
Hari ini Shelly jalan-jalan di sekitar Bogor, mengunjungi berbagai tempat wisata, bahkan sekolah Regan dari TK sampai SMA pun ia datangi bersama dua mertuanya. Shelly juga menikmati kuliner yang ada disana, sungguh sangat nikmat, kayaknya habis ini dia bakal naik berat badan karena makan terus menerus. Tiba saat sore mereka sudah sampai dirumah, saat pulang rumah sudah rapi dengan berbagai makanan yang dihidangkan. Shelly jadi gak siap ketemu keluarga Regan, tremor.
"Mandi dulu gih, bentar lagi pada dateng soalnya."
"Iya ma."
"Gak usah gugup, kan ada mama sama papa. Ingat, percaya diri itu kuncinya." Shelly mengangguk, ia naik ke kamar Regan. Mulai bebersih dan mandi, setelah mandi ia berdandan. Ia menggunakan baju yang ia beli bersama Reganhhyt? belum lama ini. Walaupun tidak tahu akan dipakai untuk acara apa, mereka tetap membeli karena Shelly sangat ingin baju ini. Terusan baju dan celana warna putih, kemudian outer batik warna kuning dengan motif coklat dan hijau, serta jilbab hitam. Ia rasa penampilan nya tidaklah buruk, sedikit menambah pede-nya.
Terdengar suara mobil masuk ke halaman, Shelly mengintip dari balkon. Ternyata keluarga sudah mulai datang, mereka cukup banyak dan dari berbagai kalangan usia. Pintu kamar Shelly diketuk, lalu Bi Inah muncul dan masuk.
"Non."
"Iya bik?"
"Kalau nanti ada omongan yang gak enak, jangan dimakan ya. Anggap aja itu ujian, ibu-ibu yang datang mulutnya emang pada nyinyir. Belum kalau bangga-banggain anaknya, beh gak karuan non."
"Seriusan bik?"
"Tapi kan non juga patut dibanggakan, pinter, sekampus sama den Regan, pinter masak, jago nyanyi dangdut sama bibi, cantik banget malam ini masyaallah."
"Hehe makasih bi Inah, nanti kalau turun bareng ya bi. Agak nervous nih soalnya."
"Iya, nanti turun pas udah mau mulai aja ya. Tapi bibi turun dulu, mau nyiapin makanan."
"Ikutan bik, mau bantu."
"Ayuk." Bi Inah dan Shelly turun, gadis itu menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu. Wikan menghampiri Shelly untuk mengajak mantunya itu kedepan bertemu para saudara. Shelly mengikuti papa mertuanya dan duduk diantara mama dan papa mertua. Suasana pertemuan kondusif saat Wikan memulai acara, Shelly tidak berani melirik kanan ataupun kiri.
"Sebelum itu saya mau memperkenalkan seseorang, disebelah saya ini namanya Shelly. Anak dari teman lama saya di Jogja, dan sekarang sudah masuk ke keluarga besar kita. Dia mantu saya, isterinya Regan."
Semua diam, lalu seseorang tertawa sumbang. "Seriusan om?"
"Iya, serius masa bohong."
"Kapan nikahnya om?!" Teriak lelaki yang seumuran dengan Regan.
"Udah lama, sebelum abah meninggal. Waktu Regan masuk semester 5."
"Sekampus?" Tanyanya lagi dan diangguki oleh Wikan.
"Seriusan mas?" Tanya paruh baya yang rambutnya disemir merah, Shelly jadi pengen ketawa. Gak gimana-gimana sih, tapi aneh aja gitu apalagi make up yang terlihat menor.
"Iya, Ran. Saya serius gak bohong."
"Kenapa nikah? Bukannya Regan masih kuliah, kerja aja belum. Atau hamil duluan?" Sahut pedas seorang ibu-ibu yang bibirnya merah merona ngejreng. Shelly dalam hati mencibir orang tersebut.
"Sini mulut lo gue lakban, masih perawan tingting anjir!" - teriak Shelly dalam hati.
Wikan langsung membalas dengan nada tidak suka, menantunya ini perempuan baik-baik. Wikan menjelaskan bahwa ini keputusan pribadinya untuk menjodohkan Regan dengan Shelly, bukan karena keduanya ada masalah. Mereka semua mulai berspekulasi sendiri, Shelly mulai jengah dengan semua ini. Bisa skip gak sih? Bahasan seperti ini gak pernah selesai kalau masing-masing gak punya kesadaran sendiri.
"Kenapa dia? Kayak gak ada cewek lain aja." Sahut ibu-ibu yang bibirnya merah tadi, wah wah nyari masalah.
"Pilihan ku sudah paling benar, kalau kamu mau ngarep anakku sama anakmu gak usah mending. Anak mantuku pinter, kuliah dikampus ternama jurusannya sulit, low profile, mindset nya bagus, gak matre." Ujar Ratih, ibu Regan dengan sedikit sindiran.
"Masih mending anakku kemana-mana."
"Halah masuk kedokteran lewat orang dalem aja bangga." Ledek Ratih lagi, pertempuran ibu-ibu memang sangat mengasyikkan. Shelly rasanya ingin ketawa ngakak mendengar ibu mertua berbicara seperti itu. Ya gak ada yang salah sih tapi cara nyindirnya itu lucu aja.
"Tapi nih lihat anakku IPK nya selalu diatas 3,50. Pinter, cantik, jago dandan."
"Regan gak butuh sih, anak mantuku juga pinter. Dia sederhana, Regan aja cinta gak ketulungan sama Shelly."
