My Senior My Boy

My Senior My Boy
Kehebohan Tentang Ustazah Rahma



Setelah kejadian itu aku tidak berani lagi untuk datang terlambat. Lagipula siapa yang ingin di suruh membersihkan lapangan seluas itu. Hari ini pas jam istirahat tiba, kami bergegas langsung ke kantin. Perut ku sudah sedari tadi bergemuruh tanpa jeda. Saat menuju kantin tanpa sengaja aku melihat ustadzah Rahma sedang mengobrol dengan ustadz Fahri. Tak jauh juga dari situ terlihat beberapa santri yang juga tersenyum sambil berbisik satu sama lain saat melihat mereka. Aku sendiri heran memang nya ada apa dengan mereka?.


Tak hanya itu aku baru sadar tiga sahabat ku juga seperti para santri lain. Beberapa saat kemudian setelah mereka berdua selesai berbicara para santri bubar seketika. Mengingat perut ku sudah lapar ku tunda dulu untuk bertanya tentang kejadian barusan. Kami masuk ke kantin dan langsung memesan makanan serta minuman. Di tengah hening keramaian rasa penasaran ku tiba-tiba saja bergejolak dan langsung bertanya pada mereka bertiga.


" Heh tadi kalian kenapa sih senyam-senyum gitu waktu liat ustadzah Rahma. Emangnya ada apa sama mereka berdua?" Tanya ku.


" Kamu belum tau ya, Zi. Padahal udah booming lama banget lho beritanya tentang mereka berdua." Ujar Aisyah di barengi anggukan Yuri dan Rara.


“ yee kamu ni, Syah. Kan Zia masih baru tau. Lagian beritanya juga dilarang buat di hebohkan.” Tukas Yuri.


“Oh iya juga ya. Sebelum kamu dateng kesini ustadz Fahri tu ngelamar ustadzah Rahma. Tapi sebelum itu mereka berdua emang udah di jodoh-jodohin gitu sama para santri disini. Kirain cuman becanda, ehh ternya malah bener dong mereka ada niatan buat serius. “ Jawab Aisyah antusias.


“ Ternyata emang ustadz Fahri beneran suka sama dia tapi karena takut jadi fitnah jadi ngga lama langsung ngelamar. Terus katanya akad nya bakalan berlangsung dua minggu lagi.” Sambung Rara


“ Hem, pantesan aja kek heboh gitu udah mau nikah ternyata.” Jawab ku.


Sesaat kemudian makanan kami sudah di siapkan oleh ibu kantin. Tak lupa membaca doa aku langsung menyerobot nasi yang sudah ada di depan mata. Melihat ku yang bagaikan belum makan selama seminggu membuat mereka bertiga tersenyum geli.


...****************...


Bel pulang telah tiba, kami berempat berjalan beriringan sambil bercerita ini itu. Tepat di koridor Umi Ainun tiba-tiba saja memanggil kami berempat. Dengan saling menoleh satu sama lain aku dan temanku menghampirinya.


"Assalamualaikum." Ujar kami bersamaan


" Waalaikumsalam. Maaf ya ganggu kalian sebentar."


" Nggak apa-apa Umi, ada yang bisa dibantu?" Tanya Rara.


" nanti malam ada pengajian di rumah umi dan yang datang itu para ustazah kenalan umi. Jadi Umi mau minta tolong kalian berempat buat bantuin umi siapin makanan dirumah umi."


"Oh gitu, boleh kok, jam berapa kita ketempat Umi?" Tanya Aisyah dengan tampang yang kami baca.


Dia tau ini adalah kesempatan untuk keluar dari asrama untuk sekejap. Dua teman lainnya berusaha untuk menahan senyum termasuk diriku.


" Abis ashar. Bisa kan?"


" Terima kasih ya, Nak. Maaf lho ya Umi jadi ngerepotin gini." Ujarnya nya dengan nada lembut sedikit resah.


Mungkin saja dia sedikit tidak enak hati meminta bantuan kami yang baru pulang.


" Sama-sama Umi, kami permisi pamit dulu. Assalamualaikum"


" Sekali lagi terimakasih. Ya sudah waalaikumsalam."


Aku dan Aisyah merasa sefrekuensi dalam hal berpikir saat ini. Sudah lama aku ingin menghirup udara selain asrama dan sekolah. Akhirnya hari ini terkabul kan biarpun hanya tidak jauh. Umi Ainun adalah pemegang pesantren ini, sehingga rumah nya tetap masuk dalam lingkungan pondok namun tetap memiliki jarak dari asrama dan koridor pondok.


Tak lama setelah berjalan akhir nya kami sampai ke kamar asrama. Sambil melemparkan tas masing-masing di ranjang. Kami berempat ambruk ke ranjang karena lelah. Tapi tak jauh dari itu semua. Tampak Aisyah tersenyum kegirangan, begitu juga Rara dan Yuri. Mereka pernah bercerita bahwa saat di pesantren sulit sekali untuk luang dari aktivitas yang sedikit peluang untuk bermain-main.


"Yeyy... Akhirnya bisa bebas sehari, sumpah seneng banget" ujar Aisyah kegirangan.


" Iya nih.. Untung Umi Ainun ngerti. Cinta banget sama Umi." Kata ku lebai.


" Astaga.. nggak ngerti lagi aku ni sama kalian berdua." Ringis serta diiringi tawa Yuri yang sok-sokan lemas melihat aku dan Aisyah kegirangan tiada tara.


" Yahh. Emang kamu ga seneng, apalagi ada makanan wah pasti enak tu.." jelas Aisyah.


" Pasti lah, kapan lagi bisa free, lagian kalo nggak belajar pasti di suruh kakak senior cari kerjaan, males banget deh."


" Btw, abis ashar kan?" Tiba-tiba Rara bertanya seperti membuat kami melongo. Seolah ia tidak tau kami sedang membahas apa sedari tadi. Seketika kami tertawa heboh mendengar pertanyaan nya itu.


" Astaghfirullah... Ra kamu ngapain aja sih dari tadi, pertanyaan kamu tu ngakak banget tau." Ujar Aisyah sambil tertawa terpingkal-pingkal, hingga membuat matanya berkaca-kaca. Aku dan Yuri tak jauh berbeda seperti Aisyah.


" Iya Rara..." Jawab kami serentak sambil menahan tawa.


Dengan sedikit malu seketika ia ikut kegirangan bersama kami bertiga.


Terkadang di satu sisi bagi ku sulit untuk mengenal watak serta diri mereka masing-masing, namun berjalan nya waktu aku mulai mengerti mereka tidak jauh berbeda seperti anak sekolah pada dasarnya, hanya saja ketaatan nya lebih baik sesuai keadaan di sekitar. Sejauh ini bagi ku mereka tak kurang lebih seperti saudara ku sendiri.