
Bangun dipagi hari Shelly merasakan ponselnya bergetar sejak tadi. Apa yang membuat ponselnya bergetar pagi-pagi begini, mana masih subuh. Ia membuka kunci ponsel dan banyak melihat notifikasi dari Instagram. Dia membuka aplikasi ungu itu dan melihat banyak tag dari orang-orang. Dia menghela nafas, benar-benar tidak bisa diperkirakan kalau ini terjadi. Kenapa orang-orang heboh hanya karena wajahnya masuk ke Instagram kampus? Bukannya itu wajar-wajar saja, dan sudah ratusan foto mahasiswi ataupun mahasiswa yang sudah mentereng disana. Shelly melempar ponselnya ke bagian lain kasur, menguap dan duduk untuk mengumpulkan nyawa.
"Salah banget ijinin admin buat post foto gue. Aishh berisik banget."
Dirinya berdiri dan keluar dari kamar untuk mengambil wudhu, menunaikan shalat subuh. Sekalian mengusir rasa ngantuk karena air kost yang sangat dingin. Setelah shalat dia membuka aplikasi itu lagi, melihat komentar yang ada di postingan. Komen yang paling sering muncul adalah cekiber sipil. Dari sekian banyak yang nge-tag sampai komentar juga sepertinya ramai dari kakak tingkat. Beberapa seperti Wahyu and the gengs juga komen heboh disana, dia yang malu karena mereka banyak menyematkan emotikon menangis disana. Ia juga mendapatkan banyak direct message dan followers baru. Hm cukup menarik, walaupun sebelumnya followers nya sudah lebih dari dua ribu sejak masuk kuliah.
Lalu Nara muncul didepan kamar Shelly, rambut gadis itu masih berantakan. "Lo kenapa muncul di feed pagi-pagi heh?! Gue diserang sama bocah-bocah karena pada minta lo follow back mereka."
"Sengaja, biar lo bangun lebih pagi."
"Sianying!" Nara kembali ke kamarnya, pasti kembali tidur. Shelly kembali fokus pada Instagram, sebenarnya dia tidak pernah berfikir bisa masuk kesini karena memang ya gak mungkin. Siapa yang enggak kaget tiba-tiba, dia dimintai persetujuan untuk fotonya di unggah disana. Kata admin, sudah banyak anak teknik kimia dan sipil yang terus mengirimkan rekomendasi dirinya untuk menjeng disana. Mungkin adminnya juga heran kenapa banyak yang minta fotoku untuk diunggah.
"Shell, itu kamu ya?" Tiba-tiba teman kost datang, Dinar salah satu kakak tingkat Shelly dikampus.
"Iya mbak."
"Kaget."
"Semua kaget kayaknya mbak, muka pas-pasan begini masuk kesana."
"Gak heran sih, cekiber sipil." Dinar tertawa, Shelly tiba-tiba malu mendengar ledekan Dinar tadi. Kakak tingkatnya itu juga pernah masuk ke Instagram itu, anak Fakultas Kedokteran yang sangat-sangat cerdas dan manis.
"Cekiber kedokteran situ juga!"
"Bisa aja, aku balik ke kamar lagi ya." Shelly mengangguk, rasanya masih ngantuk tapi ia harus siap-siap kuliah. Dia berdiri dan turun, hendak memasak sarapan dan bekal untuk kuliah. Ia malu kalau harus makan dikantin, takut ditatap orang-orang. Menu hari ini mungkin simpel, dia menggoreng sosis dan juga kornet sapi. Lalu membalut kornet dan sosis itu dengan roti tawar dan selada. Ia membuat 4 potong, satu untuk sarapan dan yang tiga untuk bekal.
Setelah selesai dia naik untuk mandi, jam sudah menunjukkan pukul 5.30 WIB. Dan kuliah akan mulai pukul 7 pagi, setidaknya ia harus berangkat lebih awal untuk menghindari mahasiswa lain. Kalau bisa 6 lebih ia sudah ada didalam kelas. Mandi membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit, dandan dan ganti baju juga 10 menit. Pukul 6 kurang 10 menit sudah siap, ia turun menuju garasi untuk memanasi motornya dan menunggu matahari sedikit naik. Beberapa anak kost juga sudah keluar dan hendak kuliah, banyak yang satu kampus dengannya walaupun berbeda jurusan sampai fakultas.
