My Senior My husband

My Senior My husband
27. Banyak Ceritanya



"Sorry gue lupa banget karena udah dua tahun yang lalu, btw kebetulan banget kita satu kereta." Ujar Shelly, mungkin karena dua tahun lalu jadi ia tidak begitu ingat. Walaupun Arif ini dulu kategori gebetan tapi kayak cuma sementara aja, lihat suka lupa.


"Gak kerasa udah semester 5 aja sih emang."


"Ah aku baru dapet 2 semester kok, aku gap setahun. Kamu kuliah dimana?"


"Bogor, ini mau pulang kampung. Kamu dari Bogor juga kuliah disini?" Shelly menggeleng.


"Ditempat kita ujian dulu, cuma aku di Teksip sekarang. Ke Bogor karena ada acara keluarga."


"Sendirian?" Shelly mengangguk, Arif kemudian berpamitan kembali ke kursinya. Shelly menghela nafasnya panjang, ia kalau ingat Arif juga ingat pernah kirim menfess. Dia pernah mengirim semacam hal-hal menarik waktu UTBK berlangsung. Dan damn, Shelly menulis salam kenal dan berharap bertemu dengan orang itu yang tidak lain adalah Arif. Doanya terkabul, bertemu 2 tahun setelahnya.


Ya walaupun cuma ingat tapi kan ia juga malu, kok bisa Arif ingat dirinya ya? Apa Arif melihat menfess tersebut dan mengenali wajahnya? Berarti sudah 2 tahun lelaki itu mengingat wajahnya, wah menarik. Masa menarik waktu itu, ia UTBK sesi dua hari pertama. Yang dimana siangnya sudah banyak soal bocor di Twitter. Ya Shelly enggak terpengaruh sih sama soal tersebut, ia ingin jujur. Namun walaupun begitu ia tetap tidak lolos SBMPTN. Ia diterima jalur lain, seperti ujian mandiri di salah satu kampus negeri di Malang. Dengan jurusan Teknik Lingkungan, namun ia harus mengubur impian itu karena tidak mendapatkan ijin orang tua untuk merantau ke Malang.


Satu tahun ia lewati dengan belajar, main, nongkrong, dan menjadi pengangguran dirumah. Ia kembali mengikuti UTBK, walaupun agak pasrah karena memilih jurusan Teknik Sipil di dua kampus yang berbeda. Dewi Fortuna memiliki kisah unik untuk Shelly yakni lolos di Semarang. Tapi ayahnya tetap meminta Shelly untuk ujian mandiri di kampus paling merakyat di Jogja. Plot twist dia keterima disana, dan jadi galau untuk memilih salah satu kampus.


Lalu musibah datang, dia dikenalkan dengan Regan dan katanya akan dijodohkan. Waktu itu Shelly cukup setres mengingat kalau masih 19 tahun dan masih bocil juga baru mau memulai kuliah tahun pertama.


Namun ada beberapa alasan ia memilih Jogja masih sebagai tempatnya menimba ilmu sampai sekarang. Pertama, kampusnya nomer 2 di Indonesia, kedua lebih dekat dari orang tua, ketiga jurusan tersebut sangat ketat untuk bisa masuk, keempat karena Regan. Alasan 1,2,3 masih masuk akal, namun alasan terakhir adalah yang paling gila menurutnya.


Berkisah dari cerita ayahnya dulu mengenai kondisi Regan, ia jadi sedikit simpatik terhadap lelaki itu. Regan juga terlihat pendiam, Shelly jadi sedikit tertantang dengan watak Regan sekilas. Regan cukup menghargai dirinya dengan tidak menolak. Walaupun ia bisa menolak perjodohan ini, tapi itu tidak ia lakukan. Ia awalnya sangat sangat tidak setuju, karena berfikir kalau itu hal sia-sia. Namun sisi lain ia sedikit kasihan melihat Regan yang harus merantau jauh dari Bogor ke Jogja hanya untuk pergi dari lingkungan yang cukup membuat lelaki itu setres.


Yang pada akhirnya gadis itu setuju, hanya dengan satu syarat saja. Merahasiakan pernikahan ini sampai dirinya lulus, tidak ada pesta pernikahan, tidak ada keluarga yang hadir, dan tidak ada teman yang tahu. Ditutup rapar kalau memang pernikahan ini berlangsung dan berlanjut tanpa ada perceraian. Semua orang setuju termasuk Regan, yang membuat Shelly sedikit gila harus mengorbankan masa mudanya.