"Sorry ya tan, sekalipun dipaksa atau terpaksa. Mas Regan tetap suamiku, lagian masing-masing kami sudah setuju dan memulai lembaran baru. Anaknya sih cantik tan, tapi kalah saing sama saya." Ucap Shelly membuat Wikan, Ratih, dan beberapa orang lainnya tertawa.
"Tuh denger, udahlah mending anakmu suruh belajar yang bener jangan foya-foya mulu kerjaannya." Nasihat Ratih.
"Sudah-sudah, sekarang waktunya makan. Kami sudah menyiapkan makan malam, sok dinikmati sebagai syukur kami karena bergabungnya Shelly sebagai mantu saya." Wikan mempersilakan semua tamu untuk makan.
Shelly undur diri ke taman belakang yang menghadap ke kamar Regan, dia membawa makanannya dan juga camilan lain. Namun tidak berselang lama beberapa orang remaja datang dan duduk bersama.
"Mbak tadi keren banget jawab bude Murni, padahal kita-kita aja gak berani. Oh iya aku Yasmin, adek sepupunya mas Regan. Anaknya ayah Bram, adiknya om Wikan. Ini mas Kiel kakakku, ini mbak Bintan kakak sepupu mas Regan, anaknya om Petra, adiknya om Wikan."
Shelly menyalami mereka dan memperkenalkan diri, mereka ngobrol dengan seru. Shelly sangat senang kehadirannya disukai oleh 3 sepupu iparnya ini. Yasmin masih SMA kelas 2, terlihat masih seperti bocah . Sedangkan Kiel satu angkatan dengan Shelly dan kuliah di Politeknik daerah Bandung. Sedangkan Bintan sedang melanjutkan studi S2 di Perguruan Tinggi Bandung.
"Kuliah di Jogja enak gak mbak?"
"Not bad Yas, seru kok. Paling kamu agak culture shock aja, beda sama Bogor soalnya."
"Pengen, tapi bingung."
"Belajar yang bener, susah tuh masuk kampus Regan sama Shelly." Ujar Kiel, kakak Yasmin.
"Gampang kok, gerbang depan kan dibuka El tinggal masuk aja." Kiel tertawa, sedang Yasmin cemberut parah. Ya sebenarnya gak susah, cuma ujiannya yang agak susah. Rancau, Shelly dulu hopeless bisa lolos seleksi. Namun namanya juga rejeki, dia lolos dengan pilihan pertama.
"Mas Kiel jahat!"
"Aku dulu juga keterima di Semarang kok Yas, tapi pilih kampus sekarang. Ya setiap usaha ada hasilnya, buruk atau baik kan hasil ikhtiar kamu." Nasihat Shelly kepada sepupu iparnya itu.
"Benar-benar low profile sekali kakak satu ini, tidak terlalu bangga dengan pencapaiannya."
"Halah Yas, didepan doang seneng. Seminggu deh kamu kuliah, udah senep tuh sama tugas. Apalagi teknik, laprak mulu. Aku pernah loh ngelindur nangis gara-gara mimpi laprak ku nilainya C-."
"Anjirlah, serem. Mau masik Fisip ajalah."
"Tapi bener sih Shell, gue juga gitu. Baru sebulan udah rasanya pengen log out dari kampus." Kiel setuju sekali dengan itu.
"Betul Yas, kuliah itu ada tantangan tersendiri. Kamu berdoa aja yang banyak." Sahut Bintan.
"Aduh asik banget, bude ikut dong." Murni datang bersama sang anak, yang dibanggakan tadi.
"Udah selesai kok bude, yuk masuk." Shelly mengajak 3 sepupunya untuk berdiri dan masuk. Membuat sang bude tidak terima dengan perlakuan menantu Wikan tersebut.
"Kamu anak kemarin sore aja berani banget sama orang tua, Wikan buta milih mantu kayak kamu. Sarkas, gak sopan, jelek, sok pinter juga. Harusnya dia milih Lodya bukan kamu!"
"Wah bodyshiming nih, bude yang terhormat, si paling sempurna dan saya si paling buruk rupa. Terima kasih atas kritik dan sarannya, tapi saran saya sih bude. Ganti shade lipstik deh, bude keliatan 10 tahun lebih tua soalnya. Dan anaknya emang cantik, banget malahan, saya kalah jauh bahkan. Gak punya barang branded, gak jago make up, IPK kecil. Dah sekian terima kasih bude, semoga bisa bertemu dilain waktu."
Shelly pergi, benar-benar muak dengan kelakuan bude Murni yang kelewat batas. Untung saja hatinya sekuat baja dan telinganya masuk kanan keluar kiri. Yasmin, Kiel, dan Petra juga ikut pergi menyusul Shelly masuk. Murni jengkel setengah mati, juga sang anak, Lodya.
"Bunda gak terima Dya, dia berani banget."
"Sama bun, kita harus bikin perhitungan sama dia. Tapi gimana ya caranya?"
Murni mengambil segelas air dan membawanya masuk, mengejar Shelly dan hendak menyiramkan air tersebut.
Byukk
"Ups, sorry cantik gak sengaja."
Bukan Shelly yang basah melainkan Lodya yang terkena air tersebut. Shelly berhasil menghindar dan mengarahkan gelas tersebut ke arah Lodya. Membuat baju Lodya memerah karena air tersebut berperisa cocopandan. Wikan tertawa melihat mantunya, ada lawan setimpal untuk kakak sepupu iparnya nya yang sangat sombong tersebut.
"KURANG AJAR!"