarkan dengan cukup seksama, yang sebenarnya dia tidak mau tahu juga.


"Bude Murni mau Regan sama anaknya berjodoh, dulu banget tapi papa gak setuju."


"Wait, kok bisa begitu?"


"Sebenarnya Lodya itu anak kandung bude Murni, tapi anak tirinya om Ervin. Ya gampangnya itu pas om Ervin nikah sama janda anak satu, sebenarnya kami sekeluarga gak setuju. Tapi kembali lagi kepada keputusan beliau."


"Kenapa gitu gak disetujui?"


"Regan yang gak mau, mana bisa papa maksa. Toh papa emang enggak setuju, Lodya itu bukan tandingan Regan. Kamu yang setahun udah nikah sama dia pasti tahu gimana sikap Regan."


"Yang bagian mana nih?"


"Regan itu minim ekspresi sejak kejadian itu Shel, dia cenderung jadi introvert. Dulu Regan suka banget main, sampai lupa waktu juga sering. Mulai itu, dia kalau udah bilang enggak ya enggak." Shelly sebenarnya agak ragu, kalaupun iya pasti dia menemukan ciri seperti yang disebutkan Wikan.


"Tapi nih ya Shell, sebelumnya papa mau minta maaf. Sebenarnya kamu bukan kandidat pertama calon isteri Regan." Shelly diam, masih mencerna perkataan papanya. 5 detik kemudian dia sadar, dia tertawa sumbang. Gila pikirnya.


"Nope pa, terus kenapa kok akhirnya sama aku? Kemana nomer 1, 2, dan seterusnya itu?"


"Ketolak semua."


"Hah?"


"Mama juga heran sih Shell, dia habis ketemu kamu bilang mau." Sahut Ratih yang membawa teh hangat untuk menemani mereka ngobrol malam ini. Shelly kan jadi makin bingung sekarang.


"Waktu kalian ketemu pertama ingat? Kamu yang telat karena habis main, dan lupa ada acara makan malam sama kita." Shelly haha hehe saja mengingat kebodohannya waktu itu.


Saat itu ia sedang main ditempat Wira, dan lupa kalau memiliki janji dengan Wikan, Ratih, juga Regan. Ia jujur saja kalau lupa, mana telatnya sampai satu jam.


"Malu banget sih pa, aku telat sejam, muka kucel, kena gerimis, apes ban bocor, rasanya mau menguap aja kemarin tuh."


"Mama kaget Shel, dia langsung iya ke kamu. Kita tanya sampai sepuluh kali ya pa?"


"Takutnya Regan cuma capek karena sering papa jodohin. Lalu papa coba sekali lagi, dan jawaban Regan waktu itu..."


.-


"Gimana Gan?"


"Bukannya aku udah iya sama yang kemarin? Kenapa kita masih ketemu sama orang lain?" Tanya Regan, lelaki itu benar-benar bingung dengan sang papa.


"Ya siapa tahu kamu berubah pikiran. Papa takut kamu cuma capek."


"Emang capek pa, kalian gak ada habisnya buat jodohin Regan ke perempuan-perempuan kemarin. Buat apa sih? Regan masih bisa jaga diri, mereka belum tentu terima masa lalu Regan."


"Gan, kami mau kamu dapat yang terbaik."


"Regan masih kuliah, belum punya kerjaan, masih terus belajar. Apa bisa Regan jadi kepala rumah tangga?" Regan merasa, ia bahkan belum pantas untuk melakukan hal ini, apalagi menjadi suami orang.


"Gan."


"Papa coba tanyain ke Shelly, apa dia mau? Bahkan kalau Regan iya, dia belum tentu mau menerima masa lalu Regan."


.-


"Mama papa pernah bilang kalau dia punya aib, tapi menurutku itu bukan aib. Mas Regan cuma butuh waktu untuk sembuh, aku juga bukan semata-mata kasihan sama dia. Tujuanku satu, mau Regan kembali seperti dulu. Aku mau dia ingat kalau waktu sembuh aku yang jadi obatnya." Shelly tersenyum, walaupun memang sulit menerima masa lalu Regan. Namun ia mencoba melihat dari sisi lain, ia melihat sisi jika ia berada diposisi lelaki itu.


"Lalu?"


