
"Shell, gue minta penjelasan banget ini, lo malah asik makan."
Shelly tertawa, Nara sudah ngomel-ngomel sejak tadi memang tentang cerita ia dan Regan. Shelly menghabiskan satu kunyahan dagingnya dan bersiap bercerita.
"Sebelum itu Na, thanks karena lo gak ngamuk ke gue. But sorry kalau lo harus denger dari orang lain bukan gue."
"Jahat sih, gue bukan temen lo kayaknya."
"Kejadiannya enggak seperti yang lo bayangkan Na, gue sama Regan ya awalnya cuma kakak adek biasa. Yang ketemu kalau ada perlu, ngomong kalau emang ada hal yang penting, enggak yang jalan diem-diem, atau pacaran duluan."
"Terus?"
"Gue sama Regan jadian sebelum dia KKN, karena dia satu tim sama Cindy yang gue bilang tadi. Gue takut juga Regan cinlok karena mereka setiap hari ketemu dari bangun sampai tidur lagi disatu rumah yang sama."
"Bah masuk akal."
"Walaupun Regan janji janji tapi ya omongan cowok mana yang bisa dipercaya?"
"Ah masa Regan yang begitu omongannya gak bisa dipercaya?"
Shelly berdecak, kan benar tampang Regan memang meyakinkan tapi kadang lelaki itu suka ingkar termasuk janjinya kemarin tentang pernikahan. "Mana ada, kemarin dia ingkar janji sama gue."
"Yang kapan?"
"Yang dia ke kost bawa makanan dan lo yang terima, dia udah janji buat gak mengumbar hubungan hts kita tapi malah komen di-postingan itu."
"Pantesan anjir lo gak mau nemuin sama sekali."
"Sekarang udah baikan kok, gue malah kangen sama dia. Elang satu tim sama dia kan?"
"Heem, gue juga agak was-was dia cinlok. Gue jadiin dendeng beneran dia."
Shelly tertawa, ia melirik jam diponselnya. Jam menunjukkan pukul 8 malam, dan mereka sedang makan di restoran fast food dekat Lempuyangan. Sejak tadi juga Regan mengirim pesan tapi tidak ia balas karena belum sempat.
Nara mendapatkan panggilan telepon dari Elang, Shelly menatap sang sahabat yang mengerutkan keningnya. "Pacar lo chat dibales kek Shell, ngomelnya ke Elang ini katanya."
"Elah entar, lagi makan."
"Lagi makan yang, ntar juga dibales sama Shelly. Kamu juga dari tadi gak bisa dihubungi."
Mulailah keduanya debat, Shelly sih gak heran karena Nara itu hobi mencari masalah dengan semua orang. Bahkan dengan Elang, Shelly sih nyari aman selama dengan Regan. Keduanya selesai makan, mereka mampir membeli Mixue terlebih dahulu sesuai janji Shelly pada Nara. Diperjalanan keduanya ya ngobrol aja, walaupun setiap hari bertemu tapi mereka gak pernah kehilangan topik pembicaraan. Ada aja yang diomongin.
"Bapak kemarin bilang, uang kost tahunan bisa dibayar per-akhir bulan."
"Lah iya anjir udah mau masuk bulan bayar, lupa belum minta anjir."
"Lah gimana sih?"
"Lo udah?"
"Udah, kemarin ditransfer sama bokap. Lo minta gih biar ga diusir haha."
"Sembarangan." Shelly menghubungi ayahnya, hendak meminta uang kostnya. Selama tinggal disini ia memang membayar uang kost setahun sekali, toh juga gak pindah-pindah.
"Yah, aku mau bayar kost. Hah? Oh ya udah kalau gitu, iya ya udah. Pulang kerumah? Lusa deh ya, Regan belum ngabarin lagi soalnya. Hm, assalamualaikum."
Panggilan terputus."Kenawhy?"
"Ternyata udah di transfer, gue belum cek mutasi rekening yang satunya hehe."
"Woo kampret. Makannya kalau punya rekening tuh satu, jangan banyak-banyak."
"Kalau gak gitu nanti bokap gue tahu kalau gue ngirit nabung. Tiket konser gak jadi kebeli ntar ***, gak bisa kabur ke Jakarta ntar."
"Bajingan, bener."
"HAHAHA."
Sampai dikost, Shelly langsung masuk kamar dan tepar tidur juga tidak mandi. Nara mengomel karena gadis itu jorok, bepergian jauh tapi tidak mandi. Shelly sih bodoamat, soal mandi bisa entar. Tidak lama Ninda masuk kamar, gadis itu langsung berbaring disebelah Shelly.
