
Tara sedang duduk dikantin fakultasnya, sedang menunggu jam matkul berikutnya. Walaupun masih sedikit lama, dia juga sudah habis seporsi soto mie, satu es teh manis, dan air mineral separuh. Walaupun ceking dia memiliki porsi makan yang sangat banyak, perutnya melar lebar. Hari kamis kampusnya senggang, bukan hari-hari sibuk seperti kampus sebelah. Tara bertukar kabar dengan Geka, gadis itu kini sedang dalam masa pendekatan dengan cowok teknik sipil tersebut. Entah kedekatan keduanya terjadi secara alami begitu saja, lama kelamaan chat mereka intens. Geka juga sering mengajak Tara pergi sekedar makan atau mencari sesuatu.
Tidak bohong juga kalau Tara tertarik dengan cowok manis itu, walaupun Geka agak cuek. Sebelum ini Tara menyukai teman seprodinya, namun lama kelamaan ia jenuh kalau harus cinta sendiri dan berjuang sendiri. Kalau kata Shelly mending lihat yang pasti, karena cinta bisa datang kapan saja dan dimana saja.
"Ta."
"Hah?"
Gadis itu mendongakkan kepalanya, didepannya Geka sudah berdiri. Lelaki itu tersenyum dan duduk, Geka membawa sebatang coklat lalu memberikannya kepada Tara. "Dalam rangka?"
"Lo lagi mens kan? Biar mood bagus."
Tara kadang kaget, dia yang gak pernah diperlakukan begini soalnya. Dan Geka dengan mudahnya mendapatkan atensi Tara dengan hal seperti ini. Gadis itu menerima coklat tersebut lalu memakannya, moodnya memang sedang tidak bagus sekarang. "Thanks ya Ge."
"Sama-sama."
"Masih satu matkul kan?"
"Heem, setengah jam lagi. Lo kok tahu gue lagi mens? Dikasih tahu Shelly?"
"Iya, katanya semalem lo nangis karena kram perut. Gue pengen ke kost tapi gue sadar sih bapak kost lo galak banget." Tara terkekeh, bapak kostnya memang galak.
"Thanks ya Ge."
"Sama-sama, lo gak nanya gitu kenapa gue sampai sini?"
"Ogah, yang pasti salah satu alasannya gue. Lagian lo niat amat kesini, padahal enggak usah. Bisa text gue biar ketemu dimana gitu."
"Cowok harus ada effort dong Ta." Tara mengangguk, yang tadinya moodnya jelek mendadak sedikit baik.
"Ta, kelar matkul terkahir jam berapa?"
"Empat sore."
"Kalau habis itu jalan mau gak? Gue puasa nih, mau nyari buka puasa." Pinta Geka, Tara mengerutkan dahinya. Ternyata yang dibilang Shelly benar, hari ini kamis dan Geka sedang puasa. Tara awalnya cuma ragu kalau lelaki bersampul cowok urakan ini selalu puasa di Senin dan kamis.
"Boleh, kebetulan gue gak bawa motor." Tadi badannya lemas, hasil dia membonceng Nara ke kampus walaupun Nara memiliki jadwal lebih pagi daripada Tara.
"Kalau gitu gue tunggu disini aja ya?"
"Lo gak ada matkul lagi emangnya? Biasanya sibuk bener hari kamis."
"Dosen bilang ganti hari, Shelly juga udah balik kok tadi sama Wahyu. Katanya mereka mau basket sama Alva dan Wira."
"Lo enggak ikut?" Geka menggeleng, mana mungkin ia ikut kalau sedang berada disini bersama Tara. Walaupun tadi sempat kena omel Shelly karena nyelonong pergi karena seharusnya lelaki itu ikut bermain basket.
"Ya udah, lo nunggu diperpus aja."
"Gak mau, gue laper."
"Huh ya udah makan, gue ke kelas dulu. Kalau udah selesai nanti gue kabarin." Geka mengangguk, Tara pergi dari kantin menuju kelasnya. Lalu Tara menghilang dari pandangan Geka, lelaki itu menghela nafasnya.
"Ge? Lo ngapain disini?" Geka mengerutkan dahi, harusnya dia yang bertanya demikian.
"Nyamperin cewek gue, lo ngapain?"
"Hah? Lo udah gak suka sama Alsa?" Mentari langsung duduk didepan Geka, lelaki itu menghela nafasnya.
"Gak."
"Jangan bilang nih cewek pelarian lo?!"
Geka menatap tajam Mentari. "Gue gak sebrengsek itu Tar, gue masih punya hati."
"Ye soalnya lo kan dulu suka banget sama Alsa, padahal Alsa enggak cantik amat. Jangan-jangan cewek lo 11,12 kayak Alsa ya?" Geka sebenarnya tidak mau meladeni perempuan ini, namun karena ia masih memiliki kesabaran setengah tipis tisu maka ia akan meladeninya.
"Emang lo sendiri cakep gitu? Lo aja ditolak kak Raga, yang mana emang lo gak secakep Alsa. Lo kalau gak suka sama orang gak usah mempengaruhi orang lain buat gak suka. Kelihatan yang gak punya attitude itu elu."
