
Ini hari ke-5 ia KKN, mereka disambut sangat baik oleh para warga. Apalagi program kerja mereka yang sangat dinantikan warga. Sebagai kormanit Regan juga akan memastikan program mereka bermanfaat jangka panjang untuk warga disini.
"Aku kemarin bilang mama, mau ke Bogor. Tapi belum nemu hari yang pas buat kesana."
"Tiba-tiba?"
"Iya. Aku libur, kamu KKN, aku ngapain coba disini? Dirumah ayah juga enggak ngapa-ngapain. Udah bilang ayah juga sih kalau mau ke Bogor."
"Yakin?" Membiarkan gadis itu berangkat sendiri ke Bogor juga ide buruk.
"Yakin, mama excited banget. Aku dikasih pilihan rute Bogor banyak banget masa. Mana kelas eksekutif semua lagi, padahal aku kelas ekonomi juga udah cukup."
"Pesawat 'kan?"
"No, aku mau naik bis sama kereta."
"Nanti kamu capek. Lagian tiket pesawat sekarang murah kok. Pesawat aja yang gampang, kamu lupa pas kita enggak dapat tiket pesawat dan harus naik kereta? Kamu aja capek terus."
"Aku kangen pas itu mas, lagian takut jetlag juga naik pesawat. Kek pas kemaren pulangnya, malah aku ngambruk."
"Serius mau naik kereta?"
"Iya."
"Ya udah, kalau udah nemu harinya kasih tahu aku."
"Iya mas."
"Tapi mending kamu berangkat pagi sampai sana malam, istirahat baru paginya aktifitas. Pasti mama sama papa ngajak kamu keliling Bogor."
"Enggak sabar banget mau kesana, mau bantu mama ngurus kebun belakang rumah. Selama ini aku cuma dipamerin doang." Regan tertawa, kebiasaan mamanya selama ini selalu mengirimkan foto kebun belakang rumah yang banyak ditanam sayur juga buah. Cuaca Bogor yang masih asri membuat sayur dan buah mudah tumbuh disana.
"Papa punya banyak koleksi skulen, kamu pasti pengen bungkus bawa pulang."
"Masa aku juga dipamerin papa skulen, curang banget aku disini kalau punya pasti selalu wassalam."
"Mama papa emang tukang pamer ke anaknya."
"Senang deh mas, mama papa excited nunggu aku ke Bogor. Kan aku bilangnya siang, malemnya kami video call, ngobrol-ngobrol rencana ngapain aja di Bogor. Mau ngenalin aku ke saudara yang disana, kan pas kemaren kesana kita cuma takziah abah terus pulang."
"Iya, besok kalau ada omongan yang enggak enak jangan dibawa hati ya."
"Santuy, aku udah jago sunda."
"Iya, kamu privat sama aku 4 bulan."
"Hehe. Kamu lagi dimana?"
"Diteras, yang lain santai telepon pacarnya. Aku juga enggak mau kalah."
"Heleh, udah makan?"
"Udah. Tadi bu kades ngasih nasi kotak, sisa dari rapat ibu-ibu PKK."
"Alhamdulillah rejeki, besok ngapain kegiatannya?"
"Besok ada penyuluhan bank sampah, didaerah ini masih banyak banget pembuangan sampah dilahan kosong. Nanti juga ada sosialisasi pembuatan pupuk kompos, disini lahannya luas tapi kurang subur. Pupuk lagi naik, dan kebetulan lagi disini banyak warga yang pelihara sapi sama kambing. Anak-anak Faperta langsung semangat mau nerapin ilmu."
"Wah seru ya mas KKN."
"Ya seru-seru-enggak."
"Semangat terus mas, udah malam aku tutup ya video call nya. Aku mau nugas pra-UAS yang belum selesai."
"Jangan capek-capek ya. Mas tutup, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Semangat tuh udah baikan sama ayang, jadi senyam senyum mulu." Ujar Elang yang lewat dari depan masuk ke rumah pondokan. Regan berdecak, padahal dia sendiri juga senyam-senyum karena sehabis video call dengan Nara.
"Ngaca!"
