My Senior My husband

My Senior My husband
12. Rawat Inap : Menginap Bersama



Kost senyap, tidak ada tanda-tanda orang yang bangun sejak pagi. Mentok hanya orang yang buang air kecil dikamar mandi lalu kembali masuk ke kamar. Begitupula Shelly dan Nara, keduanya senyap sejak semalam. Shelly numpang tidur dikamar Nara, karena ada sesuatu yang lumayan penting untuk dibicarakan. Keduanya hanya memandang langit-langit atap kamar, entah apa yang ada dipikiran mereka.


"Sejak semalem perut gue sakit, kayak mual gitu. Apa masuk angin ya?" Ujar Shelly pada Nara.


"Iya kali, diminyakin coba deh." Nara berdiri mengambil minyak kayu putih diatas meja belajarnya. Shelly menerima dan langsung menghirup bau minyak itu.


Hoek...hoek...hoek...


Nara panik langsung menarik tempat sampahnya untuk menampung muntahan yang temannya keluarkan dari mulut. Sambil mengusap tengkuk Shelly agar semua dapat keluar. "Dokter aja yuk!"


"Males anjir, gak usah."


"Ini gue yang susah kalau sampai lo masuk angin ege!"


"Males minum obatnya, Na."


"Gak ada males, ayok naik motor aja, kuat gak lo?" Shelly mengangguk, mereka keluar dan mengeluarkan motor karena rumah sakit hanya ada didepan gang seberang jalan. Sampai disana Nara mengurus administrasi, dan Shelly duduk sambil memegang perutnya yang kram. Sejak dua hari yang lalu memang badannya tidak enak, diare, dan kadang pusing. Entah apa tapi sepertinya hanya masuk angin. Atau tukak lambung adalah kemungkinan paling parah.


"Ayok." Kini giliran Shelly yang diperiksa dokter.


"Sering seperti ini?"


"Ya... Jarang si dok saya begini. Saya kemarin keanginan aja kayaknya mah."


"Jangan bilang sepele ya mbak, tensinya tinggi, detak jantungnya juga gak normal, lambungnya juga bermasalah. Rawat inap dulu ya?"


"Tapi dok saya..."


"Gak apa-apa dok, masukin ranap aja biar kapok. Sekalian bikin surat keterangan sakit buat dispen ke dosen." Sahut Nara tanpa babibu lagi. Shelly ingin sekali mengetuk kepala Nara sekarang.


Dan akhirnya Shelly terbaring dirumah sakit mulai siang ini, perkiraan dokter hanya sehari untuk mengembalikan semua kesehatan. Namun perutnya masih terus sakit dan makin mulas, seperti diremas namun ia tidak tahu apa yang diremas. Dan walaupun diatas brangkar tetap saja Shelly tidak bisa diam.


"Sakit, Na."


"Lah?"


"Melilit banget perut gue, apa obatnya belum bereaksi ya?"


"Masa sih? Ya udah buat tidur aja pasti ilang."


"Gimana mau tidur kalau perut gue begini. Duh gue pengen boker anjir, mau nangis aja ini infus sakit banget." Nara menepuk jidatnya, kelakuan temannya ini memang aneh-aneh saja.


"NARA PERUT GUE SAKIT ANJIR!" Nara terperanjat dan langsung berdiri membantu Shelly untuk ke kamar mandi. Untung saja ruangan ini hanya berisi 2 bed, itupun sebelah tidak ada yang mengisi.


Jadi suara Shelly tidak akan menganggu pasien lainnya. Belum lagi kalau dua yang lainnya datang.


Nara menunggu didepan kamar mandi, sembari mengabari kedua temannya yang akan datang membawa baju ganti dan makanan tentunya. Tidak lama pintu terbuka, Tara dan Ninda datang dengan ribut membawa bawaan.


"Boker?" Tanya Tara dan diangguki oleh Nara.


"Sarapan dulu, nih gue bawain bubur. Lagian gak ada apa-apa tiba-tiba masuk sini, aneh."


Berselang Shelly keluar dari kamar mandi, melihat Tara dan Ninda yang sudah berada didepannya. Gadis itu menekuk bibirnya kebawah.


"Sakit!" Adunya pada Tara dan Ninda.


"Yaudah baring lagi."


"Gue merasa kering kerontang anjir, dingin banget ac nya."


Shelly kembali berbaring, masih dengan perut yang melilit. Keempatnya berbincang sesekali Shelly hanya menyahut. Benar-benar hari yang sial untuk gadis itu. Lalu terlintas dipikiran nama Regan, sepertinya ia tidak mau memberitahu Regan mengenai keadaannya saat ini.