"Waktu itu ayah pernah bilang, kalau beliau sudah tidak muda. Beliau ingin anaknya yang masih labil ini dijaga lelaki yang lebih kuat. Aku juga nolak awalnya, tapi aku gak tahu usia ayah sampai berapa lama. Aku mau menikah dengan wali ayah dalam keadaan sehat, dan aku pikir menikah muda gak ada salahnya."


"Usia emang gak ada yang tahu ya Shell, kamu contoh anak baik."


"Tunggu pa, aku pernah ke Malang sebelum pernikahan itu terlaksana. Sampai ayah bilang aku kabur."


"Hah?"


"H-5 kalau gak salah, aku ke Surabaya. Bukan sepenuhnya kabur sih, aku ada acara disana ditanggal segitu. Tapi yang awalnya cuma 1 hari, aku ulur sampai 4 hari. Ayah ngira aku kabur, padahal aku cuma butuh waktu sendiri buat ikhlas lahir batin."


"Terus?"


"Tapi aku iyain aja biar keliatan dramatis gitu hehe." Shelly nyengir tidak berdosa, membuat Wikan dan Ratih menepuk jidat masing-masing. Ternyata Shelly kelakuannya bisa diluar nalar.


"Buset Shell."


"Yang apes lagi ma, kenapa kalian gak kasih tahu aku kalau mas itu ketua BEM-FT? Aku tuh sampai mengangga pas tahu dia gubernur fakultas, langsung ciut nyali ku."


"Regan yang mau kok."


"Pra-ospek aku sebel banget. Kayak disambar petir gledek, dia memperkenalkan diri sebagai gubernur FT. Harusnya dia bilang biar aku gak shock banget, akibat kurang komunikasi ya seperti itu."


"Mama kira kamu tahu Shell, soalnya dari semua cewek yang dikenalin ke Regan pada tahu."


"Aish ma, boro-boro deh."


"Gimana rasanya jadi isteri Regan selama ini?"


"Pertanyaan papa gak pernah ganti." Shelly berdecak, harus berapa kali dia bilang ke Wikan soal ini.


"Papa kepo, hidup sama kanebo kering kayak dia gimana. Soalnya dirumah dia cuma dikamar, keluar pas makan doang."


"Seru sih pa, mas Regan tuh kayak gak pernah lihat orang dengan sifat seperti aku di orang lain. Kalau kata orang jawa 'gumunan'. Kalau tidur pa, bah udah kayak jarum jam. Kadang aku tuh kena geplak tangan dia, pengen misuh-misuh tapi kok sama suami sendiri."


"Seru dong, olahraga malem gak?" Tanya Ratih iseng.


"Mama ah, belum pernah aku tuh. Pernikahannya aja masih rahasia, aku masih takut hehe." Ratih tertawa dengan kencang, wajah menantunya itu memerah karena pertanyaan berusan.


"Gak masalah Shel, Regan udah papa wanti buat gak hamilin kamu haha."


"Ya gusti papa mah! Astaghfirullah malu banget."


"Lagian Shel, Regan udah punya janji sama ayah kamu." Shelly balik bertanya tentang janji yang dimaksud Wikan. Namun dia tidak menyebutkan apa, Shelly malah diminta untuk bertanya sendiri ke ayahnya atau ke Regan langsung.


"Perjalanan kamu masih panjang, kamu bisa lepas rahasia ini pas kamu mau skripsi. Kayak mama dulu, kita dulu backstreet tau dari temen-temen, pas udah serius baru kita terbuka. Memang Shel, itu banyak tantangannya tapi menurut kami dibalik itu semua bisa melatih mental kita untuk siap, jadi gak selamanya hubungan backstreet itu buruk."


"Pantesan mama setuju aja pas itu."


"Mama juga ngerasain kali, papa mu ini yang selalu ngotot mau publish hubungan."


"Sama, anaknya juga gitu ma." Ratih dan Shelly tertawa sedangkan tersangka yang dibicarakan hanya tersenyum seperti logo kumon.


Mungkin Shelly adalah satu yang beruntung diantara banyak pernikahan dini, memiliki orang tua yang support, suami yang mendukung setiap apapun yang dilakukan, teman-teman yang asik walaupun mereka semua belum tahu. Shelly bersyukur, walaupun dia tidak pernah beruntung dalam percintaan selama itu, setidaknya sekarang ada yang mencintainya sepenuh hati seperti Regan.