"Nape lu?"
"Shell."
"Apa?"
"Huwaaaa gue ditembak kating tapi gue gak suka, kudu gimana dong?!" Shelly terbengong mendengar itu, hah?
"Si anjir, ada cowok yang menyatakan cinta ke gue tapi gue kagak suka. Lu kalau mau ngelawak sikon dulu kek!"
"Hehe maaf, syok ini tuh. Terus siapa namanya?"
"Fadlyan."
"Buset cakep bener namanya."
"Orangnya juga cakep sih, gue jadi bimbang deh diterima apa enggak ya?"
"Diterima aja sih, biar ga jomblo amat ente."
"Si anying, yang bener dong."
"PDKT dulu lah, yang bener aja. Lagian kok bisa lo gak tahu dia suka sama lo terus tiba-tiba nembak?"
"Gak sengaja, lo tahu sendiri." Shelly menghela nafasnya, kebiasaan orang kalau word of affirmation nya jalan ya begini. Shelly pusing sendiri jadinya.
"Dahlah pusing, mau mandi."
Shelly berdiri dan mengambil handuk. "Oh iya, itu satu goodie bag buat lo bertiga. Bagi rata ya, terserah baginya gimana."
"Siap, gue cabut." Ninda pergi membawa goodie bag berisi oleh-oleh dari Bandung. Shelly memang tidak banyak membawa oleh-oleh, repot. Selama mandi, Shelly merasa sangat lelah. Semua tenaganya sudah habis untuk bersosialisasi di Bogor. Ia cukup lama mandi, karena rasanya air kost lebih hangat daripada air di Bogor. Ya karena puncak jadi air dan udara disana jadi lebih dingin daripada daerah Jogja.
Shelly keluar dari kamar mandi, mampir ke kamar Nara. Gadis itu sedang asik nonton sambil minum Mixue, Shelly duduk disamping gadis itu. "Na."
"Hm?"
"Gue bingung nih."
"Bingung ngapain maksudnya?"
"Gabut, kita ke Bonbin masih minggu. Besok kan kita gak ada acara samsek, jalan-jalan yuk!"
"Kemana dulu?"
"Makan-makan kek atau kemana gitu yang penting kagak dikost. Males banget besok pasti pada pulang, gue males pulang juga nih." Nara berdecak, Shelly kalau pengen pulang betah banget dirumah, kalau gak mau pulang tetap saja betah di kost.
"Yaudah besok jogging di Wisdom aja, sambil cari sarapan."
"Saudara-saudara hamba, Tara yang cantul jelita datang kembali." Terdengar Tara dari luar kamar, gadis itu berdiri diambang pintu kamar Nara sambil nyengir. Dia mengangkat dua tangannya yang membawa dua plastik besar berisi makanan.
"Lihat, aku membawa surga perut hahaha."
"Buset, seminggu juga gak habis ini Ta. Yang bener aja lu. Ini oleh-oleh dari Bogor juga belum tentu abis seminggu."
"Halah perut lu juga muat anying apalagi masih libur, nih." Tara duduk, ia menyomot anggur dipiring Nara.
"Sumpah deh, gue tadi hampir keserempet mobil. Si yang bawa mobil malah cuma turun bilang 'gak apa-apa kan mbak? saya buru buru nih' sialan gue masih deg-degan hampir nyosor aspal anying!"
"Lo kalau bawa motor kalau gak nyusruk ya diserempet deh Ta. Bawa mobil aja mending."
"Iya besok gue jual sawah dulu ya."
"HAHAHAHA!" Ketiganya tertawa, Tara misuh-misuh dengan gayanya yang super unik. Tara walaupun marah-marah tetep bikin orang ketawa. Ninda masuk, gadis itu memukul kepala Tara dengan poster.
"Heh bangsat!"
"Cil, lu dari kapan disini?"
"Barusan."
"Oleh-oleh lo di kamar gue ya, ntar ambil sendiri."
"Ya Allah, jadi kayak orang jualan begini. Nih nih bawa satu-satu, gue sekarang mau pergi."
"Kemana?" Tanya ketiganya berbarengan.
"Ketemu Geka, mau ikut?" Ketiganya juga kompak menggeleng, tidak mau menganggu dua orang yang sedang PDKT tersebut. Plot twist yang aneh, Geka jadi suka sama Tara.
"Lancar ye bro, semoga segera menyusul mblo." Ujar Nara sambil ngakak.
"Si anying."