
Shelly turun dari peron, membawa koper kecilnya. Hari ini ia sudah berada di Bogor, tempat kelahiran suaminya. Libur semester sudah berlangsung dari 2 hari yang lalu, dan gadis itu menepati janji pada diri sendiri untuk berkunjung ke Bogor. Walaupun kemarin Nara hendak ikut, tapi berhasil Shelly tolak dengan berbagai alasan. Untung saja Tara dan Ninda belum libur semester jadi tidak ada alasan untuk ikut juga. Shelly keluar dari stasiun dan mencari mobil papa mertuanya, dari kejauhan sudah nampak mama nya yang melambaikan tangan. Gadis itu tersenyum dan menghampiri mereka, memeluk satu persatu.
"Mama kangen banget sama kamu! Akhirnya main ke Bogor lagi, walaupun gak sama Regan."
"Besok sama mas, liburan semester berikutnya ma." Shelly tertawa lalu memeluk papa mertuanya.
"Gimana perjalanannya? Seru?" Shelly mengangguk antusias, sangat seru apalagi selama diperjalanan ia disuguhi pemandangan kota-kota, hamparan sawah, sampai kepadatan Jakarta dihari kerja. Sungguh menyenangkan!
"Sekarang pulang yuk, kamu istirahat biar besok pas jalan-jalan fit."
"Kita mau kemana aja ma, pa?"
"Kita bakal explore Bogor dulu, baru ketemu saudara-saudara mama papa. Sepupu-sepupu Regan, om tante, semuanya. Mama udah undang mereka semua besok malam, mau memperkenalkan menantu tunggal mama ke mereka." Mama Regan terlihat antusias dengan agenda yang ia susun sendiri. Shelly tersenyum dengan lega, ia selalu senang mendapatkan respon baik dari kedua mertuanya.
"Sini biar papa aja yang bawa koper kamu."
"Eh gak usah pa."
"Udah, kamu tenang aja. Papa masih kuat kok, kan masih mau gendong cucu." Shelly mengangguk dan menyerahkan kopernya pada sang mertua. Setelah koper dan tas masuk bagasi, mereka segera pergi dari stasiun. Mereka tidak langsung pulang, melainkan makan terlebih dahulu. Ratih, mama Regan bercerita kalau ini adalah tempat makan dimana ia dan suami alias papa mertuanya bertemu dulu.
"Regan suka banget makan disini Shel, suka nambah."
"Mas Regan suka banget ya makanan Sunda?"
"Enggak sih, dia lebih suka masakan jawa katanya. Mungkin dia udah lama di Jogja jadi ya udah kayak orang sana asli. Terus dapet orang sana asli, gembira itu perut Regan." Ratih menyenggol lengan menantunya, membuat gadis itu tersipu.
"Mama bisa aja."
"Kalian baik-baik aja kan selama disana?"
"Alhamdulillah pa, kita baik kok." Mana mungkin ia menceritakan tentang perang dinginnya dengan Regan selama 2 kemarin.
"Syukur Alhamdulillah, kalau Regan macam-macam bilang papa Shel."
"Mas Regan baik kok pa, sayang sama aku juga."
"Beneran?" Tanya Wikan lagi.
"Iya pa seriusan aku tuh, masa bohong? Dosa ah nanti." Wikan tertawa mendengar penuturan menantunya, sangat menggembirakan.
"Kalau kamu udah sayang sama Regan? Maksud mama, kalian kan nikah karena perjodohan kami. Mama juga gak pernah menyinggung tentang hubungan kalian selama disana. Mama takut Shel, kamu enggak bahagia sama anak mama."
"Iya Shel, apalagi kami tahu kamu sempat ke Surabaya buat nenangin diri karena perjodohan ini. Papa khawatir kamu tersiksa, enggak ikhlas lahir batin." Shelly tersenyum, ternyata mertuanya tahu tentang itu.
"Ma, pa, jujur buat aku susah banget menerima mas Regan. Ya aku cukup kecewa sama keputusan ayah buat menjodohkan kami. Tapi setelah aku tahu alasan ayah, mama, dan papa, aku memutuskan untuk setuju. Insyaallah ma, pa, aku udah ikhlas lahir batin."
Ratih memeluk menantunya, dialah pelindung Regan. Gadis baik yang kebetulan putri dari teman lamanya di Jogja. "Makasih ya, rasa cinta paling benar adalah dari rasa kasihan Shel."
"Sama-sama ma."
"Mungkin udah pa, lambat laun dia juga harus tahu dan mengerti. Dia pasti juga bingung sama perjodohan ini. Aku memutuskan untuk memulai kembali, memulai yang harusnya dimulai sejak dulu." Wikan tersenyum, ternyata ia tidak salah memilih menantu. Gadis ini memiliki pemikiran yang bijak dan cocok untuk Regan.