Ia masih ingin mengejar gelar sarjana, memiliki teman, tidak berurusan dengan rumah tangga, dan ingin mengejar cita-citanya. Ia tidak menyesali keputusan ini, karena menyesal juga sudah terjadi. Yang bisa ia lakukan hanya mempertahankan rumah tangganya sekarang. Perlahan ia mulai menerima Regan dihidupnya, menerima keberadaan lelaki itu. Menghilangkan pikiran jelek terhadap pernikahan dini yang ia jalani.


Ia menerima Regan yang kadang menyebalkan, lelaki sering kentut sembarangan. Cowok ganteng itu aibnya tidak kasat mata, tapi kasat hidung. Regan yang penuh sabar menghadapi isteri labil semacam dirinya. Yang harus selalu mengalah apapun demi isteri, ya sampai sekarang sepertinya lebih banyak Regan yang berkorban.


Shelly sebenarnya mulai menyukai Regan, ia merasa jantungnya berdebar kencang ketika bersentuhan dengan lelaki itu. Atau ia bisa salah tingkah karena sikap hangat lelaki itu. Pipinya yang merah hanya karena ditatap, atau jantung yang tidak sangat santai saat tidur. Kadang Regan memeluk dia saat tidur, dan rasanya itu nyaman. Dia jadi rindu suaminya itu, kira-kira sedang aap Regan di tempat KKN nya?


Shelly menghubungi Regan, sekali tidak terangkat. Gadis itu memutuskan untuk tidak menghubungi kembali, karena yakin kalau Regan sedang sibuk. Beberapa menit kemudian, panggilan dari Regan muncul. Bergegas gadis itu mengangkat video call dari sang suami.


"Hai."


"Hai, kamu dimana?" Tanya Shelly dengan semangat.


"Maaf ya tadi enggak ke angkat, aku lagi mandi. Habis acara tanam pohon sama pak Kades, kamu udah sampai mana?"


"Baru dikereta, habis makan."


"Good, jangan telat makan ya. Seru banget ya di Bogor?"


"Banget mas, mau kesana lagi kalau libur."


"Dijemput ayangmbeb Anara tercinta hehe. Dia nawarin ya aku iyain lah, mayan tebengan gratis dibayar Mixue."


"Haha nanti diajak makan dulu si Nara, Mixue doang kembung."


"Iya iya, mas, kamu seneng gak?"


"Seneng."


"Seneng apa hayo?"


"Seneng bisa video call sama kamu."


"Ish bisa aja haha."


"Selain itu aku juga seneng punya kamu."


Dahlah, Shelly mau menghilang aja sekarang. Regan bisa membuatnya salting parah sekarang. Lalu terdengar beberapa teriakan dari sana, ia menduga kalau Regan sedang bersama teman-temannya.


"BUCIN! PAK KORMANIT BUCIN! IYA KITA NGONTRAK!"


Shelly rasanya mau ketawa ngakak tapi masih sadar kalau berada dalam kereta, takut menganggu penumpang lainnya.


"Ye sewot lu! Gak usah didengerin mereka emang gitu."


"Gak apa-apa, udah gak heran sih kalau mereka ledekin pak Kormanit bucin haha. Emang bucin poll ke aku haha."


"Kamu bisa aja."


Percakapan mereka berlanjut hingga satu jam, sampai Shelly dan Regan hanya saling diam karena teman Regan sedang membahas sesuatu. Shelly memandang layar iPad nya yang jelas ada wajah ganteng sang suami. Gift tuhan paling indah kayaknya si Regan deh.


"Mas, aku udahin ya. Ngantuk mau bobok dulu, sampai Jogja masih 4 jam lagi soalnya."


"Iya, selamat istirahat beb."


"You too mas, dadah, assalamualaikum."


Panggilan terputus, BEB adalah panggilan Regan kalau spontan ke gadis itu. Dari sekian banyak panggilan sayang, Regan memilih beb untuk Shelly. Gadis itu sih gak masalah, walaupun Regan suka menambahkan -ek dibelakang. Jadi kadang lelaki itu memanggil dirinya bebek.


Walaupun kesialan harus bertemu dengan Arif, tapi ia jadi bisa mengingat kembali bagaimana dia sulitnya ujian masuk kampus, perjalanan panjang ia dan Regan bisa bersama sampai sekarang. Ternyata hampir setahun ia menyokong rumah tangga ini, walaupun sempat kerikil menghantam tapi sekarang ia mulai membiarkan kerikil itu menyakiti dirinya. Semoga ada banyak jalan kedepannya, dan keberuntungan masih berpihak padanya.