"Ck, ngimpi lo. Terus lo kira gue enggak tahu gitu? Padahal jelas ceweknya kak Regan itu temen baik gue, kalau mau ngarang cerita riset dulu kek."
"Maksud lo apaan bilang gitu?!" Geka jadi miris melihat Mentari yang over percaya diri.
"Shelly, dia ceweknya kak Regan. Lagian lo gak secakep temen gue, masih mending Shelly gak tepos-tepos amat depan belakang." Terlihat Mentari mengumpat, dan Geka tertawa dalam hatinya. Walaupun ini berpengaruh untuk puasanya, tapi sesekali meroasting orang lain diwaktu yang benar tidak salah kan?
"Pergi deh lu, caper bae kerjaannya disini."
Mentari pergi dari kantin, dengan marah sepertinya. Geka sedikit khawatir mengenai gosip yang memang dulu ia lakukan. Dulu ia menyukai seseorang bersama Alsa, anak jurusan Teknik Kimia. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan ketika Geka tahu kalau Alsa adalah pacar dari Raga, si cowok paling keren di DTNF. Walaupun begitu ia tidak menjadikan Tara pelarian, baginya Alsa bagian dari cerita awal masuk kuliah. Dan Tara akan menjadi cerita yang berlanjut sampai nanti tidak terhitung.
Lain sisi Tara sedang fokus memperhatikan dosen menerangkan materi, walaupun sedikit rasa membuncah berada di jantungnya. Sebenarnya tadi ia sedikit grogi disamper oleh Geka dikantin, karena seumur dia berada dikampus belum ada lelaki lain yang melebihi kedekatan ia dan Geka bahkan sebelum mengenal Yoshua. Dulu ia mengenal Yoshua sebagai kakak tingkat dikampus, salah satu teman Shelly yang mana akrab karena basket. Bahkan dulu Tara ngintil Shelly hanya untuk melihat Yoshua bermain basket.
Cintanya bukan tidak terbalas, namun ia yang lebih suka memendam daripada mengutarakan isi hatinya. Baginya mencintai dalam diam lebih menyenangkan karena ketika berhenti tidak akan ada lagi yang bertanya. Mungkin Shelly terlibat banyak dalam kisah percintaan Tara sejak masih sekolah sampai sekarang. Ia harus banyak berterima kasih kepada sahabatnya itu.
Jam berada dipukul 4 lebih sedikit, Tara turun menuju lantai satu dan langsung ke parkiran karena Geka sudah disana. Tara menghampiri Geka, yang langsung disambut senyum sumringah dari lelaki itu.
"Siap jalan-jalan?"
"Siap cari takjil, jalan-jalan bonus."
"Lo juga bonus Ta."
"Hah? Bonus gimana?"
"Bonus bidadari dari semua doa yang gue langitkan tiap hari hehe."
"Gombalan lo cringe banget Ge, dah ayok."
Keduanya pergi dari Fakultas Teknik, Geka sebenarnya tidak tahu harus kemana untuk mencari makan berbuka puasa. Karena biasanya ia hanya membeli nasi warteg atau fast food. "Kita mau kemana Ge?"
"Ada saran gak?"
"Enggak gue ikut lo aja yang mau buka puasa."
"Kalau ke Ichiban mau?"
"Nggak harus tempat yang mahal kok Ge, ke pecel lele samping rektorat juga mau gue."
"Beneran Ta?" Tara mengangguk.
"Gue mau lo jadi diri sendiri Ge, gue makan asal kenyang aja. Lagian pecel ayam lebih enak daripada mie Ichiban, walaupun minumnya gak bisa refill haha."
Keduanya tertawa, ada sebuah momen kecil yang sangat menyenangkan diantara mereka. Memangkas sebuah perbedaan dan menyatukan dua watak manusia yang berbeda menjadi satu.
Dilain sisi lagi, Shelly sedang memakai sepatunya. Hari ini ada latihan basket, bersama Wira dan yang lainnya. Attaya menghampiri Shelly, lelaki itu lebih dulu basah kuyup keringat.
"Geka mana?"
"Lagi bucin." Sahut Shelly.
"Bucin mulu, ini gak lengkap anying." Umpat Attaya.
"Lo juga bucin ya anying, gak usah bilang gitu. Bahkan lo lebih parah skip matkul cuma buat nganterin dompetnya Faby. Ck ngaca mas!" Semprot balik Shelly ke Attaya.
"Buset diungkit."
"Karena semua orang punya fase bucin masing-masing."
"Iya deh yang bucin ke pak Regan!" Ujar Wira yang berjalan disamping Shelly, lelaki itu mendribble bola dan melemparkannya ke ring. 3 point!
"Daripada situ jomblo! Wleee!" Wira mengumpat, ia mengambil bola basket dan melemparkannya ke Shelly, tepat mengenai kepala gadis itu.
"WIRA BANGSAT!" Wira tertawa puas, sangat puas.