My Senior My husband

My Senior My husband
25. Part 1



"Paktu, gue kok kangen pacar ya?"


"Sama." Fadila menengok ke Regan, lelaki itu juga hanya diam sejak setelah selesai sosialisasi di balai desa tadi.


"Telepon kali paktu, gengsi amat."


"Udah malem, takut ganggu jam istirahat dia."


"Bah sok romantis sekali anda ini, btw nih Gan. Selama ini kalian kan backstreet ya, selain gue sebagai temen lo, ada yang tau lagi gak?" Regan menggeleng, seingatnya tidak ada yang tahu selain Fadila dilingkup temannya.


"Bahkan cees dia aja gak ada yang tahu, Fad."


"Kok isok? Padahal bestie banget mereka."


"Ya keputusan dia, gue gak bisa ganggu gugat. Lagian perjanjian itu ada sebelum kita resmi, sebelum gue suka sama dia. Lah gue juga cuma iya iya aja biar cepet kelar."


"Sia bego banget sumpah."


"Iya gue bego, bego elu tapi Fad." Fadila menonyor kepala Regan, sang ketua emang suka ceplas-ceplos. Kemudian mereka membahas mengenai capres BEM, sebentar lagi akan dilakukan pemilihan tersebut. Regan sudah bulat maju untuk periode berikutnya, bersama dengan Bastian dari prodi Psikologi mereka maju mencalonkan.


Regan sudah meminta restu semua orang termasuk Shelly, gadis itu sangat mendukung suaminya untuk naik menjadi presiden BEM-U. Walaupun sebenarnya Regan tahu, Shelly semakin takut kalau identitas ini ter-ekspose.


"Sebenarnya gue takut Fad."


"Kenapa gitu?"


"Takut hubungan ini kebongkar. Walaupun lambat laun pasti ada yang tahu."


"Ya biarin aja sih paktu, toh lo halal gak karena accident. Tuhan tahu mana yang baik dan enggak buat umatnya, gue juga pengen tau nikah muda. Tapi gue kasihan Azka yang harus menanggung beban hidup sebesar gue ini."


"Lo kan kaya."


"Kaya monyet."


"Tajir."


"Bokap gue yang tajir, anaknya mah beban. Azka masih punya adek 2 lagi. Pasti bokap gak setuju, jadi gue harus nunggu salah satu adiknya lulus kuliah dulu."


"Sabar Fad, nikah itu gak seenak yang lo bayangin."


"Ya gue bayangin yang enak-enak, makan sepiring berdua misalnya, gak usah jorok lo!"


"Dih lo sendiri yang bilang, sendiri yang klarifikasi." Fadila nyengir kuda, ya mohon maaf dia emang kadang suka kepikiran hal seperti itu.


"Lo enggak kangen Bogor, Gong?" Tanya Fadila, sebenarnya ini pertanyaan yang sangat sering gadis itu lontarkan tapi tidak pernah dijawab oleh Regan.


"Enggak."


"Lo tuh aneh tau gak? Yang lain tuh suka banget pulkam, nah lo lebih seneng disini. Sampai orang tua lo yang nyamperin kesini."


"Gak kangen aja Fad, gue gak suka disana."


"Kenapa sih Gan?"


"Gue bakal kasih tahu lo, mau lo bersikap bagaimana juga itu hak lo. Tapi jangan benci gue atau jauhin gue Fad, lo udah kayak kakak gue sendiri soalnya."


"Iye Gong, janji deh."


.-


*4 tahun yang lalu...


Regan masih kelas 2 SMA, waktu dimana masa-masa sekolah paling banyak tercipta dengan baik disana. Regan yang memiliki banyak teman, pergaulan yang luas, sangat humble, dan cerdas. Sebagai anak yang dibanggakan disekolah, tentunya ia banyak mendapatkan perhatian dari guru-guru dan murid lainnya. Paras yang tampan, membuat dia menjadi idola di SMA.


"Gan, ngopi yuk."


"Kemana?"


"Gudang aja."


"Gas, gue ke kantin dulu beli makan, laper."


"Oke, gue tunggu di gudang."


*Regan menuju kantin sekolah, membeli makan siang dan beberapa snack untuk teman ngopi walaupun dia enggak ngopi, hanya menemani temannya. Regan adalah seorang yang sangat ramah terhadap orang, dirinya memiliki banyak teman disekolah. Murid kesayangan guru, wali kelas, sampai kepala sekolah. Otak cemerlang yang membuat dirinya selalu berada di nomer 1 disekolah.


"Mau gak Gan?"


Christian mengulurkan sebuah botol minum dengan sedotan aneh kepada Regan. Regan menggeleng, kadang temannya emang suka aneh. Namun Regan tidak menaruh curiga walaupun seperti pernah melihat benda tersebut.


"Enak Gan, pasti ketagihan."


"Kayak sabu aja ketagihan."


"Haha mirip emang." Regan tertawa, lontaran guyon yang diberikan Christian sedikit membuat dirinya bingung. Apa maksudnya?