"Apapun yang terjadi, selalu dampingi Regan ya Shel. Papa titip dia, kamu juga harus bahagia."
Shelly mengangguk, mungkin ini bukan keputusan yang mudah. Ada satu alasan dibalik ia menerima perjodohannya dengan Regan. Dan sepertinya Regan sudah tahu jikalau sudah membaca note yang ia berikan kemarin. Dan Shelly tidak menyesali keputusan ini, ternyata hidup seperti sekarang menyenangkan.
"Temen kamu ada yang tahu Shel?"
"Sejauh ini belum ma, kalau sudah waktunya bakal aku kasih tahu."
"Kapan?"
"Kalau aku sudah siap dengan semua konsekuensi yang harus aku tanggung karena sejak awal aku yang memutuskan merahasiakan status ini. Toh aku masih maba, agak aneh kalau publish hubungan sekarang."
"Senyaman kamu aja Shel, kami mendukung semuanya."
"Habis ini kita pulang ya, kamu pasti mau istirahat." Ujar Wikan dan diangguki oleh Shelly.
Selesai makan mereka menuju rumah Regan, rumah yang cukup terlihat besar didesa ini. Rumah dua lantai yang memiliki eksterior seperti vila-vila, dengan interior yang hampir semuanya kayu. Kamar tidur yang akan ditempati Shelly ada dilantai 2, kamar suaminya. Gadis itu berpamitan untuk naik dan istirahat malam ini. Ia membuka kamar Regan, bersih karena sehabis dibersihkan.
"Non."
Shelly berbalik dan mendapati ART yang sejak kecil mengurus Regan. "Bi Inah, apa kabar bi?"
"Sehat non, kalau non gimana kabarnya?" Keduanya berpelukan, bi Inah sudah seperti ibu kedua untuk Regan. Selain dari kecil diurus beliau, Bi Inah juga yang selalu menemani Regan dirumah.
"Baik bi, sehat alhamdulilah."
"Mau bibi bikinin minum apa?"
"Enggak usah bi, nanti aku ambil sendiri aja. Bibi sekarang istirahat aja, atau nonton sinetron."
"Ah si non bisa wae, nanti kalau ada perlu bilang bibi ya. Kalau pas vc sama den Regan juga ngajak-ngajak."
"Iya, nanti habis isya ya bi. Mas Regan baru selesai acara ditempat KKN nya jam 8 gitu."
"Wah siap, kalau gitu bibi turun ya. Selamat istirahat non." Shelly mengangguk, bi Inah pergi dan menutup pintu kamar.
Bisa kalian lihat kalau Regan adalah anak tunggal kaya raya. Rumah gedong tengah desa, perkebunan teh yang dimiliki juga luas, dan beberapa aset yang dimiliki keluarga ini. Shelly gak heran kalau papa Regan mampu membiayai hidup mereka selama ini. Shelly membuka balkon jendela kamar, dan langsung disuguhi city light dan hamparan kebun teh. Juga taman kecil belakang rumah yang sering dipamerkan Ratih kepadanya.
"Senyaman ini, tapi Regan gak hidup tenang."
Shelly jadi mikir, ia ingin bertemu dengan orang-orang tersebut. Ingin bertanya lebih banyak, melihat cerita lain dari sisi orang tersebut. Tapi sepertinya mustahil karena ia juga tidak mengenal orang-orang tersebut. Namun sebuah pemikiran nyangkut dikepalanya, bagaimana reaksi keluarga Regan ketika tahu kalau lelaki itu sudah menikah dan ia adalah isteri Regan? Pada pasalnya, keluarga Regan tidak tahu menahu masalah pernikahan ini.
"Kalau gue gak diterima gimana ya? Karena mereka tahu gue gak secakep itu, gak selevel sama keluarga Regan? Bukan kembang desa yang jadi pujaan muda-mudi, tapi cuma cekiber sipil ecek-ecek. Ah kok gue jadi pesimis begini sih?"
Oh iya, ini sudah hari ke 13 Regan KKN. Lelaki itu selalu bercerita antusias, dan Fadila selalu bercerita hal-hal menyebalkan selama disana. Apalagi gadis itu mengemban tugas dari Shelly untuk menjaga Regan. Jujur Shelly gak suka ada cewek gatel yang deketin Regan selain dirinya dan Fadila. Fadila gak akan suka sama Regan, karena Fadila sangat bucin terhadap pacarnya. Kadang Shelly mual melihat Fadila bucin akut ke pacarnya.