My Senior My husband

My Senior My husband
20. KKN



  Rabu, hari ini pelepasan mahasiswa KKN periode 2 dikampus. Regan adalah salah satu pesertanya, bersama teman-teman yang lain ia sudah bersiap untuk upacara pelepasan KKN. Kali ini ia akan pergi ke Majalengka, mengabdi selama 50 hari disebuah desa disana. Bersama tim satu unitnya berisikan 30 orang, unit Regan adalah pengusul jadi semuanya sudah saling mengenal dan mempersiapkan diri dengan baik sebelum keberangkatan ini. Namun sampai sekarang Regan juga belum bertemu dengan Shelly, ada sedikit rasa kecewa terhadap isterinya itu. Ia juga enggan menghubungi gadis itu, bahkan untuk keberangkatannya KKN. Gadis itu pasti tahu, karena terakhir ia melihat Shelly sedang ngobrol dengan Leon. Secara tidak langsung pasti Leon menyebut dirinya sebagai tameng atau klarifikasi tentang berita yang santer di Fakultas Teknik.


  "Ngelamun bae pak!"


  "Apa?"


  "Buset, judes amat. Ini lagi mens apa gimana deh?" Regan memutar bola matanya malas, Fadila kalau ditanggap pasti jadi. Jadi reog misalnya, kan Fadila titisan barongsai juga.


  "Enggak!"


  "Kangen ayang ya? Masih atau udah putus?"


  "Mulut lo Fad."


  "Bercanda paktu."


  "Anak-anak udah pada dateng belum?"


  "Udah, lagi pada ngobrol didepan Fisip bentar lagi juga kesini. Pak Kormanit jangan galau ya, prokernya bubar ntar yang ada."


  "Enggak, seburuk apapun mood gue proker ya profesional."


  "Bah mantap betul, gue kesana dulu ya wak mau ngobrol sama Syukur."


  Mata Regan menelusuri sekitar Balairung yang sudah ramai mahasiswa KKN, sampai matanya menangkap perempuan yang sedang berdiri menatapnya. Gadis itu menjinjing paperbag dan sekarang berjalan menuju Regan. Lelaki itu juga selangkah demi selangkah maju, hingga keduanya saling berhadapan hanya berjarak 2 langkah saja.


  "Hai mas."


  "Hai. Kamu dari tadi?"


  "Iya, ngelihat kamu yang sibuk dari tadi komat kamit sama telepon sana sini." Gadis itu tertawa, Regan memang sejak tadi seperti yang ia ucapkan barusan.


  "Ada apa?"


  "Perpisahan 50 hari mas, kamu ke Majalengka bukan cuma di Pogung." Shelly mengansurkan paperbag yang ia bawa kepada Regan.


  "Deker tangan, kaos kaki, hoodie, sunscreen, sama sepatu."


  "Hah?"


  "Kamu pasti butuh semua ini disana, aku tahu kamu cuma bawa dua sepatu, dua kaos kaki, sama satu jaket kesayangan kamu itu. Kamu juga ogah bawa sunscreen, padahal disana pasti banyak kegiatan luar ruangan, deker biar pulang-pulang kamu enggak belang."


  "50 hari kedepan pasti lebih berat, lebih jauh dari kamu."


  "Kan ada telepon mas, bisa video call, atau mau pap setiap hari?" Shelly tertawa, penawaran yang sangat bagus untuk Regan.


  "Pasti. Asal kamu enggak menghindar dari aku lagi."


  "Enggak, aku tunggu kamu pulang kok. Janji gak cinlok ya!"


  "Mana bisa cinlok kalau cuma kamu yang sudah memenuhi hati aku, apapun situasinya kamu tetap urutan pertama dalam hidupku."


  Gila nih suami, romantis banget - Gadis itu berteriak dalam hati. Muka Regan boleh judes, tapi mulutnya sangat manis.


  "Selamat mengemban tugas selama 50 hari ya mas, jangan lupa ibadah, dan bersyukur. Aku nunggu kamu pulang... dirumah kita." Ujarnya pelan saat di kalimat terakhir. Membuat Regan mengulas senyum yang cukup lebar, kelopak mata serta pupilnya membesar.


  "Makasih, aku pasti gak lupa sama ibadah dan rasa syukur kepada Allah."


  "Yee ini berdua malah pacaran, ayo Gan masuk udah mau mulai." Fadila datang, Shelly tertawa melihat katingnya itu mulai jahil.


  "Jagain mas ya kak Fad, kalau aneh-aneh langsung pukul aja palanya."


  "Ini kormanit kalau slegek juga gue pukul kepalanya sampek amnesia. Kita duluan ya Shell, have every nice day selama kita KKN."


  "You too kak, have a great moment selama KKN ya. See you!" Fadila dan Shelly berpelukan, sudah selayaknya bestie membuat Regan merasa aneh.


  "Aku juga dong!"


  "Dih, iri." Shelly beralih memeluk Regan, lelaki itu memeluknya erat. Sepertinya Regan sangat berat meninggalkan Shelly disini, akan jauh dari sang isteri.


  Regan dan Fadila pergi, masuk ke Balairung untuk melakukan upacara pelepasan KKN. Sedangkan Shelly juga pergi darisana, ia masih ada janji setelah ini. Perasaannya kini sedikit lega, melihat reaksi Regan yang masih terlihat biasa saja. Ia sedikit bersyukur lelaki itu tidak menghindari dirinya. Mulai kemarin setelah perdebatan dengan Fadila ia memutuskan untuk kembali memperjuangkan hubungannya dengan Regan. Karena ketika sebuah janji ia pegang, maka ia tidak boleh lepas ataupun berkhianat.