Perjalanan menuju kampus 15 menit, dan tiba dikampus keadaan masih sepi. Shelly berjalan cepat menuju kelasnya, tidak memperdulikan kiri dan kanan lagi. Dikelas baru ada beberapa orang, mereka mungkin menginap disini sehingga pagi-pagi sudah mejeng disini.
"Cekiber sipil dateng." Celetuk Raka, Shelly melotot dan memberikan jari tengah pada ketua kelas slengek itu. Dia yang pertama kali memberikan Shelly julukan itu. Mungkin dia terpesona dengan Shelly karena wajah juteknya, padahal bobrok.
"Lo juga ya yang rekomen gue?"
"Gue udah dm itu admin sejak dulu, baru sekarang aja direspon. Kurang ajar emang!"
"MANA NIH CEWEK KITA BERSAMA?!" Wahyu datang, wah kalau dia gak usah ditanya. Hebohnya alami, mana kayak reog gitu pas nyamperin Shelly.
"Gue tidak menyangka bestie, lo masuk sana. Hahaha gue kira mimpi, gue sempet banget kepikiran buat dm adminnya tapi gak jadi, soalnya lo terlalu cowok buat masuk kesana."
"Sialan!" Shelly menendang betis Wahyu, enak saja. Gini-gini Shelly juga cewek tulen, dengan tubuh yang selalu menjadi idaman cewek-cewek.
"SHELL! SHELL! SHELL! SHELL! SHELL!" Wira masuk, dia jauh-jauh dari DTMI ke DTSL yang jaraknya sama aja muter dulu baru sampai hanya untuk memastikan. Kelas yang awalnya sunyi sekarang ramai karena dua orang itu. Shelly malah pusing, semoga euforia ini hanya berlangsung seminggu.
"APA SIH RA?"
Reganar_ cantikkk bgt cewekku 😆
Satu komen yang akan menggegerkan satu kampus apalagi FT, Shelly menepuk jidatnya bersiap menghadapi haters. Ini benar-benar Regan atau orang lain? Regan tidak pernah gamblang mengatakan ini sampai sekarang. Wira menatap Shelly curiga, gadis itu gantian melotot membuat Wira mundur.
"Ini kecurigaan kita kayak benar, lo jadian sama kak Regan kan?"
"Apa sih?"
"Ngaku aja deh, ini udah pada bilang kak Regan go public sama lo."
"Ya bercanda doang."
"Kalau bercanda gak mungkin dia komen disini, oon."
"Kok gue sih? Gak mungkin dia komen difoto gue doang." Wira meraup wajah Shelly lalu memukul jidat gadis itu.
"Tuhan Yesus tolong saya emosi, kendalikan emosi saya dan berkati hamba." Shelly yang mendengar itu hanya memijit pelipisnya pelan. Ini lebih ngeri dibandingkan saat dijodohkan dengan Regan dulu. Kalau dulu yang dihadapi hanya Regan, kini satu FT dan kampus yang harus dia hadapi, mungkin.
"Tolong Shell, jujur aja."
"Apa sih?!"
"Foto siluet itu juga lo kan?"
"Astaghfirullah, nuduh?!"
"Kagak nuduh, tanya!"
"Ya tanya sama orangnya, bukan gue dong. Gue baru aja bangun dikasih notifikasi seabrek di Instagram, ini lo cekok pertanyaan. Pengertian dikit kek!" Wira berdecak, gadis ini selalu bisa mengalihkan pertanyaan.
"Kalau sampai lo bener jadian sama kak Regan, gue marah sama lo."
"Lah kenapa ke gue?"
"Iyalah, punya cowok gak bilang-bilang. Kan gue sakit hati!"
"Cuma temen."
"Astaghfirullah, eh salah, eh tau dah. Gue mau balik, assalamualaikum." Semua melihat Wira heran, terlalu sering main dengan Shelly cees jadi kebawa. Wahyu juga berhenti menanyakan hal itu pada Shelly, nanti juga cerita sendiri batinnya. Sedangkan gadis itu memijat kepalanya, gusti saya belum siap untuk publikasi hubungan ini. Kemudian Shelly mengirimkan pesan pada Regan, bukan marah tapi hanya ingin memastikan itu benar-benar Regan bukan orang lain.
"Kalau lo bener sama kak Regan, habis sih lo Shel. Tapi bagi dong resepnya hahaha." Ternyata Eva juga sama saja, Shelly menggerang lemah. Selalu saja ada masalah ketika satu masalah sudah selesai.