"Ngegas amat. Gimana?" Fadila muncul, gadis itu terlihat lusuh. Sepertinya tadi ketiduran lalu sekarang bangun karena anak-anak pada rame diluar.
"Apanya?"
"Lo kira Shelly nitip lo ke gue karena apa? Karena adek yang khawatir kakaknya kesurupan karena hobi diem? Kagak cuy, takut lo cinlok ******!"
"Oh. Lo kaget?"
"Si bagong pake nanya segala, jantungan gue Gan. Enggak expect sejauh itu, anjir."
"Gue tahu lo amanah Fad, makasih ya."
"Sama-sama, tapi beban gue nambah satu. Jagain laki orang dari cabe-cabean yang lagi pada maskeran manja didalem."
"Gue juga enggak berminat buat selingkuh kok Fad, dia aja udah cukup. Alasan dia marah dua bulan lebih kan juga karena hubungan yang jauh dari ekspektasi orang-orang. Lo pasti paham."
"Hebat sih, setahun. Dijagain tuh cewek, baik, sopan, santun, asik, cekiber, bah lengkap. Sekarang gue tahu kenapa Wira susah move on."
"Kenapa?"
"Gak ada cewek baik, pengertian, apapun oke kayak Shelly. Walaupun agak egois ya masalah hubungan kalian, tapi ya wajar kalau ini ide sesepuh. Angkat tangan gue bro."
"Tapi untuk ide ini gak buruk Fad, gue jatuh cinta beneran sama dia. Gue gak bisa jauh ataupun marah sama dia." Regan nyengir kuda, Fadila menggerutu mengumpat melihat wajah polos tersebut.
"Bah iya, ke kita-kita ngamuknya enggak kira-kira. Kena getah pahit!"
"Enggak kok, gue ngamuk kan ada sebabnya karena lo pada lalai."
"Lo serem banget tau gak? Kormanit paling horor dikelompok kita."
"Kayak enggak tahu gue aja." Regan menaikkan kakinya ke kursi dan melihat sekitar pondokan. Rumah sementara in sudah terlihat sangat baik dibandingkan sebelum mereka kemari. Bukannya tidak pernah terpakai, hanya saja memang rumah ini ada didekat kebun yang cukup intens masalah debu.
"Lo dulu kok mau sih?"
"Apanya?"
"Sama dia."
"Gak tahu juga."
"Lahh?!"
"Terjadi gitu aja Fad, gue ketemu dia cuma 2 kali habis itu resmi. Kita masih LDR beda rumah, masih saling mengenal, ternyata gue yang jatuh cinta duluan."
"Indah banget, terus duit hidup kalian?"
"Dari bokap, selama gue kuliah dan belum punya kerja beliau yang nanggung." Fadila jadi iri dengan Shelly yang memiliki hidup hampir sempurna walaupun bencana alias Regan si manusia super duper horor datang ke hidup gadis itu.
"Besok siapa yang logistik ke kota?"
"Lo lah! Besok kan prokernya anak Faperta."
"Sama lo kan?"
"Iyalah, gue kan harus stand by 24/7 selama 50 hari. Kalau bukan karena dia, males gue sama lo."
"Gitu amat dah."
"Ssstttt! Berisik!" Fadila memberikan ponselnya pada Regan. Gadis itu memperlihatkan banyak pesan dari Shelly. Regan tertawa kecil membacanya, ternyata isterinya itu selalu bawel ke Fadila. Padahal Fadila termasuk orang yang cuek dan malas mencampur urusan orang lain.
"Thank you ya Fad, lo udah mau jadi temen dia. Kalau dia jahat tolong maafin, kalau dia terlalu polos maklumin. Mentalnya masih bocah."
"Iya, lo kan pedofil."
"Lah?"
"Bercanda Gan, bercanda."
"Laper lagi Fad, jajan yuk. Gue bayarin sebagai tanda terima kasih banyak atas jasanya." Fadila ngeri, jarang banget Regan ngomong begini. Tapi rejeki gak boleh ditolak jadi ya...
"Gas lah pak kor, perut gue masih muat banyak!"