  "Terus mobil juga ditinggal gitu dirumah? Lah 50 hari nganggrok ya mulai jompo dong. Kira-kira kuncinya dibawa apa ditaruh rumah ya?"


  Setelah selesai urusannya nanti, Shelly hendak pulang kerumahnya dan Regan. Ia belum tahu kondisi rumah tersebut setelah hampir 2 bulan tidak menginjakkan kaki disana. Ia juga akan lebih banyak menghabiskan waktu di sana nanti, apalagi ini menuju liburan semester genap. Kemungkinan juga ia akan terbang ke Bogor untuk mengunjungi mertuanya alias papa dan mama Regan, kalau sempat.


  Pukul 5 sore, Shelly sudah sampai di rumahnya dan Regan. Membuka garasi terlebih dahulu, karena ia jarang sekali masuk lewat pintu depan. Ia memasukkan motornya disamping motor milik Regan. Baru ia masuk dan memeriksa kondisi rumah ini.


  "Bersih. Sejelek apapun mood Regan, pasti dia gak betah sama kondisi ruangan kotor. Exclude penampilan dia sendiri kemarin."


  Shelly mengecek dapur, memeriksa bahan makanan yang tersisa. Kulkas kosong, hanya berisi beberapa botol air mineral dan telur 3 butir. Kabinet berisi mie juga hanya berkurang sedikit, berarti Regan lebih sering makan diluar atau memesan makanan, itu bagus. Taman samping dapur juga terlihat segar dan sehat. Air galon habis, pasti Regan malas membeli galon isi ulang yang baru. Tapi kabinet bawah berisi ciki sudah ludes habis tanpa sisa, padahal terakhir kabinet ini penuh. Maklum juga sih udah 2 bulan ia tidak kemari.


  Lalu Shelly berlari menuju lantai dua, kamar tamu bersih, kamarnya dan Regan juga bersih. Shelly menarik laci bawah televisi, disana Regan meletakkan kunci mobil dan motor. Kali ini ia akan belanja cukup banyak, sehingga perlu mobil untuk membawa belanjaan. Turun kebawah, Shelly mengambil beberapa tas belanja dan menuju garasi. Mengeluarkan mobil dan segera pergi menuju supermarket terdekat dari sini. Walaupun Shelly pergi dari rumah, Regan tidak pernah stop uang jajan dan uang bulanan, makannya ia akan membelanjakan uang tersebut untuk kebutuhan rumah tangga.


  Kalau ditanya Regan dapat uang tersebut darimana, Shelly juga hanya tahu kalau itu dari papa dan mamanya. Setiap bulannya lelaki itu mendapatkan jatah yang besar dari orangtuanya. Pokoknya selama Regan kuliah dan belum memiliki pekerjaan, orang tua Regan yang menghidupi mereka berdua. Sebenarnya kurang efektif, karena mereka sudah menikah tapi masih mengandalkan hidup dari orang tua. Tapi balik lagi, acara perjodohan ini adalah ide para orang tua. Sudah tahu anaknya masih kecil-kecil, dipaksa menikah. Apalagi orang tua Regan, membiayai anaknya kuliah dengan UKT golongan 7, membiayai kebutuhan bulanan anaknya sekaligus mantunya yang masih berada dikasta paling bawah sebagai mahasiswa baru setahun kuliah.


  Papa Regan adalah seorang kepala badan laboratorium daerah Bogor, sedang mamanya mantan pramugari yang sudah pensiun dini sejak memiliki Regan dan sekarang membuka layanan travel. Shelly juga bingung, kenapa ayahnya bisa memiliki teman dari kalangan atas, pejabat daerah.


  Saat berhenti diperempatan lampu merah, tiba-tiba saja muncul ide.


...Mama mertua...


^^^Ma^^^


^^^Kalau aku ke Bogor gimana ya?^^^


^^^Mas kan lagi KKN^^^


^^^Aku liburrr agak lama^^^


Wah boleh banget 😍😍


nanti mama pesankan tiket kesini


Kamu atur aja jadwal kosongnya kapan


^^^Aku mau pake bis sama kereta aja ma^^^


^^^Kayak solo traveling gituuu^^^


Oke sayang, nanti mama urus


Mama khususkan perjalanan kereta sama bis ke Bogor


^^^Makasih banyak maa🥺^^^


^^^Aku kangen banget udah setengah tahun engga ke Bogor^^^


^^^Mama sehat 'kan?^^^


Sehat dongg 🥰🥰


Kamu sehat kan?


Regan pasti sibuk


^^^Aku sehat ma^^^


^^^Aku mau belanja dulu ya ma^^^


^^^Beberapa kebutuhan rumah udah habis^^^


Iya


Selamat belanja ya mantu mama 😍


  Typing khas ibu-ibu, tapi membuat gadis itu merasa sangat senang karena selalu diperhatikan oleh sang mertuanya. Mama mertuanya memang sangat baik, memiliki hati yang lembut, bahkan dari ucapannya saja sudah terlihat hangat. Kalau papa mertuanya agak judes tapi tetap perhatian, katanya sih dari dulu begitu. Peka, mirip dengan Regan.