Setelah selesai ngopi mereka kembali ke kelas, belajar seperti biasa dan pulang ke rumah masing-masing. Seusai pulang dari sekolah, Regan langsung tidur karena lelah, cuaca Bogor sedang panas terik tanpa ampun. Beberapa jam setelah Regan tidur ia terbangun, lebih tepatnya dibangunkan oleh sang mama.


"Gan, bangun."


"Em, kenapa sih ma? Regan ngantuk, capek, mau tidur dulu."


"Ada polisi."


"Hm?"


"Ada polisi nyariin kamu."


Nampak wajah Ratih ketakutan, membuat Regan segera bangun dan turun menuju ruang tamu. Disana sudah ada banyak polisi, dan juga tetangganya yang berkerumun. Ia yang bangun tidur rasanya masih bingung melihat halaman rumahnya yang penuh dengan orang.


"Selamat siang saudara Regan, saya kemari membawa surat penangkapan saudara atas kasus narkoba saudara Christian Adibyo. Karena terduga pelaku mengaku dekat dan sering mengkonsumsi jenis narkoba sabu bersama anda."


"Hah? Saya konsumsi narkoba?"


"Jadi saudara bisa ikut saya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan cek kepenggunaan narkoba."


"Saya gak pakai pak, saya emang temennya Christian tapi saya gak tahu kalau dia pemakai." Tanpa babibu lagi Regan diseret dan dibawa pihak kepolisian menuju polsek terdekat. Ratih hanya menangis melihat anaknya dibawa polisi, sedangkan tetangga yang melihat kejadian itu hanya berbisik dan melayangkan tatapan sinis pada Regan.


Regan dinyatakan tidak bersalah ataupun terlihat dalam kasus tersebut, namun ia mendapatkan sanksi sosial atas pertemanan dirinya dengan Christian.


Sejak kejadian itu Regan tidak pernah menampakkan diri dilingkungan rumah, ia memilih pergi meninggalkan Bogor untuk kembali membangun rasa percaya diri dan mencari rumah barunya di Jogja.


.-


"Gue emang gak dinyatakan sebagai tersangka Fad, cuma gue udah dicap jelek karena berteman sama pemakai narkoba. Gue mengurung diri, gue gak mau keluar rumah selain sekolah. Makannya gue merantau kuliah ke Jogja, sengaja."


"Lo beneran gak tahu kalau si temen lo itu pemakai?" Regan menggeleng, kalau ia tahu pasti sudah ia larang Christian untuk berhenti memakai narkoba. Ya bagaimana juga lelaki itu adalah sahabat dia dari kecil.


"Kok bisa ya lo jadi kambing hitam begitu? Jahat banget sumpah Gan."


"Takdir Fad, gak ada yang tahu. Dan selama gue disini, bisa dihitung berapa kali bokap mau jodohin gue sama anak temen-temennya."


"Jadi dia bukan satu-satunya tapi salah satunya?" Regan mengangguk, pernyataan itu benar. Papanya mungkin sudah gila melihat Regan yang berbanding terbalik dengan yang dulu. Walaupun Regan tidak pernah menyakiti diri sendiri, tapi orangtuanya selalu khawatir mengenai kehidupan dikampus sekarang. Takut orang-orang menjauh dari dirinya atau memberikan pengaruh buruk.


"Dia juga mau menikah sama gue berawal dari kasihan mungkin." Regan tertawa sumbang, ia jadi teringat dengan jurnal yang diberikan Shelly untuk dirinya waktu itu. Walaupun secara tidak langsung, namun gadis itu mengatakan bahwa dia mau menerima perjodohannya karena kasihan dengan hidup Regan.


"Lo kecewa Gan?"


"Pasti, padahal gue selalu mengharapkan cinta tulus karena hal yang gue lakukan bukan dari belas kasihan."


"Gan, gue ikutan sedih."


"Lebay lo, gue aja gak sedih. Gue malah berterimakasih kepada isteri gue, karena berangkat dari kasihan gue bisa merasakan hidup yang lebih baik dengan ketulusan dia membantu gue untuk sembuh dari trauma." Regan tersenyum, isterinya dan seluruh kebaikan yang dilakukan. Selalu menempati posisi teratas dalam hidupnya.


"Sampai lo jatuh cinta sama dia?"


"Bahkan gue cuma butuh 8 detik untuk jatuh cinta, lo percaya gak statement itu?"


"Dih mana bisa?"


"Bagi gue cukup ingat senyuman paling tulusnya, gue berdebar Fad."


"Arkhh gue iri, gue bilang! Kenapa ada kisah uwu kayak kalian sih? Gue tuh berasa ngontrak tau gak?!" Regan tertawa, temannya ini memang kadang lebay menanggapi beberapa hal. Namun Regan sudah sangat menganggap Fadila adalah kakaknya.


"Itu baru sepenggal cerita Fad, lo kalau dengerin semuanya pasti langsung minta Azka lamar lo."


"******, lo keterlaluan memberi spoiler pernikahan anying!"