"Jangan kasih tahu siapapun ya, surat sakitnya nanti jangan langsung kasih dosen. Jangan titip ke temen gue sekalipun Geka atau Wahyu."


"Astaga, begini lo gak mau ngasih tahu orang rumah ataupun lainnya?"


"Asli gue males pas mereka heboh, kayak gue tuh gak apa-apa. Cuma ini agak konslet aja kayaknya mah."


"Terserah lo."


"Bawel bener anjir!"


Perawat datang, membawakan obat yang harus diminum sebelum makan. Shelly menatap horor obat-obatan itu, rasanya ingin membuang kapsul obat itu sekarang juga.


"Pait banget kayak hidup gue!"


"Rasain sendiri, salah siapa kemaren ujan ditrabas aja hah? Sampai itu laptop bergaris-garis?! Hari lanjutnya malah makan geprek gak tahu cabe banget, malemnya mencret, paginya opname." Shelly nyengir kuda, hari itu memang bukan kali pertamanya ia menerabas hujan. Tapi memang membuat laptopnya bergaris.


"Besok gue beli baru deh." Padahal Shelly sudah memiliki satu laptop baru.


"Udah bilang sama bupak lo?"


"Udah, katanya mau nambahin duit gue. Toh gue udah minta kak Regan buat nyariin laptop second bagus."


"Regan mulu anjir kek gak ada yang bisa bantuin lo. Ada Wahyu, Wira, Alva, masih banyak lainnya juga." Ujar Nara sebal.


"Kok lo yang kesel?"


"Yang bilangnya gak ada apa-apa sama Regan tapi apa-apa sama dia siapa?"


"This ***** right here." Sahut Tara dengan menunjuk Shelly. Shelly mengerucutkan bibirnya, ia sangat merasa bersalah karena tidak memberitahukan apapun pada teman-temannya ini.


"Gue emang gak ada perasaan apapun sama Regan. Kalau gue butuh sosok kakak lelaki dalam hidup gue itu salah?"


"Ngeles mulu kayak bimbel!" Ujar Ninda.


"Lagian bagusnya gue sama Regan bareng tuh apa?"


"GUE DUKUNG LO FIXED KALAU SAMA KAK REGAN!" Ujar Tara dengan mulut penuh mie. Semua menatap gadis itu cengo. "Apaan Ta?"


"Gue setuju kalau lo sama Regan. Kayak Regan itu tipe yang kalem, sedangkan lo pecicilan. Lo pasti agak takut kalau kena marah sama si Regan. Kebalik gitu, Shelly tiba-tiba kalem didepan Regan." Benar juga kata Tara tadi, Shelly tidak menyangkal sama sekali. Ia akan tunduk didepan Regan karena sebaik apapun Regan, lelaki itu galak sekali.


"Iya sih, tapi gue lebih galak sih."


"Btw, gue denger nih dari Wahyu katanya lo juga ada hubungan spesial sama Regan. Bahkan kata kak Elang lo pacaran sama si Regan."


Shelly bukan akan menyangkal, tapi ia heran dengan kata-kata Nara barusan. "Sejak kapan lo pake 'kata kak Elang' ?"


Nara belaga tidak tahu, kemudian menggaruk lehernya. "Ya-ya... katanya doang gak cuma k-kak Elang yang bilang."


"Lo berhasil pdkt sama si burung Elang?" Tanya Ninda spontan.


"Bukan burung Nin!"


"Iya itu maksudnya." Semua kini menatap tajam kearah Nara. Nara pasrah dan menjatuhkan bahunya ke bahu sofa.


"Gue jadian sama kak Elang."


"HOLLY COW YOU ANARA!"


Nara cengengesan mendapatkan semburan dari ketiga temannya. "Gue deket sama kak Elang berkat kak Regan iseng ngasih salam ke dia. Padahal gue gak nitip sama sekali. Ya lumayan lama sih, buktinya kita udah semester 2."


"Sianying! Tinggal gue nih yang jomvlo?" Tanya Tara histeris.


"Gue ini!" Sela Shelly cepat.


"Ah lo mah cowoknya dimana-mana ada!" Shelly melotot mendengar itu, gak gitu juga cara menyebutnya.


"****** gue gak segila itu punya cowok dimana-mana!"


Dan hari ini terungkap kalau Nara memiliki pacar diam-diam, tapi tidak ada yang marah sama sekali. Tapi kalau dirinya besok apa mereka akan marah atau seperti ini? Shelly menghela nafasnya, perutnya kembali melilit. Rasanya ingin buang air.


"Bray, bantuin gue ke kamar mandi. Mau boker lagi nih!"


"Jorok anjir!"